
Dua belas :
Ini tentang bagaimana cara hujan yang senantiasa mau kembali, padahal ia tau sakitnya jatuh berkali-kali. Keteguhannya, pengorbanannya serta kesetiaannya untuk selalu jatuh ke bumi, memberikan sebuah aroma khas, yang menenangkan jiwa dan rasa, juga memberikan ribuan warna yang melengkung ketika ia berlalu. Perasaan yang dimiliki hujan, begitu tulus. Dan satu hal yang perlu kita tau, karena selamanya hujan tidak selalu menandakan bahwa langit sedang menangis dan berduka, tapi hujan menandakan bahwa langit sedang JATUH CINTA.
Kini, Titan sudah berada tepat di depan kelas Tania, dengan tangan yang masih memegang pelan pergelangan tangan Tania. Keduanya tepat berada di depan pintu kelas Tania. Tania menatap heran ke arah Titan, namun Titan justru melemparkan senyum tipisnya yang memesona. Titan memperlakukan Tania sebegitu manisnya, perlakuan yang sangat jarang Titan lakukan ke perempuan mana pun. Sikap pecicilan, sikap jahil, dan cueknya itu seperti lenyap ketika ia berhadapan dengan Tania. Padahal, ketika Titan sedang berkumpul dengan teman-teman di kelasnya, sikap jahil dan pecicilannya seringkali muncul. Titan hanya akan diam ketika berhadapan dengan Tania, seperti kehilangan seribu bahasa yang ia miliki.
"Titan? Kenapa lo bersikap kayak gini ke gue. Apa lo tau, perlakuan lo di depan Rayn tadi, itu pasti akan hanya menambah masalah buat lo," ucap Tania pelan, sembari melepaskan pegangan tangan Titan.
"Bahkan, aku enggak peduli, Tan. Mau sebesar apa masalahnya, aku gak peduli. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," kata Titan, sorotan mata yang tertuju lurus untuk Tania itu, memperlihatkan sebuah ketulusan yang begitu dalam. Titan telah jatuh cinta, dan ia akan berusaha menjaga cinta dalam hatinya.
"Gue gak tau ini sejenis perasaan khawatir atau bukan. Tapi gue takut aja kalau lo sampai bermasalah sama Rayn cuma gara-gara gue. Gue gak mau sampai itu terjadi." Tania berujar serius.
Titan menghela napas, lalu tersenyum, "simpan perasaan khawatir kamu buat aku, di hatimu. Rasa khawatir itu tandanya bahwa kamu gak mau sampai aku kenapa-napa."
Lalu, Tania menatap secara detail lekuk wajah Titan, seakan mencari tau jawaban dari semua sikap manis Titan. Tania bahkan memiliki satu jawaban kuat, mengapa Titan berubah semanis ini terhadapnya. Bahkan Tania merasakan getaran aneh dari sorotan sepasang mata yang indah milik Titan. Tania bahkan merasakan lagi sisi lain dari seorang Titan, yang sama sekali Titan tunjukan ke semua orang. Kini pun, Titan mengubah gaya bicaranya pada Tania. Lagi-lagi, pikiran buruk tentang Titan dalam pikiran Tania, seolah menghilang dan lenyap entah kemana. Dari cara Titan menatapnya, Tania merasakan ada setitik ketulusan yang ia pancarkan melalui sepasang mata indahnya. Mungkin, Tania belum menemukan jawaban yang pasti---mengapa Titan memperlakukannya semanis ini. Detik ini juga, Tania menghapus semua pikiran buruk tentang Titan---yang selalu dibicarakan semua orang.
"Please. Gue mau tanya sama lo, tapi lo harus jawab dengan jujur," ucap Tania.
"Mau tanya apa?"
"Meskipun gue udah punya jawaban yang ada di pikiran gue. Tapi rasanya gue belum puas jika gue belum nanya langsung ke elo. Sebenernya, apa yang lo rasain ketika lo ada di deket gue? Dan apa alasan lo, kenapa lo bersikap semanis ini ke gue? Seakan-akan gue punya tempat tersendiri dalam hati lo," Tanya Tania dengan sorotan mata yang tertuju serius pada Titan.
"Pertanyaan yang cukup sulit untuk aku jawab. Mungkin jawaban yang ada dalam pikiranmu itu adalah jawaban yang paling tepat," jelas Titan.
"Tapi---"
"Apa kamu percaya dengan kehebatan sang waktu yang mampu menjelaskan isi atau perasaan dari dalam hati seseorang?" Titan justru malah bertanya balik pada Tania.
Namun, Tania malah terdiam, seperti tidak mampu untuk menjawab pertanyaan Titan. Tania hanya menatap sepasang mata Titan dengan serius, seolah mencari tau---ada perasaan apa di balik sorotan mata yang teduh itu. Tania mulai merasakan getaran aneh dalam detak jantungnya, saat melihat secara detail lekuk wajah Titan. Tania juga merasakan ada perasaan nyaman ketika berada di dekat Titan.
"Kalau kamu diem, itu tandanya kamu percaya," ucap Titan. "Yaudah kalau gitu, kamu masuk kelas, dan aku juga bakal masuk kelas, sebentar lagi bel masuk bunyi," sambung Titan, berujung dengan senyuman. Lalu Titan pun berlalu ke arah utara---menuju kelas XI-3.
Setelah Titan hilang dalam pandangannya, Tania pun masuk ke dalam kelas. Pikirannya masih menerawang jauh, seolah ia tidak akan pernah berhenti bertanya-tanya dalam hati dan pikirannya, karena belum mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan dari Titan, meskipun Tania sudah memiliki jawabannya sendiri. Tapi ada satu pertanyaan yang membuat hatinya menyimpan tanda tanya besar; jika benar Titan jatuh cinta pada Tania, apa yang membuat Titan jatuh cinta pada sosok Tania?
"Tan? Lo pagi-pagi kenapa murung? Ada yang dipikirin?" Tanya Ratu, ketika Tania baru saja duduk di sampingnya.
"Enggak, kok," Tania mengelak, sambil tersenyum pahit.
"Lo jangan bohong, deh. Ngomong-ngomong gue gak salah lihat kan barusan? Lo dianterin Titan sampai depan pintu kelas kayak tadi, dan gue denger si Titan ngomong aku-kamu sama lo, itu serius? Lo enggak lagi pacaran kan sama dia?" Ratu melontarkan pertanyaan yang berlapis, namun Tania menanggapinya dengan sedikit malas.
"Kita enggak pacaran kok, Rat," singkat Tania.
"Kita?" Ratu menyipitkan matanya.
"Maksud gue, gue sama Titan enggak pacaran," jelas Tania.
"Lo sama dia udah jadi kita?" Ratu justru malah memojokan Tania, membuat Tania sedikit salah tingkah dan tak tau harus jawab apa.
"Lo ngaco, deh," bantah Tania.
"Gak usah salting kali, ah. Gue setuju kok kalau lo sama Titan. Tapi lo juga harus hati-hati sama dia, lo tau kan kalau dia itu raja PHP. Gue takut aja dia lagi nge-PHP-in elo, Tan. Secara kan semuanya juga udah pada tau si Titan itu kayak gimana orangnya. Dia pernah gak naik kelas setahun, dia jarang masuk hari senin---"
"Stop! Jangan diterusin, Rat. Gue jadi bingung, sebenernya lo ngedukung gue sama Titan, atau mau malah ngejelek-jelekin Titan depan gue? Gue percaya kok, setiap manusia yang hidup di dunia ini, pasti punya sisi baik dan sisi buruknya. Itu biasa." Tania berhasil membuat kalimat Ratu terputus.
"Gue mah gimana elo, sih, Tan. Hehe. Ya gue cuma ngingetin aja, tapi kalau sampai si Titan nge-PHP-in elo, awas aja gue bakal bikin dia kayak telor dadar!"
"Telor dadar? Emangnya lo berani sama Titan?"
"Ya enggak, sih." Ratu menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, dengan ekspresi wajah yang super datar, dan berakhir dengan senyum yang terlihat seperti terpaksa.
Hening sesaat, ketika Rayn memasuki kelas ini dengan sorotan mata yang begitu tajam mengarah pada Tania, Tania hanya menunduk saat Rayn melintasi mejanya. tidak ada lagi obrolan di antara Ratu dan Tania, karena bel masuk waktu belajar pun sudah berbunyi, dan seorang guru pun masuk ke dalam kelas ini. Tania merasa tidak nyaman, karena Rayn---yang duduk tepat di bangku samping kanan Tania itu, terus-terusan menatap Tania dengan sorotan yang biasa namun seperti mematikan. Ingin rasanya Tania berpindah tempat duduk dengan Ratu, namun sepertinya jika Tania menginginkan berpindah tempat duduk pun, Ratu tidak akan mau, karena Ratu sudah pasti tidak akan bisa duduk dengan tenang jika terlalu dekat dengan Rayn---ya, Ratu menyukai Rayn, konsentrasi belajarnya bisa rusak, karena dimakan perasaan salah tingkah.
Lalu Rayn melemparkan segulung kertas pada Tania. Tania pun membukanya dengan ragu, "gue gak suka kalau lo deket sama Titan!" Begitu isi tulisan dari kertas gulungan tersebut. Tania pun menoleh ke arah Rayn, lalu Rayn hanya tersenyum miring dengan sorotan mata yang terlihat biasa namun mematikan. Dari situ, Tania tidak tau harus bagaimana, ada perasaan takut yang menyelimuti hati Tania, namun Tania mencoba untuk selalu bersikap tenang. Meskipun memang di antara Tania dan Rayn sudah bukan lagi sepasang kekasih yang terikat oleh status pacaran, namun sepertinya Rayn masih tidak rela jika Tania bersama cowok lain. Rayn masih menyukai Tania, namun Tania sudah tidak lagi menyukai Rayn---karena sifat playboy dan kasarnya Rayn terhadap perempuan tidak pernah hilang.
k a n g e n
Sementara Titan yang kini baru saja masuk ke dalam kelasnya, sedikit memasang wajah tidak suka, saat Deo justru malah duduk di bangku sebelah Titan. Dengan berat hati dan sesekali menghela napas pelan, Titan pun duduk di bangkunya tanpa memperdulikan siapa pun di sekelilingnya.
"Gue duduk di sini, ya," sapa Deo.
"Terserah," singkat Titan.
"Ngomong-ngomong, tadi gue lihat lo ngegandeng cewek ke kelas yang ada di ujung timur sana, itu cewek siapa? Cewek lo, ya?" Tanya Deo. Titan menghela napas pelan, sudah pasti kehadiran Deo hanya akan membuat Titan merasa diikuti oleh wartawan, Deo terlalu banyak bertanya.
"Yo? Lo tau gak, cowok yang suka kepo dan suka ngegosip sana-sini itu kadar kecantikannya bisa ngalahin ibu-ibu PKK," jelas Titan, disertai senyum remeh.
"Lo nyamain gue kayak ibu-ibu PKK?"
"Lo pikir aja sendiri."
"Yaelah, cuma nanya doang kali!"
"Mangkanya lo diem. Atau lo bakal enggak betah tinggal di kelas ini," kata Titan pelan, namun perhatiannya hanya tertuju pada ponsel yang ia genggam.
Deo pun diam. Sebagai murid baru di sekolah ini, Deo atau cowok yang senang dipanggil Yoyo itu, baru merasakan senasai kelas yang cukup ramai, bak pasar. Deo bahkan melirik setiap sudut kelas ini, semua m urid bahkan seperti asyik sendiri. Di pojok sana, terdapat Jonathan yang asyik berkutat dengan laptopnya. Di ujung sebelah kanan, ada genk cewek-cewek yang asyik menggosip ria. Yoyo bahkan belum terbiasa dengan situasi kelas yang seperti ini.
__ADS_1
"Lama-lama lo pasti bakal terbiasa dengan situasi kelas yang kayak gini." Titan berujar pelan, seperti tau apa yang sedang dipikirkan Yoyo.
"Lo tau pikiran gue? Wah, lo bukan manusia, ya? Lo makhluk immortal? Sebangsa apa? Vampire? Serigala? Serphent? Rubah? Atau---"
"Pikiran lo kejauhan. Ya gue manusia lah. Bagaimana ceritanya lo punya pemikiran kalau gue bukan manusia. Ini bukan cerita GGS, ya!" Jelas Titan, sembari memasukan ponselnya ke saku seragam sekolahnya.
"Ya, mangap."
"Mangap-mangap. Lo kira lagi goyang dumang, mangap-mangap?" Ucap Titan datar.
"Eh, Titan. Gue mau nanya dong sama lo. Nih, ya, sebenernya gue tau siapa cewek yang digandeng lo tadi, namanya Tania, kan? Coba deh lo tanya ke dia, apa dia juga kenal sama gue? Pasti kenal," ucap Yoyo. Titan langsung menoleh ke arah Yoyo dengan menyipitkan matanya.
"Gue rasa lo deh yang bukan manusia. Kenapa seolah-olah lo tau semaunya? Segitu keponya, ya, lo? Atau emang kerjaan lo sebagai stalker?"
"Gue serius."
"Emang gue lagi bercanda?"
"Ya enggak, sih." Yoyo berujar pelan, "gue cuma mau ngasih tau aja, kalau gue juga kenal sama Tania, dia sering main ke rumah gue. Tania kan temennya Ratu, nah si Ratu itu sepupu gue," sambung Yoyo.
"Oh," Titan hanya ber-oh ria.
"Nah, di sini gue mau nawarin jasa nih ke elo. Kalau lo suka sama Tania, gue bisa bantu lo buat dapetin Tania. Gue juga udah tau kok Tania itu kayak apa, dia juga pernah ngobrol sama gue," tawar Yoyo. Namun Titan hanya tersenyum miring seolah meremehkan tawaran Yoyo.
"Gue lebih suka usaha sendiri. Gue lebih suka tantangan daripada cari bantuan orang lain, selagi gue masih bisa. Lagipula, gue yakin, gue bisa memiliki apa pun yang gue mau dengan cara yang gue punya," jelas Titan.
"Gue suka gaya lo, bro!" Yoyo tersenyum sambil menepuk bahu Titan.
Beberapa menit kemudian, seorang guru pun masuk ke dalam kelas ini. Situasi kelas yang tadinya riuh bak pasar pun, kini sunyi senyap, tak bersuara. Guru ber-nametag Dila Restanti, atau disebut juga sebagai guru bahasa Indonesia itu nampak memasang wajah ceria, matanya terlihat ramah untuk dipandang, meskipun lensa kacamata menghalangi, namun tetap tidak mengurangi keceriaan yang terpancar dari mata guru itu. Akan tetapi, semua murid yang ada di kelas ini, nampak was-was, karena melihat beberapa file yang dibawa Bu Dila begitu banyak dan menumpuk, seperti sebuah makalah yang baru saja dicetak, harum kertasnya pun masih tercium.
"Anak-anak, hari ini kita gak belajar. Tapi Ibu mohon, kalian tetap tenang. Ibu udah bawa beberapa naskah drama. Tapi kelas ini cuma kebagian beberapa orang saja. Dan nanti pas istirahat yang namanya Ibu panggil sekarang diharapkan ke Aula, ya," ucap Bu Dila ramah. Murid yang lainnya pun menjawab 'iya' dengan serempak.
"Tapi, Bu, naskah yang ada di saya belum kelar," kata Jonathan.
"Kita pake yang naskah kemarin saja. Soalnya waktu sudah tinggal sebulan lagi, sementara persiapan latihan untuk drama belum juga dilaksanakan." Bu Dila berujar pelan, Jonathan pun mengangguk mengerti.
"Baik, Bu."
"Oke, semuanya. Ibu akan panggil nama-nama siapa aja yang ikut serta dalam drama. Titan, Jonathan, Rian, Miko, Seira. Cuma lima orang aja dari kelas ini," jelas Bu Dila. Tentu murid-murid yang tidak terpanggil namanya merasa lebih tenang, mengelus dada, aman dari pementasan drama yang akan ditampilkan di acara HUT SMA Kejora ini.
"Saya, Bu?" Titan bertanya, karena namanya terpanggil.
"Iya. Nih kamu baca scene punyamu, apa pun karakter yang kamu dapat dari cerita ini, kamu harus bisa meranin karakter itu dengan baik."
Titan pun mengambil naskah yang tecantum namanya. Sebenernya Titan merasa sangat-sangat tidak menginginkan ikut serta dalam pertunjukan drama nanti, namun ya sudahlah, mungkin dengan begini, Titan sedikit demi sedikit mampu memberbaiki sifat dan perilakunya yang selalu buruk di mata orang lain.
"Untuk info lebih jelasnya atau kalau kalian mau tau siapa aja yang ikut tergabung dalam pertunjukan drama tersebut, kalian bisa cek di Instagram Ibu. Yang kena tag, itu yang ikut memerankan setiap karakter yang ada dalam cerita drama nanti," jelas Bu Dila.
"Udah ada lima belas orang, ya, Bu?" Tanya salah satu murid.
"Iya. Lima belas orang. Lima dari kelas XI-1, lima dari kelas XI-2, dan lima lagi dari kelas ini," ucap Bu Dila. Semua murid pun hanya mengangguk-ngangguk pelan, "bagaimana? Ada yang masih belum mengerti? Silahkan tanyakan aja," sambung Bu Dila.
Terlihat Titan yang nampak menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, sembari memasang wajah tidak mengerti ketika membaca naskah miliknya. Titan merasa dirinya seakan ditertawakan oleh tulisan dalam naskah tersebut. Kemudian, Bu Dila pun memperhatikan Titan yang nampak seperti tidak mengerti.
"Titan? Ada yang mau ditanyain?" Tanya Bu Dila.
"A-aduh. I-ini, Bu. A-apa gak salah, Ibu ngasih karakter ini ke saya? Saya bahkan gak tau harus ngapain." Titan berujar gelagapan, ketidakmengertiannya membuatnya terlihat sangat bodoh, namun itu sama sekali tidak melunturkan pesona yang dimilikinya.
"Memangnya apa yang salah dari karakter itu?" Bu Dila justru malah berbalik bertanya.
"Di sini diceritain, saya seorang ustadz, pake sorban, pemuda yang berusia sembilan belas tahun, tapi udah jadi ustadz, disebut juga ustadz gaul, dan tau segala hal tentang agama. Apa saya bisa memerankan karakter itu?" Ucap Titan, sementara yang lainnya terlihat seperti menahan tawa.
"Badboy jadi ustadz, gimana ceritanya?" Bisik-bisik tetangga mulai terdengar, suara tahan tawa pun semakin meraja lela. Bisikan-bisikan setan pun mulai memanasi pendengaran Titan.
"Ibu yakin kamu bisa memerankannya dengan baik." Bu Dila tersenyum, dan seperti sangat yakin bahwa Titan mampu membawakan karakter tersebut dalam pertunjukan drama nanti.
Titan menghela napas pelan, terlihat Yoyo menahan tawa, hingga kedua pipinya terlihat membiru. Ini kali pertama untuk Titan ikut serta dalam sebuah pertunjukan drama, bahkan Titan merasa kalau dirinya sama sekali tidak pandai berakting, tapi sekalinya ia mendapatkan peran, itu adalah peran yang sangat sulit. Bagaimana bisa penampilan badboy seperti Titan dipermak menjadi tampilan seorang Ustadz? Dan bagaimana nanti ketika Titan memakai sorban? Bukankah itu akan menjadi bahan tawaan semua orang? Entahlah. Titan bahkan tidak ingin memperdulikan semua itu. Titan hanya berusaha mengikuti perintah Bu Dila dengan baik. Terlintas dalam pikirannya pun; bahwa ia pasti akan jauh lebih memesona ketika menggunakan sorban nanti.
"Yasudah, hari ini Ibu izin gak masuk dulu. Karena masih banyak yang harus Ibu kerjain untuk persiapan HUT nanti. Ibu harap kalian gak ribut kayak pasar. Dan buat yang namanya dipanggil tadi, pas istirahat diharapkan ke aula." Bu Dila pun membereskan beberapa berkas dan file miliknya. Lalu, Bu Dila pun berlalu dengan mengucap salam.
Wajah Titan semakin kusut, ia nampak tidak percaya diri dengan karakter yang akan ia mainkan dalam drama nanti. Teman-temannya hanya tertawa sambil mencibir Titan. Namun Titan tidak memperdulikan cibiran itu, ia hanya berusaha membaca ulang setiap naskah, sampai ia benar-benar mengerti. Titan menghela napas pelan, kedua tangannya menjambak pelan rambutnya sendiri, sehingga membuat rambutnya sedikit berantakan.
"Woy! Deo-dorant ketek! Lo kebagian peran apa, hah? Gak dapat peran, ya? Kasihan. Lo tuh cocoknya nanti jadi penonton aja, sambil teriak lala-lala-yeye-yeye," ledek Jonathan. Yoyo pun langsung menoleh ke arah Jonathan dengan memasang tatapan tidak suka.
"Eh, curut. Lo bisa diem gak? Bisa gak sih jangan ledekin nama gua? Kurang kerjaan!" Ketus Yoyo.
"Resiko dong! Lo kan anak baru, harus siap juga dicibir sana-sini. Itu udah jadi ritual kelas ini, kalau ada yang baru, ya dia jadi bahan cibiran," ucap Jonathan.
"Ritual apaan? Dasar makhluk ghaib!" Maki Yoyo pada Jonathan. Kemudian, Yoyo pun tidak memperdulikan Jonathan, Yoyo mengalihkan perhatiannya pada buku di atas mejanya, dan mulai membaca buku tersebut.
"Lo semua berisik! Gak tau apa kalau gue lagi pusing! Gue lagi ngapalin dialog, nih!" Titan pun angkat bicara, seketika itu situasi kelas hening sejenak.
"Wow, Pak Ustadz ngamuk. Oh iya, Pak, sorbannya nanti ambil, ya. Ada di kolong meja Bu Dila." Jonathan berujar sambil cekikikan, namun Titan menatapnya sinis dan tidak suka.
"Wey, cacing keremi, bisa diem gak sih lo! Bacot lo barokah!" Titan kali ini terlihat emosi. Bagaimana tidak, Jonathan terus-terusan meledeknya, kesal pula karena semua warga kelas ini nampak seperti senang melihat Titan terbebani naskah dialog dan harus memperdalam karakter yang sama sekali jauh dari karakter asli seorang Titan Wirasena.
__ADS_1
"Hampura atuh, Wa." Jonathan pun berujar dengan bahasa sunda, serta logat sunda yang begitu sangat kental.
Sementara Yoyo hanya diam, pura-pura membaca, padahal tanpa ia sadar, buku bacaannya terbalik.
"Woy anak baru, otak lo kelewat encer atau gimana? Baca buku kok terbalik? Haha eta terangkanlah," makinya. Yoyo pun langsung membenarkan posisi bukunya, dan bersikap seolah tidak peduli yang suara cekikan yang ada---padahal jauh dari dalam hatinya, ia merasa sangat malu.
Penampilan Yoyo memang terlihat begitu sangat rapi, mencerminkan sosok murid yang apik, lugu dan kutu buku. Nama aslinya memang Deo Arilangga, namun ia lebih senang dipanggil Yoyo, karena itu adalah nama panggilan atau nama kesayangan Mama-nya untuk Deo. Iya, Yoyo adalah tipikal cowok yang terlihat manja dan terlalu anak Mama. Walau begitu, saat ini ia diam-diam sedang belajar menjadi sosok cowok seperti Titan. Akan tetapi kepindahan Yoyo ke sekolah ini, belum jelas ada yang tau apa alasannya. Mungkin alasan Yoyo pindah ke sekolah ini adalah hanya untuk menghindar dari masalah Deby. Iya, Deby---cewek yang tempo lalu akan melakukan aksi bunuh diri, namun gagal. Yoyo tidak ingin lagi ikut campur dengan permasalahan Deby, atau apa pun yang menyangkut tentang kisah yang ada di SMA Pelita Bangsa, tentang permasalahan rumit antara Deby dan Diego, yang sudah sangat menyulitkan Yoyo.
Lalu, bagaimana keadaan Deby saat ini? Entahlah.
k a n g e n
Saat jam istirahat tiba. Titan, Jonathan, Rian, Miko dan Seira, bergegas menuju ruang aula sekolah. Namun, Titan menyuruh Jonathan dan yang lainnyalebih dulu ke aula, karena Titan harus mengambil sorban terlebih dahulu, di ruangan Bu Dila. Titan terlihat seperti setengah hati mengemban tugas ini, mungkin karena ia tidak begitu percaya diri dengan karakter yang akan dimainkannya dalam pertunjukan drama nanti. Tapi Titan mau tidak mau, harus mengikuti semua ini dengan baik.
Saat Titanmenuju ruang guru, Titan berpapasan dengan Yoyo---yang berjalan menuju aula.
"Tan? Aula kan di sana? Lo mau ke mana?" tanya Yoyo.
"Gue mau ke ruangannya Bu Dila dulu, nanti gue juga pasti ke aula."
"Oh. Mau ngapain ke ruang Bu Dila?"
"Mau ngambil sorban."
"sorban."
"iya."
"yaudah, biar gue aja yang ambilin. lo ke aula aja. yang lain katanya udah pada kumpul di aula. ya walauapun gue gak kepilih ikut serta dalam drama, tapi gue bakal tetap support lo, Ratu, Tania."
"Lo seriusan mau ngambilin sorban di ruangannya Bu Dila?"
"anggap aja ini sebagai tanda terima kasih gue ke elo, karena lo udah pernah bantuin gue waktu itu," ucap Yoyo tersenyum.
"oke, deh."
detik kemudian, Titan pun membalikan badannya dan melangkahkan kaiknya ke arah aula. Titan berjalan santai menuju aula, dengan kedua tangan yang memegang naskah drama, sesekali ia menyempatkan untuk membaca naskah tersebut walau sambil berjalan. Ia bahkan tidak peduli dengan orang sekelilingnya yang menatapnya tidak suka, ada pun yang menatapnya terpesona. Bahkan Titan terlalu cuek.
Saat Titan sampai di aula, ia melihat beberapa orang sudah kumpul, hanya dirinyalah yang baru datang. Kemudian, Bu Dila pun langsung memanggil Titan.
"Kenapa baru sampai?"
"tadi abis ke ruang Ibu. mau ngambil sorban. tapi, gak jadi, diambilin sama Yoyo," kata Titan pelan, lalu detik kemudian Titan pun beralih duduk di antara beberapa murid yang lain---yang tergabung dalam pertunjukan drama ini.
"Siapa yang suruh kamu duduk?" tanya Bu Dila.
Titan pun diam, dengan ekpresi wajah datar dan membingungkan. "Emangnya kenapa, Bu?"
"Kamu langsung di depan, kita harus mulai latihan ini dengan dimulai oleh kamu,"
"kan sorbannya juga belum dateng, Bu," Titan berusaha agar tidak tampil pertama dalam latihan ini. sungguh, perasaannya diselimuti rasa grogi, terlebih ada Tania juga di sini.
"Ibu udah bawa sorbannya. Sini ke depan, pake ini, dan mulai latihan berdialog," kata Bu Dila.
Titan menghela napas, sebelum ia beranjak berdiri ke depan, ia pun melirik sekelilingnya, bahkan ia menemukan Tania di barisan kanan, tepat di samping kanan Titan---berjaraktak tak jauh dari tempat Titan duduk, hanya berselang dua-tiga orang saja. Titan bahkan gugup. Lalu, Titan pun berdiri tepat di hadapan lima belas orang murid yang terduduk di lantai, Titan mengambil sorban yang telah disediakan oleh Bu Dila, lalu dengan menahan rasa gugupnya, Titan mengalungkan sorban tersebut di lehernya. Seketika itu, terlihat Tania terdiam saat melihat---untuk pertama kalinya, Titan mengenakan sorban, terlihat aneh, namun pesona semakin terpancar jelas.
"Gila! tampang badboy, pake sorban. oke juga," bisik Ratu pada Tania. Tania hanya menoleh sedikit ke arah Ratu, lalu kembali melihat ke depan---ke arah Titan.
"Aelah, Bu. masa peran ustadznya kok dia, sih?" Rayn membuka suaranya. ya, Rayn juga ikut tergabung ke dalam pertunjukan drama nanti. bahkan peran Rayn adalah peran utama. jelas, Rayn mendapatkan peran itu, karena di sekolah ini, Rayn adalah murid yang prestasinya sangat menonjol, hanya saja ia memiliki karakter playboy. Ryan selalu mengandalkan kepandaiannya untuk membuat semua guru-guru yang ada di sekolah ini senang terhadapnya, dan menjadikannya anak emas. Bukan hanya pandai dalam pelajaran, Rayn pun pandai mencuri hati para guru.
"Kenapa? lo gak mau gue ada di sini? takut kalah ganteng sama gue?" Ucap Titan santai.
ck! Rayn hanya berdecak pelan.
"Biarin aja si Titan yang peranin ustadz, biar dia insyaf," timpal Jonathan.
"****. Awas lo Jon, kualat lo sama gue," kata Titan pelan.
"Bercanda, Tit."
dan, detik kemudian, Yoyo pun datang dengan membawa kain di tangannya. dengan segera, Yoyo pun menghampiri Titan yang berdiri di depan aula bersama Bu Dila itu. Nampaknya Yoyo berlari dari ruang Bu Dila sampai aula, karena deru napasnya terdengar terengah-engah. saat Yoyo menghampiri Titan, Titan pun menoleh ke arah Yoyo dengan wajah yang terlihat santai---padahal dalam hatinya, Titan menyembunyikan rasa gugup yang luarbiasa karena ada Tania di sini.
"Tan? ini sorbannya.' ucap Yoyo.
"apa ini?" Titan mengernyit bingung dengan sesuatu yang diberikan Yoyo.
"ini sorban kan?" katanya polos.
semua murid yang ada di ruangan ini pun tertawa terbahak-bahak. bagaiamana bisa, Yoyo tidak bisa membedakan mana yang namanya sorban dan mana yang namanya taplak meja. Yoyo bahkan sebodoh itu, terlihat pula Ratu menundukkan kepala karena malu, malu terhadap tingkah sepupunya yang sangat memalukan itu. Bahkan mungkin Ratu tidak akan membiarkan semua orang tau kalau Deo Arilangga atau Yoyo itu adalah sepupunya.
Titan tersenyum miring dan remeh, "sekampret-kampretnya gue, gue bisa ngebedain mana yang namanya sorban dan mana yang namanya taplak meja," Titan berujar santai, Yoyo hanya menggaruk-garukan kepalanya yang tak gatal, sembari menahan malu yang befgitu besar.
"Hehe. gue minta maaf," ucap Yoyo dengan cengengesan.
Bu Dila menghela napas pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala, "kamu anak baru itu, ya? yaudah kamu duduk aja di barisan belakang, siapa tau Ibu membutuhkan peran tambahan," kata Bu Dila pada Yoyo, Yoyo pun mengangguk saja, dan menuruti perintah Bu Guru Dila tersebut.
__ADS_1
bersambung