Titan'S

Titan'S
eps. 14


__ADS_3


Empat belas :


Hati yang kupunya ini, ibarat seekor ulat yang menatap pilu ke atas langit karena tak dapat merengkuh bulan dan bintang. Tapi seekor ulat itu selalu punya cara, ia berproses, merenungkan diri beberapa saat sampai ia menjadi kepompong, lalu terbang menjadi kupu-kupu. Walau masih tak dapat merengkuh bulan dan bintang, setidaknya ia masih dapat terbang melintas awan dengan sepasang sayapnya.


"Ujannya udah reda, nih. Kita lanjutin perjalanan, yuk?" Ajak Titan. Tania mengangguk pelan dan ikut bangkit berdiri mengikuti Titan.


Hujan memang sudah reda, tinggal yang tersisa hanyalah genangan-genangan air di sepanjang jalan. Terkadang Tania berpikir, jika hujan adalah sebuah moment yang sudah pasti akan tersimpan dalam ingatan, maka dari itu perginya juga bukan hanya meninggalkan genangan, tapi juga kenangan.


"Kamu gapapa nganterin aku?" Tanya Tania saat Titan baru saja naik dan menyalakan mesin motornya.


"Sangat tidak apa-apa. Apa perlu aku joget-joget sambil meragain tiga orang yang dari jepang itu bilang; tidak apa-apa, tidak apa-apa." Titan berujar dengan nada meledek dan tersenyum remeh.


"Ya, enggak gitu juga kali. Aku cuma enggak mau aja ngerepotin kamu."


"Aku enggak ngerasa direpotin. Beneran. Aku siap jadi tukang ojek buat kamu."


"Yakin?"


"Kenapa? Terlalu ganteng, ya, buat jadi tukang ojek?"


"Ih apaan, deh." Tania pun langsung memakai helmnya dan naik ke motor Titan tanpa memperdulikan kalimat terakhir Titan. Sementara Titan hanya tersenyum kekeh melihat sebentar pipi Tania yang nampak memerah.


Titan memakai helmnya, dan mulai melajukan motornya dengan kecepatan standar. Ada rasa nyaman yang timbul di hati Titan, ia seolah merasakan dunianya jauh lebih baik jika dirinya ada di dekat Tania. Kenangan-kenangan pahit yang pernah terlukis, seolah terkikis sedikit demi sedikit, membuat Titan jauh lebih bersemangat menjalankan kehidupannya ini.


Titan tidak pernah tahu, bahwa jatuh cintanya akan seindah ini.


k a n g e n


Saat malam tiba, Tania yang terlihat tengah asyik menatap langit malam yang dipenuhi dengan ribuan bintang. Tania merasakan ada sesuatu yang membuatnya jauh lebih baik dari sebelumnya. Sesuatu yang membuatnya nyaman. Sesuatu yang membuatnya terus mengingat kejadian siang tadi---saat Titan mengantarkannya pulang, dengan cara yang berbeda, karena biasanya berjalan kaki, kini justru Titan memboncengi Tania dengan ninja hitamnya yang nampak sangar.


"Gue bahkan udah lupa caranya jatuh cinta. Tapi, apa ini perasaan cinta? Apa gue udah jatuh cinta sama Titan?" pikir Tania. Tania terus mencoba untuk menerka-nerka perasaannya terhadap Titan. Namun ada sedikit rasa khawatir di hati Tania, Tania bahkan terlalu takut untuk menyebutkan kalau ia kini memang benar-benar jatuh cinta.


"Jangan bodoh Tania, Titan gak mungkin suka sama lo. Dia digilai banyak cewek-cewek di sekolah, bahkan di antara cewek-cewek yang suka sama Titan, ada yang lebih cantik daripada elo." Tania bermonolog pada dirinya sendiri. Ia merasakan kebimbangan melanda dirinya.


"Tapi ... Gue ngerasa ada yang beda dari cara Titan bersikap ke gue. Dia baik, dan dia seolah menunjukan kalau dia suka sama gue. Ya Tuhan, kok jadi bimbang gini, sih." Tania bermonolog lagi.


"Gue udah yakin, kalau sekarang lo emang udah bener-bener kepincut sama si Titan. Iya, kan?" Ujar seseorang, yang saat ini tengah berdiri di ambang pintu, dengan posisi bahu sebelah kanan menyandar ke sisi lawang pintu, dan kedua tangan melipat. Tania pun menoleh ke arah seseorang tersebut.


"Ratu? Ngapain lo di sini?" Tania nampak bingung, ini sudah hampir larut malam, mengapa Ratu ada di sini.


Ratu tersenyum pahit, "biasa, gue lagi ada masalah. Mangkanya gue ke sini."


"Masalah apa? Bokap-nyokap lo yang sok sibuk itu?"


"Mereka bukan sok sibuk, Tan. Mungkin guenya aja yang kurang mengerti situasi dan kondisi mereka. Bahkan, gue tuh serasa pengin banget balik ke masa kecil, Tan. Masa di mana gue masih polos, gak ngerti apa-apa, dan bokap-nyokap gue juga masih selalu ada buat gue. Hidup gue itu bahagia banget ketika di Bali." Ratu berujar sambil menghampiri Tania dan berdiri tepat di samping Tania.


"Ratu, lo kan masih ada gue. Gue peduli kok sama lo." Tania menepuk bahu Ratu, lalu Ratu tersenyum.


"Gue beruntung punya temen kayak lo, Tan. Coba aja kita kenal dari pas masuk sekolah, ya. Mungkin persahabatan kita jauh lebih panjang dan berwarna. Intinya, gue seneng punya temen kayak lo," ucap Ratu tersenyum, Tania pun melemparkan senyum pada Ratu.


"Mau udah lama kenal, atau masih baru kenal juga, yang namanya pertemanan itu kalau udah dipupuk dengan rasa tulus, selamanya akan membuat kita merasa beruntung memilikinya," ujar Tania.


"Ah, Tania. Gue jadi terharu." Sepasang mata Ratu terlihat berkaca-kaca, dan memeluk Tania walau sebentar.


"Malam ini gue nginep di sini, ya?" Ucap Ratu lagi.


"Serius?"


"Ya gue serius."


"Tapi di rumah gue ini, khusunya di kamar gue, gak ada AC, Rat, enggak kayak di rumah lo." Tania berujar pelan.


"Yah, masa lo enggak ngizinin gue buat nginep di sini, sih? Gapapa Tania, gak ada AC juga gapapa. Gue masih bisa hidup kok tanpa AC."


"Bukannya enggak ngizinin, Rat. Tapi kan daripada di rumah gue, kenapa lo enggak coba buat nginep di rumah Deo Yoyo? Rumah lo kan sebelahan sama sepupu lo, si Yoyo itu," kata Tania.


"Ya, iya, sih. Tapi gue males kalau nginep di rumah Yoyo. Karena biasanya di jam segini tuh, dia suka nonton Mahabarata. Dan lo tau, senyebelin apa itu si sepupu curut yang bernama Deo alias Yoyo itu? Gue bakal gak bisa tidur denger celotehannya dia yang kelihatan gereget sama film kolosal Mahabarata itu. Kalau kita mah kan nonton ya nonton aja, ini mah malah kayak apa tau, kalau kata orang sunda mah, riweuh," ujar Ratu, Tania pun terlihat terkekeh mendengar cerita Ratu.


"Lo sekarang udah bisa nyunda, ya?"


"Dikit, hehe."


"Ngomong-ngomong, Jevin masih suka ke Bandung lagi, Rat?" Tanya Tania mengalihkan pembicaraan.


"Enggak, Tan. Udah sebulan belakangan ini dia udah jarang banget ke Bandung. Lagian, gue juga kasihan ke dia kalau harus bolak-balik Bandung-Bali cuma buat ketemu sama gue doang."


"Lo masih belum sadar juga?"


"Sadar apanya, Tan?"


"Jevin suka sama lo. Itu sebabnya dia rela bolak-balik Bandung-Bali, setiap weekend dan hari liburnya."


"Gue sama dia cuma temenan, Tan. Gak lebih."


"Tapi gue lihat dia berharap lebih sama lo."


"Ah, enggak ah. Gue justru ngeliatnya biasa-biasa aja. Mungkin cuma perasaan lo doang, Tan."


"Kalau dia suka beneran gimana?" Tanya Tania.


Ratu pun menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, sembari tersenyum samar, terlihat sorotannya yang nampak memaksa untuk mengatakan; bahwa semua tentang hubungannya dan Jevin biasa-biasa saja. Namun, Tania justru malah semakin memojokan Ratu dan membuat Ratu nyaris tersipu dan salah tingkah.


Jevin adalah teman semasa kecil Ratu sewaktu Ratu masih tinggal di Bali. Karena Ratu anak tunggal dari pasangan suami-istri yang kaya raya nan super sibuk, membuat Ratu menganggap kalau Jevin tidak lebih dan tidak kurang, hanya sebatas Kakak untuknya. Yoyo juga mengenal Jevin, bahkan mereka berteman dengan baik, karena kebetulan, Jevin adalah tetangga Yoyo dan Ratu.


"Yaudah, ya. Intinya gue sama Jevin gak ada hubungan apa-apa. Dia udah gue anggep Abang gue sendiri, Tania," jelas Ratu.

__ADS_1


"Iya, deh, iya. Gue percaya."


"Lo kan tau sendiri, kalau gue sukanya sama Rayn," ucap Ratu, kemudian senyum Tania yang tadinya tersungging lebar, berubah menjadi tipis.


"Gue semakin yakin, kalau cinta itu bener-bener naif." Ratu berujar pelan, dan tersenyum tipis ke arah Ratu.


"Sebenernya gue juga pengin banget lupain Rayn, Tan. Gue pengin lepas dari perasaan cinta ini. Tapi nyatanya? Semakin gue berusaha buat lupain dia, semakin sulit buat ngelepas bayangannya dia. Bahkan gue sadar kok, kalau dia terlalu bagus untuk gue." Ratu berujar dengan sorot mata yang serius, dan benar-benar menunjukan bahwa cintanya pada Rayn teramat dalam, sehingga membuatnya tidak pernah melihat sisi buruk dari diri Rayn---padahal jelas, Ratu tahu sisi buruk dari seorang Rayn Mahardika.


"Bukan dia yang terlalu bagus buat lo. Tapi elo terlalu sempurna buat dia. Cepat atau lambat, lo pasti menemukan belahan jiwa lo." Tania menepuk pelan bahu Ratu.


"Gue bakal berusaha buat ngelupain Rayn. Gue janji."


"Gak perlu, Rat. Karena Tuhan menciptakan otak itu gunanya untuk mengingat, bukan untuk dipaksa melupakan. Mau sekuat apa usaha lo untuk melupakan, lo gak bakal bisa lupa, apalagi ini itu menyangkut soal hati. Selamanya lo gak bisa lupa, kecuali kalau lo amnesia," jelas Tania.


"Iya juga, sih. Eh, tapi gimana perasaan lo sama Titan? Lo suka kan sama Titan?" Ratu justru malah mengalihkan pembicaraan, membuat Tania terlihat diam sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Ratu tersebut.


Tania menghela napas pelan, "Gue juga gak tau, gue suka atau enggak sama Titan."


"Sekarang gue tanya; apa yang lo rasain kalau lo deket sama Titan?" Tanya Ratu pelan, semakin mendesak Tania untuk mengungkapkan seluruh perasaannya.


"Yang gue rasain, sih....," Tania menggantungkan kalimatnya, wajahnya terlihat cukup bingung untuk menjawab petanyaan yang dilontarkan oleh Ratu.


"Kenyamanan, kan? Itu kan yang lo rasain ketika lo berada di samping Titan? Uh, kalau begini ceritanya, sih, gue jadi kepingin nyanyi lagi kesempurnaan cinta dari Rizky Febian," kata Ratu.


"Kok malah nyambung ke lagu kesempurnaan cinta dari Rizky Febian, sih?" Heran Tania. Ratu pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Iya. Yang liriknya; berada di pelukanmu, mengajarkanku, apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cintaaaaaaaa." Ratu benyanyi seolah meledek Tania, membuat Tania sedikit risi mendengarnya.


"Lo jadi ngeledek gue, sih?"


"Iya itu resiko orang yang lagi jatuh cinta, harus siap diledekin."


"Ya gue kan belum bilang kalau sekarang gue lagi jatuh cinta, Rat. Lo rese, nih." Tania berujar, bibirnya terlihat sedikit mengerucut. Namun Ratu seolah belum puas meledeki temannya ini.


"Apa? Gue gak salah denger, kan? Lo bilang kalau lo sekarang belum jatuh cinta? Berarti kata 'belum' di kalimat lo itu bermakna 'akan' kan? Berarti juga lo akan jatuh cinta sama Titan? Hayoooo." Ratu semakin memojokan Tania, membuat Tania tak tahu harus menjawab apa. Ratu memang paling pandai dalam urusan ledek-meledek.


"Lama-lama lo itu sama persis kayak Jonathan." Tania berujar sambil mengubah posisinya menjadi duduk di atas tempat tidur.


"Aduh Tania, lo kalau diledekin gini makin kelihatan kalau lo itu ada rasa sama Titan. Lagian lo mah aneh, pake nyamain gue sama Jonathan, dari mana sama persisnya coba sama gue? Jelas-jelas gue sama Jonathan punya karakter yang bertolakbelakang."


"Jelas lo sama Jonathan itu klop banget, Rat."


"Klop dari mananya?"


"Lo seorang pembaca yang baik, dan si Jonathan kan penulis. Cocok itu kalau bersatu. Reader love writer. Kalau dijadiin sinetron ajib, tuh." Kali ini Tania berhasil meledek Ratu, membuat Ratu seketika itu memasang wajah datar dan mengerucutkan bibirnya sempurna.


"Nyebelin banget lo ah, Tan, sumpah."


"Hehe. Maaf. Oh iya, tadi siang abis sekolah, lo ke toko buku? Beli novel apa?" Tanya Tania.


"Ya ampun, gue lupa bawa novelnya. Biasanya kalau mau tidur gue selalu baca novel dulu. Gue keburu pengin ke sini, sih, pengin nginep, jadi gue lupa gak bawa novel." Ratu cengengesan, "Ta-tadi, gue abis beli teenlit, itu karyanya Mbak Esti Kinasih, yang trilogi Jingga dan Senja," sambung Ratu.


"Yang lama hilang, gak tau ada yang minjem, gak tau gimana. Gue lagi pengin baca ulang aja kisahnya Ata, Ari, dan Tari, jadi gue beli lagi, deh. Sebenernya gue bisa aja sih download pdf-nya, tapi gue lebih menghargai penulisnya, selama gue masih mampu buat beli, gue harus beli. Karena bagi gue, beli pdf itu gak menghargai penulis," jelas Ratu.


"Iya, deh, iya. Lo emang ratunya, deh, kalau urusan pernovelan."


"Ya emang gue Ratu, kelleus." Ratu berujar dengan terkekeh.


Tania dan Ratu pun hanya saling melemparkan senyum. Malam ini Ratu sengaja menginap di rumah Tania, karena baginya, Tania adalah sosok teman yang mau mendengar semua keluh kesahnya atau bisa disebut juga kalau Tania bersedia menjadi teman saat Ratu dalam keadaan senang atau pun susah.


k a n g e n


Ribuan bintang penghias langit malam, membuat suasana malam ini terasa jauh lebih baik dari malam-malam kelabu yang pernah terlewatkan. Kini, terlihat Titan yang duduk memokuskan pandangannya ke layar laptop, memasang wajah yang cukup santai, seringkali bibirnya menyunggingkan seulas senyum. Sorotan mata yang terlihat penuh arti itu, memancarkan sebuah rasa tersendiri, yang tersembunyi di balik dinding hati yang paling terdalam.


"Ibu, Ayah," ucapnya lirih, seulas senyum tipis pun terpasang di bibirnya.


Mungkin jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, Titan merindukan sosok Ibu yang hadirnya bagai malaikat tak bersayap. Ia juga sangat merindukan sosok Ayah yang dahulu senantiasa menyemangatinya saat ia jatuh dari sepeda. Ini terlihat menyakitkan untuk Titan, ia benar-benar merasakan bahwa ternyata rindu itu berat. Saat rindu melanda dirinya, yang sudah pasti tak dapat ia temukan lagi wajah kedua orangtuanya, bahkan ingin menyentuh lembut tangannya pun ia tidak bisa, yang ia bisa rasakan adalah hanya menampung rindu dan menatap beberapa foto kedua orangtuanya yang tersimpan dalam folder dalam laptopnya.


"Mungkin gue bisa menyembunyikan semua luka ini dengan sangat rapi. Tapi, gue gak sanggup jika harus menahan rindu seberat ini." Titan berujar dengan suara berat, karena terlihat sepasang matanya pun berkaca-kaca.


Lalu, terngiang kenangan indah yang tersimpan dalam memori otaknya. Titan mengingat secara detail kenangan indah itu. Kini waktu pun seolah menertawakannya, bahkan ia terlihat begitu rapuh. Titan belum sempat menjadi anak yang mampu membanggakan kedua orangtuanya, itu yang membuatnya terkadang sangat terpukul.


"Titan, jagoan Ayah. Jadi anak cowok enggak boleh nangis, masa jatuh dari sepeda aja harus nangis. Jadilah anak yang kuat, nak. Jadilah seperti apa yang kamu bayangkan. Karena hidupmu ada dalam genggaman tanganmu. Ayah sayang sama kamu," ucapnya dengan wajah yang berseri, membuat si kecil Titan kalau itu menghapus air matanya sendiri dan berhenti menangis.


"Kalau Entan udah gede nanti, Entan pengin banget kayak Ayah. Ayah itu hebat. Ayah yang terhebat di mata Entan. Entan sayang sama Ayah," ucap Titan, langsung memeluk Ayahnya dengan erat.


"Ayah juga sayang sama kamu, nak. Jadilah anak yang baik. Jadilah yang terhebat. Bermimpilah setinggi bintang, karena jika kamu terjatuh, sekumpulan awan pun akan menangkapmu," katanya lembut.


"Entan janji, akan jadi anak yang baik, bukan untuk Ayah atau pun Ibu, tapi untuk diri Titan sendiri. Janji Entan untuk Ayah dan Ibu adalah; Entan akan menjadi orang pertama yang akan menghapus air mata Ayah dan Ibu, ketika menangis."


"Kamu itu jagoan Ayah. Kamu bintang di hatinya Ibu," ucap sang Ayah sembari mencolek pelan hidung mancung Titan, Titan hanya tersenyum tersipu kala itu.


Semua kenangan itu terekam begitu jelas dalam ingatan Titan. Bahkan semua itu nampak begitu sangat indah, hingga kini tetes air mata Titan jatuh, terjun bebas membasahi pipi. Rasanya tidak kuat jika harus mengingat kenangan tersebut. Jika waktu bisa terputar kembali, mungkin Titan ingin kembali ke masa saat itu, masa di mana ketika ia masih berkumpul lengkap dengan keluarganya.


"Bahkan sebuah masa lalu itu sudah seperti sejarah, yang seharusnya dipelajari bukan untuk kembali." Titan berujar lirih dengan sorot mata yang nampak menahan sedih.


Bukan hanya kenangan manis, semua kenangan pahit pun seakan ikut kembali terekam. Titan mengingat kejadiaan saat di mana ia harus menyaksikan kedua orangtuanya harus menjadi korban kecelakaan tunggal di persimpangan jalan dengan kondisi mobil yang sudah habis terbakar, dan ditemukan dua jenazah---yang seluruh tubuhnya terbakar, hingga bentuk wajah pun sudah tidak jelas dikenali. Namun kala itu polisi menemukan identitas kedua jenazah tersebut, yang tak lain bernama Ginanjar Wijaya, dan Sela Fatmawati---istri dari Ginanjar Wijaya. Ya, itu adalah nama kedua orangtua Titan. Betapa terpukulnya saat itu, Titan yang masih berusia kanak-kanak---sekitar delapan tahun itu, harus menyaksikan kedua orangtuanya terenggut dan tak terselamatkan.


Ketika itu pihak polisi menemukan sebuah ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempat olah TKP, pada saat memantau tempat kejadian kecelakaan tunggal, yang menewaskan sepasang suami-istri. Sebuah ponsel yang berkondisi kaca retak tersebut, masih bisa menyala, polisi pun dengan sigap menelpon pihak keluarga, dan dari situlah polisi menemukan identitas korban.


Polisi menelpon kontak bernama 'Amira adikku' dalam ponsel tersebut---Amira yang tak lain adalah adik dari Sela Fatmawati atau lebih tepatnya Tante dari seorang Titan Wirasena. Pada saat polisi menelpon Amira, posisi Amira saat itu sedang menyetir mobil untuk mengantarkan si kecil Titan pulang sekolah. Maka dari itu, setelah Amira mendapatkan telepon tersebut, Amira langsung berbalik arah dan langsung menuju tempat olah TKP. Saat itu berulang kali Titan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi? Namun Amira hanya fokus menyetir dengan mata yang berkaca-kaca, bahkan Amira berulang kali berujar kalimat, "Apa pun yang terjadi, Titan harus kuat," katanya. Namun, kala itu Titan tidak tahu apa maksud dari kalimat yang terlontar dari mulut Tantenya itu.


Saat beberapa menit kemudian, Amira memakirkan mobilnya tepat di belakang kerumuan warga yang menyaksikan kecelakaan tersebut. Amira langsung bergegas keluar mobil, pikirnya kacau dan perasaannya hancur.


DEG!


Titan terdiam sejenak saat melihat kerumunan warga, beberapa kali ia bertanya dalam hati, 'apa yang terjadi? Mengapa Tante membawaku ke sini?'

__ADS_1


Dengan langkah pelan, Titan pun keluar dari mobil, dan melangkahkan kakinya menuju objek yang saat ini menjadi tontonan para warga. Wajah polos yang tidak mengerti apa-apa, dan perasaan yang terselimuti tanda tanya besar, Titan menerobos pelan kerumunan warga. Dan apa yang terjadi? Ia melihat Amira menangis sesegukan di depan dua jenazah yang menghitam karena terbakar.


Seketika itu lutut Titan bergetar hebat, buliran bening jatuh dari sepasang matanya yang indah, saat ia mendengar Amira menyebut nama Ayah dan Ibunya pada dua jenazah yang kini menjadi tontonan para warga. Banyak polisi di sini, suara sirine ambulance pun sudah terdengar bagai elegi kepedihan bagi Titan. Titan melangkah pelan menghampiri Amira.


"Tante apa yang terjadi? Ayo kita pulang. Ibuku dan Ayahku pasti sudah menungguku di rumah," ucap Titan getir, mencoba menepis semua apa yang dipikirkannya. Matanya berkaca-kaca, berharap ini semua adalah mimpi, dan ia sedang berusaha untuk terbangun dari mimpi buruk ini.


"Nak, kamu mungkin sudah gak bisa lagi bertemu dengan Ayah dan Ibumu. Mereka sudah pergi jauh, dan gak akan kembali lagi sama kita." Amira berujar dengan nada yang teramat sedih, bagaimana pun Amira harus mengatakan sejujurnya pada Titan, bahwa kedua orangtuanya benar-benar telah tiada.


"Kenapa Tante menangis?" Titan justru menghapus air mata yang terjun membasahi pipi Amira. Titan berusaha menepis semaksimal mungkin bahwa dua jenazah yang kini di hadapannya bukanlah jasad kedua orangtuanya.


Seketika itu Amira tak kuasa menahan pedih, ia langsung memeluk Titan, menumpahkan tangisnya saat memeluk Titan.


Dan polisi pun menghampiri Amira, "Maaf, Bu, dua jenazah ini akan kami bawa ke rumah sakit, dan kami akan mencari tau apa penyebab dari kecelakaan ini. Kami mohon izin kepada pihak keluarga, untuk mengizinkan kami membawa dua jenazah atas nama Ginanjar Wijaya dan Sela Fatmawati, untuk dibawa ke rumah sakit," ucap polisi tersebut. Amira hanya mengangguk pasrah sambil menghapus air matanya.


Lalu, Titan dengan polosnya bertanya pada polisi tersebut, "Dua jenazah itu siapa? Mengapa namanya sama kayak Ayah dan Ibuku?" Katanya. Polisi tersebut menatap iba ke arah Titan.


Polisi itu pun menepuk bahu Titan pelan, membungkukan badannya sedikit dan menyamai tinggi anak tersebut, lalu tersenyum lebar dengan sorotan mata penuh rasa semangat.


"Ayah dan Ibumu sudah menjadi bagian dari bintang-bintang. Kamu harus mendoakan agar Ayah dan Ibumu senantiasa bahagia di Surga sana. Mereka pasti bangga padamu," ucap polisi tersebut menyemangati Titan.


"Jadi, benar? Dua jenazah itu adalah Ayah dan Ibuku, Dan mereka sudah meninggal?" Ucap Titan, suaranya terdengar menyakitkan, karena ia berusaha menahan sedihnya dan berusaha menepis semua kepahitan ini.


Polisi itu pun tidak bisa menjawab pertanyaan Titan itu, ia hanya mengangguk pelan, sembari menatap Titan dengan tatapan yang terlihat menahan iba. Lalu, Titan membalikan badannya ke arah mobil ambulance yang baru saja melaju membawa dua jenazah---yang tak lain adalah Ayah dan Ibu dari Titan. Titan menangis tak tertahan, menatap mobil ambulance yang semakin menjauh darinya, lalu dengan perasaan hancur yang berkeping-keping, Titan berlari berusaha mengejar mobil ambulance tersebut, sambil berteriak.


"Aaaayaaaaah!!! Ibuuuuuu!!! Jangan tinggalin Titan....," ucapnya sambil berlari, berusaha mengejar ambulance tersebut. Langkahnya tertatih, cucuran air mata terus membasahi pipinya. Lalu, Amira berusaha mengejar Titan dan berusaha untuk menenangkan hati Titan, namun nyatanya elegi itu makin tercipta dengan sempurna dalam hati Titan.


"Titan harus kuat, nak." Amira langsung memeluk Titan, namun Titan hanya mampu menangis dan menjerit, ia hanya ingin Ayah dan Ibunya kembali.


Seketika itu lamunan Titan buyar, ia tak tahan lagi mengingat semua kejadian mengerikan dalam hidupnya itu. Titan pun dengan segera menghapus bulir bening yang jatuh dari sepasang matanya, kemudian pandangan matanya tertuju pada naskah tebal yang tergeletak di sebelah kiri laptop, naskah drama yang menceritakan sosok seorang Ibu. Dan naskah itulah yang membuat Titan mengingat tentang kedua orangtuanya. Apalagi diceritakan dalam cerita tersebut, kalau Titan sangat patuh, menyanyangi Ibunya, bahkan sudah mebuat Ibunya bangga. Mungkin point terakhir yang membuat pikiran Titan melayang, ia belum bisa membanggakan Ibu serta Ayahnya, karena kebersamaan yang tercipta pun sangatlah singkat.


Dan, Titan pun bangkit dari duduknya, ia beralih keluar kamar, melangkahkan kakinya menuju ke kamar Adik semata wayangnya. Titan mempunyai tanggungjawab besar untuk menjaga Adiknya sebaik mungkin, karena menurutnya, satu-satunya cara yang ia miliki untuk membuat orangtuanya bangga adalah menjaga dengan baik Adik semata wayangnya dan menjadi Abang yang bertanggungjawab, dan yang terakhir mungkin harus menghargai perempuan. Karena ketika Ibunya masih hidup, Titan selalu mendapatkan nasehat dari Ibunya, bahwa kelak sudah dewasa, Titan harus bisa menghargai perempuan. Jika Titan melukai satu perempuan saja, mungkin itu sama saja melukai hati Ibunya, begitu pesan Ibunya.


Kini, Titan membuka pintu kamar Adiknya, ia menemukan sang Adik sudah terlelap tidur. Seulas ranum sungging nan tipis itu terukir di bibir Titan, betapa pun ia sangat menyayangi Adiknya.


"Gue janji sama diri gue sendiri. Ketika bintang gak mampu untuk gue raih, setidaknya gue masih bisa menikmati kerlipan cahayanya walau dari jauh." Titan berujar pelan, lalu ia pun kembali menutup pintu kamar Adiknya, ia hanya ingin memastikan bahwa Adiknya sudah benar-benar tidur.


Ibu dan Ayah sudah menjadi bagian dari bintang-bintang penghias langit malam, yang mungkin tidak akan pernah bisa untuk kamu raih. Tapi kamu tidak usah khawatir, bagaimanapun juga kamu masih bisa menikmati kerlipan cahayanya, walau dari dari jauh. Ajaklah para bintang itu menari, menari dengan sorotan mata yang memberikan arti dalam yang penuh cinta.


k a n g e n


Hari demi hari telah berlalu, kini tepat pada pukul setengah tujuh, Titan sudah berada di samping gerbang sekolah. Gayanya terlihat santai, ia menyandarkan punggungnya ke tembok, dengan sebelah kaki ditekuk ke belakang, sementara dua tangannya dimasukan ke dalam saku celana. Penampilannya pun tidaklah terlalu rapi, Titan membiarkan dua kancing teratas baju seragamnya terbuka begitu saja, sehingga memperlihatkan sebuah kalung hitam yang melingkar di lehernya.


Ya, Titan tidak sendiri, di samping kirinya ada Yoyo, dan di samping kanannya ada Jonathan. Entah ada keajaiban apa, membuat Titan nampak membiarkan kedua curut tersebut berteman dengannya.


"Lo harus tau, Tan, pagi-pagi begini harusnya lo jadiin kesempatan buat tebar-tebar pesona ke setiap cewek-cewek," kata Jonathan dengan entengnya, Titan hanya tersenyum miring saat mendengar kalimat menjijikan yang terlontar dari mulut Jonathan.


"Rese bin kampret lo, ngajarin yang gak bener. Harusnya pagi-pagi gini tuh lo lihat siaran Mamah dan Aa, biar lo dapet hidayah," ucap Yoyo pada Jonathan.


"Eh, diem lo curut. Lo tau apa, sih, soal gue? Lo cuma tau makan ama kecap doang." Jonathan berujar songong.


"Pake ngatain gue lagi."


"Ah, daripada gue berdebat di sini, lebih baik gue masuk aja lah. Mau ke kantin, mau sarapan, laper, karena pagi-pagi gini biasanya cuma gorengan dan lontong yang paling mengerti gue," ucap Jonathan dengan nada yang penuh dengan lelucon,


"Tan, gue masuk duluan, ye," sambung Jonathan, Titan hanya mengangguk saja sambil tersenyu tipis.


"Kok ada ya manusia kayak dia?" Yoyo memasang wajah datar, wajah tidak suka, sambil melihat punggung Jonathan yang semakin berlalu.


"Kenapa?" Tanya Titan pelan.


"Jonathan makhluk aneh."


"Ada kok yang lebih aneh."


"Siapa?"


"Sodaranya. Namanya Udin, biasa disebut makhluk astral." Titan berujar dengan nada yang sama sekali tidak meyakinkan.


"Seriusan lo?"


Namun Titan hanya cengengesan, tanpa ingin memperpanjang obrolannya dengan Yoyo. Lalu, Tania pun berjalan melintas di hadapan Titan, membuat perhatian Titan seketika itu teralihkan untuk Tania. Tania tidak sadar, bahwa ia melintas di depan Titan, karena Tania tengah sibuk berjalan sambil memainkan ponselnya. Yoyo pun sadar, bahwa Titan kini sedang memperhatikan Tania, dengan segera Yoyo pun memanggil Tania.


"Tania," panggil Yoyo, Tania pun menoleh.


"Sini." Yoyo menyuruh Tania untuk menghampirinya.Tania pun menghampiri Yoyo, yang berdiri di sampiing Titan itu.


Terlihat sorotan mata Titan yang tertuju lurus pada Tania, berusaha menatapnya dalam, dan berusaha mengambil hati Tania melalui tatap mata, namun nampaknya Tania masih menjaga hatinya kuat-kuat, karena seringkali rumor PHP itu terngingat dalam otak Tania. Padahal, jauh dari dalam, Tania merasakan getaran yang berbeda ketika bertatap muka dengan Titan.


"Ada apa, Yo?" Tanya Tania.


"Semalem Ratu nginep di rumah lo?"


"Iya, kenapa?"


"Pantesan. Gue cariin di rumahnya gak ada. Gue takut aja dia ilang. Padahal harusnya dia nginep di rumah gue aja, kenapa jauh-jauh ke rumah lo, ya."


"Ya mungkin karena Ratu gak mau ganggu lo nonton Mahabarata," jelas Ratu.


Seketika itu Titan menahan tawa, namun gayanya tetap santai. "Harusnya lo berterimakasih, Yo. Jadi acara nonton lo enggak keganggu," ucap Titan. Namun Yoyo seperti malu sendiri.


"Yaudah, gue masuk dulu, ya." Tania pun berpamitan untuk masuk gerbang terlebih dahulu.


"Kamu ... Enggak mau ngajak saya?" Pertanyaan Titan itu seketika membuat langkah Tania terhenti, lalu Tania menoleh lagi ke arah Titan.


Kedua sepasang mata saling menatap. Sorot sepasang mata Titan menampakan rasa yang begitu dalam. Tania mencoba untuk mengartikan rasa itu dengan nalarnya sendiri, namun lagi-lagi, detak jantung Tania berdetak semakin tak beraturan, bahkan ini terlalu pagi untuk merasakan getaran cinta dari sorot mata Titan.


Bersambung....

__ADS_1



Jangan lupa vote komen yaaa ^^


__ADS_2