
Sembilan belas :
"Gejolak rasa yang tak bisa kupendam, Sebuah rasa yang tak dapat kuartikan. Kamu adalah sebuah simponi yang tak dapat kumengerti, namun bisa kusebut kamu adalah penguasa seluruh nada dalam hatiku." --- Titan Wirasena.

Titan Wirasena

Kangen
Jevin hanya menoleh ke belakang---ke arah Titan, detik kemudian Jevin pun melihat ke arah Tania, Jevin menautkan alisnya sebelah, saat melihat Tania nampak diam mematung dengan tatapan yang tertuju pada Titan.
"Siapa?" Tanya Jevin pada Tania, mampu membuat Tania langsung berpaling untuk melihat Jevin.
"Hm?" Tania tiba-tiba gugup, Jevin hanya tersenyum miring sambil menggeleng-geleng kepala pelan, dan detik kemudian Jevin pun mematikan mesin motornya, dan membuka helm.
"Pacar?" Tanya Jevin tersenyum jahil.
Tania tidak bisa menjawab pertanyaan Jevin, Tania hanya diam sambil tidak tahu harus bicara apa. Akhirnya Jevin pun memutuskan untuk kembali memarkirkan motornya dan turun dari motornya. Tania mengernyit, saat Jevin menghampirinya lagi.
Jevin tersenyum jahil,
"Gue tau ciri-ciri orang yang lagi cemburu."
"Maksudnya?" Tania berpura-pura tidak mengerti, padahal dalam hatinya ia jelas merasakan bahwa tatapan Titan, bukanlah tatapan biasa.
"Udah gih, samperin dia," jelas Jevin.
Tania justru malah bingung, ia tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian Jevin pun seolah mengerti dengan apa yang membuat Tania bingung, dengan sigap Jevin menarik pelan tangan Tania, dan menghampiri Titan yang sudah sedari tadi memasang tatapan yang tak biasa. Wajahnya memang sekilas biasa-biasa saja, tapi ada hal yang tak biasa dalam tatap mata Titan.
"Hei, bro." Jevin menyapa Titan dengan cukup ramah. Titan hanya membalasnya dengan tersenyum pahit.
"Sori, gua gak ada maksud buat bikin lo cemburu. Gua bukan siapa-siapa Tania. Lebih tepatnya gua ini calon masa depannya Ratu," jelas Jevin seolah ingin mencairkan suasana.
Tania hanya menautkan alisnya sebelah ke arah Jevin, perkataan Jevin sama sekali tidak lucu, Jevin terlalu blak-blakan.
Titan tersenyum tipis, "ya, gapapa kali. Kebetulan gua juga enggak sengaja lewat sini." Titan berusaha untuk tetap santai.
"Lo mau ke mana?" Tanya Jevin.
"Gua mau ke rumah temen gua."
"Siapa? Deo, ya? Kebetulan dong, ya, Tania juga mau ke sana," ucap Jevin sambil melihat ke arah Tania. "Bro, lo bisa kan anterin Tania sampai rumah Deo, kan? Tadinya gua yang mau anterin Tania ke rumah Deo, cuma gua lagi ada keperluan mendadak nih, enggak bisa ditinggalin kayaknya. Penting soalnya." Jevin beralasan, padahal niatnya hanya ingin membuat pasangan yang sama-sama saling menyembunyikan perasaan itu terjebak berdua.
"Keperluan mendadak?" Tania mengeluarkan suaranya saat Jevin berusaha untuk membuat alasan.
"Iya, keperluan mendadak. Gua disuruh Deo buat beli alat-alat keperluan acara ulang tahunnya Ratu." Jevin semakin beralasan, alasan yang membuat Tania tidak bisa bicara lagi.
"Yaudah, biar Tania sama gua aja," ucap Titan. Jevin pun mengangguk-angguk dan mengangkat ibu jarinya, tertanda ia setuju.
"Oke," singkat Jevin dengan gaya bicaranya yang khas. "Yaudah, gua cabut," sambung Jevin sambil mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Titan, Titan pun mengangguk dan membalas jabatan tangan Jevin.
Jevin pun berlalu untuk mengambil motornya yang terparkir tak jauh dari tempat ini. Beberapa menit kemudian, Jevin melajukan motornya dengan kecepatan standar. Tinggal yang tersisa kini adalah Titan dan Tania.
Titan tersenyum tipis ke arah Tania.
"Aku gak tau, perasaan apa yang kamu berikan ke aku. Tapi yang jelas, aku ngerasa kayak kebakar, tapi aku seperti gak berhak milikin perasaan ini. Bisa dibilang, ini seperti perasaan cemburu, awalnya. Tapi setelah aku tau kalau ternyata dia bukan siapa-siapa kamu, perasaan ini berubah jadi tenang. Karena yang jelas, aku merasa iri sama orang yang bisa membuat kamu tersenyum lepas seperti tadi," jelas Titan, tatapannya tertuju pada Tania, Tania melihat ketulusan yang terpancar pada sorot mata Titan yang dalam. Sadar atau tidak, Tania tersenyum walau terlihat sangat tipis.
"Huh, kamu kayak anak kecil, ya?" Tania meledek Titan pelan, sambil tersenyum.
"Anak kecil?" Titan mengernyit.
"Iya, kayak anak kecil yang cemburu lihat Ibunya deket sama anak orang lain."
Titan tersenyum miring dengan tangan yang sudah bersiap-siap memakai helm.
"Hm, jadi kamu mengibaratkan aku ini anak kecil, terus kamu Ibunya, gitu?" Tanya Titan pelan, saat setelah memakai helm, dan membuka kaca helmnya saat menoleh ke arah Tania.
"Iya, lah."
"Oh berarti kamu sudah siap jadi Ibu dari anak-anakku, ya?" Ucap Titan sangat jahil, senyumnya pun mengembang jahil.
"ih apaan, sih, kok enggak nyambung." Tania sedikit mencubit bagian pinggang Titan, namun Titan hanya tersenyum sipu seolah senang membuat Tania gugup.
"Yasudah, ayok, naik. Nanti kemaleman." Titan menyuruh Tania untuk segera naik ke motornya. Titan pun memberikan helm pada Tania.
"Kamu niat banget, ya, nganterin aku? Kok bawa helm dua?"
"Jangan GR, deh, tadi aku abis nganter Ajeng dulu."
"Siapa yang GR? Tapi kamu beneran kan disuruh Deo ke rumahnya juga?" Tanya Tania.
"Iya, Tania-ku sayang, masa aku bohong, sih? Kamu gak usah takut aku culik. Karena kamu udah duluan nyulik hati aku."
"Gombal. Lama-lama nama kamu berubah deh jadi Titan Cagur."
__ADS_1
Titan tersenyum miring dengan pesona yang benar-benar terpancar jelas. Raut wajahnya yang tampan, senyum yang menawan, dan sorot mata yang rupawan, membuat Tania seolah benar-benar merasa bahwa Titan adalah malaikat yang ditunjuk Tuhan untuk menjaga hatinya. Meskipun memang, Titan berwujud bukan seperti malaikat dengan berjuta kebaikan, dan meskipun rumor buruk melakat pada diri seorang Titan, namun tidak membuat Tania justru melihat Titan buruk seperti kebanyakan orang.
Kasmaran,
Terpesona aku pada sang rembulan,
Yang sinarnya tak pernah redup walau terhalang awan.
Terpesona aku pada teduhnya pandang mata yang rupawan,
Menusuk relung hati yang paling dalam.
Terbuai aku dalam angan-angan tentangmu,
Seakan-akan aku adalah manusia yang paling beruntung, karena kamu telah mengizinkan aku untuk kembali mengerti tentang cinta.
Terjebak aku ke dalam kasmaran,
Seribu kisah dongeng pun terkalahkan oleh kisah kita yang sederhana.
Aku akan berusaha menjaga hati ini agar tidak mudah rapuh.
Aku akan menjaga kamu, dalam dekapanku yang mungkin tidak akan pernah aku lepas.
Selamanya, kamu akan menjadi perempuan satu-satunya yang singgah dalam hati ini.
Perempuan yang berhasil membuatku keluar dari lingkaran gelapnya kehidupanku.
Aku mencintaimu dengan caraku sendiri.
Cara yang sederhana, namun sangat istimewa.
Kamu segalanya...
Sangat berarti dalam hidupku...
Saat mata terpejam pun, wajah dan senyummu terhias indah dalam anganku.
Kangen
Saat sesampainya di rumah Deo, Titan dan Tania pun memasuki rumah Deo dengan berbarengan, ada rasa ingin menggenggam tangan Tania, namun Titan menahannya. Titan harus tahu, siapa dirinya dan apa statusnya. Hanya seorang teman biasa yang berharap suatu saat nanti menjadi teman dekat yang terikat hubungan kasih.
"Masya Allah," kaget Tania pelan, ketika berdiri tepat di abang pintu rumah Deo, dan melihat seisi rumah Deo yang berantakan, karena ulah para dangduters yang asyik berdangdut ria di ruang tamu rumah Deo ini.
Titan hanya tersenyum miring dengan tatapan malas ke arah Jonathan dan kawan-kawan.
"Ngomong apa?" Tanya Tania, karena ucapan Titan itu terdengar samar dan tida jelas.
"Enggak. Aku gak ngomong apa-apa," santai Titan dengan memasukan kedua tangannya ke kantong jaketnya.
"Oh. Yaudah." Tania hanya memasang wajah tidak semangat, nampaknya Tania tidak suka jika ada Jonathan dan kawan-kawan di sini.
"Kenapa?" Tanya Titan.
"Kenapa apanya?"
"Kok kayak yang gak semangat gitu?"
"Aku gak apa-apa. Cuma rada risi aja ada mereka di sini."
"Oh. Tenang aja lagi. Gak usah bete. Kan masih ada aku."
"Emang apa hubungannya?"
"Aku kan penyemangat kamu," ucap Titan jahil.
"Siapa yang bilang?"
"Itu tadi aku yang bilang, barusan." Titan terkekeh, dan senang membuat Tania merasa sebal.
"Nyebelin, ya, ih."
"Yaudah masuk, yuk," ajak Titan.
"Duluan aja."
"Bareng aja, lagi."
"Kamu duluan aja."
"Yaudah, kamu duluan aja."
"Yaudah, deh."
Tania pun berjalan terlebih dahulu memasuki rumah Deo. Titan tersenyum saat mengikuti Tania dari belakang. Namun, tak lama seseorang pun datang, membuat Tania dan Titan pun langsung tertoleh ke arah pintu keluar rumah ini.
"Hei," sapanya.
__ADS_1
"Eh elo, Jev. Syukurlah elo udah nyampe." Secara kebetulan pun, Deo menjawab sapaan Jevin, sembari menuruni anak tangga rumah ini.
"Yoi, bro. Sorry, gue rada telat. Acaranya belum dimulai, kan?" Tanya Jevin.
"Belum," ucap Deo, sambil menggosok-gosokan rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil. "Yaudah, lo duduk aja, Jev. Gua tau lo capek. Secara kan dari Bali ke Bandung itu jauh."
"Lo tenang aja, Yo. Gua udah terbiasa," singkat Jevin.
"Terus, ceweknya aku doang di sini?" Tanya Tania.
Titan pun menoleh ke arah Tania, "Kamu tenang aja, ada aku di sini," bisik Titan pada Tania.
"Enggak, Tan. Lo enggak sendiri, masih ada Jojon di sini yang cantik," ledek Deo.
Jonathan langsung melototi Deo dengan tatapan yang luar biasa menakutkan.
"Kampret! Lo itu kalau ngomong .... " Ucap Jonathan terputus.
"Kalau apa? Hah?" Tanya Deo.
"Kalau ngomong ... Suka bener," receh Jonathan membuat suasana mencair sejenak.
"Ih Jonathan cantik, ih Jonathan cantik. Kalau siang namanya Jonathan, kalau malem namanya Inem, haha," ledek Udin.
"Kampret! Mulut lo barokah, coy!"
Suasana pun mencair dengan begitu saja. Namun tak disadari, ada Ratu yang sedari tadi diam berdiri di pintu keluar menuju taman, yang terleta di arah utara rumah ini.
"Oh, jadi pada ngumpul tapi enggak ngajak gue?"
"Ratu? Sejak kapan lo di sini?" Heran Deo.
"Eh Ucun! Lo kira gue **** apa, lo tadi ngirim WA salah kirim ke gue. Lo ngerencanain ulang tahun gue? Yaelah, enggak rapi banget, sih," ucap Ratu menghampiri Deo.
"Yaelah, gagal dong."
"Gagal lah."
"Yaelah."
"Lagian elo, Yo, masa ada acara salah kamar segala, sih?" Tuduh Jonathan.
"Salah kamar? Maksud lo?"
"Salah nge-WA, coy."
"Oh." Deo hanya memasang wajah ta berdosa.
"Jadi, ini gimana?" Tanya Tania.
"Gagal deh," ucap Jevin. "Padahal gua udah nyiapin dari jauh-jauh hari kayak gini." Jevin berujar dengan nada sesantai mungkin.
"Hehe. Yaudah. Susun aja rencananya. Tapi gue ngikut. Jadi, gue bisa saranin ini-itunya. Oke. Pokoknya gue yang ngatur semuanya, dan kalian yang nyusun. Tenang aja, anggap ceritanya gue enggak ada," ucap Ratu.
"Yah, enggak kejutan dong kalau gitu." Jevin berujar pelan.
"Udah enggak zaman kejutan-kejutan kayak gitu."
"Zamannya apa?"
"Soal zaman-zaman mah serahin sama si Titan, dia ahlinya, coy." Kali ini Rian mengeluarkan suaranya. Titan menautkan alisnya sebelah.
"Maksud lo apa?"
"Lo kan ganteng, nih. Bukannya gue mau su'udzon, nih, ya, tapi gue ngerasa lo itu sebangsa yang hidupnya berabad-abad, kayak semacem vampire gitu," ucap Rian ngelantur, membuat semua orang yang ada di sini menautkan alisnya sebelah.
"Kata guru ngaji gue, gak baik su'udzon kayak gity. Lagian hubungannya apa ganteng sama zaman?" Tanya Deo seperti orang yang benar-benar sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Rian.
"Ya, pasti dia tau lah dari zaman belum ada manusia, zaman purbakala, zaman penjajahan, dan zaman-zaman sekarang."
"Lo ngomong apa, sih? Otak lo perlu di-remake ulang, tuh." Jonathan menoyor kepala Rian dengan pelan.
"Abisnya Titan ganteng." Rian berujar datar.
Titan hanya tersenyum tipis dan remeh.
"Terus gue enggak ganteng?" Tanya Jonathan.
"Kan tadi elo ngaku cantik."
"Kapan?"
"Barusan, tadi katanya sebelum ada Ratu, di sini yang cantik cuma Tania sama elu." Rian berujar dengan rasa tak berdosa sedikit pun membuat Jonathan kesal.
"Udah deh gak usah debat! Mending sekarang kita nonton bioskop aja. Gimana? Refreshing aja, besok kan kita ada latihan drama buat pertunjukan nanti, pasti pikiran kita harus dihibur dulu kali, ya. Gimana, yuk?! Nonton mini bioskop." Ratu langsung memecahkan suasana menjadi sumringah dan kompak. Semuanya pun setuju dengan usul Ratu.
Bersambung.
__ADS_1