Titan'S

Titan'S
eps. 6


__ADS_3

Keesokan harinya, tepat pada saat satu jam sesudah pulang sekolah, terlihat Titan yang sedang berjalan kaki menelusuri setiap jalanan kota dengan langkah gontai dan wajah yang terpasang santai. Titan tidak berkendara, ia tidak menggunakan motor ninjanya untuk menjadi sarana transfortasi selama pulang-pergi ke sekolah. Justru Titan lebih menyukai bersepeda, ketimbang kendaraan bermotor. Meskipun memang, wibawanya saat membawa motor ninja terlihat begitu jelas terpancar, dari mulai wajahnya yang terlihat seperti perpaduan yang nyaris sempurna, sampai ke bentuk tubuhnya yang ideal, membuat Titan terlihat wibawa. Namun, sayangnya, Titan tidak terlalu menyukai kendaraan motor, ia lebih menyukai hal-hal yang berbau olahraga, seperti bersepeda, karena selain ramah lingkungan, sepeda pun mengolah tubuh agar tetap sehat, dan berkeringat itu membuatnya terlihat exotic, katanya.


Namun, pada saat di perjalanan menuju pulang, Titan menemukan segerombolan siswa dengan memakai seragam putih abu-abu, menyerang ke arah utara yang juga terdapat segerombolan siswa berseragam putih abu-abu. Titan menghentikan langkahnya sejenak, ia mencoba menebak pemandangan riuh yang ada di hadapannya, dengan jarak yang cukup jauh. Titan menebak, bahwa kini yang ia lihat adalah pemandangan tawuran antar pelajar. Namun, Titan terlihat memasang wajah malas, dan berdecak santai.


"Ck! Generasi zaman sekarang, tawuran bisa, dan berlaga sok jagoan, tapi kalau udah berhadepan sama soal ulangan pada minta air ke orang pinter, dan mewek pas ngisi soal, pada akhirnya kalau enggak cap-cip-cup ngitung kancing, yaaa paling-paling ngimprovisasi jawaban-jawaban dari soal-soal tersebut." Titan bermonolog santai, dengan sepasang mata yang memandang malas ke arah di hadapannya.


Titan pun membalikan badannya dan memutuskan untuk tidak melewati jalan tersebut. Titan bergumam, "meskipun dulu salah satu hobby gue itu tawuran. Tapi, sekarang males! Buang-buang waktu. Tapi, kalau soal mengimprovisasi jawaban dari soal-soal ujian sampai sekarang pun masih tetap selalu gue lakuin. Meskipun pada akhirnya gue selalu dipanggil Pak Danny, karena nilai ulangan gue selalu jeblok," ucapnya, bermonolog lagi.


Tiba-tiba ...


"Mamaaaaaaa!!!!!!!!"


Teriak seseorang yang lari terbirit-birit ke arah utara dengan ekspresi wajah yang sebegitu paniknya. Orang tersebut mengenakan seragam putih abu-abu, dengan style celana abu-abu cutbray, membuat Titan yang melihatnya dibuat terpelongo, seraya menautkan alisnya sebelah. Namun, Titan tidak terlalu memperdulikannya, ia melanjutkan langkahnya tanpa ragu. Titan memang terlihat santai, terkadang memang ia terlalu cuek dengan orang-orang di sekitarnya. Namun, tak jarang juga, ia berubah menjadi sosok yang sangat jahil, nakal, susah diatur, dan bertingkah semaunya.


Lalu, seseorang yang lari terbirit-birit tadi, malah menghampiri Titan, dan berdiri tepat di hadapan Titan dengan memasang wajah sepanik mungkin, wajah super panik yang tidak bisa dideskripsikan, sementara Titan hanya terlihat aneh.


"Lo harus bantu gue," katanya, Titan menaikkan alisnya sebelah.


"Lo ngomong sama gue?"


"Ya, iya, lah. Cuma lo doang yang ada di sini, mangkanya gue minta bantuan elo."


"Emang lo kenal sama gue? Enggak, 'kan?" Titan berujar santai, lalu ia pun kembali melanjutkan langkahnya, namun seseorang itu malah terus memohon pada Titan agar membantunya. Entah dalam hal apa.


Titan menghela napas pelan, lalu Titan mengacak-ngacak rambut bagian belakangnya dengan tangan kanannya, lalu kembali menghela napas, dan melihat malas ke arah orang yang kini berdiri di hadapanya. Lalu Titan melihat badge nama dan badge bet logo sekolah yang tertera di baju seragam orang tersebut. Namanya; Deo Arilangga. Asal sekolah: SMA Pelita Bangsa. Terlihat sangat jelas, dia bukan anak SMA Kejora, tentu Titan tidak mengenalnya. SMA Pelita Bangsa adalah SMA yang terkenal dengan murid-muridnya yag selalu aktivis dalam urusan tawuran, bahkan Titan pernah memiliki musuh dari sekolah tersebut, namun sepertinya sekarang Titan tidak mau lagi berhubungan dengan anak-anak sekolah SMA Pelita Bangsa.


"Gue gak bisa bantu!" Tolak Titan dengan tegasnya.


"Lo harus bantuin gue, gue gak mau terlibat dalam urusan tawuran yang ada di sono. Bukannya gue takut, tapi gue gak ada waktu, lo harus bantuin gue, karena temen gue ada yang mau bunuh diri, dan ini juga ada sangkutpautnya sama tawuran yang ada di sono. Please, gue tahu lo gak kenal gue, tapi lo manusia, kan? Lo punya hati, kan? Bantuin kek, ini menyangkut nyawa seseorang," ucapnya, dengan nada bicara yang tanpa memperdulikan titik-koma dalam ucapannya.


Titan menghela napas. "Drama apa ini?"


"Yaelah, gue gak lagi drama, gue bukan drama king. Buruan, kita gak ada waktu lagi."


"Yaudah IYA!"


Dengan malasnya Titan mengikuti kemauan Deo, terlihat sangat jelas memang di raut wajah Deo yang nampak setengah mati menahan rasa khawatirnya. Entah siapa teman Deo yang ingin melakukan percobaan bunuh diri dan apa hubungan dengan tawuran yang terjadi di persimpangan jalan sepi tadi? Entahlah. Bahkan Titan malah terlihat santai, baginya sikap Deo terlalu khawatir, dan lihat dari tas yang dipake oleh Deo, terdapat payung kecil yang menyangkut sisi kiri bagian tasnya, dengan tulisan 'Love Mom', terlihat jelas dari gaya bicara Deo pun, kalau ia adalah anak mami, yang jika panik, hanya satu kata yang ia ingat 'Mamaaaaa!'


Deo berjalan dengan cepat, sementara Titan berjalan santai, Titan seperti malas untuk mengikuti langkah Deo. Karena memang, Titan tidak terlalu suka dengan orang yang baru saja dikenal, namun sudah berlaga sok akrab, apalagi Deo yang memaksanya untuk memberikan bantuan. Sesekali Deo meneriaki Titan agar berjalan cepat, namun Titan malah memasang wajah seperti tidak iklas membantu Deo.


"Aduh! Gue gak tahu jalannya lagi!" Dumel Deo, yang tiba-tiba menghentikan langkahnya secara mendadak.


"Emang lo mau ke mana? Ck! Waktu gue itu mahal!" Omel Titan, Titan merasa kalau dirinya sedang dipermainkan.

__ADS_1


"Gue lupa jalannya, ****!"


"Terus?"


"Ya, gak inget!"


"****! Masih SMA kok pikun? Lo pengidap alzheimer?" Titan terlihat memasang wajah kesal, namun tetap terlihat santai.


"Bukan. Bukan alzheimer. Tapi, kembarannya Al-Ghazali, temennya Aliando, bukan alzheimer," celotehnya.


"Ck! Yaudah, lo mau ke mana emang?" Titan bertanya, mengalihkan pembicaraan, ia terlalu malas untuk mendengarkan ocehannya Deo. Meskipun baru pertama kalinya ia bertemu dengan Deo—tanpa sengaja, tapi Deo justru malah terlihat seperti sudah lama mengenal Titan, sehingga tidak canggung-canggung lagi untuk mengoceh pada Titan.


"Ikut gue," ucapnya, tanpa pikir panjang lagi, Deo berlari ke arah timur, ke gank sempit yang hanya bisa dilalui oleh motor saja. Titan mengikuti dari belakang. Dan, ketika sudah cukup lama Deo berlari menelusuri gank sempit ini, diikuti oleh Titan, Deo pun menghentikan langkahnya tepat di sebuah tembok besar. Tembok pembatas, dan satu-satunya cara untuk sampai ke tujuannya untuk menyelamatkan temannya itu adalah memanjat tembok tersebut agar bisa sampai ke tujuannya. Namun, tembok itu terlihat besar, tinggi, dan susah untuk dipanjat. Deo terlihat bingung, sesekali ia melirik kiri-kanan-depan-belakang, untuk mencari benda agar bisa memanjat tembok besar tersebut.


"Lo nyari itu?" Titan menunjuk ke arah benda yang terdapat di ujung sana.


Yes, sebuah tangga yang terbuat dari kayu, satu-satunya benda yang dapat membantu Deo untuk memanjat tembok besar tersebut. Dengan segera Deo mengambil tangga tersebut, lalu memposisikan tangga tersebut ke sebuah tembok yang akan dipanjatnya. Tanpa basa-basi, Deo menyuruh Titan untuk memegangi tangga kayu tersebut agar kokoh saat dinaiki oleh Deo. Titan pun pasrah, dan membantu Deo, semampu yang ia bisa. Deo pun menaiki tangga tersebut.


Satu ...


Dua ...


tiga ...


Deo pun sudah berada di atas tembok tersebut, dan ia mulai mencari tahu pemandangan di depannya dan mencari-cari sosok temannya yang ia bilang akan melakukan percobaan bunuh diri. Namun, sadar atau enggak, Deo justru malah melihat ke bawah, gila atau enggak, dia tersadar, bahwa mungkin ada yang mengganjal di bawah sana.


Byur!


Semburan air mengenai wajah Deo, seketika itu Deo terjatuh, dan Titan terlihat dengan wajah ganteng namun super polos, Titan tidak tahu apa yang terjadi, mengapa Deo terjatuh dari tangga. Deo pun meringis kesakitan sambil mengelus pantatnya yang terasa sakit.


"Duh, pantat gue!"


"Lo kenap—"


Perkataan Titan terputus, karena tiba-tiba saja, ada seorang wanita lanjut usia yang hanya mengenakan handuk berwarna jingga, serta membawa gayung kosong di tangan kanannya, serta memasang wajah yang nampak sangar, sama seperti ibu-ibu mertua dalam serial India. Ck! Titan terlihat melongo melihat nenek tua tersebut yang memasang wajah marah dan melotot tajam ke arah Deo.


"Lu tong! Masih SMA hobi lo ngintip orang mandi! Lu seharusnya banyak-banyak ngaji, tong! Supaya iman lu kuat. Nenek-nenek lu intip. Walaupun gue jendes, tapi gue gak suka berondong! Awas lu, sekali lagi lu ngintipin gue mandi, gue bakal laporin ke Enyak-Babeh lu, biar nikahin gue!" Makinya dengan logat betawi yang sangat kental. Setengah mati Titan terlihat menahan ketawa, wajah Titan benar-benar tampan jika terlihat seperti ini—posisi ingin ketawa namun dia malah menahannya agar tidak terkesan meledek. Sementara Deo, menggaruk tengkuknya yang tak gatal, saat nenek tua itu pergi dan berlalu. Deo tidak sengaja kalau ternyata tembok yang ia panjat adalah tembok yang berdekatan dengan kamar mandi nenek tua tersebut.


"Yakali, meskipun gue jomblo, gue ogah kali nikah sama nenek tua. Lagian, gue kan gak tahu kalau ada yang mandi. ****."


"Gapapa, rezeki." Ledek Titan, tersenyum remeh.


"Rezeki apaan? Kalau gak sengaja lihat anak perawan lagi mandi, sih, itu baru rezeki. Ini, sih, nenek-nenek, ogak gue. Susunya aja udah kadaluarsa," ocehnya menggidik jijik. Titan malah tersenyum remeh.

__ADS_1


Ck! Titan malah tidak memperdulikan ocehan Deo. Lalu, Titan mengalihkan padangannya ke arah kiri, dengan pandangan santai. Namun secara tidak sengaja, Titan justru melihat seseorang berseragam putih abu-abu yang berdiri di atas gedung, gedung tinggi di seberang sana. Titan memofuskan pandanganya, lalu tanpa sadar, Titan pun menepuk bahu Deo, dan memberitahu Deo, bahwa ada seseorang yang sedang berdiri di atas gedung tersebut.


"Lo lihat, kayaknya tuh cewek mau bunuh diri."


Deo pun melihat objek yang ditunjuk Titan. Dan, seketika itu Deo langsung mengatakan kalau seseorang yang berdiri di atas gedung itu adalah teman sekelasnya. Deo panik, tanpa sepatah kata pun, Deo langsung berlari ke arah gedung tersebut, Titan pun ikut berlari. Kali ini Titan nampak begitu maximal ingin membantu Deo dalam menyelamatkan temannya yang mencoba melakukan aksi bunuh diri. Ini menyangkut keselamatan nyawa seseorang.


***


Saat Titan dan Deo sudah berada di atas gedung. Meskipun Deo dan Titan terlihat dengan baju basah kuyup karena keringat, namun mereka berusaha untuk mengagalkan seseorang agar tidak melakukan aksi bunuh diri yang sangat dibenci Tuhan. Deo pun membujuk temannya tersebut. Sekuat tenaga Titan menghapus bayang-bayang pada saat dulu ketika ia hendak melakukan aksi bunuh diri.


"Deby, please. Lo gak boleh bunuh diri. Lo gak boleh putus semangat cuma karena Diego udah gak memperdulikan elo. Masih ada gue, walaupun gue anak Mami. Tapi gue sangat-sangat menghargai perempuan, dan gue peduli sama lo," ucap Deo, memanggil dengan seseorang tersebut dengan nama Deby.


Lalu, Deby menoleh ke arah Deo, wajah Deby terlihat begitu menyedihkan. Bahkan terlihat jelas, kalau dia menangis, meringis, entah apa yang ia rasakan dalam hatinya, ia nampak terlihat seperti orang yang paling menyedihkan di dunia ini. Isak tangis Deby terdengar begitu sangat memilukan. Titan melihatnya iba, dan Titan mencoba untuk memberikan suara untuk Deby yang terlihat nyaris putus asa.


"Semua laki-laki sama aja! Berengsek! Gue gak ada guna lagi untuk hidup! Gue udah hancur! Jadi ... Biarin gue MATI!" Isak tangis Deby semakin pecah.


"Cuma gara-gara Diego udah mempermainkan lo, lo putus harapan? Please ... Lo gak boleh bunuh diri." Deo terus memohon, namun nampaknya Deby bersikukuh untuk melakukan aksinya.


"Gue hamil anaknya Diego! Jadi biarin gue mati! Diego udah gak peduli sama gue. Tuhan gak pernah adil buat hidup gue! Tuhan gak ngizinin gue buat bahagia! Jadi, lebih baik gue mati!" Tegas Deby dalam isak tangisnya.


"Lo gak boleh egois! Gak ada manusia yang sangat menyedihkan di dunia ini, gak ada juga manusia yang sangat bahagia di dunia ini, dunia itu berputar dan bahagia itu pilihan. Bunuh diri itu bukan jalan satu-satunya buat lo ngelarin semua masalah lo," jelas Titan, dengan tatapan tajam, teduh, dan penuh makna.


"Lo siapa? Peduli apa lo sama gue?" Deby semakin terlihat menyedihkan, sedari tadi air matanya tidak pernah berhenti untuk terjun bebas membasahi pipinya.


"Oke, gue emang bukan siapa-siapa. Gue juga gak kenal Deo, ataupun lo. Gue cuma ngasih bantuan. Dan buat lo, lo harus buka mata lo selebar mungkin, banyak orang peduli sama lo. Lo juga harus mikirin gimana perasaan orangtua lo, kalau lo kayak gini!" Tegas Titan.


"Nyokap-bokap gue mungkin gak bakal nganggep gue anak, karena gue udah kecewain mereka! Gue hamil diluar nikah! Jadi biarin gue mati!" Isak tangisnya semakin menjadi-jadi. Titan diam, menghela napas, dan menatap lurus ke arah Deby, dengan begitu serius.


"Gue gak bakal ngelarang lo buat terjun dari atas gedung ini, silahkan kalau emang elo mau terjun. Tapi, inget, lo masih punya kedua orangtua, bokap-nyokap lo mungkin berharap lebih sama lo, mereka membutuhkan elo. Kalaupun lo udah bikin mereka kecewa, itu gak bakal ngurangin rasa sayang mereka ke elo. Lo sadar kan udah bikin mereka kecewa, karena lo hamil diluar nikah, dan dengannya lo bunuh diri kayak gini, itu bakal bikin mereka nambah kecewa sama lo, atau bahkan mereka bisa merasakan kalau mereka udah gagal jadi orangtua yang baik buat lo, lo mau kayak gitu? Enggak, kan?! Oke, terserah, kalau emang lo mau tetap terjun ke bawah, mau mati juga gapapa. Jika bunuh diri itu pilihan lo, ya silahkan." Titan berujar tegas, dengan sorot mata yang nampak serius tertuju lurus pada Deby, seketika itu Deby berhenti terisak dan menatap kembali tatapan Titan yang begitu serius dan meyakinkan.


"Iya, Deb, mestinya lo harus pikirin orangtua lo." Sambung Deo.


"Oke, tugas gue selesai, kan? Yaudah gue cabut!" Titan pun dengan santainya, berlalu meninggalkan tempat ini, hanya Deo dan Deby yang tersisa di tempat ini. Deby melihat punggung Titan semakin berlalu, seketika itu Deby berubah pikiran, karena apa yang dikatakan Titan memang benar.


Akhirnya, Deby pun mengurungkan niatnya untuk melakukan percobaan bunuh diri. Deby harus belajar dari pengalaman buruk yang menimpa dirinya, Deby harus bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang menimpanya saat ini. Karena sesungguhnya, guru yang terbaik adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga.


Di balik sikap santai Titan, ia pun menyimpan beribu-ribu luka dalam hatinya. Namun, Titan mencoba untuk menyembunyikannya secara rapi pada dunia. Titan berusaha untuk tidak akan terus menerus larut dalam kesedihan, karena bagaimana pun ia tahu, bahwa bahagia itu adalah sebuah pilihan.


***


Waktu semakin mendekati senja, namun Titan memutuskan untuk tidak pulang ke rumah, Titan mencoba untuk menenangkan dirinya, karena kejadian tadi membuatnya sedikit mengingat memory kelam yang pernah menimpa dirinya. Lihatlah, Titan terlihat begitu santai, dengan posisi punggung yang menyandar ke tembok, dan sebelah kaki yang ditekuk ke belakang, sementara di antara jari telunjuk dan jari tengah di tangan kanannya menyelipkan sebatang rokok, sesekali bibir Titan terlihat mahir menghisap-hembuskan asap rokok tersebut. Namun, tangan kirinya nampak sibuk memegang ponsel, dan jemarinya mulai bermain di atas layar sentuh ponsel tersebut.


"Kontak ponsel, Tania Alexandra," ucapnya pelan, dengan tatapan yang fokus ke layar ponselnya.

__ADS_1


Namun tak lama setelah itu, Titan membuang batang rokok tersebut, dan mematikannya dengan cara diinjak oleh kakinya. Lalu, Titan berlalu dari tempat ini. Entah apa yang akan dilakukannya, setelah sempat ia mengucap kalimat tentang kontak ponsel Tania Alexandra. Namun nampaknya Titan memang hendak ingin bertemu dengan Tania. Dalam rangka apa? Entahlah.


Bersambung....


__ADS_2