
Pak Danny memasang wajah kesal penuh kemarahan yang tak manusiawi. Ia terlihat seperti wajah angry bird yang siap meledak untuk menghantam susunan gelas yang tersusun di ujung saja. Ah, memangnya ini permainan. Titan bahkan tidak tahu harus apa, ia hanya bergumam, beberapa kali merutuk dalam hati, ****** gue!
Titan terdiam.
Tanpa basa-basi karena terlalu kesal Pak Danny pun akhirnya menghapiri Titan---yang kini berdiri di depan Jonathan, tepat di dekat tihang bendera tepi lapangan.
"Kamu saya suruh ikutin saya, malah nyamperin si Jonathan! Saya kan sudah bilang ikuti saya ke kantor! Mau jadi apa anak generasi masa yang akan datang kalau anak mudanya kayak kamu gini? Jadi anak muda itu harusnya kamu lebih mengerti, [bla-bla-bla],"suara Pak Danny seperti suara radio rusak dengan durasi cepat tanpa jeda, bahkan terdengar seperti tidak ada rem sedikit pun.
Titan hanya diam.
"Yaudah! Ikut saya ke kantor!" Pak Danny berjalan menuju kantor tanpa basa-basi. Omelannya cukup membuat telinga Titan sakit bukan main. Seperti mendapatkan siaran ceramah dadakan bagi Titan, tapi ini hal yang sudah biasa bagi Titan.
"Haha. Syukurin loh!" Jonathan malah meledek Titan. Namun, Titan malah meleos berjalan mengikuti Pak Danny tanpa memperdulikan Jonathan.
***
Saat di kantor, Titan duduk menunduk sambil mendengarkan kalimat yang terlontar dari mulut Pak Danny yang terus-menerus tak henti-hentinya menceramahi Titan. Bahkan kebawelan Pak Danny sudah melebihi ibu-ibu dalam serial India.
"Kamu tahu kenapa saya panggil ke kantor?" tanya Pak Danny klise.
Titan mengangguk, "tau."
"Terus kenapa masih saja kamu belum bisa mematuhi peraturan sekolah?!"
__ADS_1
"Saya juga enggak tau, Pak," jawab Titan pelan, gayanya masih terlihat seolah semuanya tidak mempan untuk meluluhkan hatinya. Bahkan, seribu nasehat Pak Danny pun tidak terlalu Titan tanggapi, tapi Titan cukup memahami maksud dari nasehat-nasehat yang diberikan Pak Danny untuknya.
"Pake enggak tau, enggak tau, kamu! Saya tuh bosen lihat kamu lagi, kamu lagi, kamu lagi yang harus berurusan dengan kantor BK. Kamu enggak bosen bolak-balik kantor BK terus? Saya aja bosen," tanyanya intens.
"Bosen kok, Pak. Mangkanya nanti kalau saya ngulangin kesalahan lagi, Bapak jangan ajak saya ke kantor BK, ajak aja ke kantin," ucap Titan jahil.
Prak! Pak Danny memukul mejanya dengan cukup keras, mampu membuat Titan tersentak kaget. "Titan!" serunya lagi.
"Maaf, Pak, saya terlalu sering bikin Bapak kesel," ucap Titan sambil menunduk. Pak Danny menghela napas pelan, melihat Titan dengan wajah serius.
"Oke, saya maafkan. Tapi dengan satu syarat. Kamu harus anterin buku paket matematika ke kelas XI-1," perintah Pak Danny. Titan tersenyum lebar, melihat Pak Danny.
"Cuma itu aja, Pak?" Tanya Titan, Pak Danny mengangguk. "Oke, kalau cuma itu aja saya bisa."
Titan sudah kenyang dengan hukuman.
Tapi ia tidak pernah kapok sedikit pun.
Terlebih, dulu ia pernah membuat kegaduhan. Kemampuannya memainkan alat musik gitarlah yang menjadi penyebab kegaduhan tersebut. Titan dengan asyiknya bernyanyi ria di kantin bersama teman-teman sekumpulannya, bukan karena membuat rusuh, hanya saja beberapa siswi malah justru kejang-kejang melihat Titan yang tampak lihai memainkan alat musik gitar dan mengalunkan lagu Sheila on 7 yang berjudul 'Yang terlewatkan'. Wajahnya memang terlalu tampan. Tak heran ia banyak dikagumi oleh beberapa siswi di sekolah ini. Sesudah kejadian itu pun mengharuskan Titan harus masuk kantor BK lagi. Bahkan Titan merasa, kalau hidupnya memang tidak seindah sinetron---yang biasanya selalu mempunyai kisah indah tanpa harus mengalami kejadian selucu ini dalam hidupnya.
Selain itu, ia pernah menjahili beberapa teman sekelasnya pada saat praktek renang, menyembunyikan beberapa boxer teman-temannya di atas genting gedung dekat wisata kolam berenang yang menjadi praktek olahraga renang kala itu. Sampai seluruh teman-temannya menobatkan Titan sebagai duta per-boxer-an. Bukan hanya itu, Titan pernah menyelipkan sepuluh cabe rawit di dalam tahu bulat dadakan yang dipesan Jonathan, alhasil Jonathan menggerutu kesal sampai harus melemparkan sandal jepit pada Titan.
Bahkan pula, Titan pernah babak belur. Entah bagaimana kejadiannya, yang pasti wajah tampannya pernah mendapatkan hadiah berupa garis-garis lecet---seperti terkena satu tonjokan. Anak itu memang benar-benar tidak ada kapok-kapoknya.
__ADS_1
Namun, tak sedikit orang yang tahu, kalau Titan dan Rayn memiliki hubungan yang sangat buruk. Kedua remaja laki-laki yang memiliki karakter bertolakbelakangan. Rayn jenius, bintang kelas, dengan berjuta rumor baik yang melekat di dirinya, namun Titan justru sebaliknya. Rayn juga tampan, ia banyak juga digilai, namun Rayn sedikit playboy dan kerap sekali memainkan hati perempuan. Kalau Titan, mana berani ia melukai hati seorang perempuan. Baginya, perasaan perempuan harus dijaga dengan sebaik-baiknya, karena hati perempuan sangat lembut dan mudah rapuh. Rayn dan Titan sama-sama saling tidak bertegur sapa jika mereka berpapasan, seperti ada masalah yang sedang mereka sembunyikan. Tapi, sebelumnya pun mereka tidak saling berteman.
***
Titan pun memasuki ruang kelas XI-1 yang tampak tenang mengikuti pelajaran hari ini. Titan masuk dengan mengucap permisi, dibawakannya beberapa tumpuk buku. Guru yang sedang mengajar pun mengernyit saat Titan datang membawa tumpukkan buku paket.
"Permisi, Bu, saya disuruh untuk nganterin buku ke kelas ini," ucapnya santai sembari meletakkan buku tersebut di atas meja guru.
"Disuruh siapa? Kamu sedang dihukum?"
"Disuruh sama Pak Danny Corbuzer, Bu." Titan berujar dengan wajah terpasang santai, dan tak berdosa sama sekali dengan ucapannya. Sudah tahu, Pak Danny bernama lengkap Danny Anggriawan, dengan beraninya ia menambahkan nama Corbuzer di belakangnya---mungkin karena kepala Pak Danny yang pelontos, nyaris seperti pesulap Deddy Corbuzer.
"Saya tidak suka lelucon kamu."
Beberapa murid yang ada di kelas ini berusaha menahan tawa semaksimal mungkin. Namun Titan hanya mengangguk sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lalu, tanpa sengaja Titan melihat ke arah bangku nomer dua barisan ke tiga, ada sosok siswi yang tengah asyik membaca buku, tanpa menyadari kehadirannya. Sementara siswi lain justru terlihat berusaha menangkap mata Titan. Titan terdiam melihat siswi yang tengah serius membaca buku tersebut, siapa lagi kalau bukan Tania Alexandria.
Titan tampak serius melihat Tania yang sama sekali tidak memperdulikan kehadirannya. Tania malah khusyuk membaca buku.
"Kamu ada urusan lagi? Kalau enggak ada silahkan keluar dari kelas ini," perintah guru tersebut. Lalu, Titan menghela napas, karena merasa terusir. Ya, paling tidak guru itu mengucap terima kasih pada Titan yang sudah membawakan tumpukkan buku. Tapi ya sudahlah, Titan bukan seseorang yang senang mengemis kata terima kasih pada orang lain. Guru Matematika memang kejam, hidupnya penuh dengan perhitungan, sama halnya dengan Bu Rea, yang saat ini mengajar di kelas XI-1.
Titan pun berlalu, namun matanya masih mencuri pandang pada Tania. Tania hanya melihat Titan sedetik, lalu tidak memperdulikan lagi.
"Gila tuh cewek, bikin gua penasaran!" Batin Titan berseru pada saat keluar dari kelas XI-1.
__ADS_1
Kali ini, hari senin yang paling berkesan bagi seorang Titan. Pertama, ia dipaksa harus sekolah oleh Pak Danny---yang menelponnya kamarin, memberi peringatan agar Titan harus lebih rajin lagi mengikuti kegiatan di hari senin. Kedua, kejadian memalukan pada saat di warung pojok, Pak Danny memarahinya di depan umum. Ketiga, tingkah Jonathan yang aneh itu berhasil membuat Titan terkena cipratan kemarahan Pak Danny---padahal Titan hanya sedang mengingatkan Jonathan agar tidak terlalu semistik itu. Tapi yang terakhir, Titan merasa bahwa tidak selamanya hari senin ini buruk, ia mengambil hikmah dari semua ini, dengan kejadian ini, ia jadi mengenal sosok Tania---yang sama sekali tidak pernah tersentuh kisahnya.