
Sementara Tania kini sudah ada di perpustakaan, mencari buku yang dimaksud oleh Bu Andin. Tania sudah mencarinya di loker Bu Andin, tapi ternyata di sana tidak ada, dan Bu Andin pun menyuruh Tania untuk mencarinya kembali di perpustakaan.
"Dimana ya, bukunya." Tania mencari-cari dari rak satu ke rak lainnya.
"Nah, ini dia." Tania pun akhirnya menempukan buku yang ia cari. Namun, Tania mengernyit saat tidak sengaja mendengarkan percakapannya dua siswi yang sedang berbincang-bincang membicarakan sesuatu yang sangat menarik.
"Lo tau, gak? Itu si Titan. Sumpah, ya, dia itu emang keren banget. Ganteng. Tau juga gak? Kemarin pas gue papasan sama dia itu jantung gue dag dig deran. Pokoknya gue suka banget sama si Titan. Dia itu cuek, laki banget deh pokoknya," ucapnya sumringah.
"Yaelah, dia kan bandel. Tukang ngumpetin sepatu anak-anak kalau lagi pada sholat di mesjid," kata teman sebelahnya.
"Walaupun kayak gitu, tapi Titan enggak pernah ketinggalan sholat kan? Sholat jum'atnya rajin banget dia. Gue sering sengaja buat caper ke dia. Wajahnya itu loh pas kena air wudhu gantengnya makin terpancar. Gak tau kenapa lah gue bisa suka banget sama dia," katanya lagi.
Tania yang mendengarkan itu hanya menautkan alisnya sebelah. Apa menariknya dari Titan? Menurut Tania, Titan hanya murid biasa yang senang menciptakan hal-hal konyol dan kekanakkan. Tapi mungkin hal-hal konyol itu bisa mendatangkan keistimewaan yang mungkin baiknya akan selalu dikenang---karena selalu menciptakan suasana menjadi cair.
Tania pun berlalu dari perpustakaan ini.
Namun, pada saat Tania menyusuri koridor sekolah dengan dua tumpuk buku yang dipeluknya. Tania melihat Titan yang sedang dihukum di lapangan upacara dengan posisi berdiri hormat pada tihang bendera. Ya, lagi-lagi Titan sedang dihukum. Kali ini bukan Pak Danny yang menghukumnya, tapi guru bahasa Inggris.
"Sudah saya peringatkan sama kamu. Kamu sudah berapa kali enggak masuk pelajaraan saya? Mau jadi apa kamu?" ucap guru itu menasehati Titan, Titan hanya diam.
"Orangtua kamu enggak mendidik kamu, ya? Mereka pasti kecewa punya anak semalas kamu." Perkataannya membuat Titan tersentak. Wajah Titan berubah serius---melihat guru itu dengan wajah serius dan malas.
Titan hanya diam.
"Ya sudah. Kamu saya hukum di sini. Hukuman berakhir pada jam istirahat. Setelah jam istirahat selesai, saya tunggu kamu di ruangan saya!" Tegasnya, dan berlalu meninggalkan Titan, Titan hanya mengangguk pasrah.
Tania yang menyaksikan itu hanya diam saja, dengan tatapan datar yang mengarah pada Titan. Anak itu memang tidak ada henti-hentinya berulah. Rasanya tiada hari tanpa Titan membuat ulah di sekolah ini. Tania pun melanjutkan langkahnya, tanpa memperdulikan Titan.
Tapi Titan justru menoleh ke arah Tania yang berjalan menyusuri koridor, Titan menatap Tania dengan sorot mata yang tak biasa, mungkin dibenak Titan menyimpan pikiran 'dia emang beda' pada Tania.
***
Pada saat jam istirahat. Keadaan kantin memang selalu riuh, beberapa siswi lebih memutuskan ke kantin untuk menghabiskan jam istirahat---untuk sekedar mengisi perut yang sudah keroncongan. Pelajaran di sekolah bukan hanya membuat otak seperti ingin pecah tapi juga membuat perut menjadi lapar.
Terlihat Jonathan begitu lahap menyantap sepiring siomay bersama teman-teman yang lainnya. Tak lama Titan pun datang, duduk di antara Jonathan dan teman sekelasnya.
"Bang siomaynya satu," pesan Titan, lalu duduk di kursi yang tersedia di kantin ini.
"Eh, elo, Tan," kata Jonathan. "Tumben lo gabung sama kita," sambung Jonathan.
"Kenapa? Gak boleh?"
"Ya, enggak biasa aja."
Tak lama sepiring siomay pesanan Titan pun datang. Tanpa basa-basi dan tanpa memperdulikan Jonathan, Titan langsung melahap siomaynya dengan santai. Namun pandangan Titan tidak sengaja menemukan sosok yang tak biasa di hadapannya itu. Ya, lagi-lagi Tania. Titan melihat Tania di meja kantin sebelah utara sana. Tania yang juga sedang memakan siomay dengan teman-teman sekelasnya.
"Oh, iya. Lo kenal Tania, kan?" Tanya Titan pada Jonathan. Jonathan langsung menanggapi pertanyaan Titan dengan amat sangat terkejut.
__ADS_1
"Wet, kenapa lo nanya kayak gitu?"
"Jawab aja lagi, gak usah pake nanya balik." Titan berujar malas, karena Jonathan memberikan pertanyaan balik padanya.
"Gue kenal sama Tania, emangnya kenapa?"
Titan menghela napas pelan, "Lu punya nomernya gak?"
"Apa? Lo mau minta nomer Tania?"
"Iya. Ada yang salah?"
"Jelas salah lah. Lo tau gak? Tania itu mantannya Rayn. Lo sma Rayn sering perang batin, kan? Gua rasa jangan deh lo minta nomer Tania, nanti yang ada lo berurusan sama Rayn," jelas Jonathan.
"Tania mantan Rayn?" Titan bertanya seperti tidak percaya.
"Yoi."
"Kok gue baru tau, kalau Rayn punya mantan secantik dia," ucap Titan.
"Anjrit, gila lo Tan. Baru kali ini gua denger elo bilang cantik ama cewek. Jatuh cinta yaaa loh? Ngaku loh sama gua! Ciee." Nando justru malah meledek Titan.
"Basi lu!" Titan berseru santai, disertai senyum tipis yang mengembang.
"Bilang aja kalau lu suka sama Tania," ledek Nando. Namun Titan berlagak tidak memperdulikannya.
"Tania!" Panggil Nando, dari kejauhan Tania pun melihat ke arah Nando---karena merasa namanya terpanggil. "Titan alapyu padamu, Tania!" Nando berseru, suasana pun riuh. Tania hanya mengerutkan dahi di sana.
"Cieeee." Nando semakin meledek.
"PA lu semua!" Titan pun berlalu dari tempat ini. Entah malu atau apa, Titan merasa kalau teman-temannya sangat tidak mengenakan untuk hatinya. Terlalu menganggap semuanya remeh. Atau mungkin ... Memang Titan sedang malu.
Dengan cueknya Titan berlalu.
***
Setelah beberapa minggu kemudian, Titan menjadi lebih banyak perkembangan. Ia sedikit lebih rajin dari hari-hari sebelumnya. Meskipun memang, bolos pada saat jam pelajaraan masih tetap ia lakukan. Ada yang berbeda dari Titan, saat ini ia lebih senang masuk ke gerbang depan sekolah, di banding gerbang belakang sekolah. Biasanya, entah itu datang atau pulang sekolah, Titan lebih senang lewat gerbang belakang sekolah, karena biasanya Titan suka ikut berkumpul ria di warung pojok sebelum memutuskan untuk masuk sekolah.
Terhitung dimulai hari senin minggu lalu, Titan berubah. Tidak berubah drastis. Hanya satu saja, ia lebih senang masuk gerbang depan sekarang ini. Selebihnya, ia masih tetap menjadi Titan yang sering membuat onar.
Seperti hari ini, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Titan masih belum sampai ke sekolah. Ia selalu punya trik bisa masuk ke gerbang depan sekolah, meskipun sudah kesiangan.
Tepat pukul setengah delapan. Titan sampai di gerbang sekolah dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah karena sudah terlambat. Ada Pak Danny yang sudah stay di depan gerbang dengan memasang wajah garang. Bagi Titan, menghadapi Pak Danny bukan lagi perkara yang sulit.
"Titan! Jam berapa ini?!" Tanyanya tajam.
"Jam setengah delapan."
__ADS_1
"Kamu terlambat lagi!"
"Enggak, Pak. Saya tuh dari abis dari fotocopy, abis ngerjain tugas print. Kalau Bapak enggak percaya, nih saya bawa print-annya." Titan pun memberikan beberapa lembar kertas pada Pak Danny.
"Tugas apa?"
"Biologi, Pak."
Dengan segera Pak Danny memeriksa lembaran kertas fotocopy yang diberikan Titan. Namun, pada saat Pak Danny sudah memeriksa kertas fotocopy tersebut, wajah Pak Danny semakin kesal.
"Ini tugas Biologi?" Tanyanya intens.
"Iya, Pak."
"Kayak gini kamu bilang tugas biologi?" Pak Danny membeberkan isi kertas fotocopian tersebut pada Titan. "Sejak kapan tugas Biolog mempelajari tentang puisi cinta?" Tegasnya lagi.
Titan mengumpat dalam hati, "****** gue. Pake salah ngasih kertas lagi."
Namun ...
Tania baru saja datang. Ia terlambat? Tidak. Ia sudah lebih dulu izin pada Pak Danny. Yang seketika itu juga Pak Danny langsung memasang wajah manis pada Tania.
"Pak saya boleh masuk?" Tanya Tania.
"Boleh, Nak," ucapnya ramah.
"Lah, kok Tania gampang banget bisa masuk? Tapi kenapa saya harus diintrogasi dulu?" Tanya Titan heran.
"Dia sudah izin ke saya. Kamu? Kamu kan telat!" Kata Pak Danny. Titan menghela napas pelan.
Karena Tania diperbolehkan masuk oleh Pak Danny, Tania pun menyempatkan menoleh ke arah Titan dan melemparkan senyum, "gue duluan, ya," ucap Tania pada Titan. Lalu Tania berlalu masuk ke dalam gerbang.
Titan terdiam.
"Enggak salah tuh cewek ngomong sama gue? Manis banget," batin Titan.
Pak Danny menghela napas, melihat Titan yang terdiam melihat Tania berlalu. Lalu, Pak Danny membuyarkan lamunan Titan.
"Ekhem."
"Bapak batuk?"
"Hari ini saya lagi baik. Kamu boleh masuk. Tapi saya peringatkan kalau kamu sampai telat lagi. Kamu saya laporin ke Tantemu!" Ancam Pak Danny. Titan mengangguk.
"Dari tadi, kek," ucap Titan sangat pelan.
"Ngomong apa barusan?" Tanya Pak Danny.
__ADS_1
"Enggak, Pak. Saya cuma bilang Bapak hari ini ganteng. Andika Kangen Band aja kalah ganteng sama Bapak," ucap Titan cengengesan dan langsung masuk ke dalam gerbang, Pak Danny pun hanya melemparkan pelototan mata pada Titan.
***