Titan'S

Titan'S
eps. 23


__ADS_3

"Tapi ... Gue ngerasa bersalah, Tan." Ratu berujar dengan raut wajah yang tidak bersemangat. Ada hal yang membuatnya merasa bersalah.


Tania mengernyit, "kenapa? Lo ada masalah sama Jevin?"


"Enggak. Sama sekali enggak ada masalah. Cuma gue ngerasa jadi orang yang sangat jahat. Jevin itu suka sama gue. Tapi perasaan gue ke dia itu enggak bisa lebih. Gue enggak bisa membalas perasaannya, itu yang bikin gue ngerasa bersalah," ucap Ratu, kali ini ia membiarkan ponselnya dibiarkan begitu saja, seperti enggan untuk mengangkat telepon dari kontak bernama Jevin, sampai akhirnya panggilan itu berakhir meninggalkan jejak 'Satu panggilan tak terjawab' di ponsel Ratu. Bukan karena ingin menghindar, hanya saja ada perasaan yang membuat hati Ratu bimbang.


"Hm." Tania menghela napas pelan.


"Tapi gue rasa Jevin ngerti soal itu. Dia pasti tau, kalau cinta dan perasaan itu enggak bisa dipaksain. Jadi, kalau menurut gue, buang rasa bersalah lo itu," sambung Tania sambil menepuk pelan bahu Ratu.


"Tapi ...."


"Udah gak usah banyak tapi-tapian. Ayo, telepon balik Jevin, dia pasti nungguin lo nelepon balik."


Ratu pun kembali melihat layar ponselnya. Ada perasaan ragu, namun ia harus membuat semuanya seakan baik-baik saja. Namun, kali ini Ratu justru malah mematikan ponselnya dan menaruhnya di saku baju seragam sekolahnya. Ia merasa harus lebih menjaga sikap, atau lebih tepatnya ia tidak boleh kebanyakan memberikan sebuah harapan-harapankecil untuk Jevin. Biarkan semuanya mengalir begitu saja, seperti air sungai yang nampak tenang mengalir sampai ke tujuan.


"Kenapa lo matiin ponsel lo?" Tanya Tania.


"Gue lagi berusaha untuk enggak ngasih harapan kecil ke Jevin."


"Kenapa?"


"Gue gak mau aja dia terluka nantinya."


"Yaudah, terserah lo, kalau emang itu emang keputusan buat lo untuk ngasih jarak antara lo dan Jevin. Tapi ... Lo harus inget, lo gak boleh nyesel sama keputusan yang lo buat. Lebih baik lo pikirin baik-baik keputusan lo. Atau ... Lo harus bisa lebih membuka hati lo buat Jevin." Tania berujar dengan amat sangat serius, membuat Ratu benar-benar merasakan bimbang---di sisi lain, hatinya mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, mencintai Rayn yang tidak pernah menghargai perasaanya, tapi di sisi lain, Ratu tidak bisa membuka hatinya untuk seseorang yang mencintainya tanpa harus mendapatkan imbalan. Dari situ, ia mengerti, tentang cinta yang memang tidak bisa untuk dipaksakan.


"Gue yakin sama keputusan gue," jelas Ratu. Tania hanya mengangguk pelan.


Posisi Tania dan Ratu kini memang tengah duduk di sebuah kursi besi panjang yang mengarah pada lapangan basket. Terik matahari mulai menyakiti kulit, namun beberapa murid masih ada yang tengah asyik berolahraga di lapangan basket. Terutama anak kelas XI-1---kelasan Tania, yang sedang mengikuti olahraga basket. Hanya Tania dan Ratu yang nampak tidak mengenakan seragam olahraga, dan duduk bercengkrama di pinggiran lapangan. Ratu beralasan sakit nyeri datang bulan, itu sebabnya ia tidak mengikuti kegiatan olahraga sabtu ini. Sementara Tania, banyak tugas PMR yang membelitkan dirinya, sehingga di jam pertama pun ia sudah harus izin mengikuti aktivitas organisasinya.


"Kok gue enggak lihat Deo, ya?" Ratu celingak-celinguk seperti mencari seseorang.


"Dia di kantin. Gue barusan lihat dia di kantin."


"Serius?"


"Iya."


"Ah, tuh anak emang kayak hantu. Ngilang gitu aja. Abisnya gue ada perlu sama dia. Kemarin pas trio dangduters sama si Udin-Udin itu nginep di rumah si Deo, gue dimarahin sama nyokap-bokap gue, karena apa? Rumahnya si Deo udah kayak kapal pecah. Sekarang udah ada pembantu baru tuh di rumah Deo. Tuh anak emang jaman now banget, masa iya semaleman mereka, si Deo, si Jonathan, si Udin, sama si Rian mau ngerencanain ulangtahun gue dengan ngadain konser dangdut." Ratu berujar panjang lebar, dengan wajah sedikit kesal, Tania hanya tersenyum tipis.


"Biar aja. Supaya ulangtahun lo nanti ada kesan berbeda. Eh tapi, Jevin juga nginep, kan dia?"


"Nginep."


"Oh baguslah. Gue salut aja sama dia, dia rela bolak-balik Bandung-Bali, cuma buat ngerencanain hari ulangtahun lo. Seharusnya lo beruntung, Rat," ucap Tania.


"Udah deh, lo jangan bikin gue baper."


"Siapa yang bikin baper?"


"Elo, Tan."

__ADS_1


"Tapi emang kenyataannya gitu, kan?"


"I-iya, sih. Udah ah, jangan bahas itu lagi."


Tania hanya terkekeh saja. Kemudian suasana lapangan bola basket menjadi riuh saat kedatangan Jonathan dan kawan-kawan. Ada Udin juga di sana. Udin bukan murid sekolah ini, hanya saja, tepat hari ini Udin baru saja mendaftarkan dirinya menjadi murid pindahan di sekolah ini. Udin merasa ada yang harus dikerjakan di sekolah ini, membuatnya rela untuk pindah ke sekolah ini. Sebelas dua belas dengan karakter yang Jonathan punya---sama-sama penikmat musik dangdut level puncak gunung Jaya Wijaya. Keduanya absurd setengah ******.


Gaya rambut Jonathan dan Udin sudah nyaris seperti Andika Kangen Band, membuat suasana riuh dengan suara-suara tawa yang menggelegar. Gaya sok menawan, namun terlihat seperti aneh, tapi tidak membuat kepercayaan diri dari seorang Jonathan mau pun Udin tidak luntur sedikit pun.


"Apa lo?! Sirik ngelihat gue udah kayak Lee Min Ho?" Sindir Udin pada beberapa murid yang tengah asyik menertawakan.


"Idih. Pede lo. Lo siapa? Bukan anak sini, kan?" Cetusnya.


"Siapa bilang? Gue anak sini. Gue baru pindah ke sekolah ini. Kenalin nih, nama gua Oh Sehun." Udin berujar dengan songong---namun sama sekali tidak pantas, jatuhnya terlihat seperti aneh.


"Sehun, Sehun, lo itu lebih pantes jadi bihun!" Makinya. suara tawa pun semakin renyah terdengar, membuat lapangan basket ini seperti diadakan sebuah konser yang riuh.


"Gila, lo, Din, baru juga sehari lo sekolah di sini, udah bikin suasana sekolah riweuh kaya gini," bisik Jonathan.


"Biasalah, orang ganteng suka banyak yang nge-fans."


"****! Ganteng?" Ledek Jonathan seperti meremehkan kegantengan super pas-pasan---yang dimiliki Udin. Sementara Udin hanya berdecak pelan.


Sementara Ratu hanya terpelongo saja melihat tingkah Udin dan Jonathan, Tania pun ikut terdiam memperhatikan kehadiran Udin di sana. Udin dan Jonathan sudah seperti Upin dan Ipin versi Indonesia. Entah, apa alasan kuat untuk Udin memutuskan pindah ke SMA Kejora ini.


Sebentar, sebenarnya nama Asli Udin adalah Rega Darudin Prasetya, bagus bukan namanya? Tapi ia adalah sosok yang aneh, dan memiliki kekuatan supranatural, yang memang asli atas dasar keturunan.


"Sekolah bisa rame, nih, kalau si Udin sekolah di sini," bisik Ratu pada Tania.


Tania dan Ratu memperhatikan gerak-gerik Udin yang nampaknya memang berjalan menghampiri ke arah Tania dan Ratu duduk. Ratu mengerutkan dahi, saat Udin menyapa dengan gaya sok cool ala-ala Oppa-Oppa Korea. Sementara Tania, hanya berusaha menahan tawa---agar Udin tidak tersinggung, Tania sedang menertawakannya di dalam hati.


"Hai, lo Ratu, kan?" Sapa Udin dengan sok cool.


"Udah tau pake nanya." Ratu berujar ketus.


"Rat, lo lihat Deo sama Titan enggak?" Alih-alih Jonathan langsung to the point.


"Iya, lo lihat Deo sama Titan?" timpal Udin.


"Deo? Gue tadi lihat ada di kantin, kalau Titan ada di ruang UKS." Tania justru malah menjawab pertanyaan Udin dan Jonathan. Sementara Ratu nampak malas menanggapi ocehan Udin dan Jonathan. Melihat tampang mereka saja, membuat Ratu ogah-ogahan.


"Tadi gue ke kantin, dan enggak ada Deo di sana. Tadi juga gue lewat depan ruang UKS, di sana kosong tuh enggak ada Titan. Tapi yang gue lihat tadi, Deo sama Titan pulang naek mobil jemputan supir si Deo." Jonathan berujar dengan wajah polos tak berdosa.


Ratu berdecak pelan, "terus kenapa lo nanya ke kita?"


"Ya siapa tau aja lo tau kemana perginya mereka?"


"Tunggu-tunggu. Deo dan Titan pulang?" Tania dengan sigap menanggapi kalimat Jonathan. "Kok Titan enggak bilang?" Sambung Tania.


"Ekhem," Ratu berdehem, seketika membuat Tania malu sendiri.


"Yaudah deh, kalau emang kalian enggak tau, gue sama Udin cabut dulu, ye." Jonathan pun pamit untuk bergegas ke arah kantin bersama Udin.

__ADS_1


"Bodo, ah!" Ketus Ratu pada Jonathan. Lalu, sembari berjalan menuju kantin, Udin malah bersenandung kecil, niatnya membuat Ratu kesal,


"Rasa cintaku semakin dalam,


Rindu ini pun menggebu-gebu,


Ratu hatiku ...." Udin bersenandung dangdut,


"Asoy digeboy, soy," Jonathan malah keenakan. membuat Ratu sedikit menggidik geli---melihat punggung Udin dan Jonathan yang semakin berlalu.


"Tuh curut dua receh banget," gumam Ratu pelan, saat namanya terselip pada lirik lagu yang Udin senandungkan.


Tania hanya terdiam, ada hal yang sedang ia pikirkan. Ya, mengenai Titan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Titan? Atau mungkin karena ... Titan masih merasakan sakit? Apa memang separah itu? Ribuan tanda tanya besar hadir dalam pikiran Tania. Sepertinya Tania harus mencari tahu, setidaknya pulang sekolah ia harus menemui Titan. Bagaimana pun caranya.


"Sori, Rat. Gue kayaknya cabut dulu, ya," pamit Tania.


"Yah, mau ke mana?"


"Ada urusan yang harus gue selesain."


"Yah, oke deh."


Tania pun berlalu meninggalkan Ratu. Lagi-lagi hati Tania terselimuti rasa khawatir, sebelumnya Tania tidak pernah merasakan khawatir yang berlebihan terhadap cowok, apalagi cowok senakal Titan. Meskipun Titan terlihat seperti anak nakal, namun Titan mempunyai tempat tersendiri di hati Tania, itu semua dimulai sejak Tania melihat sisi lain dari diri seorang Titan Wirasena---sisi lain dari diri Titan yang tak banyak orang tahu. Titan pula mengistimewakan sesosok Tania dalam hidupnya. Kehadiran Tania yang membuat Titan lupa akan ribuan duri yang tertancap abadi dalam relung hatinya. Meski ini terlalu mudah, namun tetap semuanya membutuhkan pengorbanan serta keyakinan untuk sama-sama saling memahami dan mengerti. Karena ini bukan lagi hujan dan senja, yang selalu menjadi pengibaratan sebuah rasa yang tersirat dalam hati. Tapi tentang bagaimana kita harus bisa bangkit untuk kembali merasakan cinta dengan pengertian yang sederhana, yaitu kebahagiaan.


***


Kini, Titan sudah berada di dalam kamarnya. Hal yang paling ia senangi saat menyendiri, menumpahkan segala perasaannya---yang entah sedang bersedih atau bahagia, satu-satunya tempat yang menjadi teman terbaiknya adalah ... Kamarnya sendiri. Adik semata wayangnya sedang tidak ada di rumah, Ajeng sedang menginap di rumah Tante Amira untuk beberapa minggu ke depan. Yang tersisa kini, hanya Titan seorang diri di rumah. Pembantu yang biasa bekerja di rumah Titan pun sedang pulang kampung.


"Duh, kenapa badan gue seakan-akan remuk," eluh Titan saat membaringkan badannya di atas kasur yang super empuk.


Tanpa basa-basi lagi, Titan mengubah posisinya---yang tadinya terbaring, menjadi duduk. Ia meraih ponselnya, bermaksud untuk mengabarkan pada Tania, kalau dirinya baik-baik saja.


Namun, belum sempat ia memencet gagang telepon warna hijau pada layar ponselnya. Bel pintu rumah berbunyi. Titan pun menunda untuk menelpon Tania, ia bergegas untuk membuka pintu rumah, nampaknya memang ada orang yang akan bertamu ke rumahnya. Siapa? Entahlah.


Sambil memegang ponsel, Titan berjalan ke arah pintu utama rumah, sesekali ia melihat layar ponselnya. Dan ...


Titan membuka pintu utama rumahnya dengan santai. Terkejut bukan main, sorot matanya berubah menjadi tajam dengan sedikit berkaca. Semua seperti mimpi, mustahi dan tidak mungkin ada yang percaya dengan semua ini. Seluruh iblis datang pada diri Titan, seakan-akan Titan ingin berteriak penuh berontak---entah harus senang, atau malah semakin terluka? Ini sulit untuk dimengerti. Apakah ini sebuah halusinasi? Atau hanya sebuah ilusi yang Titan ciptakan sendiri?


"A-ayah?" Seakan dunia bergetar, saat sesosok lelaki paruh baya, berwajah mirip dengan mendiang Ayah Titan yang sudah sepuluh tahun pergi meninggalkan dunia yang kejam ini, kini berdiri nyata sesosok itu di hadapan Titan. Membuat Titan lagi-lagi menggelengkan kepala tidak percaya.


Lelaki paruh baya itu tersenyum haru disertai tangisan tertahan, "Iya, nak, ini Ayah," ucapnya sembari menepuk pelan bahu Titan.


DEG!


***


A/n : duh, makasih buat kelyan yang udah baca sampai sini. Gue penulis amatir. Dan gue tau tulisan gue ini absurd parah. Tapi kali ini gue mau nyapa kelian nih, hehe. Titan beberapa part lagi akan tamat, gue gak tau sih bakal tamat di part 30 atau di part 35, atau bahkan bisa aja di sebelum part 30 udah ending, tergantung ngetiknya. Tapi gue udah nyiapin konflik dan endingnya. Maaf ya kalau misalkan cerita 'kangen' ini super gaje. Gue masih banyak belajar. Dan satu janji gue, kalau udah tamat, gue bakal revisi KANGEN supaya lebih rapih. Maavkand gue, yang enggak bisa bikin story yang keren-keren seperti kebanyakan author di luar sana.


Pokoknya ima'aciuw buat kelian syemuah.


Note : gue gak mempermasalahin dark readers, lo harus vote atau harus comment. Tapi emang gue paling seneng kalau ada yang vote apalagi comment. Kalau enggak ada juga yaaaaaaa gapapa, berarti karya gue emang gak layak di vote atau comment *cukup paham* hehe.

__ADS_1


__ADS_2