Titan'S

Titan'S
eps. 5


__ADS_3

Suasana ruangan ini hening sejenak, Titan terlihat sangat santai, namun Tania terlihat seperti canggung dalam situasi yang seperti ini. Sesekali Tania mencuri pandang pada Titan, dan ya, berkali-kali Tania berusaha menahan hatinya agar tidak terpikat oleh pesona yang dimiliki oleh Titan. Penampilan Titan memang terlihat begitu buruk dan sudah pasti jika seseorang melihatnya untuk pertama kali, pasti akan menganggap Titan adalah cowok bad. Lihat saja dari cara ia berpakaian, dua kancing baju seragam bagian atasnya dibiarkan terbuka begitu saja, memperlihatkan sebuah kalung hitam yang melingkar di lehernya. Sempat, dulu, Titan pernah memakai anting hitam di telinga sebelah kirinya, namun ia ditegur oleh salah satu guru killer, agar tidak memakai anting seperti itu, terkesan seperti bukan anak sekolahan, tapi seperti anak jalanan.


"Lo gak usah canggung gitu kali. Lo juga gak usah takut, gue gak bakal ngigit, soalnya gue bukan vampire." Titan berujar santai, namun Tania hanya mampu menatapnya lalu mengalihkan pandangannya ke bawah.


Ck! Hanya keheningan yang tercipta. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan yang ada. Entah takdir apa yang membuat mereka tanpa sengaja terjebak di dalam sebuah toilet yang terlihat sepi, tidak terlalu luas, dan tanpa cahaya, hanya cahaya lampu saja, karena tidak ada jendela. Tania menghela napas berulang-ulang kali, ingin rasanya ia keluar dari toilet ini, namun pintu toilet ini rusak, jika ditutup sangat rapat dari dalam, maka akan sulit untuk membukanya. Ya, toilet ini sebenarnya sedang ada perbaikan atau renovasi, Tania tidak tahu jika ia akan terjebak bersama Titan dalam toilet ini, yang ia pikirkan adalah bisa menghindari dari aturan-aturan yang semena-mena dari Rayn, sang mantan, yang selalu mengatur hidup Tania, padahal jelas-jelas status antara Tania dan Rayn kini adalah hanya sebatas mantan.


"Tan, lo bisa gebrak ini pintunya, kan? Lo kan cowok, tenaga lo pasti kuat daripada gue. Gue buru-buru," Tania berujar dengan raut wajah yang seperti memohon agar Titan melakukan sesuatu untuk bisa membuatnya keluar dari tempat ini.


"Buru-buru ke mana?"


"Kok lo kepo, sih? Gue kan cuma minta lo bukain pintu ini, bukan malah nanya kayak gitu."


"Ya, kan gue cuma nanya aja."


"Tapi, pertanyaan lo itu lebih ke pengen tahu urusan orang." Tania berujar tegas. Sementara Titan menghela napas pelan.


"Jadi ... mau gue bukain gak pintunya? Atau mau terkurung kayak gini berdua di tempat ini sampai kita menua dan mati?" Titan berujar santai dengan senyum kecutnya, membuat Tania berdecak kesal, namun Tania berusaha untuk tetap mengontrol rasa kesalnya pada Titan.


"Bukain lah."


"Bener?" Titan tersenyum menggoda. Nampaknya Titan sangat suka membuat Tania kesal.


"Gak usah bertele-tele, deh. Bukain aja kenapa, sih? Gue buru-buru ini. Tahu gitu, kalau ada singa di sini, gak akan kali gue ngumpet di sini." Celoteh Tania, namun Titan malah tersenyum miring.


"Singa? Menurut lo gue singa?" Titan berujar santai, disertai senyum miringnya yang memesona. "Baru kali ini ada cewek bilang kalau gue itu singa. Tapi ... gue suka. Lebih laki kayaknya, yak?" Sambung Titan.


"Terserah, deh. Tapi buruan bukain pintunya." Tania menghampiri Titan, lalu meraih tangan Titan untuk menyuruh Titan membukakan pintu toilet ini.


"Buruan buka," setelah Tania dan Titan berdiri tepat di depan pintu tersebut, Tania menyuruh Titan untuk membukakan pintu toilet ini yang rusak.


"Eit ... tapi ada syaratnya." Titan semakin bertele-tele, membuat Tania lagi-lagi menghela napas pelan.


"Kenapa harus pake syarat? Kayak yang mau ngelamar kerja aja deh pake syarat."


"Ya, kan, lo ceritanya mau ngelamar ke hati gue." Titan berujar menggoda.


"Dih, siapa juga yang mau ngelamar ke hati lo." Tania berujar malas.


"Oke, kalau gak mau terima syaratnya, gue bakal biarin kita mati berdua di sini. Biar so sweet, biar kayak di film-film."

__ADS_1


Ck! Tania tidak tahu lagi harus dengan cara apa menghadapi tingkah Titan yang bersikap so romantis itu. Tingkah Titan terlihat santai, namun kata perkatanya yang terlontar dari mulutnya itu penuh dengan rayuan. Sadar atau tidak, mungkin itu yang menyebabkan Titan di cap sebagai raja pemberi harapan palsu. Titan bisa membawa hati perempuan terbang setinggi-tingginya, lalu ia jatuhkan ke dasar jurang, tanpa sadar. Sebenarnya, Titan merasa kalau dirinya tidak menebar pesona, atau memberikan harapan kosong pada setiap perempuan. Titan hanya sosok cowok periang yang kesepian, mungkin dengan karakternya yang seperti ini, membuatnya lupa akan luka dalam hatinya.


"Yaudah, apa syaratnya?" Tania pasrah dan mengikuti apa yang ingin Titan bicarakan padanya. Titan tersenyum puas.


"Gue cuma mau .... "


"Awas ya, lo, kalau minta syarat macem-macem." Tania memutuskan kalimat Titan. Titan yang berdiri di hadapan Tania pun terlihat menampakan senyum puas di bibirnya.


"Gue gak bakal macem-macem kok, paling cuma satu macem." Titan mengubah posisinya, menyandarkan punggungnya di pintu tersebut, dengan kedua tangan yang melipat di bawa dada bidangnya.


"Yaudah buruan, deh."


"Syaratnya adalah .... " Titan mengubah posisinya lagi, berdiri tegak di hadapan Tania, dengan sedikit mendekatkan wajahnya ke wajah Tania, membuat Tania sedikit memundurkan kepalanya ke belakang.


"Lo ... Lo mau ngapain?" Tania terlihat gugup, namun Titan malah tersenyum puas.


"Gue gak bakal ngapa-ngapain. Gue cuma mau ngasih syarat ke elo kalau emang lo mau gue bukain ini pintu. Syaratnya adalah lo harus bantuin gue juga." Titan berujar sembari menautkan sebelah alisnya.


"Kok lo pamrih, sih?"


"Oke, kalau emang gak mau, berarti kita akan terkurung selamanya di sini. Kalau gue sih, gapapa, kita mati berdua di sini." Titan kembali dengan posisi menyandarkan punggungnya di pintu tersebut.


Titan hanya tersenyum remeh. "Gimana, lo mau kan bantuin gue?" Titan bertanya lagi.


"Yaudah, iya, gue mau. Apa yang harus gue lakuin? Bantuan apa yang harus gue lakuin." Tania pasrah saja, sembari mengelus pelan dadanya.


"Gue punya adek. Perempuan. Kelas tiga SMP. Orangtua gue udah lama meninggal. Gue butuh seseorang buat bikin adek gue gak kesepian, atau sosok yang bisa jadi teladan buat adek gue. Mungkin lo bisa." Jelas Titan, Tania terlihat serius mendengarkan perkataan Titan, bahkan Tania melihat keseriusan dan sedikit perasaan tersayat dalam pandangan mata Titan.


"Kenapa lo minta bantuan itu ke gue?"


"Gak tahu kenapa, gue bisa milih lo dalam kasusnya adek gue ini. Intinya, perempuan itu paling susah ditebak perasaannya. Karena lo perempuan, mungkin lo bisa ngerti perasaan adek gue, atau lo kasih pengarahan yang baik buat dia. Gue butuh itu, karena gue adalah Kakak yang gak bisa ngasih teladan yang baik buat adek gue." Jelas Titan, Tania mulai hanyut dengan penjelasan yang Titan berikan.


"Maksudnya ... kenapa harus gue? Lo kan baru kenal gue beberapa hari ini. Gue takut aja gitu, gue gak bisa ngebimbing adek lo." Tania berujar pelan seraya menyentuh bahu Titan pelan, "so-sorry .... " Tania tersadar saat setelah ia menyentuh bahu Titan. Titan tersenyum.


"Perasaan itu gak pernah salah. Gue memberikan kepercayaan sama orang itu bukan diukur dari seberapa lama kita kenal. Mau baru kenal kek, mau udah lama kenal kek, itu bukan alasan untuk gue memberikan kepercayaan terhadap seseorang. Kalau gue ngerasa orang itu pantes buat gue kasih kepercayaan, yaa kenapa enggak? Ini perasaan lho." Titan berujar pelan, Tania mengangguk mengerti.


"Oke, gue bakal bantuin lo. Semaksimal mungkin gue bakal bantuin lo."


"Oke,"

__ADS_1


"Yaudah, sekarang giliran lo dong, bukain pintunya, karena gue harus buru-buru ketemu sama Rayn."


Titan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tatapan seperti berseri saat menatap Tania. Mungkin ia sedang mengucapkan terima kasih lewat tatap matanya. Lalu, Titan pun dengan sigap mendobrak pintu toilet ini agar terbuka. Terlihat urat-urat di tangannya yang menonjol, itu menandakan tenaganya sedang ia gunakan untuk berusaha membuka pintu toilet ini.


Dreeg ...


Ya, Titan berhasil membuka pintu toilet ini. Titan menghela napas, ada sedikit keringat yang mengucur di dahinya, namun itu tidak masalah baginya. Lalu, Titan pun tersenyum ke arah Tania. "Silahkan ke luar tuan putri yang cantik nan manis." Titan berujar pelan, manis, dan penuh rayuan menggoda.


"Idih, geli!" Tania pun melangkahkan kakiny ke luar toilet ini, sementara Titan tersenyum menyaksikan punggung Tania yang semakin berlalu.


Titan masih berdiri di ambang pintu toilet ini, dengan posisi menyandarkan bahu sebelah kirinya ke lawang pintu, sementara kedua tangannya melipat di bawah dada bidangnya. Cool. Setelah itu, Titan pun bergegas berlalu meninggalkan tempat ini, satu senyuman masih mengembang di bibirnya.


Tiba-tiba ...


"Eh, Titan, lo abis ngapain di dalem toilet sama Tania?" Tanyanya intens, membuat langkah Titan terhenti, dan langsung menoleh ke sumber suara tersebut.


"Eh elo, Jon. Lo belum pulang?" Titan menyebut seseorang tersebut dengan sebutan Jon. Ya, seseorang itu bernama Jonathan Setiadi, teman sekelas Titan.


"Gak usah ngalihin pembicaraan, Tan. Lo habis ngapain di dalem toilet sama Tania?" Tanyanya intens.


"Gak habis ngapa-ngapain. Lo terlalu kepo tahu gak, sama persis kayak ibuk-ibuk infotaiment." Celetuk Titan,


"Biasa aja kelleus, gak usah nyamain gue kayak ibuk-ibuk. Gue kan temen lo nih, ya gue cuma nanya aja. Lo harus tahu, kalau Tania itu mantannya Rayn. Rayn masih ngejar-ngejar dia, jadi kalau lo ada apa-apa sama Tania, berarti lo nyari masalah sama si bangor Rayn." Jelasnya. Titan tersenyum kecut.


"Gue gak takut," Ujar Titan dengan wajah yang santai,


"Sekarang gini, deh. Lo jauhin Tania. Biar gue nyariin elo cewek, deh. Tipe cewek lo kayak gimana? Kayak apa?" Jonathan malah mengingatkan Titan untuk tidak berdekatan dengan Tania, dengan alasan ; Rayn pasti akan marah, karena Rayn masih menginginkan Tania untuk menjadi kekasihnya.


Titan tersenyum remeh, "Tipe cewek yang gue suka itu ... gak perlu putih, gak perlu cantik, gak perlu manis, gak perlu yang bisa dandan. Yang penting perempuan." Titan berujar dengan santai.


*****!


"Anjay, lo emang paling bisa ngeles!" Jonathan memperlihatkan wajah kesalnya.


"Jojon-jojon, lo tahu apa sih soal perasaan gue. Mau gue deket sama Tania kek, mau enggak kek. Atau masalah Rayn yang ngejar-ngejar Tania, gue gak bakal takut sama Rayn. Jadi, lo gak usah ngingetin gue. Oke?" Titan berujar songong, karena sesungguhnya Titan paling tidak suka diatur, apalagi diatur sama orang lain.


"*****, lo panggil gue Jojon. Nama gue Jonathan, pangil Joe kek, atau panggil Nathan kek." Kesalnya.


"Joe sama Nathan itu lebih bagus, lo lebih pantes dipanggil Jojon." Ledek Titan, kemudian tanpa sepatah kata lagi, Titan berlalu. Sementara Jonathan terlihat menggumam tidak jelas.

__ADS_1


"Dasar Tit ... Tit .... " Maki Jonathan berteriak, namun Titan tidak memperdulikannya.


__ADS_2