
Keesokan harinya, pada saat pelajaraan bahasa Inggris, semua murid kelas XI-3---kelasan Titan, sedang berkumpul di depan ruang lab bahasa. Tidak ada Titan di sana, mungkin anak itu sedang bersembunyi di kantin belakang. Atau mungkin bisa saja ia bolos ke warung pojok yang biasa ia tongkrongi.
Namun, ada sebuah keajaiban yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba Titan muncul dengan santainya berjalan menghampiri ruang lab bahasa.
"Tumben," sindir salah satu murid, Titan hanya berdecak pelan.
"Pak Danny mana?" Tanya Titan.
"Pak Danny? Sori, Tan, gue enggak ngantongin." Nando---teman Titan itu langsung dengan sigap menanggapi pertanyaan Titan.
"Oh, yaudah," tanpa basa-basi, Titan pun membalikan badannya dan berlalu dari tempat ini. Ia hanya sedang mencari Pak Danny.
"Gue kira lo mau belajar, taunya ke sini cuma mau nanyain Pak Danny. Biasanya juga Pak Danny yang nyariin elo, Tan," teriak Nando.
Titan menoleh dengan santainya, "biasalah, gue lagi ada urusan mendadak sama Pak Danny." Titan berujar dengan nada yang santai. Teman-temannya hanya ber-oh ria. Lalu, Titan kembali melanjutkan langkahnya menuju kantor BK.
Tunggu-tunggu, Titan mencari Pak Danny? Ada apa? Atau mungkin ia dipanggil Pak Danny untuk ke kantor lagi dengan kasus yang sama? Kalau memang begitu, hidup Titan memang semonoton itu, sama sekali tidak menarik dan masalahnya hanya berkutik di satu titik saja.
Bukan.
Kali ini Titan berinisiatif sendiri mencari Pak Danny, karena memang sebenarnya ada hal yang akan Titan bicarakan pada Pak Danny. Hal apa? Entahlah, tak banyak orang tahu pula tentang hal-hal mengenai Titan. Yang orang tahu, Titan hanya murid dengan berjuta rumor buruk saja.
Kini, Titan berada di kantor guru. Kantor guru yang terlihat sepi tak ada orang. Kantor yang tampak menyeramkan, ini bahkan terlihat seperti di dalam film-film horor. Titan pun masuk ke dalam, berjalan menyusuri ruang guru yang luas ini dengan percaya dirinya.
Srek. Titan mendengar suara aneh di balik lemari loker milik guru. Lalu, dengan rasa penasaran Titan pun menghampiri sumber suara itu.
__ADS_1
Dan ...
Saat melihatnya, Titan hanya tersenyum tipis, seseorang sedang membuka lemari loker guru. Terlihat dari sepatunya, Titan bahkan sangat mengenali. Titan menyandarkan punggungnya ke lemari sebelah---menunggu seseorang itu sampai menutup pintu loker. Tentu seseorang itu tidak menyadari keberadaan Titan, karena posisi Titan terhalang oleh pintu loker—yang terbuka tersebut.
"Mana bukunya, ya? Kata Bu Andin di sini. Duh, mana merinding lagi," ucapnya bermonolog. Ya, seseorang itu sedang mencari buku---disuruh oleh salah satu guru.
Tap. Sudah mencari, namun tidak menemukan buku yang disuruh oleh Bu Andin. Seseorang itu menutup pintu loker. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Titan yang sudah berdiri di sampingnya.
"Elo!" Pekiknya terkejut. Nyaris membuat jantungnya copot.
Titan menoleh dengan senyum penuh pesona, "kenapa ganteng, ya? Gue tau kok." Titan berujar dengan percaya diri, membuat seseorang itu hanya mengernyit heran.
"Lo ngapain di sini?" Tanyanya.
"Suka-suka gue dong," santainya.
"Lo juga ngapain di sini?"
"Bukan urusan lo."
"Nama lo Tania, ya?" Tanya Titan dengan posisi yang masih sama---menyandarkan punggungnya ke lemari loker, dengan kedua tangan yang melipat. Hanya saja wajahnya tertoleh pada Tania. Senyumya pun memesona.
"I-iya." Tania mengiyakan dengan jawaban yang gugup.
"Gak usah gugup sama gua."
__ADS_1
"Siapa yang gugup?"
"Oh, iya. Lo lihat Pak Danny gak?" Titan langsung mengubah posisinya berdiri menghadap Tania, membuat Tania memundur dua langkah ke belakang.
"E-enggak." Tania tampak canggung, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Yaudah, gue cabut duluan." Tania membalikan badannya dan bergegas untuk berlalu dari tempat ini.
Titan pun tersenyum melihat punggung Tania yang semakin berlalu. Hati kecilnya pun ingin menghampirinya, namun ... Pada saat Titan ingin mengejar Tania, Pak Danny pun muncul menepuk bahu Titan dengan sangat mengejutkan.
"Titan?!" ucapnya mengejutkan.
"Eh, i-iya, Pak?" Titan langsung menoleh ke arah Pak Danny.
"Kamu nyari saya?"
"Iya, Pak."
"Kenapa nyari saya?"
"Oh iya, saya mau ngasih surat ini ke Bapak." Titan mengambil sebuah surat yang sudah terbungkus amplop putih dari kantong celananya dan diberikan surat itu pada Pak Danny.
"Surat apa?" Tanya Pak Danny mengernyit.
"Saya juga gak tau isinya apa, tapi yang jelas ini surat dari Tante saya. Tante Amira. Surat ini buat Bapak dari Tante saya," ucap Titan, Pak Danny pun terlihat seperti percaya diri karena Titan menyebutkan bahwa Tantenya memberikan sepucuk surat pada Pak Danny.
Titan tahu, Pak Danny sedang tersipu, padahal bukan surat cinta yang diberikan Tante Amira pada Pak Danny. Entahlah, mungkin ada hal yang disampaikan Tante Amira pada Pak Danny---yang Titan sendiri pun tidak tahu.
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu, saya pergi dulu, Pak," pamit Titan.
Pak Danny mengangguk.