Titan'S

Titan'S
eps. 25


__ADS_3

Aku melihat kau menyerah pada waktu,


Meski kau berusaha menghilangkan jejak terasa pilu,


Semua menghantam bak benalu,


Yang tak kunjung jua berlalu,


Membuatmu semakin luluh,


Merasakan kecemasan yang kian gemuruh,


Dan sebuah perasaan rindu yang semakin kukuh.


Luka masa lalu menjadikanmu sesuatu yang mudah melepuh,


Lagi-lagi membuatmu semakin rapuh,


Melepuh tanpa ampun, semakin runtuh.


Hanya tersisa rasa perih,


Dan kamu terus meringkih merasakan pedih,


Menjebakmu dalam keabadian rasa sedih,


Kulihat kau pun berusaha menjahit luka,


Menghapus semua duka,


Merajut bahagia dalam hati dan palung jiwa,


Semua akan terasa sehangat senja,


Jika kamu dan perasaanmu benar-benar ada dan nyata,


Aku akan berada di sampingmu bukan hanya untuk sementara,


Tapi untuk saat ini, esok, dan seterusnya,


Sampai aku benar-benar tiada.


"Karena berulang kali waktu menikamku untuk terlihat begitu rapuh, tapi percayalah aku adalah seseorang yang terlatih untuk menjadi duri." -TitanWirasena.


-kangen-


Esok harinya. Desah nafas yang tidak bisa berdusta. Hari itu Tania amat sangat tersentak saat mendengar perkataan Rayn, yang menyebutkan; bahwa seluruh hidup Titan berada di tangannya. Ini tentu membuat Tania khawatir, sebenarnya apa yang sedang direncanakan Rayn? Ataukah Rayn hanya memberikan sebuah ancaman-ancaman kecil untuk Tania---agar Tania merasa takut dan mau menerima Rayn kembali untuk menjadi kekasihnya. Licik! Entah apa yang ada dalam pikiran Rayn, mengapa menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia mau.

__ADS_1


Sebenarnya, Titan dan Rayn memang tidak pernah saling menyapa, bahkan berteman pun tidak. Hanya saja mereka sudah saling mengenal jauh sebelum mereka resmi menjadi murid di SMA Kejora ini. Keduanya saling mengenal lama, tapi satu permasalahan fatal yang menyudutkan mereka pada sebuah hubungan yang begitu buruk. Bukan, bukan karena Tania. Jauh sebelum Titan dan Rayn mengenal Tania, keduanya sudah dilibatkan dalam satu permasalahan---yang entah itu apa.


Saat ini Tania berdiam diri di dalam kamarnya, ada satu pikiran yang membuatnya kacau. Titan tidak ada kabar sama sekali dari hari kemarin dan sampai detik ini, bahkan Tania sudah mencoba untuk menghubungi Titan, namun tidak ada jawaban. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Titan. Hari kemarin pun membuat Tania tidak fokus mengikuti latihan drama, tentu hal itu pun membuat beberapa peserta drama yang lain membicarakan Titan dengan nada tidak suka---mungkin karena Titan tidak menghadiri latihan drama tersebut. Kemana anak itu? Bukankah ia akan menghadiri latihan? Namun mengapa hari kemarin ia tidak datang untuk menghadiri latihan drama tersebut?


Itu membuat Tania menjadi sangat khawatir saat ini.


"Apa yang lagi lo pikirin, Tan?" Tiba-tiba terdengar suara di ambang pintu kamar Tania. Ya, Ratu berdiri di sana, dengan santainya menyandarkan bahu ke lawang pintu.


Tania menoleh ke arah Ratu, "elo, Rat? Sejak kapan lo di sini?" Tania yang sebelumnya tidak menyadari kehadiran Ratu ini sedikit terkejut---karena Ratu berhasil membuat lamunannya buyar.


Ratu menghampiri Tania, "Gue berdiri di sini sejak lima menit yang lalu. Oh iya, sejak kemarin gue perhatiin elo kayak ada sesuatu yang lagi dipikirin. Kenapa? Lo mikirin Titan?" Tanya Ratu pelan.


Tania hanya mampu diam.


"Kalau emang iya ada sesuatu yang lagi lo pikirin dan itu karena Titan enggak hadir dalam acara latihan kemarin, coba lo hubungin dia, Lo punya nomer ponselnya kan? Lagipula, gue emang heran sama si Titan, kenapa di saat dia udah dapetin elo, justru dia yang malah seolah-olah menghindar tanpa kabar kayak gini," ucap Ratu dengan nada pelan.


"Bukan cuma itu masalahnya, Rat. Lagipula gue enggak terlalu mikirin soal kemarin yang dia enggak dateng latihan drama. Tapi gue bener-bener khawatir sama dia." Tania berujar dengan wajah yang sangat jelas menggambarkan kekhawatiran.


"Apa yang elo khawatirin?" Tanya Ratu.


"Rayn."


Ratu mengernyit---seperti tidak mengerti mengapa Tania menyangkutpautkan nama Rayn dalam rasa kekhawatirannya terhadap Titan?


"Maksud lo?"


"Emang Rayn bilang apa sama lo?"


"Gue enggak tau pasti apa maksud dia, tapi perkataannya berhasil membuat gue takut," ucap Tania. Ratu pun menghela napas pelan, ia melihat Tania dengan tatapan care.


"Yaudah, biar nanti gue obrolin ini sama Deo. Gue juga yakin, Deo pasti tau apa yang terjadi sama Titan," ucap Ratu memberikan semangat untuk Tania, lalu Tania pun menyungginkan seulas senyum---walau tipis, tapi setidaknya itu membuat Tania menjadi sedikit lega dari perasaan sebelumnya.


Hari ini adalah hari minggu, Tania tidak memutuskan untuk pergi kemana-mana, terlebih saat ini ada Ratu yang datang ke rumah Tania---hanya sekedar mengisi waktu luang dengan sebuah obrolan-obrolan kecil yang membuat keduanya saling memahami cerita hidup satu sama lain. Persahabatan mereka erat, seakan tajamnya pisau pun tidak akan bisa membuat tali petemanan mereka terputus.


Berselang beberapa menit kemudian, ponsel Ratu berdering di sela-sela obrolan kecil antara Ratu dan Tania, dengan segera Ratu menyempatkan untuk membuka pesan masuk dalam ponselnya tersebut.


Whatsaap:


Jevin : gue enggak tau harus memulai semuanya dari mana, tapi yang pasti, gue memutuskan untuk ngejauh dari elo. Bukan berarti gue menghilangkan elo dalam hidup gue. Gue sayang sama lo, Rat. Sayang melebihi diri gue sendiri. Sebuah perjuangan yang selama ini gue lakuin buat lo, nyatanya sia-sia. Gue enggak pernah berharap imbalan apa pun dari lo. Gue udah tau semuanya, tau saat lo bilang; lo bakal ngejauhin gue dan enggak akan memberikan sebuah harapan kecil ke gue. Hari itu enggak sengaja gue denger percakapan lo sama Tania. Cobalah untuk memahami semuanya, Rat. Gue sayang sama lo tulus. Gue tau ini terlalu lebay, tapi gue ngerasa bertahan dalam posisi kayak gini itu enggak baik buat diri gue, enggak baik juga buat lo. Mungkin lo ngerasa terganggu dengan perasaan gue ini. Gue udah siapin kejutan spesial buat lo, mungkin itu kejutan terakhir yang bakal gue kasih buat acara ulang tahun lo, seterusnya gue akan mencoba menghilang dari kehidupan lo, karena emang itu kan yang lo mau dari gue? Gue akan mencoba menuruti apa yang lo mau, Rat. Sore ini gue bakal balik ke Bali, buat kejutan ulang tahun, gue udah naro sesuatu di kamar lo. Gue berharap, lo baik-baik aja tanpa gua, gua berharap lo dapetin apa yang bisa membuat lo bahagia, karena gue enggak bisa bikin lo bahagia. Ini bukan soal gue nyerah dengan keadaan ataupun waktu yang terlalu kejam buat gue untuk terus bertahan, tapi gue cuma pengin nurutin apa yang lo mau. Karena gue cukup sadar, kalau bertahan enggak selamanya berujung indah, dan pergi enggak selamanya menyedihkan. Maaf untuk segalanya ....


Ratu mendadak diam seribu bahasa, ia seperti merasakan sesuatu yang menyentak dirinya maupun relung hatinya. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipi, raut wajah berubah menjadi pilu. Tania menyentuh bahu Ratu, dan menanyakan; apa yang sebenarnya terjadi?


Tanpa basa-basi, Ratu berusaha menelpon Jevin, namun berulang-ulang ia mencoba untuk menghubungi, nomer ponsel Jevin tidak dapat dihubungi. Hal yang begitu membuat Ratu tersentak. Apa Ratu menyesal? Ia akan benar-benar kehilangan sosok ksatria berhati tulus seperti Jevin. Siap atau tidak, Ratu akan merasa kehilangan sosok Jevin.


"Kenapa, Rat? Ada apa? Lo kenapa nangis?" Pertanyaan Tania berlapis.


"Gue harus ke bandara sekarang," tanpa menjawab pertanyaan Tania, Ratu pun bergegas untuk ke bandara, dengan sigap Tania pun menawarkan diri untuk ikut bersama Ratu ke bandara.

__ADS_1


-kangen-


Setelah sepuluh tahun silam, seseorang yang dikabarkan meninggal, justru malah datang kembali, dan mengatakan sebuah kenyataan yang sama sekali tidak bisa dipahami.


Dramatis.


Titan membenci kehidupannya saat ini, ia terjebak dalam sebuah drama yang sama sekali ia benci. Hidup ini hanya sebatas khayal mimpi, yang berarti arti 'kebahagiaan' itu seolah tidak pernah nyata, dan terlalu bagus untuk menjadi nyata bagi kehidupan seorang Titan Wirasena Rajendra. 


Mengurung diri, meratap dalam sedih, sorot mata yang terlihat tajam penuh penghayatan menatap keluar jendela memilukan. Kehidupan terlalu kejam, saat kenyataan pahit perhalan mulai menghampiri tanpa ampun. Sepuluh tahun silam, sebuah kecelakaan tunggal, yang merenggut dua orang nyawa, membuat Titan bukan hanya terpukul hebat, tapi juga membuatnya mengerti tentang kehadiran seseorang yang sangat berarti ketika benar-benar hilang dari muka bumi ini dan tidak bisa lagi bertemu untuk sekedar menumpahkan rindu.


Kecelakaan itu ternyata hanya menewaskan Ibunya Titan saja, dan satu teman Ibunya, sementara Ayahnya justru menjadi tersangka kasus tersebut. Tapi Ayahnya menyembunyikan semua itu dengan rapi dari Titan.


"Gua bahkan benci dengan sebuah drama!" Titan berseru penuh dengan penekanan dalam kalimatnya, dengan tangan kanan mengepal dan menghamtam tembok di sebelahnya.


Dengan sigap, Titan mengambil jaket bombernya dan beralih keluar rumah---hanya untuk sekedar menghirup udara bebas di luar sana. Namun, pada saat Titan melangkahkan kakinya keluar kamar, telepon rumahnya berbunyi. Titan pun segera menghampiri ke ruang tamu---untuk mengangkat telepon yang masuk ke telepon rumahnya.


Titan mengangkat gagang telepon tersebut dengan pelan, "Halo, ini siapa?" Katanya, datar.


"Gue lagi sama bokap. Gue mau lo nyamperin gue di rumah gue! Gak usah bawa Ajeng. Cukup gue, elo, dan bokap!" Seru seseorang yang berbicara pada Titan di dalam telepon. Seketika itu raut wajah Titan berubah serius.


"Jadi selama ini elu tau, kalau bokap masih hidup?!" Titan berujar datar, namun sedikit bernada seperti menahan amarah.


"Kenapa? Lo mau marah?!"


"Basi! Gak guna!" Seru Titan memaki pada seseorang yang menelponnya itu.


"Gua tunggu lo di rumah gua! Gak usah bawa Ajeng! Karena keberadaan Ajeng itu bukan siapa-siapa kita! Dia cuma anak pungut!"


Perkataan seseorang itu membuat Titan menggeram pelan, Titan tidak habis pikir, selama ini kesabarannya terkuras habis oleh seseorang yang terus menantang dan memancing emosinya bangkit membabi buta dan meronta-ronta seperti ingin meluapkan seluruh amarah dan emosi.


Titan menutup telepon tersebut tanpa basa-basi lagi. Ia tidak suka jika ada seseorang yang menyebutkan kalau Ajeng adalah anak pungut. Perlu diketahui memang, kalau Ajeng adalah anak pungut, namun Titan benar-benar sudah menganggapnya seperti Adik kandungnya sendiri. Tentu juga, Ajeng tidak tahu-menau soal identitasnya dalam keluarga Ginanjar ini.


Lalu? Siapa seseorang yang menelpon Titan itu?


Dengan wajah terpasang serius dan menahan kesal, Titan pun beralih keluar rumah, bergegas menuju tempat kediaman sang penelpon tadi. Kacau, bahkan perasaan Titan sangat kacau. Jadi selama ini saudara se-Ayahnya, berbeda Ibu itu, malah sudah mengetahui semuanya---mengetahui kalau Ayah Ginanjar masih hidup. Sesuatu yang sangat tidak dimengerti oleh Titan, seakan hatinya dipermainkan seperti permainan ular tangga, dan Titan selalu mendapatkan jebakan ular untuk terus jatuh dan terjatuh sampai waktu menunjuk paksa kalau Titan kalah dalam permainan ini.


Saudara se-Ayah? Berbeda Ibu? Maksudnya?


Tiga pertanyaan yang mewakili semua ketidakmengertian ini. Ya, semenjak insiden kecelakaan sepuluh tahun silam, ada sebuah kenyataan yang membuat Titan harus menerima semuanya dengan lapang dada, sang Ayah dikabarkan memiliki dua istri. Dan Ibunya Titan ada di posisi sebagai istri kedua atau istri simpanan. Saat semua mengatakan kalau Ayah Ginanjar---Ayahnya Titan itu meninggal, semua pembuktian itu terkuak dan mengharuskan Titan menerima satu saudara laki-laki yang berumur tak jauh dengannya. Namun takdir begitu licik, Ayahnya Titan masih hidup dengan kondisi baik dan sehat, akan tetapi menaburkan luka yang teramat dalam bagi Titan. Terlebih, Titan sangat kecewa, kalau saudara se-ayahnya ternyata sudah begitu jauh mengetahui hal ini. Jika harus memilih, Titan tidak ingin memiliki saudara laki-laki yang se-ayah namun berbeda Ibu. Itu hanya membuatnya semakin sulit menerima kenyataan. Selama ini Titan sudah mencoba untuk diam, menyembunyikan semuanya dari dunia.


Bersambung ...


Siap-siap konflik, ya???!!! Muehehe.


Sori kalau ceritanya jelek x(


Gue enggak bisa bikin cerita yang warbiyasah kayak author lain x(

__ADS_1


Yang penasaran komen dong, hehe.


__ADS_2