

Tujuh :
Terkadang gue ngerasa kalau hidup gue itu gak pernah adil. Gue kehilangan kedua orangtua gue, dan semua hal-hal indah yang tercipta di dalam rumah gue. Tapi cepat atau lambat, waktu pun menjawab semuanya. Gue harus lebih mengerti dan memahami semuanya. Karena hidup itu ... hadapi, hayati, dan nikmati.
Saat ini, Titan tepat berada di depan rumah Zaki. Wajah santai, serta gayanya yang santai itu membuatnya memang sekilas terlihat seperti cowok berpenampilan buruk. Lihat saja, baju seragam yang ia kenakan itu terlihat tidak rapi---ia membiarkan dua kancing baju bagian atasnya terbuka begitu saja, sehingga menampakan sebuah kalung hitam yang melingkar di lehernya. Begitu pun dengan cara ia memakai tasnya yang hanya dikaitkan di bahu sebelah kanan saja.
"Permisiii!" Teriak Titan, namun tidak ada seorangpun yang menggubrisnya. Titan pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu ia mencoba melirik ke kiri dan ke kanan, tidak ada orang.
"Permisii!" Teriak Titan lagi, namun masih saja tidak ada orang yang menyaut dari dalam rumah itu. Titan menghela napas pelan, dengan satu tangan kirinya bekacak pinggang.
"Yang punya ini rumah pada bolot apa gimana, sih? Dari tadi gak ada yang nyaut. Bikin suara gue mubazir aja," kesal Titan. Lalu tanpa sengaja ia melihat tanda bel rumah di tembok sebelah kanan dekat pagar rumah tersebut.
Dengan segera Titan pun memencet bel rumah tersebut secara berulang-ulang kali, sampai dimana penghuni sang rumah keluar. Dan, ya, usaha Titan tidak sia-sia, setelah memencet bel rumah tersebut, akhirnya sang pemilik rumah pun keluar. Titan tersenyum miring ke arah pemilik rumah yang baru saja keluar itu. Bukan, lebih terpatnya; anak dari pemilik rumah tersebut.
"Elo?! Ngapain lo ke sini? Ada urusan apa lo ke sini? Lagian kenapa lo masih pake baju seragam? Seharusnya kan udah pulang sekolah?" katanya menautkan alis sebelah, namun Titan tersenyum samar.
"Zak, gue ke sini cuma mau minta nomer ponsel Tania. Udah itu aja," kata Titan dengan santainya.
"No-nomer ponsel Tania? Lo lagi gak bercanda, kan?" Zaki bertanya gelagapan dengan memasang wajah heran.
Yang membuat Zaki heran adalah mengapa Titan secara tiba-tiba meminta nomer ponsel Tania. Ya, Zaki bukan teman sekelas Titan, tapi lebih tepatnya adalah teman sekelas Tania. Zaki tahu betul sifat dan karakter Tania, dan Zaki juga tahu betul akan keberadaan Rayn---teman sekalasnya yang juga selalu mengejar-ngejar Tania. Kini, tidak ada angin, hujan, ataupun petir, Titan yang bukan siapa-siapa itu malah meminta nomer ponsel Tania ke Zaki, otomatis Zaki langsung heran dibuatnya. Sebenarnya apa yang akan dilakukan Titan, mengapa ia meminta nomer ponsel Tania, itu yang ada dalam batin Zaki. Walaupun Zaki tidak sekelas dengan Titan, tapi ia tahu betul sifat dan karakter Titan, karena Titan cukup populer di sekolah---dijuluki sang raja PHP.
"Yakali, masa gue bercanda, sih?" Titan berujar dengan gaya khasnya yang santai.
"Enggak, deh. Gue gak bisa ngasih nomer ponselnya Tania ke elo. Kalau sampai Rayn tahu, lo bakal abis, Tan. Gue juga nanti kena imbasnya," kata Zaki.
"Yaelah, peduli amat. Yaudah kalau emang lo gak mau ngasih nomer ponselnya Tania, gue minta alamat rumahnya aja, deh." Titan berujar datar. Kali ini Zaki mengangguk setuju, lalu Zaki pun melangkahkan Kakinya masuk ke dalam rumah---untuk mengambil kertas dan balpoint.
"Lo mau ke mana?" Tanya Titan, Zaki pun menoleh.
"Gue ngambil kertas sama pulpen dulu bentar."
"Yaelah, Whatsapp aja! Gitu aja repot," ucap Titan. Zaki pun cengengesan, dan kembali ke posisi sebelumnya.
Titan pun memberikan kontak ponsel whatsapp-nya ke Zaki, lalu setelah itu Zaki mengirimkan pesan berisi alamat rumah Tania dan juga alamat panti asuhan---tempat yang selalu Tania kunjungi bersama Ayah dan Ibunya. Ya, semua teman sekelas Tania tahu betul bagaimana Tania beserta Ayah dan Ibunya itu menjadi pengurus panti asuhan, namun tak banyak juga yang tahu, hanya sebagian saja.
Sebenarnya, walaupun Titan dan Tania dipersatukan di satu sekolahan, Namun Titan baru kali ini melihat sosok Tania. Padahal, sadar atau tidak, mereka sudah setahun menjadi murid di SMA Kejora. Mungkin karena Titan tidak terlalu memperhatikan seluruh murid di sekolahnya, karena sifatnya cenderung lebih cuek. Titan menjadi tertarik pada Tania, ketika mendengar berita bahwa ketua PMR yang lama sudah digantikan oleh Tania. Karakter Tania yang terlihat tak banyak bicara itulah yang membuat Titan tertarik, selain itu juga Tania adalah satu-satunya siswi yang membuat Titan merasakan sesuatu yang berbeda ketika memandanginya. Ya, penampilan Tania yang cenderung lebih sederhanalah yang membuat Titan melihatnya berbeda. Sederhana, tegas, disipilin, itulah Tania. Sementara Titan? Ia hanya murid yang susah diatur. Berbanding terbalik dengan Tania.
__ADS_1
***
Kini, Titan pun sudah berdiri di dekat gerbang panti asuhan. Titan memutuskan untuk lebih dulu ke pantia asuhan, karena Zaki menyarankannya untuk ke panti asuhan terlebih dahulu sebelum pada akhirnya jika Tania tidak ada di panti asuhan, ia pun harus menemui Tania ke rumahnya. Titan berdiri dengan sorotan mata yang cukup serius memandangi ke dalam panti asuhan, Titan melihat berbagai anak kecil yang sedang asyik bermain, terlihat rian dan gembira. Lalu seketika muncul perasaan simpati pada anak-anak tersebut. Kembali, Titan mengingat; betapa beruntungnya masa kecil yang pernah ia alami, memiliki kedua orangtua yang sayang terhadapnya, dan hidup dalam sebuah keluarga yang harmonis, namun kini semuanya sirna, hanya kenangan yang masih tersimpan jelas dalam ingatannya.
Tiba-tiba, Titan melihat Tania yang berlari kecil menghampirinya.
"Lo ngapain di sini?" Tanya Tania, "tadi Zaki sms gue, katanya lo mau ketemu gue. Ada apa, Tan? Ini udah sore lho," Tanya Tania lagi.
"Gue mau ngajak lo pergi," kata Titan.
"Pergi ke mana?" Tanya Tania, lalu Tani memperhatikan secara detail dari ujung rambut dan sampai ke ujung kaki Titan.
"Lo kenapa masih pake baju seragam?" Tanyanya lagi.
Titan tersenyum samar, dan mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali menatap Tania. Gaya santainya memang begitu memikat, bahkan Tania terlihat bisu saat melihat gayanya. Namun tetap, Tania hanya memasang wajah datar dan berpikir apakah Titan sedang mencoba memberikan sebuah harapan kosong untuk Tania? Tania berusaha untuk tidak terbawa suasana oleh sikap Titan.
"Kata orang, gue lebih kelihatan kece atau ganteng kalau lagi pake baju seragam SMA." Titan berujar santai, disertai senyum tipisnya yang memesona.
"Yaelah apaan, sih. Lo pergi aja, deh, gue lagi sibuk, gue masih harus bantuin jagain anak-anak." Tania berujar pelan dan sangat berhati-hati, ia takut jika Titan berpikir kalau Tania mengusir Titan.
Titan pun melihat ke arah anak-anak yang sedang asyik bermain bersama para pengurus panti yang lain.
"Mereka anak-anak orang, kan? Bukan anak-anak kita," ujar Titan saat melihat anak-anak panti itu, kemudian Tania terdiam.
"Gak ada maksud apa-apa, sih. Gue ke sini cuma mau ngajak lo pergi. Maksudnya, gue mau minta bantuan ke elo, soal adek gue itu. Lo kan masih terikat janji sama gue, inget?"
"Emang adek lo kenapa?"
"Gue mau jemput dia di sekolahnya, tapi dia nyuruh gue buat jangan jemput dia di sekolahnya, dengan alasan kalau dia lagi ada kerja kelompok. Jadi, gue minta bantuannya sama lo buat nyari tahu kenapa adek gue kayak gitu. Karena biasanya, adek gue itu kalaupun ada kerja kelompok, dia gak gak pernah ngelarang gue buat jemput dia," jelas Titan.
"Hm, yaudah, oke. Lo tunggu sebentar di sini, gue mau izin dulu ke orangtua gue." Tania pun berlalu masuk ke dalam panti asuhan tersebut untuk meminta izin pada kedua orangtuanya.
Sementara Titan menunggunya di luar gerbang panti asuhan ini. Titan menunggu Tania di luar gerbang, dengan posisi punggung yang bersandar ke tembok di samping pagar gerbang, dengan posisi tangan melipat dan sebelah kaki ditekuk ke belakang, membuatnya memang sangat terlihat santai. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Tania datang menghampiri Titan, dengan segera Titan pun mengubah posisinya menjadi tegak berdiri. Titan tersenyum ke arah Tania.
"Yaudah, yuk!" Ucap Tania.
Namun Titan malah terdiam untuk beberapa saat, karena melihat Tania yang memang terlihat sangat manis menggunakan dres pink muda selutut dengan gaya rambut yang dibiarkan terurai begitu saja. Titan hanya tersenyum tipis memandanginya, dengan sorotan mata yang menyiratkan arti tersendiri.
"Yuk!" Titan berseru terlambat, setelah beberapa saat terdiam.
__ADS_1
Titan dan Tania pun berjalan menelusuri jalanan yang tidak terlalu sepi juga tidak terlalu ramai. Bahkan sesekali Titan mencoba untuk mengajak Tania bicara, namun ia seperti bingung harus memulai pembicaraannya dari mana. Berulang-ulang kali Titan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Baru kali ini Titan merasakan canggung yang luar biasa, Titan seperti kehilangan seribu kata-katanya hanya di hadapan Tania.
"Tan?" Ucap Titan dengan suara pelan dan penuh keraguan.
"Iya?"
"Tadi lo sempet ketemu sama Rayn? Gimana, tuh?" Tanya Titan. Tania pun diam beberapa menit dan hanya fokus berjalan saja. Bahkan Titan merasa bahwa pertanyaannya itu sangat konyol dan Tania tidak akan mungkin menjawab pertanyaanya itu.
"Memangnya kenapa?" Setelah beberapa saat diam, Tania justru malah berbalik bertanya.
"Enggak, sih, gue cuma pengin tahu aja."
"Oh," jelas Tania. "Oh iya, gue tuh sering banget lihat lo dihukum sama Pak Danny. Lo enggak bosen?" tanya Tania klise.
Titan tersenyum tipis, "Dia musuh bebuyutan gue. Kadang bosen, sih. Tapi ya gue harus terima kenyataan kalau hidup gue emang selucu itu," ucap Titan santai.
"Gue pernah dengar, lo itu pernah PHP-in Siska, ya? Sampai dia nangis-nangis karena lo PHP-in dia. Bener, gak, sih?" tanya Tania.
"Pantang dalam hidup gue buat bikin cewek nangis, Tan. Mungkin Siska salah mengartikan kebaikan dan perhatian yang gue kasih ke dia. Padahal, gue enggak ada perasaan lebih ke dia. Biasa aja."
"Hm,"
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan diantara Tania dan Titan, keduanya nampak fokus berjalan menelusuri jalanan kota ini. Dan ketika sudah cukup lama berjalan kaki, Titan menemukan sang adik yang masih berjarak jauh beberapa meter di depan sana. Titan pun menarik pelan tangan Tania, dan membuat Tana sedikit terkejut saat Titan memegang tangannya. Lalu, Titan mengajak Tania untuk bersembunyi di balik tembok.
"Itu adek gue," kata Titan pada Tania sambil menunjuk ke arah depan. Tania pun menyipitkan matanya melihat objek yang ditunjuk Titan.
"Oh itu. Cantik, ya. Kulitnya putih."
Titan pun menoleh ke arah Tania yang berdiri di belakangnya---dengan posisi badan bersembunyi di balik tubuh Titan yang juga bersembunyi di balik tembok.
"Cantik itu gak perlu putih, asal perempuan." Titan berujar dengan senyum tipis. Tatap matanya begitu dekat, membuat Tania sedikit memundurkan kepalanya sedikit. Detik kemudian, Titan pun kembali fokus ke arah di depannya.
"Adek lo lagi pada ngumpul sama temen-temen ceweknya. Mungkin bener mereka mau kerja kelompok," ujar Tania.
"Masalahnya adek gue itu lagi lempar-lemparan senyum sama cowok di seberangnya itu. Gue curiga, kalau adek gue itu lagi ... Jatuh cinta."
"Ya, biarin ajalah lempar-lemparan senyum. Daripada lempar-lemparan bom? Kan bahaya. Apalagi kalau sampai lempar-lemparan uang, nanti kesannya sok kaya. Lagian, jatuh cinta itu gak ada yang ngelarang, kan? Gak ada yang salah juga. Sah-sah aja." Tania berujar dengan polosnya, membuat Titan kembali menoleh ke arah Tania dengan senyum menggemaskan.
"Lo itu lucu, bikin gemes gue aja." Titan berujar disertai senyuman, sembari membalikkan badannya untuk menghadap Tania sepenuhnya. Tania hanya mampu menatap sepasang mata Titan.
__ADS_1
"Kenapa, ya, orang yang lagi jatuh cinta itu dikit-dikit senyum, dikit-dikit senyum, kayak adek lo itu."
"Ya, iyalah. Jatuh cinta itu emang bikin orang dikit-dikit senyum, dikit-dikit senyum. Kalau dikit-dikit ngutang, dikit-dikit ngutang, itu namanya jatuh miskin," ucap Titan, sadar atau tidak, kedua tangan Titan memegang bahu Tania. Detik kemudian, Titan melepaskan pegangan tangannya di bahu Tania, Titan tersadar akan hal itu, itu membuatnya sedikit kembali merasakan kecanggungan. Kini pun Titan hanya mampu menggaruk tengkunya yang tak gatal, dengan sorotan mata yang tertuju pada Tania.