
Sebelas :
"Lo sok bijak, deh." Tania meledek Titan, Titan hanya tersenyum saja. Titan dan Tania begitu sangat serasi, seperti sepasang kekasih berseragam putih abu-abu yang sedang kencan. Obrolan kecil yang mengisi perjalanan mereka, terlihat begitu asyik, hingga langkah kaki mereka pun terlihat memelan. Keduanya pun seringkali melemparkan senyum disela-sela obrolan.
"Ya emang bijak kali. Lo belum tau aja daleman gue." Titan berujar disertai senyuman, namun pandangannya terfokus ke depan. Gaya berjalan Titan terlihat santai, kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya. Ia terlihat benar-benar tampan, sorotan matanya pun terkadang terlihat memesona, menyiratkan sebuah rasa yang tidak dapat dideskripsikan.
"Daleman?" Tania menyipitkan mata, dan menghentikan langkahnya. Setelah Titan sadar Tania menghentikan langkahnya, Titan pun menoleh dan menghadapkan dirinya ke arah Tania, Titan menghela napas dan tersenyum gemas.
"Jangan berpikir ngeres dulu. Maksud gue---"
"Siapa yang ngeres?" Tania mengelak dan berhasil memutuskan kalimat Titan.
Titan tersenyum gemas. "Tapi kok pipi lo merah?" Tanya Titan gemas, Tania hanya menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah. "Hayo, mikirin apa?" Sambungnya.
"Gu-gue ... Pipi gue memerah karena kepanasan." Tania terlihat benar-benar gugup. Titan tau itu, tau kalau Tania benar-benar gugup. Melihat Tania yang gugup seperti itu, membuat Titan semakin gemas pada Tania. Tania memang sangat manis.
Titan menghela napas pelan, "lama-lama kalau deket sama lo terus, gue bisa diabetes, nih."
"Maksud lo?"
"Lo itu gak cantik, Tan. Tapi lo bener-bener manis, manisnya elo itu melebihi gula. Apalagi kalau keadaan yang terlihat gugup kayak gini. Bikin gemes. Pipinya memerah kayak---" Titan menggantungkan kalimatnya.
"Kayak apa?"
"Kayak pantat bayi," ucap Titan terkekeh geli, namun Tania seperti memanyunkan sedikit bibirnya.
"Rese, lo, ya! Gue kira mau ngatain kayak kepiting rebus. Sebenernya ngeledek gue atau memuji?" Tanya Tania. Namun Titan tidak menjawabnya, Titan hanya menghela napas disusul dengan senyuman dan kembali berjalan ke arah selatan untuk melanjutkan langkahnya. Tania pun sedikit memanyunkan bibirnya, dan kembali berjalan menyeimbangi langkah Titan.
Titan dan Tania terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat serasi. Dari raut wajah Titan begitu jelas menggambarkan setitik kebahagiaan dari sudut bibirnya yang mengungging tipis, serta sorotan matanya yang santai, namun jauh dari dalam terdapat sebuah rasa yang tersirat. Titan sangat menyukai hal ini---mengantarkan Tania pulang, meskipun Titan sadar betul bahwa posisinya bukanlah siapa-siapa untuk Tania. Titan berharap semuanya ini bukan hanya indah dalam rasa, tapi juga indah dalam nyata. Walaupun seringkali Titan berpikir bahwa; Tania itu terlalu indah untuk dirinya. Namun sisi lain dari seorang Titan pun berkata bahwa; Tania gadis yang terbaik yang akan membuatnya berubah kearah yang lebih baik. Dengan begitu Titan mungkin akan merasa bahwa kehidupan dan dunianya tidaklah terlalu kejam dan menyeramkan. Detik ini, Titan menyadari bahwa perasaan cinta itu datang tanpa mengucap kata permisi, tanpa ia tau kapan ia akan jatuh cinta, pada siapa ia akan jatuh cinta, dan di mana ia akan menemukan seseorang yang membuatnya jatuh cinta. Ya, ternyata dunia sangatlah sempit. Titan baru menyadari bahwa ternyata di SMA Kejora ini ada gadis yang begitu spesial, seperti Tania. Harusnya dari dulu Titan rajin sekolah, atau setidaknya ikut serta dalam keanggotaan OSIS, mungkin ia akan kenal dengan Tania. Sayangnya Titan adalah murid yang terlalu buruk, cuek terhadap pelajaran, dan seolah tidak peduli dengan lingkungan sekolah. Ya, seharusnya posisi Titan adalah Kakak kelas Tania, karena Titan pernah tidak naik kelas selama setahun, ia pun menjadi seposisi Tania---kelas sebelas. Kalau saja Titan lebih peduli dengan sekolahnya, mungkin ia akan menemukan Tania sejak dari dulu. Dan kalau saja Titan rajin mengikuti upacara hari senin, mungkin ia akan bertemu dengan Tania. Namun, semua itu tidak semulus yang dibayangkan, nyatanya kini pun mereka dipertemukan oleh takdir Tuhan yang entah akan berujung seperti apa. Mungkin ini klise, tentang kisah percintaan anak remaja berseragam putih abu-abu.
k a n g e n
Saat malam, cahaya rembulan berhasil masuk melalui celah jendela kamar Titan. Kamar yang nampak tidak terlalu kontras dengan cahaya itu, terlihat sepi tanpa suara. Titan duduk, memokuskan pandangannya ke depan layar laptop yang terletak di atas meja belajarnya---yang terlihat berantakan. Hanya lampu belajar dan cahaya rembulan yang menyinari, namun itu tidak membuyarkan konsentrasi Titan untuk mengotak-atik laptop Tania---yang terdapat kerusakan dan harus diperbaiki. Segelas nescafe menjadi teman Titan. Titan yang kini hanya mengenakan kaos singlet dengan bawahan celana jeans yang terlihat robek-robek dibagian lutut, itu menunjukan pesona tersendiri bagi seorang Titan. Ia bahkan kini sangat serius, jemarinya bermain lihai di atas keyboard laptop itu, entah apa dan bagian mana yang sedang ia perbaiki dalam laptop tersebut, namun pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sering dilakukan Ayahnya---ketika masih hidup.
Titan menghela napas, dan meraih segelas nescafe---yang berada di samping kanan yang tak jauh dari posisi lampu belajar. Setelah Titan meneguk pelan segelas nescafe, ia pun kembali menaruh gelasnya. "Oke. Ini pertama kalinya buat gue ngelakuin pekerjaan yang pernah bokap kerjain dulu," ujarnya sangat pelan, disusul helaan napas yang pelan.
Waktu sudah menujukan pukul sembilan malam, itu tandanya sudah dua jam lebih, Titan fokus memperbaiki laptop Tania. Entah hal apa yang membuat Titan merasa semangat untuk memperbaiki laptop tersebut, karena intinya apa pun yang menyangkut tentang Tania, Titan bahkan terlalu semangat. Tania sudah seperti semangat tersendiri bagi Titan. Bahkan Titan merasakan senang, karena tadi siang bisa mengantarkan Tania pulang, meskipun Titan sadar betul kalau dirinya bukanlah siapa-siapa. Mungkin mencintai itu tidak harus menjadi siapa-siapa dalam hatinya. Karena cinta mungkin bisa saja tidak harus memiliki. Namun juga tidak sedrama itu, cinta pasti akan tau pada hati siapa ia akan berlabuh. Siap jatuh cinta, maka harus siap dengan segala resikonya.
"Beres!" Titan tersenyum tipis, pekerjaanya selesai. Laptop Tania menyala lagi---seperti sedia kala.
Senyum tipis serta sorotan mata Titan tertuju pada layar laptop tersebut. "Ngelihat laptopnya bikin gue kangen sama yang punyanya," ucap Titan pelan. Detik kemudian, Titan bangkit berdiri, beralih ke dekat jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka begitu saja.
Titan menatap ke luar jendela, sesekali menatap hamparan langit gelap yang dipenuhi ribuan bintang. Kedua tangan Titan memegang kusen jendela bagian bawah, posisi tubuhnya sedikit membungkuk ke depan, dan matanya seakan hanya terfokus pada langit malam. Sesekali Titan tersenyum, walau tipis.
"Bintang aja memerlukan tempat gelap untuk tetap terlihat bersinar. Ibarat hidup gue yang penuh kegelapan, dan dia adalah bintang. Tanpa gue, mungkin dia tidak akan bersinar terang." Titan berujar pelan, detik kemudian ia menoleh ke belakang---ke arah laptop berwana pink muda tersebut. Tak lama, Titan pun kembali menatap hamparan langit gelap yang dipenuhi ribuan bintang. Lagi-lagi Titan tersenyum, meskipun tipis.
"Ini adalah perasaan kangen gue yang paling indah yang pernah gue rasain. Ini gila, padahal tadi siang gue nganterin dia pulang, tapi kok gue kangen, ya. Jatuh cinta itu kadang bisa membuat orang jadi gila. Senyum-senyum sendiri kayak gini, kan? Sumpah ini gila." Titan bermonolog lagi, sambil menggeleng-geleng kepala pelan.
"Cieee yang jatuh cinta," ucap seseorang. Dengan segera Titan pun membalikan badannya---untuk menoleh ke arah seseorang tersebut.
"A-ajeng?" Titan terlihat gugup, ia hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Gak usah gugup gitu ah, Bang."
"Siapa yang gugup?" Titan mengelak, dengan memposisikan badannya sesantai mungkin.
"Hm, pake enggak ngaku lagi." Ajeng pun tau, bahwa Abangnya itu sedang menyembunyikan sesuatu di hadapanya. Lalu, Ajeng tidak sengaja menoleh ke arah meja belajar Abangnya itu. Ajeng menyipitkan matanya saat menemukan sebuah laptop berwarna pink di atas meja berlajar Abangnya. "Itu laptop siapa, Bang?" Tanya Ajeng bernada intens.
"Ha? Yang mana? Yang itu," ucap Titan mencoba untuk ngeles. Titan hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sembari berpikir; jawaba apa yang akan ia berikan untuk pertanyaan Adiknya tersebut.
"Iya, yang itu. Yang mana lagi coba? Laptop Abang kan warnanya item. Dan lagipula, laptop Abang kan ada di aku. Terus ... Itu laptop siapa?" Tanya Ajeng lagi.
"Bukan punya siapa-siapa, kok."
"Punya cewek Abang, ya?"
"Bu-bukan."
"Masa? Cewek kan pasti? Warnanya pink muda gitu."
"Kamu paling bisa ya bikin Abangmu ini enggak tau harus jawab apa. Intinya, itu laptop punya temen Abang. Kamu gak perlu tau siapa-siapanya. Dan soal warna pun, jangan dipermasalahin. Oke?" Titan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, namun Adiknya hanya mengangguk-anggukan kepala dengan bibir yang terlihat sedikit mengerucut, serta sorotan mata yang malas---karena tau Abangnya itu pasti tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan. "Dan satu lagi, kalau masuk kamar Abang, ketuk pintu dulu," sambung Titan.
Ajeng meghela napas pelan, "yaudah, iya-iya, oke. Tapi aku titip pesan, kalau dia cewek Abang, aku harap Abang kenalin aku sama dia. Biar hubungan antara aku dan Kakak iparku mulus." Ajeng berujar dengan nada sedikit meledek, diiringi tawa kecil. Lalu detik kemudian, Ajeng pun berlalu tanpa sepatah kata pun.
Titan tersenyum, dan membalikan badannya---untuk kembali melihat ke luar jendela, menyaksikan ribuan bintang yang berkerlap-kerlip manja. "Apa benar, saat ini gue lagi jatuh cinta?" Titan bertanya pada langit yang bisu tak bersuara---yang jelas tidak akan menjawab pertanyaan konyolnya itu.
k a n g e n
Berbeda dengan Tania. Tania justru sedang berada di dalam kamar sang Ibu. Ayahnya tidak pulang ke rumah malam ini, karena harus menjaga panti asuhan. Sudah lima tahun belakangan ini, kedua orangtua Tania dipercaya untuk menjaga panti asuhan oleh pemilik yayasan panti asuhan tersebut. Kondisi perekonomian keluarga Tania kini memang sedang menurun, ditambah lagi sifat dan kelakuan Bian---Kakak Tania, yang seolah tidak mengerti dengan situasi yang serba pas-pasan. Padahal dulunya, keluarga Tania adalah keluarga yang terpandang kaya raya, Ayahnya seorang direktur dari perusahan besar di Bandung ini, namun semua harta kekayaan Ayahnya lenyap karena perusahaannya harus bangkrut. Mungkin Tania bisa menerima semuanya meskipun dengan keterpaksaan, tapi Bian tidak selapang itu, selama lima tahun belakangan dengan kondisi dari yang serba berkecukupan menjadi serba pas-pasan, itu membuat Bian sedikit protes---dengan cara mengubah pola hidupnya menjadi lebih buruk, senang berfoya-foya, dan kebiasaannya menghambur-hamburkan uang masih melekat dalam dirinya. Dari situ, Tania mulai mengerti, bahwa hidup selamanya tidak selalu berada di atas, ada saatnya merasakan pahit ketika berada di bawah. Karena Tania percaya, sebesar apa pun masalah hidupnya, Tuhan pasti selalu ada untuknya, dan selalu mendengar doa di setiap sujudnya.
"Bu, gimana pijitannya, enak?" Tania memijat kaki Ibunya dengan lembut. Tania memperlakukan Ibunya begitu sangat manis---mencerminkan sesosok anak yang sangat berbakti. Ibunya yang berposisi duduk menyandarkan punggungnya ke ujung tempat tidur, melihat anaknya tersenyum.
__ADS_1
"Nak, ini udah malem. Kamu tidur. Besok 'kan sekolah," kata Ibunya bertutur lembut. Tania tersenyum.
"Aku masih pengin mijitin Ibu. Ibu pasti capek kan seharian di panti, ngurusin anak-anak. Jadi, aku pijitin Ibu, supaya capeknya Ibu sedikit demi sedikit hilang." Tania berujar diakhiri dengan seulas senyum tipis yang mengembang di bibirnya.
"Terima kasih, nak. Kamu sudah mau berbakti dan memperlakukan Ibu dengan begitu manis. Tidak ada harta yang paling berharga, selain bisa memiliki anak sepertimu, nak." Ibunya tersenyum, matanya terlihat bekaca-kaca. Tania pun meraih lembut tangan Ibunya, mengusapnya dengan sentuhan selembut sutra.
"Kata orang, biang gula itu sangat manis. Tapi menurutku, tidak ada yang begitu manis di dunia ini, selain senyum Ibu." Tania tersenyum.
"Bagaimana dengan sekolahmu, nak?" Tanya Ibu sembari mengelus rambut Tania.
"Sekolahku berjalan lancar, Bu."
"Syukur kalau begitu. Ibu doakan apa pun yang kamu kerjakan bisa berjalan dengan lancar. Karena kamu sudah seperti bunga mawar dalam hidup Ibu, dan Ibu akan bersedia menjadi duri dalam tangkaimu, menjagamu dari tangan-tangan orang yang akan melukaimu," ucapnya tersenyum.
"Tania sangat sayang sama Ibu." Tania pun memeluk Ibunya.
Pelukan hangat seorang Ibu, mampu mengalahkan hangatnya mentari pagi yang menyegarkan. Kasih sayang seorang Ibu, mampu mengalahkan kesetiaan embun yang menunggu sang fajar. Setiap doa yang dipanjatkan seorang Ibu adalah sebuah keramat yang paling ampuh. Maka dari itu, dalam kondisi separah apa pun perekonomian keluarga yang kian menurun, Tania tidak akan pernah lupa caranya berbakti pada orangtuanya, karena ini hanya menyangkut tentang mengubah kebiasaan gaya hidupnya yang pernah serba berkecukupan, bukan tentang melupakan bakti seorang anak pada orangtuanya. Namun, Bian masih belum bisa menerima kenyataan.
k a n g e n
Esok harinya, tepat jam tujuh pagi. Titan sengaja belum masuk ke dalam gerbang sekolah, ia menunggu seseorang di depan gerbang sekolah. Gayanya yang santai---menyandarkan punggungnya ke tembok samping gerbang itu bahkan tidak peduli dengan beberapa murid lainnya yang satu persatu masuk ke dalam gerbang.
"Hey, bro. Ketemu lagi kita," sapa seseorang, dengan sok akrab dan sok kenal, Titan menyerngitkan dahi.
"Siapa lo?" Tanyanya pelan.
"Lo masa gak kenal ama gue?"
"Emangnya lo kenal sama gue?"
"Yaelah, gue Deo. Yang minta bantuan lo waktu itu. Inget?"
"Ngapain lo di sini?"
"Gue pindah ke sekolah ini."
"Pindah?"
"Iya. Dan gue tau nama lo, lo Titan si raja PHP itu kan?"
"Tau dari mana nama gue? Perasaan waktu itu gue enggak ngasih tau nama gue, deh."
"Ya kadang gue semistik itu."
"Ah, sebelas duabelas lah."
"Oh." Titan hanya ber-oh ria. Ia bahkan terlihat biasa-biasa saja. "Julukan gue di sekolah ini emang PHP. Bukan pemberi harapan palsu, tapi Penjaga Hati Perempuan," sambung Titan, senyum miringnya yang remeh itu membuat Deo bergidik.
"Ngeles aja lo! Gue tau kok, kalau lo itu si cowok pemberi harapan palsu."
"Ck! Yaudah, sih. Enggak ngerugiin lo juga, kan?"
"Gue boleh minta teorinya? Gue juga mau kali disebut raja PHP. Itu tandanya banyak cewek yang kebaperan sama lo."
"Yaelah. Teori apaan? Gue enggak pake teori. Lo kira apaan pake teori." Titan menghela napas pelan. Moodnya seketika ancur karena Deo.
"Titan! Gimana laptopnya sembuh?" Tiba-tiba seseorang menghampiri Titan, dengan napas yang terdengar terpengah-engah---sepertinya ia sudah lari untuk sampai menuju gerbang sekolah, tanpa basa-basi ia pun langsung menanyakan sebuah laptop yang sempat diperbaiki Titan kemarin.
"Salam dulu kek, nyapa dulu kek. Durhaka amat lo sama gue." Titan berujar datar.
"Enggak ada waktu. Ini udah jam tujuh, sebentar lagi bel masuk bunyi. Gue harus nyelesaiin naskah drama buat pertunjukan nanti," katanya.
"Eh, gue mau nanya dong. Kayaknya gue pernah lihat elo, deh," ucap Deo pada Jonathan, Titan kembali menyerngit heran ke arah Deo.
"Siaaaapa lo?" Tanya Jonathan, mengucap kata 'siapa' dengan berirama panjang.
"Biasa aja lagi. Gue pernah lihat lo, kebelet boker," kata Deo. Ck! Seketika itu Jonathan memasang wajah datar sekaligus menatap Deo tidak suka. Titan terlihat terkekeh santai, sembari menggeleng-gelengkan kepala pelan.
"Lo salah orang!" Elak Jonathan.
"Gue gak mungkin salah orang. Karena tanpa lo sadar, waktu itu gue lagi nongkrong deket warung kopi yang ada di sebelah utara berjarak sepuluh meter dari SMA Pelita Bangsa. Tepat di belakang warung kopi dengan jarak sepuluh meter, kan ada ****** tuh, nah jambannya lagi rame yang ngantri. Terus lo memutuskan untuk ngantongin batu. Gue tau," jelas Deo panjang lebar. Jonathan makin menatap Deo tidak suka.
"Oh jadi elo anak SMA Pelita Bangsa? Mau ngapain lo di sini? Mau ngajak tawuran? Oke, gue jabanin." Jonathan malah menantangi Deo, karena memang ia sudah terlanjur kesal dengan ucapan Deo, yang membuka aib dan menghancurkan reputasiya di depan Titan.
"Gue pindah ke sekolah ini. Nama gue Deo Arilangga. Lo bisa panggil gue Yoyo. Nama lo siapa?" Tanya Deo pada Jonathan. Namun Jonathan diam.
Titan menghela napas, ia tau bahwa Jonathan pasti tidak akan menjawab pertanyaan dan sapaan Deo. Jonathan terlihat memasang wajah kesal terhadap Deo. Deo terlalu polos untuk menyapa Jonathan, bahkan tidak sadar telah membuat Jonathan kesal.
"Nama lo Deo?" Jonathan tersenyum remeh, "aneh banget namanya. Cocok banget kalau panjangannya itu jadi Deo-dorant ketek," sambung Jonathan dengan nada meledek.
"Kok lo ngeledek, sih?" Deo mulai terbawa emosi.
__ADS_1
"Ck! Udah-udah. Gue gak mau lihat kalian berdebat di depan gue. Buat lo Jon, nih laptopnya udah bisa nyala lagi kayak semula," ucap Titan memberikan sebuah laptop pada Jonathan. "Dan buat lo, Yo, nama makhluk yang ada di samping kiri gue ini itu namanya Jojon, beliau teman sekelas gue," sambung Titan.
"****, lu Tit. Nama gue Jonathan. Gak ngenakin banget lo panggil gue Jojon. Pake ngomong beliau lagi, najisin lu ah," gerutu Jonathan.
"Oh temen sekelas lo? Berarti nanti bakal sekelas sama gue juga dong?" Tanya Deo pada Titan, Titan hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepala pelan.
"Maksud lo? Lo bakal jadi anggota kelas sebelas tiga?" Jonathan justru melemparkan pertanyaan untuk Deo.
Deo mengangguk, "iya."
"Mimpi apa gue semalem. Uh, kiamat sugro ini mah." Jonathan menggerutu tidak jelas. Mood-nya seketika itu hancur berantakan. Jonathan pun tanpa sepatah kata lagi, ia pun masuk ke dalam gerbang sekolah---meninggalkan Deo dan Titan.
"Yaudah bro, gue masuk duluan," pamit Deo pada Titan, Titan hanya mengangguk saja.
Titan berdiam diri, dengan mempertahankan posisinya yang terlihat santai menyandarkan punggungnya ke tembok itu. Sesekali Titan melirik jam di tangannya. Sudah jam tujuh, mentari juga sudah mulai meninggi dan terik, mengapa Tania belum juga datang? Entahlah, Titan akan tetap menunggu sampai Tania datang. Titan menghela napas kasar, dan membuang muka ke arah samping kanannya, detik kemudian ia kembali menoleh ke arah kiri, dan ya, ia melihat Tania beberapa meter dari tempatnya berdiri, Tania berjalan menuju gerbang---semakin mendekati Titan. Titan tersenyum ke arah Tania, namun Tania tidak menyadari itu.
Saat Tania semakin dekat ke gerbang, Titan pun beranjak menghampiri Tania untuk menyapanya.
"Pagi, Tan," sapa Titan pada Tania.
"Titan?"
"Kenapa? Terkejut, ya? Sori, ya, bukannya gue lebay atau gimana. Tapi gue cuma mau jadi orang pertama yang ngucapin selamat pagi buat lo." Titan tersenyum.
"Ini masih pagi. Lo kesambet apaan?"
"Kesambet?" Titan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dan memasang wajah bingung, "gue tulus kok. Kalau emang gue lagi kesambet, selamanya gue gak mau sadar," sambung Titan. Tania tersenyum sambil geleng-geleng kepala, dan bergegas melanjutkan langkahnya lagi.
"Tunggu sebentar." Titan menahan tangan Tania, dan berhasil membuat Tania mengurungkan langkah kakinya.
Tania melihat tangan Titan memegang pergelangan tangannya. Pegangan tangan Titan terasa hangat, "iya? Kenapa?" Tanya Tania pelan.
"Gue udah putusin buat mengubah semua kalimat gue pada saat ngomong sama lo," ucap Titan, Tania mengernyit tidak paham dengan apa yang dibicarakan Titan.
"Maksudnya?"
"Aku-kamu," singkat Titan tersenyum, "cuma sama kamu aja aku bakal ngubah semua kalimat aku," sambungnya.
"Hah? Tapi ... Atas dasar apa?" Tania semakin tidak mengerti.
"Atas dasar ... Em, mungkin pertemanan."
"Lepas!" Tiba-tiba Rayn datang melintas dan segera melepaskan pegangan tangan Titan pada pergelangan tangan Tania. Tentu di situ Titan merasa kesal dan seketika itu wajahnya langsung melihat Rayn dengan sangat tidak suka.
"Rayn? Lo apa-apaan, sih?!" Ucap Tania.
"Apa-apaan apanya, Tan? Lo cewek gue, tangan lo dipegang sama cowok lain. Jelas gue marah." Rayn berujar pelan namun penuh dengan penekanan, pergelangan tangan Tania pun digenggam erat oleh Rayn, sehingga Tania sulit untuk melepasakan genggaman tangan Rayn.
"Lepasin gak!" Tania berusaha melepaskan genggaman tangan Rayn.
"Ini udah jam tujuh. Kita harus ke kelas," ucap Rayn.
"Lo bisa gak, enggak kasar sama cewek?" Titan terpancing emosi saat melihat Tania terlihat kesakitan karena genggaman tangan Rayn yang begitu erat.
"Bukan urusan lo!" Tegas Rayn.
"Jelas ini urusan gue! Kalau lo ngerasa lelaki sejati, seharusnya lo bisa menghargai cewek! Bukan kayak gini. Dan gue peringatin sama lo, Tania bukan lagi siapa-siapa lo, kan? Jadi, lo harus bisa jaga sikap dan perilaku lo ke Tania. Lo harus bisa menghargai dia. Keberadaan lo dalam hidup Tania itu hanya sebatas mantan, gak lebih. Dan jangan berharap lebih!" Tegas Titan, dan berhasil melepaskan genggaman tangan Rayn pada pergelangan tangan Tania.
Ck! Rayn mendengus kesal. Emosinya mulai membara, namun Rayn mencoba untuk menjaga sikap.
Lalu, Titan menarik pelan tangan Tania, membawa Tania berlalu dari hadapan Rayn. Detik ini juga, Titan berjanji pada dirinya sendiri untuk terus menjaga Tania, mencintai Tania dengan semestinya, bahkan Titan tidak peduli jika sekalipun kisah cintanya berakhir bukan dengan happy ending. Titan akan terus mencintai Tania, tanpa harus pamrih, dan berharap dicintai balik. Karena bagi Titan, perasaan yang tumbuh dalam hati dengan dipupuk ketulusan dan keteguhan, tidak akan menjadikan perasaan itu mengharap imbalan. Bahkan Titan sangat sadar, bahwa Tania terlalu indah, terlalu bagus dan terlalu istimewa untuknya. Namun Titan percaya, bahwa bintang yang ingin bersinar pun memerlukan tempat gelap untuk tetap terlihat bersinar, agar semuanya terlihat indah dan sempurna, bukan hanya menarik dan indah dari lembar demi lembar yang berisi kisah dan cerita cinta membentuk sebuah narasi tulisan, tapi juga indah dalam rasa dan nyata.
Bersambung ....

Titan
...

Tania
...
...

Ratu
__ADS_1
....