
"Pacaran?" Tanya Titan meyakinkan, dan seolah ingin membuat Tania mengulang kalimat sebelumnya itu.
Tania terdiam sejenak, "Iya," singkat Tania.
"Aku enggak denger kamu ngomong apa," ucap Titan jahil, membuat Tania mengernyit sedikit kesal diiringi dengan menghela napas pelan.
"Kita pacaran." Tania mengulang lagi kalimatnya.
Kali ini Titan merasa puas dengan kalimat Tania, tanpa harus membuat Tania mengulangi lagi kalimatnya. Itu sudah lebih dari cukup. Perasaannya teramat bahagia. Dan ini adalah jatuh cinta pertama kalinya yang paling bahagia dalam sejarah kehidupan seorang Titan Wirasena. Titan merasa hidup kembali, tergambar jelas dari sorot matanya yang memiliki arti sangat dalam itu. Tiada bisa lagi dideskripsikan dengan ribuan rayuan gombal, Titan hanya mampu tersenyum menatap bidadari tak bersayap di hadapannya kini. Tania benar-benar membuat Titan terjatuh ke dalam lautan cinta yang sangat dalam.
Titan tersenyum, "Aku memberikan hatiku padamu, dan kamu memberikan hatimu padaku. Entah bagaimana cara Tuhan menitipkan perasaan ini, tapi yang jelas saat ini aku sangat-sangat bahagia, Tan." Titan berujar pelan, Tania pun hanya membalasnya dengan senyuman.
"Hm. Ya udah, sekarang gimana keadaan kamu? Udah mendingan? Atau masih sakit? Kalau masih sakit, sebaiknya kamu istirahat dulu aja di sini. Atau mau aku beliin makanan?" Ucap Tania.
"Enggak. Cukup dengan kamu di sini nemenin aku, semua rasa sakit yang aku rasain pasti hilang." Titan berujar jahil, lagi-lagi membuat Tania harus menghela napas pelan.
"Ih aku serius," ucap Tania.
"Ya, aku serius."
"Serius apaan, itu tadi jawabannya bercanda mulu."
"Aku tuh serius tau,"
"Serius apaan?"
"Serius buat ngajak kamu ke KUA. Hehe." Titan malah berujar dengan candaan yang membuat Tania sedikit tersipu, tapi Tania justru malah mencubit pipi Titan yang nampak menggemaskan. Ya, Titan memang sangat menggemaskan, terlebih perkataan yang terlontar dari mulut Titan, seringkali membuat siapa saja pasti terkesima, itu sebabnya mungkin banyak di luar sana yang menyebutkan kalau Titan itu penyebar virus pemberi harapan palsu. Padahal tidak.
"Duh, kok dicubit, sih?"
"Ya, abisnya diajak serius malah bercanda mulu. Ngerusak suasana deh. Bapernya jadi ilang, kan?" Tania berujar dengan memasang wajah sedikit kesal.
"Dih, si pacar marah. Lagian, siapa yang baper sama kisah kita? Orang lain enggak ada yang tau kan kalau kita pacaran?" Titan berujar dengan nada yang santai.
"I-iya, sih."
"Nah ...." Titan justru malah menggoda Tania, membuat pipi Tania memerah.
"Ya-ya udah deh, aku harus pergi dulu. Mau ke kelas, ada yang harus aku kerjain." Tania berujar dengan gugup. Titan malah menyukai hal seperti ini---membuat Tania gugup dan kehilangan seribu bahasanya.
Tanpa ada kata lagi, Tania meninggalkan Titan sendiri di ruang UKS ini. Titan hanya melemparkan senyum tipisnya saat memandangi punggung Tania yang semakin berlalu. Kisah percintaannya ini tidaklah terlalu rumit, semua berjalan dengan semestinya. Meskipun memang ia tahu, bahwa sebenarnya di depan sana, pasti sangat banyak rintang dan halang yang entah kapan pun dan di mana pun pasti menyerang hubungan cinta antara Titan dan Tania---hubungan yang dimulai sejak beberapa menit yang lalu.
Tapi, terpenting saat ini adalah. Titan merasa benar-benar bahagia.
🍁Perihal cinta,
Yang datang tanpa mengucap permisi,
Yang singgah tanpa izin,
Yang bahagia tanpa direncanakan,
Tentang waktu,
Yang mampu mengusir pilu,
Seribu benalu telah berlalu,
Ini perihal cinta,
Bukan lagi tentang senja dan hujan.
Kutegaskan, ini Perihal jatuh cinta,
Yang tidak hanya indah dalam kata,
Tapi juga indah dalam rasa. 🍁
Deg, kemudian, Titan merasakan lagi sakit yang tak biasa dari punggungnya. Entah kenapa, sejak Rayn melemparkan bola basket pada punggungnya, membuat Titan merasakan rasa sakit yang tak biasa di punggung tersebut.
__ADS_1
Tangan kanan Titan memegang bahu sebelah kiri, menahan rasa sakit yang menyerang punggungnya, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk membantu tubuhnya berdiri. Titan merasa dirinya harus segera pergi. Ya, pergi dari ruang UKS ini. Ia harus segera pulang ke rumah. Kegiatan belajar mengajar di hari sabtu seperti ini memang biasanya sudah berakhir pada jam setengah dua belas. Jika lewat dari jam setengah dua belas, semua murid dibolehkan untuk pulang.
Ini masih jam setengah sebelas. Namun Titan harus pergi.
"Tan?" Deo tiba-tiba datang, masuk ke ruang UKS tanpa mengucap permisi ataupun salam.
"Eh, elo, Yo,"
"Lo kenapa? Masih sakit? Dari tadi gue perhatiin lo kayak yang nahan sakit gitu. Emangnya apa yang lo rasain?" Tanya Deo berlapis.
Titan berusaha mengelak, menggeleng-gelengkan kepala pelan, padahal jelas raut wajahnya seperti menahan rasa sakit, "gua gak apa-apa, Yo," ucap Titan, sambil berusaha untuk bangkit berdiri.
"Lo serius gak apa-apa?"
"Iya,"
"Emangnya lo mau ke mana, sih? Udah lo diem dulu aja di sini sampai lo ngerasa bener-bener hilang rasa sakit lo," jelas Deo.
"Gua harus pulang."
"Pulang?"
"Ya!"
"Tapi ..."
"Gua harus pulang, Yo!"
"Yaudah biar gue anter lo sampai rumah."
Titan pun hanya mengangguk saja. Rasa sakit yang kini kian menyerang hebat pada tubuhnya. Titan merasakan rasa sakit yang luar biasa. Padahal, sebelumnya Titan tidak pernah merasakan sakit yang begitu hebat seperti ini. Atau mungkin karena hantaman bola basket? Tidak mungkin, karena sekali pun batu yang mengenainya, Titan tidak pernah merasakan sesakit ini. Atau ini hanya kebetulan semata? Entahlah.
Deo pun mengantarkan Titan pulang dengan mobil pribadinya. Ya, Deo menelpon supir pribadinya untuk menjemputnya di sekolah. Meskipun Deo baru beberapa hari mengenal Titan, namun rasa solidaritas seorang teman, melekat pada diri Deo terhadap Titan. Bahkan mungkin, Deo sudah menjadikan Titan sebagai saudaranya.
"Lo yakin mau pulang, Tan?" Tanya Deo lagi.
"Hm."
"Latihan dramanya jam tiga sore. Mungkin gua bakal pulang dulu, setelah itu gua bakal balik lagi ke sini."
"Apa enggak ribet?"
"Gua rasa enggak."
"Oh, ya udah kalau emang itu mau lo."
Titan masih bertanya-tanya dalam pikirannya. Apakah ia serapuh ini? Mengapa rasa sakit yang sangat hebat itu menyerang dirinya? Membuatnya seakan lemah tak berdaya. Bahkan menahan rasa sakit di punggungnya itu adalah hal yang paling menyakitkan. Titan berusaha membuat semuanya baik-baiknya. Apalagi, kini ia tidak ingin membuat orang-orang di sekitarnya merasa khawatir terhadap dirinya.
Kangen
Tania kini menghampiri Ratu yang sedang sibuk sendiri dengan ponsel yang digenggamnya. Ratu nampak cengengesan tidak jelas pada layar ponselnya, membuat Tania seketika itu langsung menggebrak bahu Ratu dengan mengejutkan, membuat Ratu benar-benar merasa terkejut dan ponselnya nyaris terjatuh.
"Hey!"
"Elo, Tan! Untung ponsel gue enggak jatuh! Lo tuh ya, dateng-dateng ucapin assalamualaikum, kek, apa kek. Bikin gue kaget aja!" Kesal Ratu.
"Ya, maaf." Tania tersenyum.
Ratu pun melihat rona yang berbeda di wajah Tania. Wajah Tania yang ceria, ceria yang tak biasa. Ratu pun menyipitkan matanya, berusaha mengintrogasi Tania dengan intens, "lo kesambet, ya?"
"Maksud lo?"
"Kok gue ngerasa ada yang beda, ya."
"Beda apanya?"
"Lo hari ini ceria banget."
"Emangnya gak boleh?"
__ADS_1
"Boleh, sih. Tapi cerianya elo itu enggak biasa aja gitu, Tan."
"Gak biasa kenapa?"
"Ada raut-raut kebahagiaan yang berbeda gitu. Jujur sama gue, lo habis dapet lotre, ya?" Tanya Ratu dengan sangat intens.
"Ih, apaan, deh. Enggak, Rat. Biasa aja."
"Jangan bohong!"
"Kenapa harus bohong?"
"Tapi hati gue bilang; kalau lo lagi bohong. Ayolah, jujur sama gue, apa yang bikin lo beda kayak gini?"
"Lama-lama lo udah kayak paranormal, seakan-akan tau apa yang gue rasain."
"Yang lo rasain? Tuh kan bener, soal rasa ini mah pasti. Emangnya apa yang lo rasain, sehingga membuat lo jadi kelihatan beda kayak gini, hm?"
Tania tersenyum miring, sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan, lalu menghela napas pelan sejenak, "Gue pacaran sama Titan," jelas Tania pelan.
Ratu terpelongo bukan main, "What?!" Sontak Ratu teramat sangat terkejut dengan pernyataan yang terucap dari mulut Tania.
"Ih, lo tuh, ya, bisa pelanan dikit gak kagetnya? Gue gak mau sampai semua orang tau, kalau gue pacaran sama Titan."
"Lo lagi gak bercanda, kan?" Ratu masih tidak percaya.
"Gue serius. Gue pacaran sama Titan," Tania mengulang lagi kalimatnya.
"Sejak kapan, Tan?"
"Sejak beberapa menit yang lalu."
"Loh, kok lo enggak bilang dulu ke gue."
"Ini sekarang kan gue lagi bilang sama lo."
"Duh, kok jadi ribet gini, ya?" Ratu menggaruk-garukkepalanya yang tak gatal. Wajahnya terlihat sedikit bingung.
"Kenapa?"
"Kalau misalkan Rayn tau gimana?" Tanya Ratu. Tania terdiam.
"Cepat atau lambat, Rayn pasti akan tau semuanya. Gue udah pikirin soal itu. Apa pun resikonya gue dan Titan pasti akan menghadapi semuanya," ucap Tania pelan.
"Tapi, ya kan lo tau sendiri, Tan. Kalau si Rayn suka sama lo, dan pastinya dia bakalan ngelakui apa aja asal dia bisa milikin lo lagi. Gue khawatir, kalau lo sampai diapa-apain sama Rayn. Kalau si Titan ya gue bodo amat, mau si Rayn ngapa-ngapain dia juga. Gue tuh khawatirnya sama lo, gue gak mau kalau lo kena amukan si Rayn. Rayn pasti marah besar sama lo, Tania," ujar Ratu panjang lebar.
"Sekarang gini, lo suka kan sama Rayn?" Tania justru melemparkan pertanyaan yang ia sendiri tahu jawabannya.
"Tanpa gue jawab juga lo tau jawabannya, Tan," ucap Ratu nampak lesu.
"Hm. Berarti ini tugas lo."
"Tugas gue? Maksudnya?" Ratu bertanya seolah tidak mengerti.
"Lo harus bisa yakinin si Rayn, dan buktiin ke dia, kalau sebenernya ada yang lebih tulus cinta sama dia," ucap Tania penuh dengan keyakinan.
"Tapi ... Gue gak yakin, kalau gue bisa yakinin dia."
"Lo harus yakin. Lo pasti bisa!"
Ratu tersenyum, sorotan matanya nampak berucap beribu-ribu terima kasih, karena Tania sudah memberikan satu semangat, yang memberikan energi positif bagi Ratu.
"Makasih, Tan, lo emang sahabat terbaik gue," ucap Ratu.
Namun, tiba-tiba ponsel Ratu berbunyi---tertanda telepon masuk. Dengan segera Ratu pun melihat ke layar ponselnya.
"Siapa?" Tanya Tania.
Ratu menoleh ke arah Tania, "Jevin, Tan."
__ADS_1
"Ya udah, angkat."