Titan'S

Titan'S
eps. 18


__ADS_3

Delapan belas :


"Simpan semua luka itu dengan rapi, agar semua orang tidak tahu, bahwa ada tangis dalam senyum yang mengembang manis." --- Titan Wirasena.


"Sebenarnya, jatuh cinta adalah hal yang paling aku takutkan. Karena, aku masih belum siap untuk terluka." --- Tania Alexandra.



Titan



Kangen


Semburat abadi dari sang senja mulai terlihat jelas. Jendela, kursi dan meja menjadi teman terbaik saat ini. Titan nampak menikmati senja sore ini dengan ditemani selembar kertas kosong, dan tangan kanannya memegang sebuah pensil, sambil sesekali melihat keluar jendela---menatap langit jingga yang mengagumkan, ia pun menyempatkan untuk mengungkapkan seluruh perasaannya pada selembar kertas kosong tersebut.


"Gue emang bukan cowok romantis, tapi gue anti bikin cewek nangis. Gue janji sama diri gue sendiri, gue enggak bakal nyakitin cewek yang gue sayang." Titan bermonolog pelan, sambil mengukir nama Tania di atas selembar kertas putih.


Diam dalam keheningan bersama mentari tenggelam yang memesona. Titan tidak pernah tahu, bahwa ada pesan yang tak terucap dari sang senja, bahwa jatuh cinta itu adalah hal yang paling indah di dunia ini. Karena cinta, mampu membuat orang yang sakit bisa pulih kembali, bisa membuat orang lain yang tadinya putus asa menjadi lebih bersemangat, bisa membuat orang lupa bahwa dunia ini sangatlah kejam. Namun, jika cinta itu disambut oleh para pecinta palsu, maka cinta bisa membuat seseorang yang tadinya sehat, menjadi gila.


Tiba-tiba suara alarm dari jam weker yang terletak di sebelah kanan meja ini berbunyi, membuat Titan menghela napas pelan, lalu meraih jam weker tersebut.


"Hm. Semua orang masih tunduk sama lo. Karena lo memang segalanya, tapi banyak juga yang menyalahgunakan dan menyia-nyiakan kehebatan yang lo punya. Sekarang lo diem. Oke?" Titan berujar dengan santai pada jam weker yang ia pegang sambil mematikan suara alarmnya, lalu Titan kembali menaruh jam weker tersebut ke tempat asalnya.


Meski hanya menggunakan kaos singlet dan jeans yang terlihat robek di bagian lututnya, Titan terlihat sangat nyaman, ia memang suka dengan gaya penampilannya yang cuek, namun itu semua tidak melunturkan standar ketampanannya. Penuh pesona, meskipun tampangnya terlihat seperti anak nakal dan urakan.


Nyanyian Senja,


Entah bagaimana cara Tuhan menciptakan sebuah rasa yang mengalunkan detak cinta,


Aku seperti mati,


Tak kuasa menahan hasrat di hati,


Aku bahkan tersudut pilu,


Menahan besarnya rindu yang menggebu.


Di saat senyummu melunturkan kesakitan yang tertancap abadi, di saat itu pula aku menemukan arti tentang hidup dan untuk apa aku hidup.


Entah bagaimana caramu membuatku jatuh cinta,


Entah bagaimana caramu membuat senyumku mengembang walauku merasakan sakit yang cukup dalam.


Aku merasa kepedihanku sirna saat kamu di sampingku selamanya.


Namun, jika sedetik saja kamu pergi, hidupku akan kembali penuh dalam kegelapan abadi.


Yang entah aku tidak tahu,


Perasaan apa yang sedang Tuhan titipkan pada hati kecil yang kupunya ini.


Mungkinkah cinta?


Jatuh cinta pada karya Tuhan yang kusebut KAMU.


Iya, kamu memang perempuanku.


Detik ini, dan seterusnya.


Seulas senyum tersungging di bibir Titan, meskipun tipis, tapi itu adalah bukti bahwa perasaannya saat ini jauh lebih baik dari hari-hari buruknya. Titan pun melipat kertas tersebut, ia menaruhnya di atas meja. Dengan perlahan Titan pun bergegas berdiri, mengambil jaketnya yang tergangung di pojok kamar. Titan langsung memakai jaket tersebut, dengan cool-nya ia bercermin sambil membenarkan kerah jaket tersebut. Setelah Titan merasa bahwa penampilannya itu sudah rapi, ia pun kembali meraih kertas berisikan narasi indah tersebut, lalu mengantonginya. Iya, saat ini Titan harus segera ke rumah Deo. Karena Deo membutuhkan bantuan Titan untuk menyiapkan acara ulang tahun untuk Ratu. Dan pastinya, ada Tania juga di sana. Namun, Tania tidak tahu, jika Deo juga melibatkan Titan dalam acara kejutan ulang tahun untuk Ratu.


"Mau dijelek-jelekin juga gue tetap ganteng." Titan bermonolog pelan, sambil bercermin.


"Ekhem." Suara deheman itu terdengar dari arah pintu, membuat Titan langsung tertoleh.


"Mau ke mana? Kok rapi? Gak biasanya," sambung seseorang tersebut.


Titan tersenyum tipis sambil mengangkat alisnya sebelah, "Segini rapi?" Titan berujar dan langsung memalingkan wajahnya untuk kembali menatap dirinya ke cermin.


"Biasa aja, ah," sambung Titan dengan santainya sambil membenarkan kerah jaketnya.


"Mau ketemu cewek ya, Bang?" Katanya, berhasil membuat Titan kembali menatap seseorang yang kini berdiri di ambang pintu.


"Kamu tau apa? Jangan sok tau, ah."


"Yaelah, gak usah ngeles lah, Bang."


Titan tersenyum miring, "siapa yang ngeles?"


"Itu tadi?"


"Enggak ah, gak ngerasa."


"Oh gitu. Yaudah kalau gitu, anterin aku ke rumah Tante Amira, ya. Malem ini aku mau nginep di sana. Tante Amira suaminya lagi dinas ke luar kota, jadi aku disuruh nginep di sana," jelasnya panjang lebar. Titan pun langsung menghampiri Adiknya tersebut.


"Yasudah, sekalian aja."

__ADS_1


"Sekalian ke mana?"


"Abang mau ke rumah temen Abang, sekalian nganterin kamu,"


"Ke rumah temen? Cewek atau cowok?"


"Gak usah kepo, deh."


"Ih nyebelin. Kasih tau kek,"


"Kasih tau apa?"


"Temennya cewek apa cowok?"


"Ya menurut kamu?"


"Pasti cewek, ya?" Ajeng berusaha merayu dan menggoda Abangnya untuk melontarkan kalimat yang membuatnya puas.


"Duh, anak kecil tau apa, sih?" Titan mengacak-acak rambut sang Adik dengan gemasnya. Ajeng hanya berdesis protes.


"Anak kecil? Aku udah gede tau! Tahun depan aku udah mulai masuk SMA!" Seru Ajeng dengan mengerucutkan bibirnya sempurna. Titan hanya terkekeh geli.


"Udah-udah. Abang gak mau debat sama kamu. Sekarang kamu keluar dulu dari kamar Abang, Abang mau---"


"Abang ngusir aku?"


"Enggak. Abang mau sholat maghrib dulu. Kamu keluar dulu aja. Tunggu di ruang tamu, nanti Abang ke sana." Titan pun mendorong pelan tubuh Adiknya supaya keluar kamar, setelah itu Titan langsung menutup pintu kamar tanpa menguncinya.


Setelah menutup pintu kamar, Titan menggeleng-geleng kepala pelan sambil tersenyum miring. Lalu, Titan pun langsung ke kamar mandi kecil yang terdapat di dalam kamarnya ini untuk mengambil Wudhu.


Air yang mengalir keluar dari keran, membuat Titan tersadar, bahwa hidup memang harus seperti air yang mengalir, meski seringkali terbawa arus, namun ia tetap pasti melangkah sampai tujuan. Titan membasuhkan air tersebut ke wajahnya, melakukan langkah-langkah berwudhu, hingga membuat rambut bagian depannya basah. Pesonanya semakin terlihat jelas, Titan memang sangat tampan. Namun, sorot mata yang biasa itu menyimpan seribu perasaan yang terluka sangat dalam.


Betapa terpuruknya aku saat rindu datang melanda, namun yang kurindukan tak dapat lagi bisa kusentuh tangannya. Mencoba bertahan meskipun dengan keadaan yang sesakit ini. Aku yang rapuh namun berusaha untuk tangguh tanpa sedikit pun mengeluh.


Karena Ayah dan Ibu sudah menjadi bagian dari ribuan bintang-bintang langit malam. Kini, dalam sujud aku merindukanmu.


Sesudahnya Titan berwudhu, ia langsung meraih sejadah yang terdapat di atas kasurnya. Mungkin hanya dengan beribadah membuat hati dan pikirannya menjadi jauh lebih tenang.


Kangen


Berbeda dengan situasi yang terdapat di rumah Deo. Nampak ramai, karena ada si biangkerok Jonathan dan kawan-kawan. Ya, sepulangnya dari tempat konser dangdut hajatan, Jonathan dan kawan-kawan justru malah pulang ke rumah Deo. Deo yang menyuruh Jonathan dan kawan-kawan untuk pulang ke rumahnya. Virus dangdut sudah merasuki tubuh Deo, ia merasa tertagih dengan alunan musik dangdut saat Jonathan, Udin dan Rian mengajaknya untuk bersawer ria di atas panggung hajatan dengan memakai style khas dari penyanyi dangdut legendaris Arafiq.


"Masa muda, masa yang berapi-api, yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah ha ha ha ha, darah muda," si Udin malah bersenandung ria, membuat situasi di rumah Deo semakin pecah.


"Suara lo kaya kaleng rombeng," maki Jonathan.


"Apa? Bekicot?"


"Kampret!"


"Apa? Terompet?"


"Bolot amat sia teh!"


Jonathan dan Udin malah saling debat, membuat Deo sedikit agak risi dengan ocehan receh ala Jonathan dan Udin. Sementara Rian, hanya fokus mengangguk-nganggukkan kepala, karena kedua telinganya terpasang earphone, mungkin Rian sedang mendengarkan musik dangdut.


"Lo puas-puasin aja. Di rumah gue ini bebas mau ngapain juga. Kalau lo mau ngadain konser dangdut di rumah gue ini, silahkan. Nyokap-bokap lagi enggak ada di rumah, kok, jadi lo semua tenang aja," ucap Deo.


"Oh. Kalau makanan ada?" Tanya Udin.


"Ada. Ambil aja di kulkas semuanya ada."


"Sebenernya lo nyuruh kita ke rumah lo dalam rangka apa, sih?"


"Ya karena gue gak ada temen di rumah."


"Yaelah, terus kita bertiga ngasuh elo gitu di sini?"


"Ya enggak gitu juga. Sebenernya gue mau ngadain rencana kejutan buat sepupu gue, si Ratu," ucap Deo datar.


"Kejutan apaan?"


"Kejutan ulangtahun."


"Emang ulangtahunnya kapan?"


"Sabtu depan."


"Oh." Jonathan hanya ber-oh saja, sambil mengangguk-nganggukkan kepala pelan.


"Terus emang mau ngasih tema ulangtahun yang kayak gimana?" Tanya Udin.


"Ya kayak ulangtahun aja."


"Iya, yang kaya gimana maunya?"


"Kayak ulangtahun aja gitu."

__ADS_1


Udin berdecak pelan, jawaban Deo sama sekali tidak memuaskan untuknnya.


"Oh." Udin hanya ber-oh saja.


"Kok oh doang, sih? Bantuin mikir kek buat tema ulangtahunnya nanti." Deo berujar.


"Ya tadikan gue nanya, mau kayak gimana ulangtahunnya?"


"Ya kayak ulangtahun aja gitu," ucap Deo.


"Tuh kan, jawaban elo aja bikin gue bingung."


"Hehe. Yaudah deh, nanti soal tema biar Jevin sama Tania yang ngurus, paling bentar lagi mereka ke sini. Si Titan juga mau ke sini," kata Deo dengan tampang yang tidak berdosa.


"Terus, lo ngajak gue ngomong muter-muter nanyain tema buat apa? Kalau pada akhirnya emang udah ada yang ahli dalam urusan tema-tema kayak gitu?" Udin berujar dengan memasang wajah sedikit kesal.


"Hehe." Deo hanya menyengir kuda.


"Si Titan mau ke sini juga?" Tanya Jonathan.


"Iya."


"Gak salah?"


"Enggak. Emangnya kenapa?"


"Gapapa, sih."


"Yaudah kalau emang gapapa. Lo semua di sini aja yang anteng. Gue mau mandi dulu, ye. Gerah. Capek, abis dangdutan sama kalian tadi siang." Deo pun langsung beralih ke lantai dua rumahnya ini. Sementara yang lainnya hanya sibuk dengan kesibukan masing-masing.


"Hati-hati, Yo! Ada cewek yang enggak kelihatan yang bakalan ngintipin elo!" Teriak Udin, namun nampaknya Deo sama sekali tidak menggubrisnya.


"Cewek yang gak kelihatan? Kuntilanak maksud lo?" Tanya Jonathan.


"Ya menurut lo?" Ucap Udin santai.


Jonathan pun hanya menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Sementara Rian masih saja sibuk mengangguk-nganggukkan kepala sambil mendengar suara nyanyian dari earphone yang terpasang di kedua telinganya.


Kangen


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tania kini sedang menyusuri jalanan kota Bandung ini dengan sendirian. Jalanan yang nampak ramai dengan berbagai kendaraan, tidak sedikit pun membuat Tania terganggu. Beberapa pedagang jalanan pun menghiasi pinggiran jalanan, namun itu pun tidak membuat perhatian Tania teralihkan, Tania hanya fokus berjalan kaki menuju ke rumah Deo.


Tania hanya melangkah pelan, menikmati udara malam yang sejuk dan ramah. Sesekali sorot matanya tertoleh ke atas langit, ribuan bintang membuat perhatiannya teralihkan.


"Hei, Tania." Seseorang yang sedang membeli kacang rebus di pinggir jalan pun memanggil Tania. Nampaknya seseorang itu mengenal Tania.


Tania pun menoleh, dan seseorang itu menghampiri Tania.


"Lo Tania, kan?"


"Kak Jevin? Kok ada di sini?"


"Kebetulan banget ya kita ketemu di sini. Lo mau ke rumah Deo bukan?" Ucap Jevin, sorot mata khasnya membuat Tania sedikit canggung dan tak berani menatap mata Jevin.


"Iya. Kak Jevin mau ke sana juga?"


"Iya."


"Tapi, Kakak sejak kapan ada di Bandung?"


"Sejak kemarin."


"Oh."


"Iya. Oh, iya, lo jangan panggil gue Kakak, ya. Gue lebih seneng dipanggil Jev atau Jevin."


"Tapi ...."


"Udah gak usah tapi-tapian, Ratu aja manggil gue Jev."


"Apa enggak kurang sopan panggil nama?"


Jevin menggeleng-gelengkan kepala pelan disertai senyum walau tipis, "Enggak. Gue lebih seneng dipanggil nama aja."


"O-oke." Tania pun mengiyakan perkataan Jevin.


"Yaudah, kalau mau ke rumah Deo, bareng aja." Jevin berujar disertai senyuman, tanpa menunggu jawaban Tania, Jevin pun langsung menaiki motornya yang terparkir tidak jauh dari posisi Tania berdiri. Setelah menaiki motornya dan sudah memakai helm, Jevin pun kembali mengajak Tania untuk bareng menuju rumah Deo.


Jevin membuka kaca helm-nya, dan menoleh ke arah Tania, "Ayo, naik."


Tania pun mengangguk ragu.


Namun, entah ini kebetulan atau tidak, seorang pengendara motor ninja berhenti tepat di belakang motor Jevin. Tania langsung menoleh, dan sedikit terkejut saat si pengendara itu membuka helm-nya.


"Titan?" Pekik Tania pelan, Jevin pun ikut menoleh ke arah pengendara motor ninja tersebut.


Wajah datar Titan membuat degub jantung Tania berdetak lebih cepat. Sorot mata Titan mampu membuat Tania tidak bisa berkutik apa pun. Nampaknya Titan tidak suka, jika ada cowok yang dekat dengan Tania.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2