
Sepuluh :
A u t h o r ' s
Kata orang, tempat yang paling romantis adalah pantai dan tempat yang paling sejuk adalah pegunungan. Tapi, tak banyak juga di antara orang-orang di luar sana, yang menyebutkan bahwa; bukan pantai tempat yang paling romantis, karena jika seseorang menulis nama pasangannya di pasir tepi pantai, maka akan ada ombak yang menghapusnya. Bukan juga pegunungan tempat paling sejuk, karena jika tanpa hadirnya seseorang menemani, maka tidak akan sesejuk itu, begitu kata Tania.
Tania adalah sosok gadis yang biasa-biasa aja di mata orang, namun sangat-sangat luar biasa di mata Titan. Ya, dialah pemilik hati Titan, mampu membuat Titan merasakan sesuatu yang indah dalam hatinya---jatuhcinta. Namun, Tania tidak terlalu menanggapi akan hal itu, padahal jelas Titan sudah memberikannya isyarat, hanya saja mungkin Tania menunggu pembuktian dari kesungguhan Titan. Tania hanya sedang menjaga hatinya, agar tidak jatuh ke hati yang salah lagi, setelah sempat ia jatuh dalam pelukan Rayn---seorang murid di sekolah SMA Kejora yang terkenal karena kecerdasan dan sifat playboynya yang terlalu berlebihan, atau lebih tepatnya teman sekelas Tania. Tania benar-benar menjaga hatinya, agar tidak terluka untuk yang kesekian kali, luka yang diberikan Ryan pun masih terasa dalam hatinya, itu sebabnya Tania meragukan perasaan Titan. Tania tidak ingin terluka lagi. Mungkin dengan seiring berjalannya waktu, jika mereka ditakdirkan selalu bersama tanpa sengaja, lambat laun hal itu juga akan menjebak mereka ke dalam perasaan cinta.
Terkadang Tuhan mempertemukan kita pada orang yang salah, sebelum pada akhirnya kita menemukan seseorang yang tepat. Patah hati bukanlah akhir dari segalanya, bukan pula menjadikan seseorang hidup dalam kematian, juga bukan kiamat bagi dunia seseorang. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui di dunia ini, karena rencana Tuhan jauh lebih indah dari apa pun yang terindah di dunia ini. Hanya dengan bisanya kita hidup berdampingan dengan orang yang kita cintai, itu jauh lebih indah. Meskipun kedipan mata seseorang yang kita cintai itu juga adalah hal terindah, ketika kita bisa memilikinya.
Hari sudah berganti, tepat di jam isirahat ini Tania baru saja sampai di kantin bersama Ratu---yang juga teman sekelasnya, lebih tepatnya teman sebangkunya. Tania dan Ratu pun duduk disalah satu kursi yang terdapat di kantin ini. Seperti yang lainnya, Tania dan Ratu pun memesan makanan serta minuman untuk mengganjal perut mereka yang memang sudah berbunyi keroncongan sejak di kelas tadi. Ya, teman akrab Tania hanya Ratu, Tania menjadikan Ratu bukan hanya sekedar teman biasa, Tania juga menjadikan Ratu sebagai tempat untuknya mencurahkan isi hatinya---atau bisa disebut Ratu adalah teman curhatnya Tania. Ratu banyak tahu segala hal mengenai Tania, Ratu adalah seorang penjaga rahasia yang baik, sekaligus teman curhat yang terbaik bagi Tania. Akan tetapi memang, persahabatan mereka terjalin baru-baru ini---lebih tepatnya ketika mereka menginjak kaki di kelas sebelas. Ya, karena di sekolah SMA Kejora ini, setiap pergantian tahun ajaran baru kelas selalu dirubah dan diacak lagi. Dari situlah Tania dan Ratu bertemu di kelas yang sama, semenjak menginjakan kaki di kelas sebelas dan disitulah mereka menjalin pertemanan yang cukup baik.
"Tan, lo mau pesen apa? Cilok? Atau tahu bulat digoreng dadakan?" Ratu menawarkan diri untuk memesankan Tania jajanan, Tania terkekeh mendengar Ratu yang berujar layaknya serorang pelayan restaurant.
"Gue mau makan temen aja," ledek Tania.
"Aelah. Gak ada waktu buat bercanda, Tania. Gue laper. Mau pesen apa? Nanti gue pesenin. Gue gak sabar pengen pesen tahu bulat digoreng dadakan lima ratusan. Ah, terkadang cinta itu sama seperti tahu goreng. Iya, selalu dadakan." Ratu mengoceh tidak jelas, Tania hanya menggeleng-geleng kepala pelan.
"Cinta emang datang dadakan, tanpa kita tau. Tapi gak harus juga disamain sama tahu bulat, 'kan?" Ucap Tania.
"Iya, sih. Yaudah, lo mau pesen apa?"
"Gue mau pesen siomay aja. Air putihnya sebotol, ya."
"Aelah, tiap hari makan siomay, enggak bosen? Gue aja bosen. Tapi emang gak ada lagi yang paling bikin kenyang selain siomay. Mau makan bakso, gue gak enak kalau enggak pake cuka sama sambel, kalau tetap gue paksain pake cuka sama sambel, mencret-mencret gue bakal kambuh. Mau makan roti, gak kenyang. Yaudahlah siomay aja."
"Siomay itu makanan favorit gue. Enggak bakalan bosenlah sampai kapan pun juga."
"Yaudah-yaudah. Lo tunggu di sini. Biar gue yang pesenin." Ratu pun berjalan menuju tukang siomay, lalu Tania tersenyum tipis.
Sambil menunggu Ratu memesan siomay, Tania merogoh ponsel dari saku baju seragam sekolahnya. Tania mengecek akun instagram miliknya. Akun sosial media yang dimiliki Tania hanya akun instagram saja, ia tidak memiliki akun twitter ataupun facebook. Tania pun sedikit terkejut dengan akun Dila Restanti---yang tak lain adalah guru bahasa Indonesia di SMA Kejora ini. Akun tersebut menge-tag Tania dalam unggahan foto yang menggambarkan pict animasi HUT SMA Kejora tahun lalu.
Namun, bukan itu yang membuat Tania terkejut, ada akun bernama Titan Wirasena juga yang kebagian tag dalam unggahan foto tersebut. Entah sadar atau enggak, Tania pun tertarik untuk melihat akun Titan Wirasena. Apa aja sih yang terunggah dari insta story-nya seorang Titan, begitu katanya dalam hati. Tania melihat akun Titan yang memiliki followers 920 orang, following 0, dan 6 kiriman. Akun yang terlihat sepi dan angker, yang berisi 4 foto dan 2 video. Tania bahkan tertarik untuk melihat salah satu video dengan caption; cover lagu sewindu - tulus, gitar akustik---yang Titan unggah dalam insta story-nya.
"Ah, signal-nya blur." Tania menggoyang-goyangkan ponselnya, karena signal dalam ponselnya tiba-tiba melemah. Tania hanya berdesis pelan.
"Hayo, ngepoin siapa lo?" Tiba-tiba Ratu datang membuwa dua piring siomay, dan duduk berhadapan dengan Tania---hanya meja lah yang membatasi jarak keduanya.
"Ah, enggak." Tania gugup dan langsung memasukan ponselnya ke dalam saku baju seragam sekolahnya.
"Oh, iya, Tan, gue mau ngomong sesuatu nih sama lo. Lo tau 'kan? Si Deo Arilangga, sepupu gue itu. Besok dia mau pindah ke SMA ini. Dan lo tau enggak, gue ngerasa terkejut aja sama Deo." Ratu mengoceh dengan mulut yang mengunyah sedikit demi sedikit siomay tersebut.
"Iya, gue kenal. Deo sepupu lo yang sekolahnya di SMA Pelita Bangsa, 'kan? Emangnya terkejut kenapa? Wajar dong kalau dia mau pindah mah," ujar Tania.
"Masalahnya dia kenal sama Titan," jelas Ratu. Seketika itu Tania yang hendak melahap siomay dengan sendok, seketika tidak jadi, karena Ratu melontarkan kalimat seperti itu. Bukan. Bukan kalimatnya yang membuat Tania terkejut, tapi ada nama Titan yang terselip di sana.
"Titan?" Tanya Tania heran, Ratu mengangguk.
"Iya, Titan. Sebenernya kalau Deo kenal sama Titan karena Titan sering ikut tawuran melawan SMA Pelita Bangsa sih itu udah enggak aneh. Gue nyangkanya juga gitu, Deo kenal sama Titan karena tawuran atau karena hal-hal buruk. Tapi enggak, Tan, ternyata Deo kenal sama Titan gara-gara Titan bantuin dia. Gue bahkan cuma diam seribu bahasa mendengar semua penjelasan Deo." Ratu menjelaskan dengan suara pelan dan wajah yang terpasang serius.
"Setiap orang punya sisi baik dan sisi buruk. Seburuk-buruknya orang, dia pasti punya sisi baik, dan gak akan selamanya menjadi buruk. Eh, tapi, emang Titan bantuin apa?" Tania semakin bingung, dan benar-benar menunggu kalimat yang keluar dari mulut Ratu.
"Dia udah nyelamatin nyawa seseorang, Tan. Kata Deo sih; kalau enggak ada Titan, pasti temennya itu udah inanillahi."
"Seriusan lo? Coba jelasin, gue masih belum ngerti." Tania semakin semangat mendengarkan penjelasan Ratu.
"Seriusan gue. Jadi ceritanya itu si Deo gak sengaja lihat Titan lagi menghindar dari Tawuran deket SMA Pelita Bangsa. Pokoknya tawuran itu ada sangkutpautnya sama Deby---cewek yang mau ngelakuin aksi bunuh diri. Duh, gimana ya gue jelasinnya bingung. Intinya, Titan udah berhasil ngegagalin aksi bunuh diri yang mau dilakuin sama si Deby itu. Amazing, 'kan?" Ratu menjelaskan dengan wajah seserius mungkin. Tania terdiam sejenak.
"Emang apa yang Titan lakuin; kenapa cewek itu bisa gak jadi bunuh diri?" Tanya Tania.
"Hm."
"Hm kenapa?"
"Kok lo semangat banget ya, kalau denger nama Titan. Hati-hati loh, dia itu raja PHP." Ratu berujar intensif dan menyipitkan sedikit matanya yang tertuju pada Tania.
"Ah, enggak, kok. Yaudah gue ganti pertanyaanya; kenapa cewek yang bernama Deby itu mau bunuh diri? Dan apa hubungannya sama tawurannya?" Tania mengelak dan mengalihkan pembicaraan dengan mengganti pertanyaannya.
"Kalau diceritain kayak rel kereta api."
"Kayak kereta api? Panjang maksudnya?"
"Iya, panjang. Bisa ngalahin cerita Cinta Fitri, deh." Ratu pun kembali sibuk dengan sepiring siomay dan melahapnya sesendok demi sesendok.
"Drama banget." Tania tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepala pelan, dan kembali fokus terhadap makanannya.
Terbesit dalam pikiran Tania, sadar atau tidak, Tania tersenyum dalam hati. Lagi-lagi dia menemukan sisi yang lain dalam diri Titan. Bahkan Tania mengibaratkan bahwa Titan sudah seperti sebuah buku dengan cover buruk serta berantakan, namun menyimpan segudang cerita yang menggambar sisi lain dari seorang Titan di dalamnya, yang bahkan dunia pun tidak mengetahuinya. Kini, hati Tania tergerak untuk mengetahui lebih jauh lagi sisi lain dari seorang Titan, jika pun nanti Titan menginginkan Tania untuk menjadi temannya, maka detik itu juga Tania akan jawab; Iya, gue mau. Apa hanya sekedar menjadi teman saja yang Tania mau? Jika Titan mengingingkan Tania untuk dijadikan kekasih, apa Tania akan mau? Entahlah. Tania masih belum bisa mengerti tentang apa yang ia rasakan sekarang. Jika Tuhan mengirimkan cinta di hati Tania untuk Titan, maka Tania percaya tentang takdir cinta yang tidak harus membutuhkan undangan supaya hadir dalam hati seseorang. Titan bukan cowok yang begitu buruk, hanya saja ia memiliki karakter dan sifat yang tidak muluk-muluk.
"Oh, iya. HUT sekolah kita kan tinggal sebulanan lagi, pas upacara kemarin kan sekolah kita nanti pas acara HUT-nya mau ngadain drama, ya. Ngomong-ngomonglo udah tanya ke Bu Dila belum, cerita dramanya kayak apa, genre-nya apa, dan pemain-pemainnya siapa? Soalnya kan sebulan lagi loh," kata Tania.
"Udah. Gue udah nanya."
"Apa katanya?"
"Bu Dila bakal ngangkat cerita karya Jonathan buat ditampilkan di acara HUT nanti," jelas Ratu.
"Apa? Jonathan? Apa enggak salah?" Tania seolah meragukan kemampuan Jonathan dalam menulis. Karena memang sih, dari tampan Jonathan tidak terlalu menggambarkan dia itu sosok penulis yang baik, ke-absurd-annya terkadang seringkali membuat Tania mengernyitkan dahi.
Meskipun memang Jonathan bukan teman sekelas Tania---atau lebih tepatnya, Jonathan adalah teman sekelas Titan. Tania sedikit mengenal karakter Jonathan, karena Jonathan juga ikut tergabung ke dalam keanggotaan PMR. Bahkan beberapa hari yang lalu, Jonathan meminjam laptop pada Tania, dan Tania dengan baik hati meminjamkan laptopnya pada Jonathan. Sudah pasti, kelas Titan memang terkenal dengan murid-muridnya yang susah diatur, petakilan serta absurd-absurd. Tapi entah mengapa, Bu Dila justru akan mengangkat karangan cerita pendek tugas semester karya Jonathan untuk dijadikan drama dalam acara HUT sekolah SMA Kejora nanti.
"Iya. Cerita pendek karya Jonathan, si cowok yang gagal mancung itu." Ratu berujar santai, tanpa memperdulikan orang lain menatapnya seperti apa.
Namun nampaknya di ujung sana, Jonathan sedikit mendengar apa yang diucapkan Ratu. Sementara Rian---teman Jonathan yang sedari tadi duduk dengan posisi kaki diangkat ke atas meja---ala bos, bersama Jonathan di kursi yang terdapat di sebelah utara sana, berusaha mengompori Jonathan untuk melabrak Ratu. Akan tetapi, Jonathan justru tidak memiliki keberanian yang cukup untuk melabrak Ratu, secara Ratu itu terkenal sebagai siswi tomboy, terkadang juga sikapnya frontal, Ratu tipikal orang yang iya ya bilang iya, tidak ya tidak, bahkan tidak takut siapa pun---selama ia bertindak di posisi yang benar. Walaupun begitu, Ratu termasuk murid yang berprestasi di sekolah. Maka dari itu, Jonathan tidak melabrak Ratu, ia hanya menyenandungkan sindiran-sindiran kecil. Terkadang banyak diluaran sana yang memakai sindiran sebagai senjata ampuhnya dalam melawan musuhnya.
"Duh, telinga gue panas, nih. Orang ganteng emang selalu diomongin dari belakang," sindir Jonathan. Ratu pun menoleh ke arah Jonathan.
"Woy, siapa juga yang ngomongin elo dari belakang. Gue ngomong terang-terangan di sini. Samperin sini, jangan ngandelin sindiran buat ngejatuhin lawan, ya. Cemen banget lo. Dasar cowok gagal mancung," maki Ratu. Sementara Jonathan hanya berdecak kesal tanpa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Udah, Ratu, udah." Tania melerai.
Ratu dan Jonathan memang memiliki kisah tersendiri kenapa mereka terlihat seperti musuh bebuyutan, bahkan kerap tidak akur jika keduanya dipertemukan di suatu tempat. Ya, ada tragedi dalam kisah Jonathan dan Ratu. Ketika kelas sepuluh, mereka adalah teman sekelas, sempat berteman baik pula, akan tetapi ketika itu Jonathan tidak sengaja menemukan buku diary di kolong meja Ratu, dan Jonathan tidak sengaja pula untuk membaca diary tersebut, ia mengira itu buku tugas atau sejenisnya. Dan ya, Ratu benar-benar marah pada saat itu, dari situlah hubungan mereka merenggang. Terlebih, Jonathan---yang memiliki hobby menulis itu, pernah menuliskan kisah Ratu yang ada dalam buku diary Ratu, tentu Ratu semakin kesal, ia tak mau hal pribadinya sampai diketahui banyak orang.
"Sini lo kalau berani! Jangan berlindung sama sindiran, ya. Gak mempan buat gue!" Ratu seperti menantang Jonathan. Mengubah posisinya berdiri menghadap ke arah Jonathan---yang berjarak sekitar dua meter.
"Siapa yang nyindir, sih?" Jonathan mengelak, dengan wajah menahan takut.
"Pake ngelak lagi lo. Dasar cowok gagal mancung!" Maki Ratu.
"Ratu udah." Tania melerai.
"Tapi, Tania, gue itu bawaannya sebel aja lihat mukanya."
"Ya jangan lo lihat mukanya," bisik Tania sambil menarik pelan siku Ratu.
"Tau lo, Ratu. Jangan benci-benci amat lah sama sohib gue. Nanti ragag cinta baru tau rasa," timpal Rian dengan santainya.
"Apaan sih lo, nyambung aja kayak kabel bluetooth! Dasar sendiRian!" Maki Ratu. Terkadang Ratu memang sefrontal itu, ia lebih gampang emosi, dan tipe orang yang sulit meredam emosi.
"Alamak! Aku baru tau kalau bluetooth ada kabelnya. Aku disebut sendiRian pula. Bah, mentang-mentangaku jomblo malah dikatain sendiRian. kauw tidak tau siapa aku? Aku ini Rian Asep Siregar, si anak blasteran sunda-batak. Aemacam mana pula kauw ini ngatain aku sendiRian. Aku bilangin kauw sama bapakku! Biar nanti kauw dilamar untuk kuperistri, biar tidak sendiRian lagi macam yang kauw bilang barusan. Karena kalau dipikir-pikir, kauw cantik, cocok jadi pendamping hidupku." Rian mengoceh tidak jelas, bahkan logat bataknya keluar, namun terkadang ia pun sering menggunakan bahasa sunda ketika ia marah.
"Ck! Lo berdua itu udah kayak kecoak berwajah hello kitty!" Maki Ratu.
"Ratu, udah, ya. Kita ke kelas aja, yuk." Ajak Tania, menarik tangan Ratu pelan. Lalu Ratu pun menunjuk ke arah Jonathan dan Rian.
Tania menarik pelan tangan Ratu. Membawa Ratu untuk pergi meninggalkan kantin ini. Terkadang, Ratu emang sefrontal itu, ia benar-benar tidak menyukai Jonathan, karena Jonathan sudah membaca keseluruhan isi diary Ratu, dan Jonathan sudah mengetahui, kalau Ratu pernah menyukai Rayn Mahardika. Ratu paling tidak suka jika urusan pribadi atau yang menyangkut semua tentang hati dan perasaannya ada orang yang mengetahuinya, kecuali seseorang yang sangat ia percaya. Ya, dunia emang berkutat pada kisah yang itu-itu saja, ada yang memiliki kisah bahagia, ada juga yang memiliki kisah pahit. Semua orang memang memiliki masalah dalam hidup, namun bagi Ratu, masalah terbesarnya adalah perasaan cinta yang tak terbalaskan. Apakah Tania mengetahui tentang Ratu yang pernah menyukai Rayn? Ya, tentu, Tania mengetahui hal itu karena Jonathan secara sembunyi-sembunyi menyebarkan berita tersebut---sudah menjadi rahasia umum.
Namun baru beberapa langkah Tania dan Ratu berjalan untuk berlalu dari kantin ini, Rayn tiba-tiba menjegat jalan Tania.
"Hei, Tania," sapa Rayn, dengan nada penuh goda sembari menghalangi jalan Tania.
"Ma-mau apa lo?" Tania bertanya gugup, terlihat pula Ratu---dengan wajah menunduk, berdiri di samping kiri Tania.
Seketika itu memang Ratu berubah menjadi diam, bisu, tak bersuara, ia bahkan terlihat gugup, entah apa yang Ratu rasakan, entah perasaan apa yang ia tahan dalam hatinya. Hanya saja kini, Ratu akan hanya menjadi patung yang terdiam seribu bahasa jika bertatap muka dengan Rayn. Ya, tentu, bahkan Ratu pun mengetahui kalau Rayn selalu mengganggu Tania. Namun, Ratu percaya, Tania sama sekali tidak ada perasaan apa pun terhadap Rayn, mungkin dulu pernah, namun sekarang Tania sudah menghapus perasaan kagumnya terhadap Rayn---setelah tahu karakter Rayn yang seperti itu. Akan tetapi, cinta itu buta bagi Ratu, sampai detik ini pun Ratu masih menyukai Rayn.
"Tan, gue ke kelas duluan," Ratu seperti menghindar dari Rayn. Ia takut jika perasaannya semakin tak terkendali pada Rayn.
"Kenapa? Lo gugup bertatap muka sama gue?" Sindir Rayn saat beberapa langkah Ratu berjalan melewatinya. Deg, bahkan Ratu tanpa ada rasa kuasa untuk menoleh ke samping kanannya---untuk sekedar menoleh ke arah Rayn.
Namun, Ratu kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Rayn. Perasaannya campur aduk. Rayn memang sudah mengetahui, kalau Ratu menyukainya sejak masih kelas sepuluh. Rayn mengetahui hal itu tentu saja dari Jonathan. Jonathan memang se-ember itu. Maka tidak aneh kalau Titan pernah memanggil Jonathan dengan sebutan ibuk-ibuk infotaiment.
Kini, Ratu pun sudah berlalu ke kelas.
Sementara Rayn masih saja menghalangi jalan Tania. Tania mengambil langkah ke kiri, Rayn menghalanginya. Tania mengambil langkah ke kanan, Rayn menghalanginya. Tania pun berdecak pelan, Rayn benar-benar membuat hatinya kesal. Entah apa yang Rayn inginkan dari Tania, mengapa Rayn selalu menganggu Tania? Atau mungkin Rayn memang masih mencintai Tania? Jika memang Rayn masih mencintai Tania, maka itu akan sia-sia, Tania sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Rayn.
"Lo temenin gue makan, ya," kata Rayn tersenyum tipis.
"Gue udah makan."
"Tapi gue pengin lo nemenin gue makan."
"Lo gak boleh nolak."
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa gue gak boleh nolak?"
"Karena semakin lo nolak gue, maka gue semakin ngejar lo. Terkadang lo itu selalu bikin hati gue gereget. Pengin rasanya lo itu cuma buat gue aja. Iya, cuma buat gue aja," jelas Rayn.
"Sorry, gue harus ke kelas." Tania pun mengalihkan pembicaraan, dan melangkahkan kakinya menuju ke arah timur---menuju kelas.
"Gue belum selesai ngomong." Rayn berujar pelan, dan berhasil menahan tangan Tania---membuatlangkah Tania terhenti.
"Enggak perlu ada yang diomongin lagi, Rayn. Gue mau lo jangan bersikap kayak gini ke gue. Lo bisa dapetin cewek mana aja yang lo mau, tapi maaf ... Perasaan gue ke lo itu biasa aja." Tania melepaskan peganggan tangan Rayn, dan kembali melangkahkan kakinya---menjauh dari Rayn.
Ck! Rayn berdesis pelan, sambil menyaksikan punggung Tania yang semakin hilang dalam pandangannya. Perlakuan Tania pada Rayn, membuat Rayn berpikir; harus merencanakan sesuatu agar mendapatkan perhatian Tania kembali. Tapi sepertinya, sekuat apa pun usaha yang akan dilakukan Rayn, tidak akan membuahkan hasil, karena Tania sudah memperteguh dirinya agar tidak lagi jatuh ke dalam pelukan Rayn, alasan lainnya adalah; karena Ratu---teman dekat Tania itu, mencintai Rayn dengan tulus. Tania bahkan seringkali mendengar curahan hati Ratu yang benar-benar mengaggumi sosok si jenius Rayn. Bahkan, Ratu tidak peduli tentang Rayn yang menyandang julukan playboy di sekolah. Terkadang cinta sebuta itu. Apalagi kini, Ratu dipersatukan dalam satu kelas dengan Rayn. Dulu Ratu hanya sekedar mengagumi dari jauh, karena memang keberadaan Rayn sepopuler itu di sekolah ini.
***
Setelah beberapa jam berlalu. Akhirnya, bel keramat pulang sekolah pun berbunyi. Suara riuhan para murid-murid dari berbagai kelas mulai terdengar mengalahkan supporter timnas. SMA Kejora ini memang terkenal dengan murid-muridnya yang paling semangat jika mendengar bel pulang sekolah atau ketika guru berhalangan tidak bisa masuk kelas untuk mengajar. Apa di sekolah lain juga sama? Entahlah. Di kota Bandung ini, SMA Kejora tidak termasuk sekolah favorite, tidak juga termasuk sekolah buangan. Standar.
"Tan, gue duluan, ya." Ratu pun melangkahkan kakinya ke luar kelas.
Tania hanya mengangguk dan tersenyum.
Kini, situasi kelas Tania perlahan mulai sepi, semua anggota kelas bergegas untuk pulang. Sementara Tania masih duduk di kursinya. Tania mengemas perlahan buku-bukunya ke dalam tas, setelah itu, ia pun merogoh kembali ponsel di saku baju seragam sekolahnya.
"Kok gue penasaran ya, sama video coverannya Titan," ucap Tania pelan. Pandangannya terfokus pada layar ponsel, sementara jari jempol tangan kanannya menari-nari di atas layar sentuh ponselnya.
No connection!
"Yaelah, signalnya lemah amat di sini."
Tania pun bergegas membereskan beberapa bukunya ke dalam tas, dan langsung mengaitkan tas di bahu kanannya. Tanpa sepatah kata lagi, tanpa apa pun lagi, Tania berlari kecil menuju ke luar kelas. Sebelumnya, Tania tidak pernah bertingkah seperti itu, bahkan mungkin ini kali pertamanya ia begitu ingin tahu lebih dalam tentang seseorang. Rasa penasaran itu timbul dengan sendirinya, tanpa Tania sadar. Mungkinkah jauh dari dalam hati Tania, Tania menyukai Titan? Entahlah. Mungkin dalam unggahan video di instagramnya Titan, membuat Tania tertarik untuk melihatnya. Karena selama ini, Tania lebih sering melihat sisi buruk dari Titan, dengan rumor buruk mengenai Titan, dan setelah kemarin, Tania sadar, bahwa memang ada yang spesial dalam diri Titan. Sadar atau tidak, Tania perlahan mulai mengerti, karena setiap sifat, tingkah, dan karakter seseorang yang berubah menjadi buruk atau memiliki image buruk, itu tentu beralasan---termasuk Titan. Namun, Titan sama sekali tidak memperdulikan ocehan orang-orang yang memandangnya hanya lebih dari sampah, Titan tidak peduli. Sama sekali tidak. Karena Titan percaya, bahwa hidup sudah ada jalannya masing-masing. Buat apa mengurusi hidup orang lain, Jika diri sendiri masih berantakan? Begitu kata Titan.
🍁🍁🍁
Kini, Tania berjalan menelusuri jalanan kota. Ia memilih jalan kaki, karena jarak sekolah dan rumahnya tidak terlalu jauh, tidak juga terlalu dekat, jika ditempuh oleh angkutan umum hanya sekitar lima belas sampai dua puluh menit saja, untuk mencapai rumah Tania. Lihatlah, Tania berjalan, namun sibuk memainkan ponselnya, sesekali ia berdesis pelan, karena jaringan internet dalam ponselnya seringkali melemah. Dan, seketika itu langkah Tania terhenti, saat jaringan dalam ponselnya meningkat menjadi 4G. Tania terdiam untuk beberapa saat, ketika ia melihat video tersebut. Video yang berisi; Titan yang sedang memainkan alunan akustik gitar sambil menyanyi pelan penuh penghayatan lagu sewindu dari Tulus. DEG. Bahkan, Tania merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya.
"Dia berbakat," ucap Tania sangat pelan, nyaris terdengar seperti bisikan.
"Hei!" Seseorang tiba-tiba merebut ponsel Tania. Sontak Tania sangat terkejut. Lalu, Tania berdesis protes saat tahu siapa yang merebut ponselnya tersebut.
"Rayn! Balikin gak!" Tania berusaha mengambil ponselnya, namun Rayn justru malah mengangkat-ngangkat ponsel Tania---agar Tania tidak mampu meraihnya.
__ADS_1
"Sayangnya gue gak bakal mau balikin." Rayn berujar songong.
"Nyebelin banget, sih! Balikin, gak!"
"Tapi gue gak mau."
"Nyebelin banget sih!"
"Biarin!"
"Lo mau apa dari gue, hah?"
"Pertanyaan yang paling gue tunggu-tunggu. Kemauan gue cukup simple, gue pengin kita balikan."
"Tapi Rayn, gue gak bisa. Balikin gak ponsel gue. Kalau lo gak mau balikin, gue bakal teriak," ancam Tania.
"Teriak aja. Teriak dan bilang kalau gue ini mau memperkosa lo, biar kita dikawinin sekalian. Itu malah untung buat gue." Rayn berujar songong, wajah tampannya benar-benar terlihat songong, bahkan Tania sangat geram dengan perlakuan Rayn yang senekat ini.
"Kalaupun gue mau teriak, gue gak bakal teriak hal receh kayak gitu. Gue bakal teriak kalau lo maling!"
"Silahkan teriak aja kalau berani."
"Nyeselin ya ih!"
Tiba-tiba seseorang berjalan---tak jauh dari posisi Tania dan Rayn. Seseorang itu bersiul santai, gayanya yang santai itu memang sudah menjadi ciri khas orang tersebut.
"Beraninya sama cewek," sindir pelan orang tersebut, dengan segera Rayn pun menoleh ke arah orang tersebut---karena merasa tersindir.
"Eh, ngomong apa lo barusan?" Tanya Rayn dengan wajah tidak suka.
"Ngomong apa, ya?"
"Ck! Belaga polos lagi!"
"Titan?" Tania menoleh ke arah orang tersebut. Ya, seseorang itu adalah Titan. Entah ini kebetulan atau tidak, Tania justru merasa dunia ini sesempit itu.
"Bukan berlaga polos. Kalau emang lo kesindir, ya balikin ponsel dia. Jangan cemen jadi cowok." Titan berujar santai, seketika itu membuat Rayn memasang wajah kesal.
"Lo jangan ikut campur! Dan gak usah mancing-mancing emosi gue! Gue bahkan tau siapa lo, Titan," suara Rayn terdengar pelan namun banyak penekanan dalam kalimatnya itu.
"Gue bukan es campur, yang suka ikut campur. Yaelah, mancing apaan sih, kalau mau juga gue bisa mancing ikan di empang, ngapain harus mancing emosi?"
"Lo nyari masalah sama gue, Titan." Rayn semakin kesal, terlihat dari raut wajahnya.
"Masalah hidup gue udah terlalu banyak, ngapain harus dicari? Sekarang gue minta, lo balikin ponsel Tania."
Ck! Rayn menghela napas pelan, emosinya mulai tak bisa terkendali, namun Rayn mencoba untuk tetap bersikap tenang di hadapan Tania. Dengan berat hati, Rayn memberikan ponsel tersebut ke Tania. Lalu setelah itu, Rayn pergi dengan meninggalkan sebuah ancaman kecil untuk Titan.
"Awas, lo!" Ancam pelan Rayn yang penuh penegasan. Titan hanya tersenyum remeh.
Setelah Rayn berlalu, Tania pun menghampiri Titan.
"Seharusnya lo jangan bersikap kayak gini, lo pasti bakal ada masalah sama Rayn," kata Tania.
"Setiap orang punya masalah, jadi udah biasa dalam hidup gue." Titan tersenyum.
"Ya tapi kan----"
"Yaudah, lo mau pulang? Gue anter deh."
"Emang rumah kita searah, ya?"
"Enggak, sih. Rumah gue ke arah timur."
"Terus, kenapa mau nganterin gue?"
"Gue pengin lo aman."
"Tapi---"
"Udah gapapa."
Titan pun berjalan lebih dulu dari Tania---berjalan ke arah selatan, ke arah jalan pulang menuju rumah Tania. Tania pun mengikuti Titan, dan berusaha berjalan mengimbangi langkah Titan. Tania bahkan tidak tahu, apa arti dari sikap Titan ini terhadapnya. Kini pun, Tania berjalan di samping Titan, sesekali ia mencuri pandang ke arah Titan. Titan memang sangat tampan. Selain tampan, Titan tahu bagaimana caranya ia bersikap pada perempuan. Titan adalah seorang penjaga yang cukup baik, ia adalah lelaki yang sangat menghargai perempuan. Bahkan Tania merasa jauh lebih aman di samping Titan. Tania berpikir; sudah pasti seseorang yang mendapatkan hati Titan akan merasa paling bahagia di dunia ini.
"Lo pulang jalan kaki juga?" Tania bertanya memecahkan situasi keheningan di antara keduanya.
"Iya. Kalau pertanyaan lo selanjutnya; kenapa gue gak pake kendaraan, gue jawab; berjalan kaki adalah salah satu cara gue menikmati setiap sudut kota Bandung yang ramah ini," jelas Titan, bibirnya menyunggingkan seulas senyum.
"Apa lo punya mimpi?" Pertanyaan Tania yang satu ini adalah mengarah pada video yang ditontonnya dalam instagram Titan. Titan menoleh sedetik ke arah Tania.
"Menurut lo, apa semua orang punya mimpi?"
"Punya. Gue yakin lo juga punya mimpi, lo juga berbakat."
Titan tersenyum. Langkah kaki Tania dan Titan terlihat memelan, karena obrolan mereka pun begitu sangat menarik.
"Tau dari mana gue berbakat?"
"Ya tau aja."
"Emangnya lo punya mimpi?"
"Setiap orang punya mimpi,"
"Itulah jawaban gue. Dan, cara ampuh buat ngewujudin mimpi adalah ... Tidur. Dengan tidur lo bisa ngewujudin mimpi lo." Titan berujar dengan nada canda.
"Rese lo, ya." Tania tersenyum, sambil memukul pelan bahu Titan.
__ADS_1
"Karena bagi gue, mimpi itu gak terlalu penting. Dan enggak pernah ada dalam kamus gue. Karena selamanya yang namanya mimpi akan tetap jadi mimpi. Kalau lo punya mimpi, lo harus punya juga ambisi. Ambisi untuk mencapai titik kebahagiaan lo yang sempurna, yang lo capai dengan cara yang sederhana. Tersenyum, dan senyumin ajalah." Titan berujar santai, Tania tersenyum.
Bersambung ...