
Tiga belas :
Ketika sebuah rasa cinta yang diberikan oleh seseorang bermetamorfosa menjadi sekuntum bunga mawar, maka tidak hanya akan ada wangi dan harum yang semerbak, ada kalanya menahan sakit karena sebuah duri yang tertancap abadi.
Terlihat begitu sangat memikat pesona dari seorang Titan Wirasena yang saat ini tengah berdiri tepat di depan beberapa murid dalam aula ini. Terlebih, sebuah sorban yang melingkar di lehernya, membuat Titan semakin terlihat memesona. Sementara, Rayn duduk di belakang Tania, terlihat malas mengikuti kegiatan ini. Nampaknya Rayn tidak suka dengan keberadaan Titan di sini.
"O-orang bijak mengatakan em... Bahwa surga i-itu ada di bawah telapak kaki Ibu. Maka dari itu... Em... Kamu harus---" saat membaca naskahnya, Titan terbata-bata, entah efek grogi atau tidak terbiasa membaca naskah drama.
"Titan, coba lebih santai bacanya. Yang serius," ujar Bu Dila berhasil memutuskan kalimat Titan, Titan hanya mengangguk pasrah.
"Udahlah, Bu. Dia keluarin aja dari drama ini. Baca dialog aja gak bisa," sindir Rayn, kemudian Titan langsung menanggapi ocehan Rayn tersebut.
"Eh, lo nggak tau, ya, artinya berproses?" Titan berujar pada Rayn, dengan suaranya yang terdengar datar.
"Rayn, Ibu harap kita harus profesional."
Ck! Rayn berdecak pelan dengan menampakan wajah yang sangat-sangat tidak suka. Bu Dila pun menyuruh Rayn untuk tidak terlalu mengatur jalannya latihan, tentu itu pun membuat Rayn merasa kalau keberadaan Titan di sini sangat membuatnya tidak leluasa untuk menguasai jalannya drama. Titan hanya tersenyum remeh, Titan sangat menyukai situasi seperti ini---situasi saat semuanya seolah mendukungnya.
Setelah beberapa menit, Titan pun kembali duduk di antara beberapa peserta drama. Selanjutnya Jonathan lah yang harus di depan. Sementera, ketika baru saja Titan duduk, Tania yang juga duduk berjarak tidak jauh dari posisi Titan---hanya terhalang dua atau tiga murid saja, Tania langsung menoleh ke arah Titan. Namun nampaknya Titan masih saja membaca naskahnya dengan khusyuk, entah apa yang ada dalam pikirannya. Sadar atau enggak, seulas senyum tersungging manis di bibir Tania, walaupun tipis.
Sementara di depan sana, Jonathan nampak meriah dan heboh, dia mendapatkan sebuah peran yang benar-benar menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya, "Oh cinta ... Cinta itu buta, buta itu mata, mata itu bulat, bulat itu telur, telur itu kalau didadar warnanya pasti kuning. Maka! Cinta itu kuning, seperti ...," ucapnya menggantung, karena ekpresi wajah dan gesturnya benar-benar membuat beberapa murid yang ada di ruangan ini terbelalak ketawa.
"Kuning itu eek!" Sambung seseorang. Semuanya pun tertawa lepas.
Hahaha!
"Eh, jorok! Gue belum nyelesaiin dialognya! Kuning itu ya pisang goreng. Pisang goreng kan enak untuk dimakan, maka cinta pun enak dimakan, tapi kalau kebanyakan bisa sakit perut. Jadi, cinta itu ada enaknya ada sakitnya. Begitu maksud gue," ucapnya membela diri, semua orang pun tertawa. Terlihat Bu Dila juga ikut hanyut dalam situasi seperti ini.
"Bu, apa Ibu yakin mau ngangkat cerita karya Jonathan ini buat dijadiin drama pertunjukan nanti?" Tanya salah satu murid, seketika itu Jonathan langsung memasang wajah sebal.
"Ibu sudah yakin kal---"
"Eh, lo gak bisa menghargai karya gue banget. Kenapa? Karya gue absurd? Hah? Jangan salah lo, ye. Ini itu karya yang idenya dapet dari sodara sepupu gue. Namanya Rega Darudin Prasetya. Lagipula cerita gue ini gak norak kok, ada unsur pendidikannya, ada unsur religi, ada unsur persahabatan, pokoknya semua genre gue lahap! Jangan salah, ye!" Oceh Jonathan, semuanya pun terkekeh geli.
Bu Dila tersenyum menggeleng-gelengkan kepala, sambil menepuk pelan bahu Jonathan, "Ibu udah yakin sama cerita yang kamu buat, mangkanya Ibu memilih ceritamu," ujarnya.
"Iya, Bu." Jonathan mengangguk sopan.
"Iya, sih, Bu. Yang ini masih oke, karena judul ceritanya Surga di bawah telapak kaki Ibu. Ajib bener. Ada unsur lawak dan percintaannya juga yang bisa dipetik dalam cerita ini," ucap Ratu, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, "Tapi ... Ada tapinya nih, soal---" sambung Ratu terputus.
"Kenapa? Lo mau bahas cerita tentang Zubaedah dan Encup lagi? Itu jelas bukan karya gue Ratu! Itu karyanya si Udin. Nanti deh gue kenalin lo sama Udin." Jonathan langsung memutuskan kalimat Ratu dengan cepat.
"Yeh, biasa aja kali. Lagian bukan cuma cerita itu aja yang absurd, beranak dalam kulkas juga, kan? Itu karya siapa? Si Udin juga? Em...." Ratu berujar dengan nada meremehkan, kemudian Bu Dila pun meleraikan, dan suasana latihan pun kembali tertib.
Sementara Titan, terlihat seolah sama sekali tidak hanyut ke dalam situasi receh tadi---yang diciptakan oleh Jonathan. Titan hanya terfokus pada naskah yang dipegangnya, ia hanya diam, dan entah apa yang sedang Titan pikirkan. Kain sorban masih melingkar di lehernya, ia bahkan seolah tidak peduli dengan jalannya latihan drama ini, perhatiannya hanya terfokus pada naskah, ada sorot mata yang menyiratkan kesedihan di sana. Ataukah Titan merindukan sang Ibu? Ketika ia tersadar bahwa naskah drama tersebut mengisahkan tentang sosok Ibu yang tangguh.
Surga ada di bawah telapak kaki Ibu.
Satu tetes butiran bening nyaris jatuh di matanya, karena dengan segera Titan menghapusnya---agar semua mengira kalau perasaannya saat ini baik-baik saja. Titan begitu pandai menyembunyikan lukanya pada dunia, ia begitu rapi menyembunyikannya dari semua orang. Walaupun dalam hatinya ia menyimpan sebuah rindu yang begitu berat, namun ia tak pernah lupa untuk tetap tersenyum. Titan selalu yakin dan percaya, bahwa bahagia itu pilihan.
"Oke, baik, latihan kali ini cukup sampai di sini aja. Ada waktu lima belas menit lagi untuk istirahat, kalian bisa pergi ke kantin," ucap Bu Dila, semuanya pun menjawab 'iya' dengan serentak.
Bu Dila berlalu meninggalkan ruangan ini, dan semua orang yang berada di aula ini pun perlahan satu per satu berlalu, namun Titan hanya beralih ke sudut utara ruang aula ini, Titan tidak memutuskan untuk keluar aula, ia memilih bersandar pada tihang yang berada di sebelah utara ruang aula ini. Posisi Titan, ia duduk di lantai sambil bersandar pada tihang tembok dengan kaki kanan di tekuk dan kedua tangan pun terlihat memeluk, sementara kaki kirinya dibiarkan lurus begitu saja.
Naskah tersebut masih dipegang di tangan kanannya, "Hem, ternyata rindu itu berat. Apalagi sama orang yang udah gak bisa kita lihat." Titan bermonolog sambil menatap naskah yang dipegang di tangan kanannya.
"Tan? Lo gak ke kantin?" Tanya Yoyo menghapiri Titan.
Titan menghela napas, dan mengubah posisinya, "Ah, enggak. Lo aja. Gue masih seneng di sini."
"Serius? Emangnya gak laper?"
"Enggak. Kalau laper gue pasti makan. Kalau nahan laper juga gue bisa, tapi kalau nahan rindu rasanya gue gak bisa," kata Titan datar.
"Lo lagi kangen, ya? Sama siapa? Pacar?"
"Bukan. Biasalah sama nyokap."
"Ya ampun, lo kan bisa nanti pas pulang sekolah lo temuin nyokap lo."
Titan tersenyum pahit, "Nyokap gue udah enggak ada."
"Sori, Tan. Gue gak tau kalau nyokap lo udah enggak ada. Maaf, gue gak bermaksud bikin lo sedih," ucap Yoyo.
"Gapapa, Yo. Udah biasa."
"Yaudah kalau gitu, lo bener gak mau ke kantin? Gue mau ke kantin, nih."
"Enggak. Lo aja."
"Oke, deh. Gue cabut dulu, ye."
Titan hanya mengangguk pelan, dan Yoyo pun berlalu dari ruangan ini. Terbesit dalam pikir Titan, mengapa hidupnya seburuk ini, seolah sang waktu terus menertawakan hidupnya, Titan bahkan berusaha untuk keluar dari rasa sedihnya ini, dan mencoba untuk terus memilih bahagia. Namun tetap saja, rasa sedih itu tak pernah terlupakan dalam hidupnya. Ketika seseorang menggoreskan kaca di lengannya, itu berarti sudah tidak ada lagi harapannya untuk melanjutkan hidup. Tapi tidak dengan Titan, ia mencoba untuk terus melanjutkan hidup saat seseorang menyadarkannya bahwa menyudahi hidup dengan cara bunuh diri adalah hal yang paling dibenci Tuhan.
"Hei," sapa seseorang, Titan pun langsung menoleh, seketika Titan mengernyit tak percaya.
"Kamu?" Ucap Titan, sembari membenarkan posisi duduknya.
"Gue duduk di sini, ya," katanya.
"Iya, duduk aja, silahkan, kalau boleh sih duduknya yang agak deketan," Titan berujar dengan disertai senyum tipis.
"Modus ya lo. Hehe. Ngomong-ngomong, lo gak ke kantin kenapa?" Tanyanya.
Titan tersenyum, "Aku lagi gak pengin ke kantin, apalagi sekarang ada kamu duduk di sampingku, ya makin gak mau ke kantin lah. Udah betah aja di sini," kata Titan.
"Titan, gue boleh ngomong sesuatu sama lo?" Tanyanya lagi.
"Ya bolehlah, Tania."
Ya, seseorang yang saat ini duduk di samping kiri Titan adalah Tania. Tania yang seperti mulai ingin tahu jauh lebih dalam sosok Titan, entah apa yang membuat hatinya menjadi luluh seperti itu. Mungkn karena Tania merasakan bahwa perlakuan Titan terhadapnya sangat berbeda, itu sebabnya rasa ingin tahu Tania menjadi menggebu-gebu. Ditambah lagi, situasi dan keadaan seperti menyudutkan mereka untuk selalu bertemu dengan secara tidak sengaja dan diduga, seperti hal saat ini---mereka dipersatukan dalam sebuah drama pertunjukan nanti.
"Gue boleh mengubah kalimat gue?" Tanya Tania, terlihat gugup. "I-iya, maksud gue, aku-kamu. Boleh?" Sambung Tania.
Saat mendengar kalimat itu, Titan yang tadinya menoleh ke arah Tania, kini mengalihkan dan menundukan pandangannya ke bawah sambil menggeleng-gelengkan kepala disertai senyum miring yang mengembang di bibirnya, detik kemudian Titan pun kembali menoleh ke arah Tania, di sana juga Tania menunduk karena gugup,
"Di saat sang belati seolah ingin menancap abadi dalam hati yang terselimuti sedih, justru kamu malah menjadi benih kebahagiaan tersendiri buat aku," ucap Titan tersenyum.
Tania pun tersenyum, "Kuharap kita berteman dengan baik."
Kini kulihat bagaimana kau tersenyum saat kau tersipu, dari situ mungkin aku akan tau, untuk apa aku hidup.
__ADS_1
"Lebih dari teman juga boleh," kata Titan dengan nada meledek.
"Dih, apaan sih," ucap Tania sambil menepuk pelan bahu Titan, Titan hanya tersenyum saja.
k a n g e n
Pada akhirnya hati yang segelap langit mendung pun akan luluh dan takluk oleh pesona pelangi yang hinggap sebentar namun perginya memberikan kesan.
Saat jam pulang sekolah sudah tiba, Tania bersiap-siap untuk pulang, sementara Ratu nampaknya ingin mengajak Tania pergi ke toko buku sehabis pulang sekolah. Ratu memang tidak suka membaca, dalam artian; ia tidak suka membaca buku-buku sekolah atau buku pelajaran sekolah yang tebalnya melebihi sebuah kamus besar. Akan tetapi, bukan Ratu namanya jika ia tidak menggilai buku novel romance.
"Tan? Anter gue, yuk. Ke toko buku."
"Ih gue kayaknya gak bisa deh, Rat. Gue mau ke panti soalnya," ucap Tania.
"Yah, padahal bentaran doang. Ada novel romance terbaru, dan gue pengin beli." Ratu memanyunkan sedikit bibirnya.
"Tapi gue kebetulan lagi enggak bisa, Rat. Lain kali aja, ya, gimana?"
"Hem, yaudah gapapa, Tan. Gini, nih, nasib jomblo ke mana-mana selalu sendiri," ucap Ratu dengan bibir yang masih mengerucut cemberut.
"Hehe. Mangkanya punya pacar. Lagian sih lo pacaran sama buku novel mulu," ledek Tania.
"Ya, setidaknya buku novel gak bisa selingkuh, Tan."
"Dih, serem juga ya kalau ada buku novel selingkuh," ucap Tania terkekeh.
"Oh iya, tadi kenapa pas istirahat lo gak ke kantin? Gue cariin ke mana-mana gak ada. Emangnya lo ke mana?" Tanya Ratu
"Gue ada di aula."
"Sama siapa?"
"Sama Titan," jelas Tania.
"Apa?! Titan?"
Tania hanya mengangguk, "emangnya kenapa?"
"Ya enggak kenapa-kenapa, sih. Cuma hati-hati aja lo sama dia. Tapi jujur, ya, gue kok ngerasa ada yang beda sama si Titan itu. Yang gue tau, sih, dia itu ibarat cacing keremi, yang gak bisa diem, pecicilan, raja PHP lagi, abis itu hobinya jahil banget. Tapi anehnya dia cuma diem dan kelihatan kayak berubah jadi adem kalau deket lo. Lo ngerasa gak, Tan?" Ratu mengoceh panjang lebar.
"Lo serius?"
"Gue serius. Dia beda kalau deket sama lo, Tan."
"Enggak, maksud gue; lo serius mengibaratkan dia sebagai cacing keremi?" Tanya Tania datar.
Ratu menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Ya, enggak, sih. Lagian emang gak ada cacing keremi seganteng dia." Ratu berujar dengan nada sangat pelan. Tania hanya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan.
"Yaudah, deh. Gue cabut duluan, ya, Tan!" Ratu pun berlari kecil menuju keluar kelas.
Tania hanya tersenyum tipis. Lalu detik kemudian, Tania pun beranjak keluar kelas, hatinya nampak berseri, Tania seperti merasakan sesuatu yang indah dalam hatinya. Tania seolah tenggelam dalam rasa yang ia ciptakan sendiri---sebuah ketulusan untuk mencintai dan dicintai, menjadikan setitik kebahagiaan itu yang tadinya seperti mimpi lalu menjadi nyata, hanya kehebatan sang waktu yang akan menjelaskan semua rasa, dan waktu pun yang akan memberitahukan pada semuanya tentang sebuah rasa yang tersembunyi di balik sekeping hati yang mudah rapuh dan mudah tersentuh.
Kini, Tania berdiri tepat di depan gerbang sekolah, lalu ia berjalan dua setengah meter dari gerbang sekolah---untuk menunggu angkutan umum. Kali ini Tania memutuskan untuk tidak berjalan kaki, karena ia harus segera sampai tepat waktu ke panti asuhan.
Namun, ini sudah tiga puluh menit lamanya, angkutan umum itu tak kunjung jua melintas---ada banyak yang melintas pun penumpangnya penuh.
Tiba-tiba sebuah motor ninja hitam berhenti tepat di hadapan Tania. Si pengendara motor ninja hitam itu terlihat mengenakan jaket hitam. Entah itu siapa, namun Tania melihat kalau si pengendara itu adalah anak SMA, karena terlihat dari celananya yang berwarna abu-abu. Wajah si pengendara tidak begitu jelas terlihat, karena menggunakan helm.
"Tan, ayok naik," ujarnya menyuruh Tania naik ke motornya.
"Titan?" Tania sedikit terkejut.
"Ayok naik. Awan udah mendung, sebentar lagi ujan. Angkutan umum pasti pada penuh. Kamu pulang bareng aku aja." Titan berujar dengan suara khasnya yang membuat Tania terdiam sejenak.
"Tapi kan rumah kita gak searah."
"Rumah kita emang gak searah, tapi hati kita searah, kok."
"Dih, gombal!"
"Gapapa gombal, asal sama kamu aja. Sama perempuan lagi mana bisa aku gombal. Tapi ini bukan gombal," jelas Titan.
"Terus apaan?"
"Rayuan maut." Titan berujar dengan berakhir dengan senyuman. "Yaudah, yuk, naik, nanti keburu ujan lagi," sambung Titan.
"Ta-tapi ...."
"Gak usah takut, aku gak bakal nyulik, kok. Jadi, tenang aja."
"Yaudah, i-i-iya."
Lalu, dengan hati yang sedikit ragu, Tania pun menaiki motor Titan. Ketika Tania sudah menaiki motor Titan, terlihat wajah Titan yang menyunggingkan seulas senyum saat melihat kaca spion yang terdapat pantulan wajah Tania di sana. Detik kemudian, Titan pun melajukan motornya dengan kecepatan standar.
Sebelumnya, Tania tidak pernah menyangka jika dirinya akan diboncengi seorang Titan. Terbesit dalam pikirnya saat ini, Tania merasakan sesuatu yang aneh dari dalam lubuk hatinya---saat diboncengi Titan ini. Sesekali Tania melirik kaca spion yang memantulkan sedikit wajah Titan, pesona seorang Titan yang masih terlihat walau tersembunyi di balik helm hitam.
Cuaca semakin mendung, rintik gerimis mulai berjatuhan ke bumi, semilir angin makin terasa menusuk ke dalam tulang. Tania lupa tidak membawa jaket atau baju hangat lainnya, karena ia tidak tahu jika akan seperti ini. Lalu, Titan melirik Tania melalu kaca spion, Titan melihat kalau Tania seperti menahan hawa dingin.
"Tan? Kita berhenti di depan, ya. Ujannya makin deras." Titan berujar dengan suara yang tidak terlalu jelas Tania dengar, karena hujan semakin deras.
Lalu, tepat di sebuah halte bus, Titan memberhentikan motornya. Titan dan Tania harus meneduh, karena hujan semakin deras. Meneduh di sebuah halte bus yang sepi, membuat Tania semakin terselimuti rasa canggung dalam hatinya, hanya pemandangan kendaraan berlalu-lalang lah yang kini bisa dinikmati. Tania terlihat memeluk tubuhnya sendiri, karena bajunya sedikit basah, ia pun harus menahan hawa dingin saat ini. Lalu, Titan menyadari hal itu, dengan segera Titan melepaskan jaketnya untuk diberikan pada Tania---setidaknya itu membuat Tania lebih hangat.
"Tan, kamu pake aja jaket aku." Titan memberikan jaketnya pada Tania, serta memakaikannya pada Tania. Tania hanya mengangguk pelan, karena memang ia tidak bisa menolak jaket dari Titan, ia sudah merasa sangat kedinginan.
"Yaudah, duduk, yuk." Titan mengajak Tania untuk duduk di bangku panjang yang terdapat di halte tersebut.
Menunggu hujan reda adalah sesuatu yang sangat membosankan mungkin, namun jika itu bersama orang yang spesial, semuanya akan menjadi momen indah yang mungkin tidak akan pernah bisa terlupakan.
Dan, ponsel Tania pun berbunyi tertanda pesan masuk. Dengan segera Tania pun membuka pesan masuk tersebut.
Dari: Ratu.
Tania? Gue lagi kejebak di toko buku. Hujan di sini, gede banget, gue gak bisa pulang. Tapi gue rasanya betah banget di sini. Ada Rayn coy, tapi si Rayn malah sama cewek lain di kedai kopi seberang toko buku ini. Hati gue potek, gue patah hati untuk yang kesekian kalinya. Uh, awalnya gue seneng ada dia, tapinya dia malah ama cewek lain, kayak dede gemes gitu. Ya Tuhan, kenapa sih gue bisa jatuh cinta sama cowok kayak Rayn, sulit buat gue pahami perasaan ini. Ini bahkan terlalu naif. Uhhhhh. Lo udah nyampe rumah belum, Tan?
Tania hanya diam saja, tanpa ada rasa ingin membalas pesan dari Ratu, bukan karena ia tidak mau membalasnya, akan tetapi ia takut karena suara petir kerap terdengar. Setelah membaca pesan singkat tersebut, Tania pun mematikan ponselnya, dan memasukannya ke dalam tas. Lalu, Tania pun menoleh ke arah Titan yang terduduk santai di sebelah kirinya.
"Titan?" Panggil pelan Tania, Titan menoleh.
"Iya?"
"Aku boleh tanya?"
__ADS_1
"Bolehlah, masa gak boleh. Mau tanya apa?"
"Cara menaklukan hati itu kayak gimana, sih?" Pertanyaan Tania ini sontak membuat Titan mengernyit aneh.
"Kenapa nanya gitu?"
"Enggak, aku cuma mau tanya aja. Kamu kan cowok, tau dong berbagai macem karakter cowok? Aku nanya gini semata-mata pengin bantuin Ratu buat dapetin Rayn, alasan lainnya yaa supaya Rayn berhenti gangguin aku. Mangkanya aku pengin bantu Ratu, tapi sayangnya aku gak tau gimana caranya naklukin hati, mungkin kamu tau? Kamu kan dikasih julukan raja PHP, berarti kamu seorang penakluk, kan?" Ucap Tania panjang lebar.
Titan pun menyempatkan tersenyum tipis, sebelum menjawab pertanyaan Tania.
"Sebenernya, aku bukan cowok yang romantis atau pun seorang penakluk hati. Tapi, karena mungkin wajah aku ganteng aja, jadi banyak cewek yang ngerasa kalau aku PHP-in mereka." Titan berujar santai.
"Dih, aku serius, Titan."
"Aku juga serius, Tania." Titan justru terlihat seperti meledek Tania. Tania pun memutuskan untuk diam, karena ia tahu jika berdebat dengan Titan yang terlalu over percaya diri itu, tidak akan pernah ada ujungnya. Tania pun diam.
Hening beberapa saat, lalu Titan terlihat menghela napas pelan dan menoleh ke arah Tania lagi.
"Perempuan itu harus jadi pemikat, bukan pengejar," ucap Titan membuat Tania langsung menoleh ke arah Titan, sepasang mata pun saling bertatap. Sorotan mata Titan terlihat berseri, senyumnya yang tersungging tipis membuat Tania seperti larut bersama aroma petrichor.
"Pemikat?"
"Iya. Perempuan harus mampu menjadi pemikat yang bisa memikat hati laki-laki yang dicintainya," jelas Titan.
"Bukannya ada pepatah, kalau jodoh itu harus dikejar. Berarti gak mandang bulu dong? Laki-laki perempuan, ya harus dikejar jodohnya. Kesimpulannya berarti kalau jodoh harus dikejar, itu tandanya kita pengejar, kan?" Tanya Tania.
"Soal dikejar dan mengejar, biar itu jadi urusan depkolektor dan client-nya."
"Ih, kamu tuh. Bercanda mulu, deh." Tania terlihat gemas dengan jawaban Titan, namun Titan terkekeh melihat Tania yang gemas terhadap dirinya.
"Hehe. Kalau aku gak setuju dengan pepatah; jodoh itu harus dikejar. Aku lebih setuju dengan pepatah; kalau jodoh itu gak akan kemana, sayuran di gunung, ikan di laut aja ketemunya di warteg, kan? Hehe."
Mendengar itu, Tania hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan. Titan memang paling bisa menjawab sebuah pertanyaan dengan jawaban yang jauh diluar dugaan.
"Si Ratu suka sama Rayn?" Tanya Titan.
"Iya. Tapi Rayn sama sekali enggak peka. Padahal jelas-jelas ada orang yang sayang sama dia, tapi dianya gak peduli. Hati dan perasaan Ratu seringkali tersakiti oleh sikap Rayn terhadapnya. Perasan cewek terkadang serapuh itu, Tan. Dia bahkan tidak melihat seberapa besar luka yang tertoreh, yang dia tau hanya mencintai tanpa rasa pamrih. Walaupun hatinya semakin rapuh karena cintanya itu," jawab Tania dengan datar.
Titan tersenyum tipis, sorotan matanya tertoleh pada Tania.
"Karena hati itu tidak bertulang. ia mudah layu dan mudah tersentuh, itu sebabnya ia sangat rapuh." Titan berujar pelan.
Mendengar itu pun Tania hanya mampu tersenyum tanpa bisa berkutik lagi, Titan memiliki sisi lain dalam dirinya yang membuat Tania semakin yakin, kalau Titan adalah sosok laki-laki yang tidak seberengsek orang katakan. Kini, hujan pun tak kunjung jua reda, semilir anginnya mampu menerbangkan anak rambut Tania. Situasi seperti ini adalah situasi yang mungkin paling romantis---duduk berudua di halte bus, sambil menikmati aroma hujan yang begitu khas, meski seringkali suara petir terdengar, namun semuanya akan berlalu dan mendatangkan segaris melengkung yang memiliki ribuan warna indah yang disebut pelangi.
k a n g e n
Sementara berbeda dengan Jonathan yang kini masih berdiri di depan gerbang sekolah, karena hujan ia tidak bisa pulang, terpaksa ia harus menunggu hujan reda terlebih dahulu. Seharusnya ia sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu, namun Jonathan harus rapat di warung kopi belakang sekolah sebelum memutuskan untuk pulang, namun hujan membuatnya tidak bisa pulang saat ini.
"Woy!" Seseorang datang menghampiri Jonathan, dengan sebuah vespa antik, bajunya basah kuyup terkena air hujan.
Jonathan hanya mangap-mangap tidak percaya, "Lo? Ngapain lo? Kok di sini?" Tanyana.
"Gue lagi kabur dari rumah," katanya, sambil memakirkan sebuah motor vespa antik di sebelah Jonathan.
"Terus?"
"Terus gue ke sini."
"Kenapa ke sini? Kenapa bukan langsung ke rumah gue?" Tanya Jonathan.
"Ini ujan. Niatnya juga gue mau neduh di sini. Sebelum ke rumah lo, gue kan ngelewatin ini sekolah dulu, nah kebetulan lo di sini. Kita pulang, yuk, bareng si Kuntring, vespa antik kesayangannya gue," katanya.
"Eh, Din. Si Kuntringnya elo ini pasti bisanya cuma mogok di jalan doang. Lagipula, ya, ini ujan, ogah banget gue pulang ujan-ujanan!" Jonathan berseru. Ya, seseorang tadi adalah sepupu Jonathan, yang tak lain bernama Rega Darudin Prasetya atau lebih sering disebut dengan nama Udin.
"Yaelah, takut sama ujan. Hujan kan cuma rintik-rintik air yang jatuh ke bumi, masa takut?"
"Eh, hujan itu emang air. Tapi dingin, coy. Gue gak mau sakit karena ujan-ujanan, ah. Kalau ujannya ujan duit baru deh gue mau."
"*****. Kalau ujan duit, sih, gue juga mau!"
"Eh, lo kabur dari rumah? Kabur kenapa?" Tanya Jonathan.
"Sebel sama orang-orang di rumah, ngatain gue gila mulu," kata Udin dengan ekspresi wajah yang menyedihkan.
"Oh jadi mata batin lo masih kebuka?"
"Masihlah, kan bawaan orok."
"Kalau soal ramalan juga masih bisa lo?"
"Masih!"
Ya, Rega Darudin Prasetya ini adalah sepupu Jonathan yang memiliki kemampuan dapat melihat beberapa makhluk tak kasat mata. Hobinya menulis, dan ia pun sudah memiliki beberapa karya yang sudah terjual di seluruh toko buku di Indonesia. Ia bukan ahli dalam genre romance dan teen fiction atau science fiction, ia hanya pandai di genre horor, sesuai dengan anugerah yang ia punya---bisa melihat makhuk halus yang tak kasat.
"Eh, bentar, nyokap nelepon." Udin pun meraih ponsel dari dalam saku celananya, dan mengangkat panggilan masuk dalam ponselnya.
"Halo? Iya, Ma? Ngapain nelpon Udin? Udin lagi kabur ke rumah Paman Ali! Mamah gak usah cari Udin. Udin udah bahagia di sini. Udin gak mau pulang. Titik!" Setelah berbicara pada seseorang dalam ponselnya, Udin pun langsung memutuskan sambungan telepon dari kontak bernama 'Macan' atau kepanjangan dari 'Mama Cantik'
"Eh, lo kabur pake bilang-bilang ke rumah bokap gue, nanti kalau nyokap lo dateng ke rumah gue gimana? Aneh!" Ketus Jonathan.
"Eh, iya, yah. Kenapa gue bilang kalau gue kabur ke rumah Paman Ali, ya."
"****, sih, lo!"
"Kampret lo ngatain gue ****! Gini-gini gue motivator tau! Buku-buku gue udah mejeng di toko buku, dan saat ini juga gue lagi nunggu surat cinta dari penerbit." Udin berujar dengan nada sombong.
"Emang gue nanya? Enggak, kan?!"
"Nista amat lo! Dasar sepupu keparat!"
"Pinggir, deh! Gue mau cabut pulang! Tapi gue gak mau bareng lo!" Jonathan pun memutuskan untuk pulang, karena hujan deras pun berhenti, hanya gerimis kecil yang tersisa, mungkin sebentar lagi akan ada pelangi. Entahlah.
"Woy! Tungguin gue! Gue belum selesai ngomong! Minggu depan gue mau pindah ke sekolah ini!" Udin berteriak pada Jonathan yang semakin berlalu, Udin pun dengan segera menaiki vespa antiknya yang ia beri nama 'Kuntring', untuk mengejar Jonathan.
Bersambung ...
Titan

Jangan lupa vote komen, ya.
__ADS_1
Maaf kalau ceritanya jelek.