Titan'S

Titan'S
eps. 20


__ADS_3

Dua puluh :


Suasana di rumah Deo kini berubah menjadi suasana yang seperti ramai penuh gaduh, karena Jonathan dan Udin benar-benar terlihat tidak pernah ada bosannya untuk mendengarkan musik dangdut dengan volume speaker yang sangat tinggi, pada ponselnya. Sementara Ratu justru malah sibuk merencanakan acara menonton film di mini bioskop yang terdapat di rumah Deo ini. Lihatlah, Jevin justru malah duduk santai, sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja, sementara tangannya nampak sibuk membuka-buka majalah.


"Ck," Tania berdecak pelan, nampaknya ia sudah mulai tidak suka dengan pemandangan yang seperti ini.


"Kenapa?" Tanya Titan, Tania hanya menggeleng-geleng kepala.


"Rat," panggil Tania, kemudian Ratu pun menyaut dan menghentikan aktivitasnya dalam memilih-milih DVD Drama Korea yang terdapat di rak dekat televisi.


"Iya?" Sahut Ratu.


"Kalau emang enggak ada acara yang lebih penting. Sebaiknya gue pamit pulang, ya." Tania berujar dengan nada biasa saja.


"Yah, kenapa? Kita belum nonton loh," ucap Ratu.


"Gue enggak ada waktu buat nonton kayak gitu. Sebaiknya kalau emang enggak ada acara yang lebih penting, gue pamit pulang aja. Masih banyak yang harus gue kerjain juga. Sorry." Tania berujar dengan sedikit mengembangkan senyumnya.


"Rencana ulang tahun gue gimana?" Tanya Ratu.


Tania tersenyum, "Jevin udah mengatur semuanya." Tania langsung menoleh ke arah Jevin. Dan Jevin pun tersenyum.


"Iya. Gue udah ngerencanain sesuatu yang lo sendiri enggak tau, Rat." Jevin berujar sambil menaruh majalah di atas meja tanpa sedikit pun mengubah posisi duduknya.


"Serius?" Sahut Deo.


"Yaiyalah, gua lebih pinter daripada elo. Gua udah mikirin ini jauh-jauh hari. Gua punya rencana sama lo, tapi gua sendiri pun punya rencana sama diri gua sendiri. Apa pun bakal gue lakuin, sih. Karena gua udah antisipasi duluan, kalau emang rencana sama lo kebongkar, alias enggak rapi, yaaa gua masih punya rencana lain," jelas Jevin pada Deo, yang pada akhirnya mengubah posisi duduknya---menurunkan kedua kakinya yang ia letakkan di atas meja.


"Lo emang cerdas." Deo mengangkatkan dua jempolnya. Jevin hanya tersenyum miring.


"Terus, Tania tau dari mana, kalau lo udah ngerencanain semuanya?" Tanya Ratu.


"Gua chat dia," jawab Jevin dengan singkat.


"Oh." Ratu hanya ber-oh ria.


Sedari tadi, wajah Titan nampak malas. Titan seperti tidak suka dengan keberadaan Jevin di sini. Apalagi kalau Jevin sampai mencuri pandang pada Tania, Titan seperti terbakar, namun berusaha untuk tetap santai.


"Emangnya lo ngerencanain apa, Jev?" Tanya Ratu dengan wajah polos bertanya seperti itu, jelas Jevin menyungginkan seulas senyum miringnya yang khas.


"Rahasia dong," singkat Jevin.


"Yah, kok gitu."


"Udah. Nanti juga lo bakalan tau." Jevin berujar sambil meraih kupluk kepala yang terletak di atas meja dan langsung memakainya. Memakai kupluk kepala emang menjadi ciri khas bagi Jevin. "Yaudah kalau gitu, gua pamit pulang," sambung Jevin.

__ADS_1


"Lo mau pulang ke mana, Jev? Bali? Gak mungkin banget." Tiba-tiba Deo bertanya sambil menaikan alisnya sebelah.


"Hehe, iya, sih. Kemungkinan mungkin malem ini gue bakal nginep di hotel."


"Yaelah, buang-buang duit. Mending lo nginep di sini. Gratis, gak usah bayar. Tinggal lo pilih aja mau di kamar mana. Kebetulan trio dangduters juga mau pada nginep malam ini, biar rame," ucap Deo.


"Iya. Mending lo nginep di sini aja," sambung Ratu.


"Iya, Jev. Lo mending nginep di rumah Deo ini. Kalau harus nginep di hotel kan nanti sayang duit lo. Mending duit lo, lo pake ke hal-hal yang lebih penting, masalah tidur mah udah nginep aja di sini," ucap Tania. Jevin hanya mengangguk-ngangguk pelan, sambil tersenyum samar.


"Oke. Malam ini gua nginep di sini." Jevin berujar dengan sigap.


"Nah, gitu dong. Yaudah, gue pamit, ya. Mau pulang. Udah malem ini. Besok kan sekolah, ada latihan drama juga nanti pulang sekolah besok, jadi harus banyak-banyakin instirahat. Hehe," ujar Tania.


"Lo mau pulang, Tan? Beneran? Yah, kita kan belum baper-baperan." Ratu berujar dengan nada tidak semangat.


"Itu bisa kita lakuin di lain waktu." Tania berujar dengan tersenyum.


"Hm. Yaudah, deh." Ratu hanya pasrah saja. "Eh, tapi, lo mau pulang sama siapa? Sendiri?" Tanya Ratu.


"Iya sendir---"


"Enggak. Tania sama gue. Gue yang bakal nganter dia pulang." Titan berujar dengan sigap, membuat Tania langsung menoleh ke arah Titan---yang sedari tadi berdiri di samping kanannya.


"Oh, yaudah deh kalau emang Titan mau nganter lo pulang, Tan. Jadi kan lo gak sendirian. Gue takut aja kalau misakan lo kenapa-napa di jalan, kalau ada Titan kan ada yang ngejagain." Ratu berujar dengan mata yang seolah membuat Tania gugup.


"Yaudah, gua sama Tania pamit pulang," ujar Titan. Ratu hanya mengangguk dan mengankat ibu jarinya tertanda oke.


Titan dan Tania pun berjalan menuju ke arah pintu keluar rumah. Ada perasaan gugup dalam hati Tania, namun Tania nampak menikmati perasaannya tersebut. Sementara Titan, ingin rasanya menghentikan waktu ketika berada di dekat Tania. Baginya, kebahagiaan kecilnya yang sederhana adalah bisa menghabiskan waktu bersama orang terkasih, dan Tania termasuk ke dalamnya. Tinggal menunggu waktu yang tepat, untuk Titan benar-benar mengutarakan perasaannya pada Tania.


Kangen


Semilir angin malam seakan tidak mampu menerbangkan semua angan indah yang terbayang dalam ingatan. Bahkan mungkin, cahaya rembulan pun tidak akan pernah padam untuk terus menerangi ketika malam gelap gulita datang menghampiri. Tidak ada yang tahu, kepada siapa cinta datang menghampiri, kapan cinta itu akan datang. Namun, terasa saat ini, Titan terjebak ke dalam perasaan yang sebelumnya tak pernah ia percayai, Jatuh cinta pada pandangan pertama.


Seperti terjebak ke dalam bualan imajinasi sastra yang menyulitkan, namun terlihat mudah dalam menangkap apa yang diceritakan. Titan seperti masuk ke dalam karakter dalam fiksi yang sesungguhnya ia sendiri tidak percaya akan semua hal yang berbau seperti dongeng atau pun fiksi. Kali ini Titan seperti terjebak.


Titan melajukan motor dengan kecepatan standar, sementara Tania yang duduk di belakang nampak menikmati pejalanan. Meskipun memakai helm, Semilir angin mampu menerbangan anak rambut Tania dibiarkan terurai.


Sesekali Titan mencuri pandang pada kaca spion, membuatnya benar-benar mengerti, tentang perasaan apa yang terselip pada hatinya untuk gadis yang sedang ia boncengi tersebut.


Kemudian, Titan pun memberhentikan motornya di bahu jalan yang terlihat tidak terlalu ramai, hanya beberapa kendaraan saja yang kerap melintas di jalan raya ini.


"Loh, ke-kenapa berhenti di sini?" Tanya Tania.


Titan pun membuka helmnya, "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."

__ADS_1


"Sesuatu apa?" Tanya Tania. Lalu, Tania pun turun dari motor Titan, dan langsung membuka helmnya.


Tania melihat serius ke arah Titan, dengan segera Titan pun langsung turun dari motor dan memakirkan motornya tersebut, setelah itu langsung menghampiri Tania dengan wajah yang terpasang santai, tapi mungkin jauh dari dalam hatinya tersimpan berjuta perasaan aneh yang saat ini sudah ia mengeti, dan mungkin juga detak jantungnya telah berubah menjadi detak cinta yang seringkali berdetak jauh lebih cepat dari detakan biasanya.


"Ada apa? Kamu mau ngomong apa?" Tanya Tania lagi.


"Kita dekat, namun tidak terikat," jelas Titan.


Tania menyerngit, "maksud kamu?"


Titan menghela napas pelan, kedua tangannya ia masukan ke dalam saku jaketnya, "Aku gak tau harus ngomong dari mana, tapi yang jelas aku pernah membicarakan ini kan sebelumnya sama kamu?" Titan berujar, membuat Tania sedikit tidak mengerti dengan apa yang Titan bicarakan tersebut.


"Bicara tentang apa?" Tanya Tania.


Kemudian, Titan pun menatap sepasang mata indah Tania dengan begitu lekat. Memantapkan perasaan yang bersarang dalam hatinya. Tania pun terlihat seperti mencari jawaban di raut wajah Titan, sebenarnya apa yang sedang Titan bicarakan? Tania semakin menebak-nebak dalam pikirnya.


"Tentang jatuh cinta pada pandangan pertama," jelas Titan. Tania pun menatap Titan dengan tatapan yang benar-benar serius.


Tania terdiam.


"Kali ini, Tuhan udah menyadarkan semuanya, Tan. Dan aku udah mulai gak bisa mengendalikan semuanya. Perasaan ini. Perasaan yang tak wajar. Rasa ingin memiliki dengan sepenuhnya. Dan saat ini, waktu sudah membuatku mengerti tentang kekuatan rasa itu sendiri, yang semakin berusaha untuk aku pendam, semakin sulit untuk aku mengendalikannya." Titan berujar dengan nada pelan, Tania masih saja diam menatap Titan dengan seribu tanda tanya dalam pikirnya.


Titan tersadar dengan kebimbangan Tania. Sedetik ia memalingkan wajahnya untuk melihat sekitar, Titan langsung kembali menatap Tania dengan meraih kedua tangan Tania dalam genggaman.


"Aku cinta sama kamu," ucap Titan.


"Hah?" Tania terkejut pelan.


"Iya. Aku cinta sama kamu." Titan mengulang kalimatnya.


"Kamu tau, ada banyak ribuan duri yang menancap abadi dalam hati aku. Tapi kehadiran kamu dalam hidupku, mampu mengusir semua duri itu. Kamu adalah kebahagiaan kecilku, Tania," ucap Titan dengan sangat pelan dan lembut, serta mengeratkan genggaman tangannya.


Mata Tania berkaca-kaca, ia terdiam seribu bahasa.


"Ribuan bintang kini menyaksikan, cahaya temaram bulan juga menyaksikan, dan aku akan menyatakan segenap perasaanku ke kamu. Aku ingin kamu menjadi satu-satunya perempuan yang nantinya akan menemani masa tuaku. Aku ingin, kita pacaran," jelas Titan. Kali ini air mata Tania menetes.


"Ta-tapi, apa yang membuat kamu jatuh cinta secepat ini sama aku?" Tanya Tania.


"Cinta datang dan bersarang pada hati itu bukan atas seberapa lama kita saling kenal. Tapi, sejauh mana kita bisa menerima segala kekurangan dan kesempurnaan yang dimilikinya." Titan berujar pelan dan semakin meyakinkan Tania.


Tania meneteskan airmata haru.


"Sekali lagi. Aku hanya mencintai tiga wanita di dunia ini; Ibuku, Adikku, dan kamu." Titan berujar sembari mengusap pipi Tania yang sedikit basah karena air mata. Lalu, Titan meraih Tania dalam dekapannya. Pelukan hangat yang membuat para gadis di luar sana mungkin akan iri melihatnya.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2