

Delapan :
Semburat senja mulai menampakkan keindahannya, mentari tenggelam meninggalkan berjuta kisah menarik dalam satu hari. Saat ini, Tania tidak pernah menyangka bahwa akan sedekat ini dengan Titan. Entah takdir apa, mengapa Tania menjadi sedekat ini, padahal dulunya mereka adalah dua orang yang tidak saling mengenal, tidak saling menegur sapa, atau bahkan untuk saling melempar senyum saja tidak pernah---meskipun mereka berada dalam satu sekolahan. Tapi kini, keadaan seolah terus membuat mereka selalu terjebak bersama, terlebih Titan yang terlihat sangat jelas menyukai Tania---dari caranya memperlakukan Tania itu berbeda. Sepertinya memang, Tania mempunyai daya tarik tersendiri bagi seorang Titan.
Seperti halnya saat ini, setelah Titan dan Tania diam-diam mencari tahu alasan kenapa Ajeng---Adik dari Titan, tidak mau dijemput oleh Titan dengan alasan kerja kelompok padahal nyatanya ada sesuatu dibalik itu semua. Kini pun, Tania dan Titan sudah berada di atas jembatan penyebrangan, keduanya saling menatap ke depan, sesekali melihat ke bawah, banyak kendaran mobil dan motor yang berlalu lalang di bawah sana. Semilir angin mampu membuat rambut Tania menari-nari, membuat pesonanya semakin terpancar. Wajahnya yang polos dengan kecantikan yang natural, membuat Tania menjadi sosok gadis yang terlihat sederhana tapi cantik.
"Kenapa lo ngajak gue ke sini, Tan? Harusnya sekarang itu gue ngajak adek gue pulang. Gue gak mau sampai adek gue kenapa-napa, dia masih kecil, gak boleh pacaran, apalagi cinta-cintaan. Gue gak mau aja sampai dia salah jalan," kata Titan dengan suara khasnya yang serak-serak basah, lalu Tania menoleh ke arah Titan seraya melemparkan senyum tipis yang memesona.
"Lo gak perlu takut dan kuatir sama adek lo. Justru dengan membiarkan dia mengenal cinta itu bisa membuatnya sedikit memahami. Kalau pun nanti dia harus patah hati, setidaknya dia tahu bagaimana caranya bahagia dan tersenyum dengan perasaan cinta yang dia miliki. Iya, kan?" Ujar Tania, Titan pun menoleh ke arah Tania, dan membalikan badannya---sambil berposisi menyandarkan punggungnya ke besi jembatan itu.
"Tapi dia masih kecil, masih SMP. Belum saatnya dia ngerti tentang cinta. Lo tahu kan, remaja zaman sekarang itu pacarannya kayak gimana? Terlalu berlebihan, dan gue takut kalau itu terjadi sama adek gue. Adek gue itu anak baik-baik, gue gak mau sampai adek gue salah pergaulan. Sebagai abang, sekaligus pengganti Ayah dan Ibu yang udah lama meninggal, gue pengin jadi yang terbaik buat adek gue dan gue gak mau sampai dia salah pergaulan, karena kalau sampai dia salah pergaulan maka orang pertama gue salahin adalah diri gue sendiri, dan gue gak bakal bisa maafin diri gue sendiri." Titan berujar serius, dengan tatapan yang menyorot lurus pada Tania. Tania terdiam sejenak, lalu kembali tersenyum tipis.
"Lo sendiri yang bilang, adek lo anak baik-baik, maka dari itu lo juga harus yakin, kalau adek lo gak bakal macem-macem. Gue aja yakin, seyakin-yakinnya orang yakin, bahwa adek lo gak bakal salah pergaulan," jelas Tania.
"Tapi ..."
"Udah lo tenang aja, Tit. Percaya deh sama adek lo. Adek lo gak bakal berbuat macem-macem," ucap Tania.
"Gue bakal berusaha buat percaya, dan gue bakal tetap berusaha buat ngarahin adek gue, atau cuma sekedar ngingetin. Tapi ... Jangan panggil gue 'Tit', agak geli kedengerannya, apalagi kalau elo yang manggil, gemes gue." Titan berujar disertai senyum miringnya yang menghanyutkan.
"Kalau gitu, gue setujut. Ya terus mau gue panggil apa? Kalau gue panggil lo Tan, gue berasa manggil diri gue sendiri. Nama panggilan kita sama, sih."
"Sayang juga boleh, deh. Karena udah lama juga gak ada yang manggil gue sayang, dan kayaknya lo cocok manggil gue sayang." Titan berujar pelan dan sedikit menggoda, senyum manisnya seketika itu mengembang, membuat Tania tersenyum menggeleng-gelengkan kepala.
"Dih, nyebelin, ya. Tadi aja ngelarang-larang adeknya buat gak sayang-sayangan, sekarang? Ngerasain juga kan lo?" Ledek Tania.
"Eit, jangan salah. Sayang-sayangan versi gue itu beda, gak harus pacaran. Kalau gue emang iya ngelarang adek gue buat pacaran. Karena ya seperti yang kita tahu, pacaran anak zaman sekarang itu udah main mamah-papah, geli dengernya," ujar Titan dengan tersenyum remeh, Tania pun menyerngit.
"Kayak on the spot aja ada versinya. Em, Maksudnya sayang-sayangan gak harus pacaran, itu sejenis hubungan tanpa status? Sejenis teman tapi mesra? Atau teman rasa pacaran? Ya, sama aja pacaran-pacaran juga, kan?" Tanya Tania. Titan tersenyum tipis.
"Enggak. Bukan itu. Sayang-sayangan versi gue itu emang beda gak harus pacaran. Bukan teman tapi mesra juga. Tapi ... Perasaan sayang dan cinta yang tulus disertai kemantapan jiwa untuk ngajak cewek ke KUA langsung," jelas Titan, senyumnya mengembang lagi.
"Masa?" Ledek Tania.
"Iyalah. Karena bagi gue, pacaran itu komitmen, satu kali seumur hidup, kalau perlu sampai nikah, tua dan mati. Tapi cinta itu gak harus juga pacaran, gak ada kata pacaran juga dalam kamus gue. Gue penginnya, gue cuma sekali ngerasain cinta sama satu cewek, selamanya. Jadi nanti gak usah pacaran, langsung ke pelaminan aja. Hehe." Titan berujar santai. Mata sayunya yang berseri tertuju lurus pada Tania---yang berdiri tepat di samping kirinya. Gayanya santai, dengan kedua siku tangannya ke belakang---bersandar ke besi jembatan.
"Pantes, pantes," ujar Tania dengan nada yang meledek dengan sedikit menggelengkan kepala.
"Pantes? Maksudnya?" Tanya Titan menyipitkan matanya dan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Tania.
"Dih, masih aja sok polos. Pantes aja lo disebut-sebut raja PHP di sekolah. Perkataan lo itu udah kayak Arjunanya cinta banget. Pantes aja banyak cewek yang meleleh sama lo, dan banyak juga yang kebaperan sama lo, karena kata-kata lo melebihi sang pujangga, Tit." Tania berujar dengan nada meledek dan tawa kecil, Titan pun tersenyum.
"Oh, jadi lo juga ikut meleleh sama kayak mereka?" Tanya Titan.
"Sayangnya enggak." Tania berujar dengan nada meledek, membuat Titan hanya mampu memandangangnya dengan senyuman.
Kemudian, Titan pun kembali membalikan badannya dan menatap lurus ke arah di depannya. Sorotan mata Titan terlihat penuh makna, sesekali Tania mencuri pandang ke arah Titan. Semilir angin membuat rambut bagian depan Titan---yang sedikit gondrong itu, mampu menari-nari terhempas pelan oleh semilir angin. Ini perasaan aneh yang pertama kali dirasakan oleh Tania, nyaman dan tenang. Padahal, Tania sempat berpikir buruk mengenai Titan, karena memang dari cara Titan memakai baju seragam saja sudah urakan, tidak rapi, dan berantakan, mencerminkan sesosok murid dengan berjuta kenakalan. Apalagi, di sekolah juga Titan dikenal sebagai cowok yang selalu memberikan harapan palsu pada beberapa cewek di sekolah. Tapi, saat ini Tania sadar, bahwa gaya berpenampilan buruk seseorang belum tentu sama dengan perilakunya, atau sebaliknya. Meskipun banyak rumor buruk mengenai Titan, belum tentu juga Titan seburuk itu.
"Oh iya. Gue mau tanya sama lo. Apa lo percaya dengan cinta pada pandangan pertama?" Tiba-tiba Titan menanyakan hal tersebut pada Tania. Tania langsung menoleh ke arah Titan, detik kemudian Titan juga menoleh ke arah Tania, terlihat sorot mata Titan yang begitu menyiratkan sesuatu yang tidak mudah dideskripsikan.
__ADS_1
"Kenapa lo nanya kayak gitu?"
"Enggak. Gue pengin tahu aja. Pengin tahu jawaban lo kayak apa," jelas Titan.
"Cinta pada pandangan pertama. Gue rasa itu ... Sejenis apa, ya. Magic mungkin. Hipnotis. Iya, gak, sih?" Kata Tania. Tania terlihat sekali tidak tahu harus menjawabnya seperti apa, karena memang ia tidak paham betul mengenai hal tersebut. "Kalau ditanya percaya atau enggak percaya. Gue percaya, sih. Banyak juga yang pernah ngerasain kayak gitu. Iya, kan? Bagi gue, cinta pada pandangan pertama itu ... Hampir sebelas dua belas lah sama kayak kita terkena hipnotis, seketika itu pikiran kita tersugesti buat jatuh cinta ke dia. Mangkanya kan suka ada pepatah; dari mata turun ke hati," jelas Tania. Titan pun tersenyum.
"Jawaban lo kreatif banget, ya. Jadi intinya, lo percaya?" Tanya Titan.
"Percaya. Kalau lo?"
"Kalau gue awalnya itu gak percaya. Karena gue belum pernah ngerasain hal itu. Tapi menurut gue, fiksi banget aja gitu, kenapa bisa seseorang jatuh cinta saat pada pandangan pertama, itu sulit banget buat diri gue. Gue aja sulit buat percaya sama orang yang udah lama gue lihat, apalagi yang baru dikenal. Dalam kasus ini pun, sulit buat gue ngasih hati gue gitu aja sama orang yang baru gue lihat atau pada saat pandangan pertama sama cewek. Intinya, hati gue itu terlalu sulit untuk jatuh hati." Titan berujar pelan.
"Itu tandanya lo nutup mata dan hati lo. Gue yakin, suatu saat juga lo pasti ngerasain jatuh cinta pada pandangan pertama. Gue sendiri juga gak tahu sih rasanya. Tapi gue percaya sama jatuh cinta pada pandangan pertama," jelas Tania.
"Iya. Sekarang pun gue sadar, dan gue percaya tentang jatuh cinta pada pandangan pertama, untuk pertama kalinya gue percaya akan hal itu. Karena kehadiran seseorang dalam hidup gue, yang mampu bikin hidup gue jauh lebih berwarna."
"Siapa?" Tanya Tania.
"Nanti juga lo tahu."
"Oh." Tania hanya ber-oh ria, seraya mengangguk pelan. "Kalau tentang cinta pertama lo percaya gak?" Sambung Tania dengan melontarkan pertanyaan pada Titan.
Titan menggeleng pelan disertai senyum miring yang tipis, "gue remedial kalau soal cinta. Jadi, gue gak punya jawaban atas pertanyaan lo. Percaya atau enggak, ya gimana nanti. suatu saat mungkin gue bakal seratus persen percaya dengan kekuatan cinta," jelas Titan.
"Oh jadi gitu. Gue kira lo ahli dalam urusan percintaan. Terus ... Predikat lo di sekolah yang disebut-sebut sebagai raja PHP itu cuma tempelan doang, dong? Tapi banyak juga sih yang ngerasa di-PHP-in sama lo di sekolah."
"Kadang hidup gue selucu itu, Tan. Faktor utama sih dari wajah kayaknya. Gue itu terlalu ganteng mungkin, mangkanya cewek selalu kebaperan saat gue deketin," jelas Titan, suara khasnya terdengar pelan dan mampu membuat bibir Tania mengembangkan seulas senyum, meski tipis.
"Lucunya gue itu beda, gak bisa bikin orang ketawa, tapi justru malah bikin orang kangen. Faktanya aja deh, gue emang ganteng, kan?" Titan berujar santai.
"Iya, sih, lo ganteng. Jadi intinya nanti kalau lo deket sama cewek, lo harus tanya dulu sebelum dia salah paham sama lo, kira-kira dia baper atau enggak dideketin sama lo," kata Tania seolah memberikan nasehat pada Titan.
"Oh gitu. Berarti pertanyaan itu berlaku juga buat lo dong? Lo kan cewek yang sekarang lagi berdiri deket sama gue. Kira-kira lo baper gak berada deket sama orang yang gantengnya gak manusiawi kayak gue gini?" Titan melontarkan pertanyaan yang diusulkan Tania, membuat Tania lagi-lagi tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Em, sayangnya gue gak baper. Biasa aja," kata Tania pelan.
"Ah, serius? Kenapa? Kenapa lo enggak kayak mereka yang kebaperan pada saat gue deketin? Gue rela deh kalau harus masuk kantor BK karena dituduh PHP-in lo," ucap Titan.
"Ya itu kan mereka, bukan gue. Beda kali. Gue bukan mereka."
"Jawaban lo singat, padat, jelas. Gue suka," singkat Titan melemparkan senyum tipisnya untuk Tania. Lalu Titan menghela napas pelan dan memalingkan wajahnya sejenak ke arah samping kanan, lalu detik kemudian menoleh lagi ke arah Tania---di samping kiri Titan. "Oh, iya. Tadi lo nanya tentang cinta pertama sama gue, emangnya lo pernah ngerasain cinta pertama gitu?" Satu pertanyaan terlontar dari mulut Titan. Pertanyaan yang tidak disangka-sangka Tania.
"Pernah, kok. Gue pernah ngerasain cinta pertama, waktu gue SMP, dan itu indah banget, pokoknya susah banget buat gue jelasin. Intinya pada waktu itu, gue ngerasain jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Dan lo tahu? Cinta pertama itu gak bakal bisa dilupain, meskipun kisah gue sama dia itu gak happy ending, alias berujung tidak pasti, tapi setidaknya gue seneng pernah jatuh cinta. Tapi sekarang gue dan dia udah punya kehidupan masing-masing, dan kayaknya gak bakal bisa bersatu, dia udah tunangan sekarang," jelas Tania.
"Serius? Emangnya apa yang lo suka dari dia?" Tanya Titan.
"Dia baik, sudah pasti. Sopan, rapi, pinter, jadi bintang di kelas. Dan yang paling penting, dia ganteng."
"Ganteng?" Titan melontarkan pertanyaan yang sama sekali ia tidak mengharap sebuah jawaban. Titan hanya tersenyum miring, dengan tatapan yang teralihkan ke bawah.
"Iya. Dia dulu paling ganteng di sekolah. Gue masih simpen fotonya di ponsel gue. Lo mau lihat gak?"
__ADS_1
Titan pun menoleh ke arah Tania, "Boleh. Pengin tahu aja, gantengan mana sih sama gue."
"Nih." Tania membeberkan foto cowok tersebut pada Titan. Titan pun merah ponsel Tania untuk melihat lebih jelas sosok cowok yang pernah membuat Tania jatuh cinta itu.
"Kayak gini ganteng? Masih gantengan gue kali." Titan berujar songong, lalu tersenyum remeh.
"Yeh, dia dulu paling ganteng di sekolah."
"Kalau dulu gue sekolah di sekolah lo, udah pasti gue yang paling ganteng."
"Dih, sombong banget."
"Kita lihat faktanya aja."
Tania menghela napas. Tania pun tidak bisa menampik, bahkan sesekali Tania bergumam dalam hati, 'ini orang tingkat percaya dirinya di atas rata-rata banget.' Namun di sisi lain, Tania bergumam lagi, 'ya iya, sih, dia emang ganteng. Wajar aja kalau ganteng ngaku ganteng.' Kali ini, Tania sedikit demi sedikit mampu memahami karakter seorang Titan, meskipun sampulnya terlihat buruk, namun Tania justru merasa kalau Titan adalah cowok yang sangat menghargai perasaan cewek. Apalagi saat Titan mengatakan kalau dirinya sangat remedial dalam urusan cinta, seketika itu membuat Tania berpikir kembali, 'dia pasti enggak akan mau mempermainkan cinta.' Segala pemikiran negatif Tania mengenai Titan, seketika itu terbuang sedikit demi sedikit.
"Lo mungkin belum pernah ngerasain jatuh cinta, kan? Jatuh cinta untuk pertama kalinya. Bener kata Agnez Monica, terkadang cinta itu gak ada logika. Menurut lo cowok yang pernah bikin gue jatuh cinta ini biasa aja, tapi menurut gue luar biasa. Ya emang, sih, kalau dibandingin sama lo, lo jauh lebih ganteng daripada dia. Bedanya mungkin, dia biasa dan bisa bikin gue jatuh cinta, dan lo itu luar biasa tapi gak bisa bikin gue jatuh cinta," kata Tania.
"Siapa bilang gue gak pernah ngerasain apa itu yang namanya cinta? Gue pernah ngerasain kok, sama dua wanita sekaligus," jelas Titan, matanya tertuju lurus pada Tania.
"Dua wanita sekaligus? Lo playboy?"
Titan tersenyum miring, dan menggelengkan kepala pelan, "Iya. Dua wanita sekaligus. Dua wanita yang udah bikin gue ngerasain apa itu cinta. Mereka adalah ... Nyokap dan Adek gue. Nyokap udah ngajarin arti cinta tulus seorang Ibu ke gue, dan Adek gue udah ngajarin tentang arti cinta dalam persaudaran Adik dan Kakak. Di dunia ini, gue bakal mencintai tiga wanita sekaligus, Nyokap, Adek, dan sesosok perempuan yang nantinya bakal jadi pendamping hidup gue yang bersedia menemani masa tua gue," jelas Titan, seulas senyum pun mengembang di bibirnya. Begitupun dengan Tania, Tania tersenyum mendengar jawaban Titan yang sangat memuaskan itu.
"Ternyata lo gak seburuk apa yang selama ini gue pikirin, Tit," ucap Tania seolah menunjukan rasa kagumnya pada sisi lain---yang tersembunyi, dari seorang Titan.
"Gue pernah denger lo ngobrol sama temen lo di UKS kalau ngasih perhatian itu bukan cuma ke pacar aja, segala bentuk perhatian itu gak harus sama pacar aja. Dan menurut gue juga, cinta itu gak harus ke seseorang yang nantinya bakal jadi pasangan kita aja, tapi banyak cinta-cinta lain, bisa ke bokap, ke nyokap, ke Kakak, ke Adek," jelas Titan.
"Jawaban lo bikin gue malu sendiri. Orangtua lo pasti bangga punya anak kayak lo."
"Orangtua gue udah lama meninggal. Mereka udah jadi bagian dari para bintang-bintang penghias malam." Titan berujar pelan, dan senyumnya masih mengembang tipis.
"So-sorry, gue gak ada maksud untuk bikin lo inget sem---" perkataan Tania terputus.
"Enggak apa-apa. Gue udah biasa. Harusnya gue yang bilang makasih sama lo, Tan," ucap Titan.
"Makasih untuk apa?"
"Terkadang, gue sendiri ngerasa kalau hidup gue itu udah kayak di Neraka. Penuh api, kebencian, dan kekesalan. Tapi, Tuhan maha adil, gue bisa kenal sama lo, dan gue ngerasa lo itu udah kayak udara kebebasan bagi para tahanan korban yang hatinya terluka sangat parah di masa lalu," jelas Titan, tatapannya kali ini sangat serius, membuat Tania terdiam untuk mencerna perkataan Titan tersebut.
"Ke-kenapa gue?"
"Itu sebabnya gue menanyakan tentang jatuh cinta pada pandangan pertama ke lo. Apa lo ngerti maksud gue?" Jelas Titan dengan sorotan mata yang penuh makna tersirat.
DEG! Tania terdiam sejenak, lagi-lagi perkataan Titan membuatnya harus berpikir dan mencari makna dari setiap perkataan yang terlontar dari mulut Titan. Tania menatap lekuk wajah Titan, seperti berusaha mencari jawaban dari raut wajah Titan.
"Gu-gue masih belum ngerti kenapa lo nanya kayak gitu ke gue." Tania terlihat polos, karena memang ia belum paham sepenuhnya tentang apa yang dikatakan Titan.
"Apa perlu gue jelasin? Kalau menurut gue, manusia itu dianugerahi oleh Tuhan memiliki empat mata. Dua mata yang sangat jelas kita tahu, ada pada wajah kita. Sementara dua mata lagi, berada ... satu di otak, dan satunya lagi di hati. Gue rasa tanpa gue harus ngejelasin ke lo. Cepat atau lambat, lo pasti bakal ngerti, karena lo punya empat mata dalam diri lo," jelas Titan tersenyum.
Tania terdiam.
__ADS_1
Bersambung ....