

Tujuh belas :
"Cinta datang kepada siapa yang berani untuk siap jatuh dan terluka, siap menangis dan kecewa. Tapi, itu semua hanya sebuah proses menuju bahagia." --- Titan Wirasena.
"Kita selalu menemukan ada rasa yang indah, ketika sedang bermimpi. Itu sebabnya, kita selalu menganggap bahwa perasaan indah itu bahkan terlalu bagus untuk jadi nyata. Bermimpilah dengan mata terbuka, agar semua terlihat nyata." --- Tania Alexandra.
"Selalu saja begitu, bahwa keturunan Hawa pun tidak pernah tahu, kalau ada keturunan Adam yang merindukannya di sini." --- Titan Wirasena
"Karena cinta ... Adalah sebuah rasa yang memiliki melodi indah disetiap nada-nadanya." --- Tania Alexandra.
"Kita dekat, namun tak terikat." --- Titan Wirasena


Titan Wirasena
Kangen
Tania dan Titan pun terpaksa harus mengikuti kemauan Udin, dan kawan-kawan untuk melihat acara dangdut hajatan bersama-sama. Tania benar-benar canggung, karena tangan kirinya diborgol bersama tangan kanan Titan. Itu semua ulah si Udin yang tidak jelas maksud dan tujuannya itu apa memborgol tangan Tania dan Titan. Sementara Titan terlihat justru menikmati moment-moment langka seperti ini. Meskipun Titan tidak terlalu suka menonton dangdut hajatan, namun jika suasananya seperti ini, yaa, ia sendiri pun seolah menikmatinya.
"Tan? Mau ke mana?" Teriak seseorang dari belakang. Titan menoleh karena merasa namanya terpanggil.
"Eh elo, Yo. Gua mau nyusul trio kampret yang lagi otw ke konser dangdut hajatan," ucap Titan datar. Ya, orang yang memanggil Titan barusan adalah Deo.
Deo mengernyit aneh, "konser dangdutan? Di mana?" Tanya Deo.
"Gua juga enggak tau. Tapi yang pasti sekarang itu trio kampret lagi pada otw ke sana, dan gue sama Tania mau nyusul mereka." Titan menjelaskan dengan nada yang biasa-biasa, padahal mungkin dalam hatinya ia menikmati moment seperti ini.
"Tapi, kenapa tangan kalian diborgol?" Tanya Deo lagi.
"Itu alasan kenapa gua nyusul trio ubur-ubur itu ke konser hajatan, karena kunci borgol ini ada di si Udin," jawab Titan.
"Udin, Udin siapa?"
"Sepupunya Jonathan."
"Yaudah kalau gitu, gue ikut deh ke acara konser hajatannya. Siapa tau di acara hajatan, gue bisa dapetin cewek. Ah, kalau pun nanti gak dapet cewek, seenggaknya nanti gue bisa numpang makan di sana." Deo berujar dengan nada sumringah, memybuat Titan menautkan alisnya sebelah. Lalu, tanpa basa-basi pun Deo langsung berlari kecil menyusul Jonathan dan kawan-kawan yang sudah lebih dulu berjalan.
Titan menghela napas, sambil menggeleng-geleng kepala pelan, terlihat tangan Titan yang melipat di bawah dada bidangnya, membuat tangan kiri Tania pun ikut terseret. Detik kemudian, Titan pun menyadari akan hal itu, dan langsung menoleh santai ke arah Tania, disertai dengan senyum tipis yang memesona.
"Dih, kok pipinya merah, sih? Gerogi, ya?" Titan justru malah membuat kecanggungan Tania semakin terlihat. Tania hanya mampu menyembunyikan pipinya yang memerah. Tania tidak pernah merasa secanggung ini. Mungkin Tania masih merasa malu dengan ucapannya di kantin tadi, yang mungkin juga Titan mendengar ucapan Tania itu.
Senyum Titan semakin lebar, sorot matanya semakin berseri dan tertuju pada satu titik, titik yang paling indah dalam pandangan matanya. Ya, Tania. Entah mengapa, Tania itu terlihat seperti sesuatu yang paling indah dalam pandangannya.
"Mungkin jika di dunia ini ada spesies yang bernama kamu, aku berani bertaruh, enggak akan ada yang mampu mendeskripsikan kamu." Titan berujar pelan dan berakhir dengan senyuman.
Tania pun memberanikan diri untuk melihat ke wajah Titan. Tania menahan rasa malu dan canggungnya, Tania berusaha memasang wajah selayaknya ia sedang tidak menyembunyikan perasaan apa-apa.
"Lama-lama kamu itu udah kayak Mario Teguh," ucap Tania.
"Masa?" Titan justru malah semakin membuat Tania tak dapat berkutik apa-apa.
"Titan!" Tania berseru dengan suara pelan, dan Tania tidak mampu menyembunyikan wajah kesalnya. Titan hanya terkekeh geli. Tania bahkan sangat menggemaskan. Walau berusaha supaya Titan tidak tahu kalau Tania sedang melawan rasa malunya, tapi tetap saja, Titan berusaha untuk merayunya.
"Hehe. Yaudah, iya. Kita jalan lagi aja, yuk, keburu Deo, Jonathan sama yang lainnya ngilang." Titan langsung mengalihkan pembicaraan. Tania menghela napas dan mengangguk pelan.
Ini memang tidak romantis, tangan diborgol dengan kunci yang entah ada di mana, membuat mereka seolah tidak akan pernah bisa terpisahkan. Selalu bersatu. Dan takdir selalu memiliki cara untuk Tania dan Titan bersatu. Titan adalah sosok yang selalu mau berterus terang tentang apa yang sedang ia rasakan dalam hatinya. Ia menyukai Tania. Menyukai kesederhanaan Tania. Menyukai apa pun yang menyangkut dengan Tania. Karena Tania, berhasil memikat hati Titan yang sekeras batu. Entah dari mana rasa itu datang, tapi Titan merasa kalau perasaanya itu adalah perasaan yang paling indah. Meskipun nanti Titan harus melewati sebuah rintangan, ia akan siap terjatuh. Karena siap untuk merasakan cinta, maka harus siap juga terjatuh.
"Kenapa kita kenalnya di kelas dua SMA, ya? Kenapa enggak dari pas kita masuk sekolah, kan kita selama ini satu sekolahan." Titan berujar di sela-sela berjalan.
Tania menggelengkan kepala pelan, "Siapa bilang? Aku kenal kamu, kok. Kamunya aja yang gak kenal sama aku. Jarang masuk, sih," ucap Tania. Titan pun langsung menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
"Hehe. Iya."
"Kalau kamu sering masuk di hari senin, pasti kamu kenal sama aku, Tan. Aku anggota PMR. Ya, emang, sih, aku gak sebegitu terkenal kayak kamu." Tania mulai memperpanjang obrolan tersebut.
"Emangnya aku sepopuler itu, ya?" Tanya Titan tersenyum jahil.
"Hm."
"Kok cuma hm aja, sih?"
"Ya terus kamu maunya aku jawab apa?"
"Jawab apa kek, gitu. Yang lebih variatif, Misalnya; iya, sayangku Titan, kamu itu terkenal, murid terpopuler, paling ganteng, cute, manis, banyak cewek-cewek yang suka dan naksir sama kamu, bahkan semua cewek di sekolah suka sama kamu, itu sebabnya kamu dituduh PHP-in anak orang mulu, yaa karena kamu tuh ganteng. Kayak gitu misalnya." Titan berujar dengan jahilnya, membuat Tania justru menghentikan langkahnya karena mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Titan.
Sebelah tangan Tania---yang tidak diborgol, menyentuh kening Titan secara utuh, "Ini anak pasti udah kesambet. Tapi kok enggak panas, ya?" Tania berujar, membuat ranum sungging di bibir Titan mengembang.
"Panasnya bukan di kening, tapi di sini," ucap Titan. Telapak tangan Tania yang sebelumnya sempat menyentuh kening Titan, kini Titan meletakkannya ke bagian dada sebelah kiri---jantung Titan. Sontak, Tania sedikit terkejut.
"Ada detak cinta di sini." Titan berujar pelan.
Tania terdiam, ia merasakan denyut jantung Titan yang berdetak normal. Ada rasa tak wajar yang kini dirasakan Tania, semakin Titan berusaha untuk menjelaskan, maka semakin membuat Tania merasakan sesuatu yang sulit untuk dipahami. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu yang tepat, yang membuat Tania dan Titan terikat.
"Woy, kalian berdua, ayo cepetan jalannya. Nanti acara dangdutannya keburu kelar." Teriak Udin dari kejauhan, membuat Titan dan Tania menoleh ke arah Udin secara berbarengan.
"Itu anak enggak tau situasi banget," ucap Titan sangat pelan, suaranya terdengar seperti bisikan. Wajahnya berpaling sejenak ke arah samping kiri.
"Ngomong apa?" Tania menyaut, sementara Titan langsung memasang wajah berseri saat menoleh ke arah Tania.
"Ah, enggak," ucapnya tersenyum.
Tanpa pikir panjang dan tanpa ada obrolan lagi, Tania dan Titan pun melanjutkan langkah kakinya untuk menyusul Udin dan kawan-kawan yang sudah berjalan jauh di depan sana. Terkadang situasi selalu mendukung mereka untuk selalu bersatu. Bahkan mungkin, sang waktu tidak pernah mengizinkan mereka untuk berpisah. Sedetik pun tidak. Takdir pun tak akan tega memisahkannya. Karena Tuhan selalu punya cara untuk menyatukan dua insan yang sedang dimabuk asmara.
Kangen
Lihatlah kini, sebuah tempat yang sudah ramai orang berdatangan, suara degungan gendang mulai menghiasi suasana acara di tempat ini. Ya, acara hajatan. Dangdut hajatan yang menggema. Udin dengan mahirnya tergesa-gesa ingin segera menaiki panggung, sementara Jonathan, Rian dan Deo malah sibuk dengan kostum yang dibawa Udin dari rumah.
"Ayo, dong, ah." Udin sudah tidak sabar untuk menaiki panggung.
"Bentar napa. Gue bingung sama kostum yang lo bawa. Arafiq semua ini? Kenapa gak ada style Bang Haji Rhoma Irama?" Jonathan berujar dengan kebingungan saat memilih kostum.
"Kalian dangduter?" Tanya Deo polos.
"Yaelah pake nanya. Kita itu trio dangduterbang, asoy digeboy soy." Rian berujar dengan sumringah.
Memang seperti itu kelakuan Jonathan dan kawan-kawan, selalu heboh saat mendengar kalau ada acara dangdutan yang entah itu di acara hajatan atau gerobak dangdutan yang didorong. Mereka selalu antusias jika menyangkut tentang dangdut. Heboh, bahkan sangat-sangat antusias. Deo yang nampak polos pun seolah ikut terbawa ke dalam virus dangdut dari Udin dan kawan-kawan. Point pertama yang ada dalam pikiran Deo sebenarnya bukan untuk dangdutan, tapi untuk makan gratis di acara hajatan.
__ADS_1
Berselang beberapa menit, Titan dan Tania pun datang. Titan memasang wajah malas, karena melihat kehebohan yang diciptakan Jonathan dan kawan-kawan.
"Eh, Titan. Lo mau ikut pake kostum?" Tanya Jonathan, Titan hanya menautkan alisna sebelah.
"Iya, mau ikut pake kostum gak, Tan?" Tanya Deo pada Titan.
"Pasti deh kalau Si Titan pake kostum bakalan nambah ganteng. Secara kan dia itu mau diapa-apain juga enggak bisa jelek. Ganteng aja terus." Rian berujar datar. Sementara Titan hanya tersenyum miring tanpa memperdulikan pertanyaan dan obrolan yang dilontarkan para dangduter sejati tersebut.
"Emangnya lo punya uang buat nyawer?" Tanya Deo pada Jonathan dan Udin.
"Lo, lo, lo, tenang aja. Gue udah bawa amplop kosong. Lo isi aja goceng, abis itu lo kondangan, kita makan di sana. Abis makan kita dangdutan. Masalah saweran serahin ke gue." Udin berujar dengan nada yang songong.
"Kondangan goceng, lagaknya mau nyawer." Deo menyindir Udin.
"Yeh, jangan salah, gini-gini gue itu anaknya juragan saweran. Lo juga gak usah khawatir, gue ahli dalam urusan sawer-menyawer. Ibarat kata, gue itu udah jadi S. Wer, alias sarjana sawer. Udah master." Udin berujar dengan membusungkan dadanya yang kerempeng, membuat Deo hanya berdecak pelan.
"Sarjana sawer? Emang ada, ya?"
"Ada lah."
"Sakarepmu weh lah."
"Jangan salah, si Udin itu bisa memanipulasi pandangan seseorang, kan dia itu bukan manusia, dia sejenis manusia setengah gila." Jonathan berujar tanpa ada tampang berdosa sedikit pun, membuat Udin berdecak.
"Sialan. Jangan mentang-mentang gue punya mata batin, ya, lo bisa ngatain gue kayak gitu." Udin membela diri.
"Mistik." Deo menggidik ngeri.
"Mistik itu adanya pada saat malam pertama doang. Lo tau gimana rasanya?" Tanya Udin jahil.
"Gimana?"
"Tanya aja sama Titan, dia tau semuanya," ucap Udin.
"Lah kok ke gua?" Titan mengernyit heran.
"Lo tau kan caranya bikin anak?" Udin meledek Titan, entah apa yang ada di otaknya, mengapa sama sekali tidak nyambung. Membuat Titan menghela napas pelan, pertanyaan macam apa itu.
"Terus hubungan mistik, malam pertama, dan bikin anak itu apa?" Deo bertanya polos. Si Udin yang jahil pun terkekeh.
"Tanya ke Titan." Udin melemparkan pertanyaan itu pada Titan.
"Kenapa ke gua?" Titan mengelak, ditambah lagi Tania yang menatap Titan hati-hati.
"Lo kan tau semuanya." Jonathan berujar dengan nada mendayu-dayu, seolah mendesak Titan.
"Emangnya Titan tau apa?" Tania melontarkan sebuah pertanyaan. Membuat Titan mengisyaratkan dengan raut wajahnya pada Jonathan, agar Jonathan tidak berkata apa-apa.
"Em, yaa tau semuanya. Karena Titan gak pernah ketinggalan ngintipin cewek ganti baju waktu kelas sepuluh." Jonathan sengaja membuat Titan malu di depan Tania. Namun kini, wajah Titan sama sekali tidak melunturkan pesonanya. Titan hanya tersenyum pahit saat Jonathan berkata seperti itu.
"Apa?" Tania sedikit terkejut mendengar ucapan Jonathan. Sementara Titan hanya diam memasang wajah malasnya yang santai pada Jonathan dan Udin. Melihat itu, Udin langsung mencari cara untuk mengalihkan topik pembicaraan yang lebih penting.
"Udah-udah. Gak ada waktu lagi buat bahas ini. Yaudah kita cuss masuk," ajak Udin mengalihkan pembicaraan.
Dan tak lama, trio dangduters tersebut langsung menuju panggung hajatan, di susul oleh Deo, sementara Titan dan Tania hanya menunggu di depan pintu gerbang rumah hajatan tersebut.
"Tan, ayo masuk!" Teriak Deo, saat berlari ke dalam acara hajatan tersebut.
Semua pun berlalu memasuki acara hajatan tersebut. Sementara kini, Titan dan Tania menunggu di luar gerbang rumah tersebut. Titan terlihat santai, menyandarkan punggungnya ke tembok. Semenbtara Tania hanya berdiri di samping kanan Titan.
"Mau sampai kapan kita kayak gini?" Tanya Tania sambil mengangkat tangannya yang terborgol dengan tangan Titan.
"Sampai menunggu mereka keluar dari hajatan," jelas Titan.
"Ya tapi kan lama. Mereka pasti lupa sama waktu."
"Enggak akan lama, paling cuma sejam dua jam."
"Ya itu kan lama. Masa kita berdiri aja di sini sampai nunggu mereka keluar."
"Gapapa. Nikmatin aja."
"Nikmatin gimana? Waktu aku cuma terbatas, sore ini aku harus bantuin Deo nyusun rencana ulang tahunnya Ratu," ucap Tania.
"Kan Deonya juga ada di sini."
"Ya tapi kan ...." Tania kehabisan kata-kata untuk berusaha menghindar dari Titan. Ia sedikit terselip rasa takut, saat Jonathan mengatakan kalau Titan pernah mengintip murid perempuan ganti baju ketika kelas sepuluh.
"Tapi kenapa, hm?" Titan mengubah posisinya menjadi berdiri di depan Tania, tentu Tania gugup, karena Titan menyisakan jarak yang cukup dekat.
Tatap mata Titan membuat Tania semakin gugup. Pesona yang dimiliki Titan memang luar biasa indah. Apalagi sorot matanya yang begitu teduh itu, membuat Tania semakin merasakan getaran-getarananeh di setiap detak jantungnya.
Titan melangkahkan dua langkah kakinya ke depan, jarak di antara keduanya pun sangat dekat, sorot mata Titan semakin lekat tertuju pada Tania. Tania pun tidak berani untuk menatap kembali mata Titan. Semenit, dua menit, Titan mampu mempertahankan posisinya yang seperti ini, membuat Tania sama sekali tidak dapat berkutik apa pun, hanya menatap kembali pun ia tidak berani. Tania hanya mampu menunduk. Lalu, setelah itu Titan pun terkekeh geli.
"Pipinya kayak kepiting rebus." Titan terkekeh, dan kembali ke posisi sebelumnya.
"Nyebelin!" Tania mengumpat pelan.
"Nyebelin, tapi bikin kangen, kan?" Titan justru malah semakin meledek Tania.
"Kangen? Enggak, tuh."
"Masa?"
"Iya, lah."
"Kalau nanti kangen, baru tau rasa, deh. Karena kangen itu berat, sih, kalau menurutku," jelas Titan.
"Oh." Tania ber-oh datar. Membuat Titan kembali tertoleh pada Tania.
"Yah, kok cuma oh doang, sih." Titan berujar dengan sorot mata yang terlihat jahil nan memesona.
Tania pun diam, dan mengakhiri obrolan kecil tersebut. Bukan tidak ingin berbicara pada Titan, tapi Tania sedang berusaha menutupi pipinya yang berubah merah muda, karena tingkah Titan yang membuat jatungnya seakan meletup-letup bagai pop corn. Titan memang jahil, ia selalu punya cara untuk membuat Tania gugup. Bahkan mungkin Titan memiliki 1001 cara untuk memikat hati siapa saja yang ia dekati. Itu sebabnya mungkin julukan raja PHP melekat pada dirinya.
Hening untuk beberapa saat, Tania sesekali menoleh ke arah acara hajatan, terlihat di sana Udin yang sedang berjoget ria bersama para biduan lainnya. Sementara Deo nampak lahap menikmati sajian yang terdapat di acara hajatan tersebut. Tania menghela napas pelan, ingin rasanya ia segera terbebas dari borgolan tangannya. Kalau saja ia tau akan begini, mungkin tadi ia tidak akan melewat ke halte bus yang menjadi tempat di mana Titan biasa nongkrong.
Kangen
Empat puluh enam menit telah berlalu, Tania melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukan pukul dua siang. Mengapa Jonathan dan kawan-kawan nampak seperti tidak mengenal waktu, kalau bukan Tania mengharapkan kunci borgol itu, ia tidak akan menunggu dan membiarkan waktunya terbuang sia-sia seperti ini.
Lalu, terlintas dalam pikir Tania, kalau masih harus menunggu Jonathan dan kawan-kawan selesai dangdutan, itu pasti akan membuat waktu Tania terbuang sia-sia lagi. Tania pun teringat seseorang dalam pikirannya, "Em. Kayaknya kita harus ke tukang duplikat kunci," ucap Tania pada Titan.
__ADS_1
"Mau ngapain?"
"Siapa tau bisa bukain borgol ini."
"Udahlah gak usah, tunggu Jojon sama yang lain dateng aja."
Tania menghela napas pelan, "Pokoknya, kita harus ke tukang duplikat kunci. Sekarang." Tania berjalan, yang otomatis Titan pun ikut berjalan karena sebelah tangannya terikat dengan tangan Tania.
"Memangnya kamu tau di mana tempatnya?" Tanya Titan.
"Tau."
Titan pun hanya pasrah saja. Tania tidak punya banyak waktu lagi, ia harus terbebas dari borgolan yang mengikat tangannya. Karena bagi Tania, waktu itu sangat berharga. Tania selalu menggunakan waktunya dengan baik. Apalagi jika Tania pulang sekolah terlambat, sudah pasti Kakaknya akan memarahinya habis-habisan. Tania harus pulang tepat waktu, tidak hanya takut kepada sang Kakak, tapi juga harus membantu kedua orangtuanya yang bekerja di panti asuhan, ditambah lagi sore ini Tania ada janji akan membantu Deo dan Jevin untuk merencanakan acara ulangtahun untuk Ratu.
Kangen
Kini, Tania dan Titan sudah berada di persimpangan jalan yang tidak terlalu ramai. Tania menghampiri tukang duplikat kunci yang begitu sangat ia kenal. Tania menyapa seorang pria paruh baya---yang tak lain adalah tukang duplikat kunci tersebut.
"Pak Aji," sapa Tania pada pria paruh baya itu.
"Neng Tania," jawab sapanya begitu ramah. Tania tersenyum.
"Bapak sehat?" Tania menanyakan kabar dari pria paruh baya yang ia panggil Pak Aji itu.
"Alhamdulillah, Bapak sehat, Neng. Gimana kabarnya kamu? Ayah Ibumu baik-baik aja kan? Kamu ada apa ke sini? Ada yang bisa Bapak bantu?" Pertanyaannya sangat berlapis, mungkin terlalu sumringah karena kedatangan Tania.
"Aku baik. Ayah dan Ibu juga baik. Ini, Pak, aku sama temenku keborgol, dan kuncinya itu enggak ada. Bapak bisa bantu kita, buat ngelepasin borgol ini, kan?" Ucap Tania.
"Oh itu. Bisa-bisa." Setelah melihat lubang kunci borgol tersebut, dengan segera Bapak tua itu menyiapkan cadangan kunci yang terdapat di lapaknya dan berusaha untuk membuat kunci yang pas agar bisa membuka borgol tersebut.
"Bapak itu siapanya kamu? Saudara?" Tanya Titan dengan suara yang sangat pelan.
"Bukan."
"Paman?"
"Bukan."
"Om?"
"Bukan."
"Terus, kok akrab?"
"Bapak ini tuh dulunya tetangga aku. Kalau aku selalu gampang akrab sama siapa pun," jelas Tania.
Tak lama, Pak Aji pun telah selesai membuat cadangan kuncinya dan langsung mencoba membuka borgol tersebut.
"Alhamdulillah kuncinya pas," ujar pria tersebut saat borgol tersebut terbuka dan terlepas dari tangan Tania dan Titan. Tania tersenyum lega. Pak Aji memang handal dalam urusan kunci seperti ini, tak salah jika Tania memilih Pak Aji untuk menyelesaikan masalahnya yang satu ini.
"Kak Taniaaa!" Sapa seseorang menghampiri Tania dengan begitu sumringah.
"Fatir," Tania pun tak kalah semangat menjawab sapaan dari anak berusia sekitar sebelas tahun yang bernama Fatir itu.
"Kakak apa kabar? Udah lama Fatir enggak ketemu sama Kakak." Fatir berujar dengan semangat. Fatir anak satu-satunya Pak Aji. Anak yang Pak Aji adopsi dari panti asuhan yang dikelola oleh kedua orangtua Tania. Ya, karena Pak Aji tidak memiliki anak dan istri. Dulu, ia memiliki anak dan istri, namun istrinya meninggal saat setelah melahirkan anak pertama mereka. Itu sebabnya Pak Aji memutuskan untuk mengadopsi anak.
"Aku baik-baik aja. Kamu gimana kabarnya?"
"Aku juga baik. Oh, iya, Kak, dia siapa?" Tanya Fatir saat melihat ke arah Titan.
"Dia temen Kakak, namanya Titan," jelas Tania.
Lalu Titan hanya menyapanya dengan tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Fatir. Dan Fatir membalasnya dengan senyuman. Kemudian, Fatir menatap serius ke arah Titan, ada sesuatu yang mengganjal dalam pandang mata Titan, ada sesuatu yang Fatir ketahui di dalam sorot mata Titan. Fatir memang anak yang tangguh, ia rajin membantu Ayahnya saat setelah pulang sekolah. Dan, Fatir juga diberi keistimewaan oleh sang Maha Kuasa, ia memiliki anugerah bisa melihat sesuatu yang tidak kasat mata, dan ia mampu meramal sesuatu atau kejadian yang akan datang, bahkan Fatir bisa melihat masa lalu seseorang hanya dari sorot matanya. Anugerah tersebut, hanya Tania lah yang tahu. Karena Fatir merahasiakan semuanya dari sang Ayah. Tania sudah Fatir anggap lebih dari seorang Kakak yang selalu mendengar keluh kesahnya itu, membuat Fatir lebih senang menyimpan rahasianya pada Tania.
Kangen
Waktu sudah menunjukan pukul tiga sore, Tania dan Titan kini sedang menyusuri sudut kota ini dengan berjalan kaki. Mereka mempunyai kebiasaan yang sama, pulang sekolah lebih memilih berjalan kaki ketimbang menaiki kendaraan umum, karena mungkin jarak rumah pun tidak terlalu jauh. Hanya saja nanti ketika mereka berjalan dan menemukan pertigaan, arah rumah mereka berarah lawanan. Dan mereka akan berpisah di pertigaan depan sana.
"Kamu, suka anak kecil?" Tanya Titan mengawali pembicaraan sebelum pada akhirnya mereka akan berpisah di pertigaan depan sana---yang berjarak beberapa meter saja.
"Iya. Kenapa?"
"Aku lihat kamu akrab sama Fatir."
"Aku udah nganggep Fatir Adik aku sendiri."
"Terus, aku dianggep apa sama kamu?"
Tania menghela napas pelan, "Kamu mau aku anggep apa? Kalau Adik ketuaan, kalau keponakan juga ketuaan." Tania malah meledek Titan.
"Em. Kamu gemesin, deh." Justru Titan malah mencubit pipi Tania dengan sangat menggemaskan. Tania hanya merintih kecil, detik kemudian Titan melepaskan cubitan tangannya dan tersenyum tipis ke arah Tania.
"Mau nyubit izin-izin dulu kek," ucap Tania.
Titan tersenyum dan berucap dalam hati, "entah aku harus bagaimana, yang jelas hari ini aku bahagia."
"Hei Tania." Tiba-tiba seorang pengendara motor matic berhenti di depan Tania.
"Pak Bejo?"
"Mau ke mana, Neng?"
"Aku mau pulang, Pak."
"Yaudah Bapak anterin sampai rumah."
"Wah, kebetulan banget, Pak."
"Yaudah, yuk, naik."
Namun ketika Tania hendak naik motor, Titan menahan tangan Tania. "Dia siapa?" Tanya Titan.
"Tukang ojek langganan. Aku duluan, ya," pamit Tania. Lalu Tania pun menaiki motor tersebut. Titan hanya mampu tersenyum saat melihat motor yang ditumpangi Tania berlalu dalam pandangannya.
"Semoga ada hari-hari yang seperti ini lagi di kemudian hari," ucap Titan pelan, lalu membalikan badannya, dan berjalan menuju pulang ke rumahnya.

Titan Wirasena

__ADS_1