Titan'S

Titan'S
eps. 4


__ADS_3

[***]


Hari-hari telah berlalu. Kejadian konyol pun kerap sekali terjadi. Terlebih pada saat Titan menciptakan moment-moment terkampret yang terdengar sampai ke telinga Tania. Membuat Tania, ya semakin bebal dengan gosip dan rumor buruk anak nakal itu. Bukan nakal, hanya susah diatur saja.


Sama halnya saat ini, jam pelajaraan sudah habis, waktunya semua murid diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun, Titan justru malah membuat keributan yang berhasil mencuri perhatian seluruh warga sekolah.


"Woy semuanya dengerin gue. Ini gue mau bacain surat cinta yang ditulis Jojon buat sang pujaan hati," teriak Titan membuat kegaduhan di tengah lapangan, dan membuat semua perhatian teralihkan padanya.


"Wahai permaisuriku, wahai rembulanku, aku merasakan jatuh cinta dalam hatiku, kita----" belum selesai Titan membaca puisi tersebut, Jonathan langsung merebutnya paksa.


"Kampret lo!" seru Jonathan. "Kayak lo gak pernah ngerasain jatuh cinta aja!!" kesal Jonathan.


Titan cengengesan. Lalu, Titan berlari menuju lantai teratas gedung sekolah, di susul oleh Jonathan, Titan sambil membawa bendera kelas 11-tiga---bendera kelasan Titan. Betapa excitednya Titan berlari ke atas gedung aula. Jonathan pun seperti tidak mau kalah dengan Titan. Sempat menjadi pusat perhatian warga sekolah juga, namun Titan tidak memperdulikannya. Anak itu sama sekali tidak peduli dengan lingkungan sekitar, yang paling penting saat ini adalah ia harus mencapai puncak gedung sekolah. Setidaknya, di cuaca yang mendung-mendung abis tersiram hujam tadi pagi, Titan bisa menikmati keindahan cuaca di atas gedung sekolah dengan sok-sokan majangin bendera kelas. Kalau ada guru yang menegur, ia pasti akan beralasan; ini karena bentar lagi sekolah akan HUT. Itu sebabnya bendera kelas harus berkibar.


Ketika sampai di atas gedung, Titan duduk di tepian gedung, seakan tidak takut akan bahaya terjatuh dari gedung, karena bisa saja kalau ia lengah, ia pasti akan terjatuh.


"Woy, kampret! Balikin surat cinta gua!" Jonathan berseru, lantas Titan langsung menoleh.


"Aelah, lo nyusul gua ke sini?!"


"Sini, gak!"


"Apanya?"


"Surat cinta gua, PA!"


"Yaelah, santai aja kali."


"Buruan cepetan!" Jonathan akhirnya menghampiri Titan.


Dengan sangat malas, Titan memberikan selembaran kertas alay tersebut pada Jonathan, "Nih, gua kasih ke elo. Udah sekarang lo pergi dari pandangan gua. Gua lagi pengen sendiri!" serunya. Jonathan hanya memutarkan bola matanya---tanda tak suka, lalu ia berlalu tanpa sepatah kata.


Dari ketinggian gedung, Titan melihat ke bawah sana, masih banyak beberapa murid yang belum memutuskan untuk pulang. Namun, ada satu pemandangan yang berhasil membuat perhatian Titan tercuri.

__ADS_1


Ia melihat Tania berusaha keras menghindar dari Rayn. Lalu Titan mengernyit, sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua?


Sementara, di bawah, tepat di arah jam sembilan, Pak Danny tampak memelototi Titan dengan kumis tipis yang terlihat berkedut.


"TIIIITTTTTAAAAANNN!" Teriak Pak Danny memanggil nama Titan.


Suara menggelegar itu mampu membuat Titan menutup telinganya rapat-rapat. Rasa risi mulai menyelimuti Titan. Titan sudah yakin, sangat yakin, bahwa setelah ini, ia pasti akan dipanggil ke ruang guru atau ke ruang BK. Padahal Titan hanya sedang berduduk di atas gedung, apa itu salah?


"Turun kamu!" seru Pak Danny. Dengan malas, anak itu pun turun menghampiri Pak Danny.


Saat Titan sudah menghampiri Pak Danny, Titan hanya diam dengan wajah terpasang santai.


"Kenapa manggil saya, pak?"


"Kamu pake nanya, kenapa saya panggil kamu? Kamu tau? Bahaya kalau duduk di atas gedung itu! Kalau jatoh, kamu bisa mati! Berabe urusannya. Kalau hantu kamu nanti gentayangan di sekolah ini, kamu mau tanggungjawab?" marahnya dengan intens.


"Iya, Pak, saya tau."


"Kamu saya hukum!" seru Pak Danny, "Bersihin toilet cewek yang lagi direnovasi!" sambungnya.


***


Setelah beberapa menit kemudian, Tania menghela nafas lega, karena ia berhasil menghindar dari Rayn, setidaknya bersembunyi di toilet cewek akan membuat Tania merasa aman. Namun pandangannya kini terkejut saat ia mendapati seseorang yang berdiri di depan westafel toilet ini, berdiri membelakangi Tania. Jelas, Tania tahu siapa orang tersebut.


"Titan?" Tanya Tania dengan raut wajah yang penuh dengan tanda tanya, "ngapain lo di sini?"


Lalu, Titan membalikkan badannya menghadap ke arah Tania. Titan tersenyum tipis penuh menggoda.


"Gue lagi dihukum bersihin toilet."


"Apa?"


"Gue lagi dihukum." Jelasnya.

__ADS_1


"Tapi, kenapa harus di toilet cewek?"


"Kalau itu, sih, gue gak tahu. Coba lo tanyain aja ke Pak Danny. Kenapa dia ngasih hukuman ini ke gue." Titan berujar santai, lalu beralih ke arah kiri, untuk menyandarian punggungnya dan menekukkan sebelah kakinya ke belakang, dan kedua tangan melipat di bawah dada bidangnya, sementara tatapannya tertuju lurus ke arah Tania.


"Lo sendiri ngapain ke sini? Lo tahu 'kan? Pintu toilet cewek ini rusak, kalau ditutup rapat, maka dia gak bisa buka lagi." Jelas Titan.


"What?"


L


alu, Tania pun berusaha untuk membuka pintu toilet ini, nihil sekuat tenaga ia mencoba untuk membukanya, namun tidak bisa. Tania ingin keluar dari toilet ini.


"Ini kenapa gak bisa dibuka, sih?"


"Kan udah gue bilang; pintu toilet ini rusak, kalau udah ditutup rapet gak bisa dibuka lagi, kecuali ada yang membukanya dari luar," jelas Titan.


"Tapi gue harus keluar, apa kata orang nanti kalau tau kita berduaan di toilet kayak gini."


Ck! Titan menghela nafas pelan, lalu mengalihkan pandangannya sedetik ke arah barat, setelah itu kembali menatap Tania yang berjarak satu setengah meter dari tempatnya berdiri.


"Terus?"


Tania pun menundukan kepalanya, ia tak tahu harus apa, dirinya kini terjebak di dalam toilet bersama Titan. Namun Titan seolah menikmati keterjebakkan ini.


Sreeek!


Suasana toilet ini tiba-tiba berubah menyeramkan, terlihat Tania yang menahan rasa takutnya hanya dengan menundukan kepala, sementara Titan malah terlihat tersenyum puas, ia seperti menikmati keterjebakan ini.


"Lo gak usah takut. Di tempat ini gak ada hantu, cuma ada gue sama lo. Ya, cuma ada kita. Kalau lo ketakutan, gue siap kok buat dipeluk." Titan berujar santai dengan senyum tipisnya yang menggoda, dengan posisinya yang sangat santai, dan dengan tatapan yang tertuju lurus pada Tania. Lalu, Tania pun memberanikan diri untuk melihat wajah Titan.


Dan, ya!


Titan sangat tampan.

__ADS_1


***


__ADS_2