
Ketika bermimpi adalah satu-satunya hal yang bisa membuatku bahagia. Namun salahkah jika mengharapkan mimpi itu menjadi kenyataan? Bahkan, aku menganggap bahwa ini terlalu lucu, dan kamu terlalu bagus untuk menjadi nyata dalam hidupku --- Tania.
*
Sementara Titan yang kini tengah berdiri sambil bersantai menyandarkan punggungnya ke tihang tembok koridor sekolah, menunggu Tania melewati tempat ini. Titan tahu betul, pasti Tania akan melewati tempat ini saat menuju ke kelasnya.
Dan benar saja.
Tania tampak mendekat ke arah Titan, tentu Titan langsung mengubah posisinya dan menghampiri Tania dengan begitu sigapnya. Dan, Titan membuat langkah Tania terhenti.
"Ada apa?" Tanya Tania pada Titan.
Titan tersenyum, "nggak ada apa-apa."
"Terus?"
"Aku kangen aja sama kamu."
"Belajar gombal dari siapa?" Ledek Tania, menahan tawa, "kamu tuh nggak ada bakat buat jadi penggombal." Tania semakin meledek Titan.
Titan tersenyum, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "aku emang nggak ada bakat buat jadi penggombal. Tapi aku sangat sangat sangat berbakat kalau harus jadi penjaga hatimu," kata Titan merayu.
"Idih."
"Kenapa?"
"Kata-kata kamu udah kayak penyair profesional, tau nggak."
"Biarin aja." Titan berujar dengan santai, sambil melipatkan kedua tangannya, dan menatap Tania dengan tatapan yang santai.
Tania memanyunkan bibirnya sedikit, "yaudah. Aku mau ke kelas dulu." Tania berniat untuk kembali melanjutkan langkah kakinya.
Namun dengan segera Titan menahan tangan Tania, "eit. Bentar dulu dong."
"Ada apa?"
"Hm." Titan seperti memberikan jeda pembicaraan.
"Hm kenapa?"
"Hari ini aku pengin ngabisin waktu sama kamu," jelas Titan memasang wajah serius.
Tania mengernyit, "Kenapa?"
"Aku takut jika nanti kita nggak bisa ketemu lagi." Titan mengenggam tangan Tania semakin erat. Wajahnya serius.
Tania tidak mengerti apa maksud perkataan Titan. Tania menatap wajah Titan begitu detail, seakan mencari jawaban dari raut wajah Titan yang tampak serius itu.
"Kita masih punya banyak waktu. Nanti istirahat temuin aku di perpustakaan, ya. Kamu kan udah janji buat bantuin aku." Tania berujar mengalihkan pembicaraan dan Tania mengabaikan perkataan Titan yang seperti memberikan isyarat tentang 'perpisahan'.
"Oke." Titan mengiyakan perkataan Tania.
"Yaudah. Aku ke kelas, ya." Lantas Tania berlalu meninggalkan seulas senyum yang mengembang indah di bibir. Senyum tipis, namun penuh makna yang berlapis.
"Maaf. Setelah ini aku akan pergi," batin Titan, saat melihat punggung Tania yang semakin berlalu.
*
Beberapa waktu telah berlalu. Tania sudah berada di dalam kelas. Sebentar lagi bel istirahat berbunyi, Tania tampak sibuk membereskan buku-buku yang tergeletak di mejanya. Sesekali terlintas dalam pikirannya---tentang ucapan Titan, namun Tania terus menepis bayangan-bayangan buruk. Tania harus bisa menghilangan pikiran buruk yang belum tentu akan terjadi. Tania harus berpikir positif, dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tiba-tiba Ratu menghampiri Tania dengan wajah yang terpasang cukup panik. Sebelumnya Ratu izin keluar kelas untuk ke toilet.
"Tan, lo tau nggak?"
"Apa, sih? Datang-datang langsung panik begitu."
"Rayn, Tan. Si Rayn."
"Rayn kenapa?"
"Itu ... Em ... Si Rayn ... Masuk rumah sakit."
Tania sedikit terkejut dan menghentikan aktifitasnya sejenak, "apa?"
"Iya. Si Rayn masuk rumah sakit." Ratu mengulang kalimatnya.
"Kenapa, kok bisa?"
"Ya, bisalah."
"Tadi kan dia baik-baik aja. Lo ngarang cerita, ya?"
"Ya ampun Tania, buat apa sih gue ngarang-ngarang cerita? Gue bukan penulis kelleus."
"Ya tapi kenapa coba Rayn bisa masuk rumah sakit?" Tania kembali membereskan buku-bukunya.
"Katanya, tadi si Rayn abis berantem sama Titan."
DEG! Tania terdiam saat mendengar kalimat yang diucapkan Ratu. Lalu, Tania menoleh (lagi) ke arah Ratu dengan wajah yang cukup serius.
"Lo lagi bercanda, ya?"
"Yaelah, ngapain harus bercanda, sih?"
"Lo serius?"
"Gue serius, Tania. Si Rayn abis berantem sama Titan, katanya. Terus si Rayn sekarang lagi dibawa ke rumah sakit. Dan lo tau? Titan resmi dikeluarkan dari sekolah ini."
"Apa?!"
Tania begitu terkejut mendengar pernyataan tersebut. Tanpa basa-basi lagi, Tania harus segera menemui Titan, "sekarang Titan di mana?" Tanya Tania.
"Titan lagi dimarahin Pak Danny di lapangan. Mungkin Pak Danny lagi ngehukum Titan untuk yang terakhir kalinya, sebelum pada akhirnya Titan kelu---"
Belum sempat Ratu melanjutkan kalimatnya, Tania langsung berlari keluar kelas---ia harus menemui Titan di lapangan.
"Tan, lo mau ke mana?! Gue belum selesai ngomong juga." Teriak Ratu, namun Tania sama sekali tidak menggubris.
*
"Gua nggak mungkin nyelakain Rayn. Sama sekali nggak mungkin. Gua cuma berniat nolongin dia aja. Lo nggak bisa fitnah gue kayak gini, dong!" Suara tersebut keluar dengan sangat lantangnya dari mulut Titan.
"Alah. Banyak ngeles lo! Selama ini lo punya konflik kan sama Rayn?! Dan lo harus mempertanggungjawabkan atas ulah tangan busuk lo! Rayn masuk rumah sakit gara-gara lo!" Sentak seseorang tersebut pada Titan.
"Sudah! Kalian nggak usah berdebat!" Pak Danny meleraikan perdebatan antara Titan dan Abdi---teman sekelas Rayn.
Titan menghela napas pelan, memasang wajah memohon pada Pak Danny, "saya nggak mungkin nyakitin saudara saya sendiri, Pak. Saya nggak mungkin nyakitin Rayn. Dia adik saya. Tolong Bapak percaya sama saya untuk kali ini." Titan berujar dengan wajah memohon serius pada Pak Danny.
"Pihak sekolah akan tetap mengeluarkan kamu. Saya minta maaf." Pak Danny seperti tidak memberikan lagi toleransi pada Titan.
"Tapi ...." Titan berusaha meyakinkan lagi, namun Pak Danny terlihat menggelengkan kepala---tanda bahwa tidak ada lagi toleransi dari pihak sekolah untuk Titan.
"Bapak minta maaf. Ini sudah menjadi keputusan sekolah. Saya berharap, tidak akan ada kejadian buruk menimpa Rayn. Kita berdoa, semoga Rayn baik-baik saja." Tampak memasang raut wajah seperti menahan rasa kecewa, Pak Danny berlalu meninggalkan Titan. Titan menatap Pak Danny dengan tatapan memohon, namun Pak Danny tak memiliki kuasa untuk memberikan Titan toleransi. Sementara Abdi, hanya tersenyum jahat pada Titan.
Saat Pak Danny berlalu, semua warga sekolah yang tadinya menyaksikan, semua orang menuduh Titan, kini perlahan mulai kembali melanjutkan aktifitasnya masing-masing.
"Lo bener-bener keterlaluan, Di!" ucap Titan pada Abdi. Nada suara Titan terdengar pelan, namun penuh dengan penekanan di dalamnya.
Abdi tersenyum licik, "lo kira gua bakal diem aja? Rayn banyak cerita soal lo, dan gua sebagai temen Rayn, gua ngedukung Rayn buat ngeluarin lo dari sekolah ini," ucap Abdi penuh penekanan.
"Lo ada dendam apa sama gua?" Nada kalimat Titan berubah seperti menantang.
"Kenapa? Lo nggak terima?!"
"Kalau emang lo ada dendam sama gua. Nggak gini caranya! Lo itu gila! Lo sendiri yang nyelakain Rayn, tapi lo nuduh gua! Di mana otak lo?!" Sentak Titan. Kali ini emosi Titan memuncak. Suaranya meninggi, membuat Abdi melotot sempurna saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Titan.
"Lo nantangin gua?!" Abdi justru menantang balik Titan.
"Cukup!" Tania datang menjadi menengah. Dengan bersamaan, Titan dan Abdi tertoleh pada Tania.
Tania mulai mendekati keduanya, berdiri di tengah-tengah Abdi dan Titan. Sesekali Tania menoleh ke arah Abdi dan Titan---yang berada di sisi kiri dan sisi kanan Tania.
"Di. Gue harap lo tahan emosi lo. Lo sama sekali nggak ada kaitannya sama konflik Titan dan Rayn. Kalau misalkan mereka ada konflik di luar sekolah, yang gue sendiri nggak tau. Lo bisa nggak, nggak usah ikut campur sama masalah mereka?" Tania bicara pada Abdi dengan tegas.
Abdi tersenyum remeh, "lo nggak bisa ngerti, Tan, kalau gue juga suka sama lo. Itu sebabnya gue pengin Titan keluar dari sekolah ini. Karena gue cemburu lihat lo sering jalan sama Titan. Itu sebabnya gue dan Rayn bersekutu buat ngeluarin Titan dari sekolah ini." Abdi berujar dengan sangat serius. Satu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, itu sebabnya mungkin Abdi mendukung Rayn untuk mengeluarkan Titan dari sekolah ini.
"Dan lo juga nggak bisa ngerti, Di. Kalau cinta nggak bisa dipaksain," jelas Tania. Raut wajah Abdi berubah seperti harus menerima semuanya walau pahit. Abdi menundukkan wajahnya sejenak sambil menghela napas pelan, detik kemudian memalingkan wajahnya ke sembarang arah, dan pada akhirnya kembali menatap ke arah Tania.
"Oke. Sekarang gua ngalah. Meskipun gua nggak bisa berhenti buat mencintai lo, tapi gua bakal berusaha buat ngehapus perasaan yang nggak wajar ini di hati gua." Abdi berujar dengan serius, Tania hanya terdiam tanpa menjawab perkataan Abdi. Lalu, Abdi memutuskan untuk berlalu meninggalkan Titan dan Tania.
Setelah melihat punggung Abdi yang semakin berlalu, Tania akhirnya memberanikan diri untuk menoleh ke arah Titan. Wajah Titan terpasang serius, tatap matanya mendalam.
"Ini hari pertama kamu masuk sekolah setelah kurang lebih sebulan kamu nggak masuk sekolah, kenapa kamu bikin masalah kayak gini, sih?" ucap Tania. Titan masih diam dengan tatapannya yang tertuju lurus pada Tania.
"Kamu tau? Udah berapa kali aku ngomong ke kamu, aku nggak pernah nuntut apa pun dari kamu. Tapi, aku cuma mau kamu tetap ada bersamaku. Kalau kamu keluar dari sekolah ini. Secara nggak langsung kita akan sangat sulit buat ketemu." Tania berujar lagi dengan wajah yang terpasang penuh dengan kekecewaan.
"Aku minta maaf."
Titan hanya melontarkan kata maaf, yang sama sekali tidak memuaskan hati Tania.
"Maaf? Buat apa? Bahkan sejuta kali pun kamu ucapkan kata maaf, itu nggak akan bisa membuat semuanya balik ke semula."
"Aku minta maaf, Tania. Aku bener-bener nggak ngelakuin kesalahan. Rayn masuk rumah sakit bukan karena aku, tapi karena....,"
"Cukup, Titan." Tania memutuskan kalimat Titan, padahal Titan belum selesai menjelaskan semua kejadian yang sebenarnya.
"Tania, please. Kamu harus percaya. Nggak ada seorang Kakak di dunia ini yang begitu teganya melukai Adiknya sendiri." Titan berujar serius.
"Stop, Tan. Aku nggak mau lagi denger apa pun dari kamu. Aku juga nggak tau ada konflik apa antara kamu sama Rayn, atau pun Abdi. Aku sangat kecewa sama kamu. Hari ini, kamu bener-bener bikin aku kecewa." Tania berujar sambil menahan tangis. Lalu, Tania pun bergegas berlalu meninggalkan Titan.
Titan membiarkan Tania berlari. Titan hanya mampu menatap Tania dengan tatapan lurus ke arah Tania yang semakin berlalu dari pandangannya. Membuat hati Titan semakin hancur menerima semua kenyataan ini. Sebenarnya, ada hal yang tidak Tania ketahui tentang Rayn---yang ternyata Adik tirinya Titan. Jika pun Tania tahu akan hal itu, memang sangat sulit untuk dipercaya. Walaupun seringkali Rayn selalu bersikap tidak pernah bisa menerima kenyataan, tapi Titan selalu mencoba bertahan dan menerima kenyataan pahit ini. Dua lelaki yang mempunyai karakter bertolakbelakang.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Tan. Saat melihat kamu semakin menjauh, hatiku terasa semakin rapuh. Mungkin kamu terlalu bagus untuk aku miliki," batin Titan saat menyaksikan Tania berlalu.
*
Suasana malam kian mencekam. Semilir angin berhembus meniupkan dedaunan yang berjatuhan ke lantai koridor rumah sakit. Ini sudah jam sembilan malam, Rayn yang terpaksa harus dirawat pun tengah duduk di atas brangkar. Pandangannya kosong, hanya sebuah pulpen dan buku catatan kecil yang ia pegang. Pandang matanya cukup dalam memiliki arti yang tersembunyi. Ada apa sebenarnya dengan Rayn?
"Sebentar lagi, Rayn akan menyusul Mamah ke Surga." Rayn menumpahkan air mata saat menulis sesuatu di kertas putih tersebut.
Namun tiba-tiba, Titan datang menghampiri Rayn dengan masih menggunakan seragam putih abu-abu. Penampilan Titan tidak begitu baik. Titan terlihat berantakan, seperti sedang dihadapkan dengan sebuah pikiran yang sangat kacau.
"Rayn," panggil Titan saat menghampiri Rayn.
"Lo mau ngapain ke sini?!"
"Gua cuma mau mastiin keadaan lo doang. Dan ada satu pertanyaan buat lo, lo kenapa diem aja saat Abdi mau nyelakain lo?! Kenapa?!" Titan berujar dengan penuh penekanan. Tanda rasa khawatir Titan pada Rayn tampak begitu jelas. Namun rasanya, Rayn salah mengartikan.
"KARENA GUA BOSEN HIDUP! TUHAN GAK PERNAH ADIL SAMA GUA!"
Rayn menyentak memilukan. Titan terdiam saat Rayn mendorong dadanya cukup keras. Titan merasa kalau penderitaan Rayn disebabkan olehnya. Maka dari itu, Titan diam saja ketika Rayn mendorong dadanya. Titan merasakan penderitaan itu, namun Rayn menunjukkan kalau dialah yang paling tersakiti. Dua Kakak-beradik tiri ini saling melemparkan luka dan penderitaan.
"Rayn, gua bisa ngerti perasaan lo. Karena bukan cuma lo yang tersakiti dengan kisah ini. Gua juga." Titan berujar pelan, dengan raut wajah memohon agar Rayn tidak terlalu berputus asa dalam menjalani kehidupan yang kejam ini.
"Apa yang lo ngerti tentang hidup gua? Apa lo juga tau bahagimana rasanya divonis dokter kalau lo sakit gagal jantung?! Iya?!" Rayn menyentak, membuat Titan tersentak mendengar pernyataan tersebut. "Lo nggak pernah tau! Sejak kecil gua udah ngerasain penderitaan yang cukup berat. Keluarga gua hancur berantakan. Bokap nyembunyiin sesuatu yang bikin nyokap gua sampai harus meninggal! Lo tau? Gua butuh nyokap di saat detik-detik terakhir gua! Karena cuma dia yang bisa ngertiin gua!" Sentak Rayn lagi.
Titan tidak tahu harus bicara apa. Hal yang paling membuatnya terpukul adalah ketika Rayn mulai membahas tentang masa lalu kedua orangtuanya. Titan tahu betul, bahwa posisi Ibunya adalah istri kedua. Dan posisi Ibunya Rayn adalah istri pertama. Namun, tetap saja Ginanjar adalah Ayah biologis dari kedua pemuda ini. Yang menjadi permasalahannya adalah, Ibunya Rayn dikabarkan mengandung pada saat sang Ayah sudah mendapatkan anak dari istri kedua.
"Kalau penderitaan lo disebabkan karena gua. Gua bakal ngelakuin sesuatu yang mungkin bisa membuat penderitaan lo berkurang," ucap Titan serius.
"Gua minta sekarang juga lo keluar! Gua gak butuh lo di sini! Keluar!" Rayn berseru mengusir Titan untuk keluar dari ruang rawah inap ini. Titan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya menurut saja, keluar tanpa sepatah kata lagi terucap.
*
"Din? Gimana sama rencana kita? Lo udah mikirin mateng-mateng?" Tanya Deo serius.
"Udah."
"Terus?"
"Gue juga bingung. Gue nggak tau pasti. Ramalan ini bakal bener atau nggak. Fatir yang tau semuanya. Tapi Fatir gak tau begitu jelas sama apa yang dia lihat. Dia cuma melihat sesuatu yang begitu menyakitkan akan menghampiri Titan. Atau bahkan nyawanya bisa saja menghilang." Udin menjelaskan dengan begitu serius. Deo dan Jonathan hanya mengangguk-ngangguk kecil.
"Tanggal mainnya kapan?"
"Gue juga nggak tau pasti."
"Terus kita ngerencanainnya gimana kalau gitu, sarudin?! Gue udah bela-belain nginep di sini malem ini! Masa pembahasannya gini-gini aja," Deo mengumpat malas.
"Gue harap kalian berdua harus tertib. Gak boleh ngeluh sana, ngeluh sini. Yang penting kita gak boleh sampai terlambat. Kita harus bisa bantu Titan. Karena ini pun menyangkut hidup dan matinya Titan." Udin menjelaskannya lagi. Deo dan Jonathan hanya pasrah mendengarkan penuturan dari Udin.
"Kalau omongan lo udah tertib-tertiban gitu, gue berasa kayak anak TK lagi diceramahin gurunya. Ah, yasudahlah, gue ngantuk. Mau bobok tampan dulu," ucap Jonathan, langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Iya, lah. Mending tidur." Deo menimpal, dan langsung mengubah posisinya.
Udin menggaruk kepalanya yang tak gatal, "yaudahlah. Gue juga mau tidur kalau gitu." Udin langsung mengambil ancang-ancang untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur.
*
Malam ini, Tania tampak mengigil di saat tertidur. Pikirannya dihantui oleh rasa khawatir pada seseorang yang telah berhasil membuatnya teramat sangat kecewa. Pikiran itu menganggu Tania, sehingga Tania tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Seorang wanita paruh baya memasuki kamar gadis ini dengan sangat berhati-hati.
"Nak?"
Tangan lembutnya mengelus kening Tania. Tania masih mengigil dan menutup matanya, seolah tidak menyadari bahwa Ibunya datang menghampirinya.
"Tania? Kamu kenapa, Nak? Bangun sayang." Ibunya berusaha membangunkan Tania. Tania pun membuka matanya dan menatap sayu ke arah Ibunya.
__ADS_1
"I-ibu."
"Ya ampun, Nak. Badanmu panas. Kamu sakit?" Nada bicara Ibunya terdengar begitu khawatir.
"Kenapa, Bu?" Tiba-tiba Ayahnya Tania masuk ke dalam kamar dan menanyakan keadaan Tania yang tidak begitu Baik. Ayahnya langsung menyentuh kening Tania, dan ia merasakan bahwa suhu tubuh Tania begitu panas. Tampaknya Tania sedang demam.
"Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit."
Dengan sigapnya sang Ayah membawa Tania ke rumah sakit. Walau malam semakin larut, kedua orangtua Tania tetap membawa Tania ke rumah sakit malam ini juga. Entah, apa yang terjadi. Tania mengapa harus demam panas?
*
Rumah sakit medika 24 jam. Kedua orangtua Tania membawa Tania ke rumah sakit medika 24 jam. Dokter dengan sigap menangani keadaan Tania. Kedua orangtua Tania yang berdoa semoga tidak ada hal-hal buruk yang menimpa Tania.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Tanya sang Ayah.
"Anak Bapak baik-baik saja. Hanya saja dia terkena demam panas yang cukup tinggi. Sebaiknya anak Bapak dirawat untuk beberapa hari ke depan. Karena dikhawatirkan anak Bapak terkena tipes," tutur Dokter tersebut dengan nada suara yang bersahabat.
Dokter pun berlalu. Kedua orangtua Tania malam ini menemani Tania yang terbaring lemah di atas brankar. Tania menoleh ke arah Ibunya, "Aku kenapa, Bu?"
"Kamu nggak apa-apa, Nak. Kamu cuma panas demam. Tapi Dokter menganjurkan kamu untuk dirawat."
"Dirawat?"
"Iya. Sebaiknya kamu tidur. Ibu dan Ayah akan menemani kamu di sini."
Tania merasakan bahwa memang suhu tubuhnya tidak begitu stabil. Dia merasakan lemas dan seluruh tubuh terasa seperti tidak bertenaga. Tania terlihat seperti tipikal orang yang jika dihadapkan dengan beban pikiran yang berat, maka fisiknya pun akan berpengaruh menjadi rapuh, seolah menolak beban pikiran terasebut. Apa yang terjadi dengan Tania, apa dengan mencintai Titan adalah hal yang buruk, Sampai Tania harus seperti ini?
*
Esok hari yang tampak cerah. Sinar mentari menyapa dengan ramah. Sinar mentari yang masuk melalui celah jendela ruang rawat inap Tania, berhasil membangunkan Tania pagi ini. Terlihat Ayah dan Ibu sudah sedari tadi menunggu Tania untuk terbangun.
"Ayah? Ibu?"
"Akhirnya kamu bangun juga, Nak. Gimana badannya sudah enakan?"
"Aku masih sedikit lemes, Bu." Tania mengubah posisinya menjadi duduk sambil menyandarkan punggungnya ke ujung brankar.
"Baiklah kalau begitu. Kamu istirahat dengan baik di sini. Ibu dan Ayah pamit untuk ke panti dulu. Tapi kamu jangan khawatir, Ibu dan Ayah pasti akan kembali lagi ke sini untuk nemenin kamu," ucap sang Ibu dengan begitu lembutnya. Tania mengangguk pelan.
Ibu dan Ayahnya Tania pun berlalu dari ruang rawat inap ini. Pandangan Tania tertoleh ke luar jendela. Tania melihat cahaya matahari yang tampak bersahabat. Namun, kini ia merindukan seseorang, yang entah itu siapa.
"Gue kangen," ucap Tania sangat pelan, dengan tatapan mengarah pada jendela.
"Hei!"
Tiba-tiba seseorang datang mengejutkan Tania. Dengan sedikit risi, Tania menoleh ke seseorang tersebut. "Ratu?! Ngagetin aja sih lo!" Kesalnya.
"Maaf-maaf. Hehe. Eh iya, lo kenapa, Tan? Kok sampai masuk rumah sakit? Perasaan kemaren lo baik-baik aja, deh."
Tania berubah murung lagi, "nggak tau gue juga. Mungkin emang gue lagi kecapean aja."
"Lo, sih,"
"Oh, iya, lo tau dari mana kalau gue dirawat? Semalem kan gue nggak ngabarin lo."
"Semalem Bokap sama Nyokap lo sms ke gue. Baru gue buka pesannya itu waktu subuh. Dan akhirnya pagi ini gue memutuskan untuk ke sini, deh."
"Lo nggak sekolah?"
"Nggak. Gue izin."
"Izin kenapa? Sakit juga?"
"Yaelah, Tan. Gue izin karena gue pengen nemenin lo di sini."
"Nggak harus segitunya juga kali, Rat."
"Nggak apa-apa. Kali-kali gue izin. Oh iya, Tan, lo tau nggak? Sebenernya gue ada kabar ter-update nih buat lo."
"Apaan?"
"Semalem Titan ke rumah Deo."
"Titan ke rumah Deo?"
"Iya, Tania. Semalem Titan ke rumah Deo. Tapi dia itu masih pake baju seragam sekolah. Kayaknya emang tuh anak belum pulang ke rumah. Karena berhubung si Deo lagi nggak ada di rumah, karena si Deo semalem nginep di rumah si Udin. Dan secara kebetulan gitu gue lagi ada di teras rumah. Lo tau kan rumah gue sama rumah Deo bersebelahan?"
"Terus? Pada intinya buat apa Titan ke rumah Deo? Lo jangan muter-muter gak jelas deh ngomongnya."
"Gue nggak sempet nanyain itu, sih. Gue cuma bilang kalau Deo nggak ada di rumah. Dan ya, Titan pergi lagi, deh."
"Udah, gitu doang?"
"Iya. Eh tapi Titan sempet bilang ke gue sih, kalau kondisi Rayn nggak begitu baik. Kayaknya Titan tau deh kalau gue dulu pernah suka sama Rayn."
"Cuma itu aja?"
"Iya."
"Kenapa nggak lo tanyain buat apa Titan malem-malem ke rumah Deo?"
"Ya gu-gue nggak tau. Nggak kepikiran sama pertanyaan itu."
Tania kemudian menghela napas pelan.
"Tapi, Titan ngasih selembaran kertas ke gue." Ratu membeberkan selembaran kertas pada Tania.
"Kertas apa?"
"Isinya itu Titan nyuruh gue buat dateng ke rumah sakit medika 24 jam," ucap Ratu dengan wajah terpasang serius.
"Jadi? Titan tau kalau gue dirawat?" Tanya Tania.
"Bukan."
"Maksud lo?"
"Ini rumah sakit tempat di mana Rayn dirawat."
"Rayn dirawat di sini juga?"
"Iya. Sebenarnya, pas gue tanyain ke si Deo juga katanya emang si Rayn saat ini itu lagi kritis kondisinya. Dan lo tau? Rayn itu adik tirinya Titan. Mereka satu Bapak tapi beda Ibu."
"Rat, jangan bikin gue bingung."
"Gue nggak bikin lo bingung, Tania. Pada dasarnya ini emang kenyataan. Rayn itu Adik tirinya Titan. Pokoknya gue nggak tau detail cerita mereka berdua itu kayak apa. Tapi yang pasti si Udin CS lagi ngerencanain sesuatu."
"Sesuatu?"
"Apa?" Tania benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Ratu jelaskan.
"Iya. Tadi subuh-subuh banget gue chat mereka. Dan mereka masukin gue ke grup Whatsapp. Maka dari itu gue tau kalau mereka emang lagi ngerencanain sesuatu buat si Titan," ucap Ratu.
Tania terdiam, menerka-nerka tentang apa yang dibicarakan Ratu padanya.
"Yaudah. Kalau gitu, sekarang gue pamit, Tan. Gue harus ketemu Udin dan Kawan-kawan. Karena mereka ngajak gue ketemuan buat bahas masalah ini. Lo istirahat di sini, ya. Nanti gue pasti bakal balik lagi ke sini." Ratu pun berpamitan pada Tania.
"Gue mau ikut, Rat."
"Nggak. Sebaiknya lo istirahat. Keadaan lo nggak memungkinkan banget buat ikut, Tan. Nanti kalau ada apa-apa kita saling kabarin aja."
Ratu pun pada akhirnya berlalu dan Tania tampak begitu pasrah, tidak bisa ikut Ratu untuk bertemu dengan Udin dan Kawan-kawan yang sedang merencanakan sesuatu. Pertanyaan demi pertanyaan mulai menghantui pikiran Tania. Sebenarnya apa yang terjadi?
*
Beberapa jam kemudian. Tania tampak suntuk berada di ruang rawat inap ini. Perasaan bosan terus menghantuinya. Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruang rawat inap ini dengan begitu pelan. Tampaknya bukan seseorang itu yang membukanya, namun angin yang membukanya.
"Titan?" Pekik Tania.
Lalu, seseorang yang tak lain adalah Titan itu melangkahkan kakinya masuk ke ruangan ini. Titan tersenyum manis pada Tania. Dan, Titan duduk di tepi brangkar dengan pandangan yang tertuju lurus pada Tania.
"Kamu tau kalau aku dirawat?" Tanya Tania.
Titan mengangguk.
"Wajah kamu, wajah kamu kenapa banyak luka-luka kecil? Kamu abis berantem, ya?" Tania menyentuh pipi dan kening Titan yang tampak terlihat luka-luka kecil di sana.
"Aku nggak apa-apa," ucap Titan pelan.
"Ini pasti sakit?" Tanya Tania.
Titan tersenyum karena Tania mengkhawatirkan keadaannya. "Aku akan mengajakmu berjalan-jalan di taman rumah sakit ini. Kamu mau?" Ucap Titan.
"Serius? Tapi aku masih lemes."
"Aku siap menjadi kakimu ketika kamu nggak mampu untuk berdiri," ucap Titan.
Tania menatap kedua mata Titan dengan tatapan yang seolah mencari jawaban dari sikap Titan yang tampak begitu tidak biasa hari ini.
"Kamu tenang aja. Aku masih sanggup berjalan." Tania dengan semangat langsung menurunkan kakinya ke lantai.
"Yaudah, yuk. Kita mau jalan-jalan keliling taman, kan?" Ajak Tania. Titan mengangguk dan tersenyum.
*
Tania dan Titan tampak riang gembira menikmati siang hari di taman rumah sakit yang cukup asri. Semilir angin mampu membuat beberapa tanaman menari-nari. Titan dan Tania yang kini sedang duduk berdua di bangku panjang yang terbuat dari besi itu tampak bahagia sekali.
"Aku mau kita tuh kayak gini terus," ucap Tania saat menoleh ke arah Titan yang duduk di sebelah kanannya.
Titan yang tampak santai, dengan posisi punggung yang tersandar ke sandaran kursi hanya membalas tatapan Tania dengan berseri. "Aku juga," katanya.
"Tapi, kamu udah resmi keluar dari sekolah?" Tanya Tania pelan.
Titan tersenyum, "Iya. Ada atau nggak adanya aku di sekolah, aku tetap berada di hati kamu."
"Aku minta maaf," ucap Tania.
"Buat apa?"
"Kemarin aku emosi."
"Kamu nggak salah. Karena seharusnya aku ngerti, kalau kamu itu nggak bisa jauh dari aku. Aku paham kok."
"Nah itu kamu ngerti."
"Aku minta maaf, ya."
"Maaf buat apa?" Tanya Tania tidak mengerti.
"Maaf jika nanti aku pergi lagi atau bahkan aku akan menghilang."
"Kok kamu bicaranya gitu?"
"Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, Tan. Aku sangat menginginkan untuk tetap berada di samping kamu. Namun waktu sudah memisah---"
"Sst!" Tania berhasil memotong kalimat Titan, "aku lagi nggak mau bahas itu. Aku cuma pengin nikmati hari ini dengan ceria. Biar aku juga cepet sembuh. Dan kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama. Aku harap kamu pindah ke sekolah yang nggak terlalu jauh, ya. Biar nanti kita bisa pulang bareng lagi. Walaupun rumah kita nggak searah, sih. Hehe," sambung Tania.
Titan tersenyum lega, saat melihat Tania tersenyum lepas tanpa beban. Tampaknya juga, Tania sudah membaik.
"Tunggu sebentar. Aku ada sesuatu untuk kamu." Titan pun bergegas ke arah pohon yang terdapat di sebelah kiri Tania.
Titan bersembunyi di balik pohon tersebut.
"Kamu ngapain sembunyi di situ?"
Tak lama Titan muncul dari balik pohon tersebut, sambil membawa sekeping kardus berbentuk hati yang berwarna merah jambu.
"Aku cinta kamu. Aku mau kamu tetap bahagia." Titan berujar dengan sangat lantang.
Tania tersenyum.
Titan pun kembali menghampiri Tania. Tania hanya diam seribu bahasa mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari Titan.
"Luka di wajah kamu, kenapa tiba-tiba menghilang?" Tanya Tania saat mulai menyadari luka-luka kecil yang terdapat di wajah Titan itu menghilang pada saat Titan kembali setelah bersembunyi di balik pohon tersebut.
"Lukaku nggak penting. Karena kebahagiaanmu, itu hal yang paling penting dalam hidupku."
"Kamu ...."
"Tania? Aku mau ada atau nggak adanya aku di samping kamu, aku mau kamu tetap bahagia. Tersenyum lepas sepeti nggak ada beban."
"Bahagiaku adalah kamu, Titan."
Titan tersenyum. "Yasudah. Sebentar lagi mau sore. Kamu harus banyak-banyak istirahat. Nanti malam aku akan jenguk kamu lagi." Titan pun berpamitan pada Tania. Tania tersenyum disertai anggukan kecil.
Titan membalikan badannya untuk berjalan menjauh dari Tania. Namun, Titan memegang dada sebelah kiri, merasakan sakit yang begitu dalam.
"Maaf, jika mungkin esok bukan milik kita lagi," batin Titan berujar.
***
Saat malam tiba. Tania tampak duduk di atas brankar dengan posisinya yang terlihat nyaman. Tania menunggu kabar dari Ratu. Sampai detik ini Ratu belum juga memberikan kabar pada Tania.
Tiba-tiba ponsel Tania bergetar tanda telepon masuk dari kontak bernama Ratu. Dengan segera Tania mengangkat telepon tersebut.
"Hallo?"
__ADS_1
"Tania, darurat."
"Darurat kenapa?"
"Titan nggak ada di rumahnya."
"Ya, iyalah. Orang dia lagi di rumah sakit. Waktu siang aja dia jalan-jalan sama gue."
"Titan juga nggak ada di rumah sakit medika 24 jam."
"Lo ngomong apa, sih?"
"Gue udah selidikin semuanya sama Udin, Deo, dan Jonathan. Fatir juga ada di sini."
"Maksud lo apa? Gue nggak ngerti."
"Titan menghilang."
"Hilang ke mana? Lo jangan ngaco deh kalau ngomong. Orang tadi siang dia sama gue."
Namun, entah pengaruh sinyal atau bukan, sambungan telepon tersebut terputus. Tania tampak kebingungan, ia tidak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan Ratu di telepon tersebut.
"Tania,"
"Titan?"
Titan tersenyum, lalu menghampiri Tania. Wajah Titan jauh berbeda dari sebelumnya. Malam ini, Titan begitu berseri, sampai ia tidak melunturkan sedikit saja senyum tipisnya yang memesona.
"Aku bahagia, karena kamu sudah menjadi bagian yang terindah untuk aku," kata Titan.
"Kamu beda. Kamu lebih tampan. Tapi kenapa hati aku ngerasa sedih?" Tanya Tania pelan.
"Aku baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkan aku. Malam ini aku akan pulang."
"Pulang? Si Rayn udah sembuh, ya? Em, kamu pasti capek banget, ya, abis jagain Rayn. Aku tau sekarang, kalau kamu itu Kakaknya Rayn. Aku minta maaf, ya. Karena aku percaya, kamu nggak mungkin nyelakain Adik kamu sendiri." Tania berujar, karena ia tahu betul, kalau Titan dari pagi sampai sore selalu setia di rumah sakit medika 24 jam, hanya untuk menemani Rayn.
Titan mengangguk.
"Aku hanya ingin kamu tau. Aku mencintai kamu. Aku menginginkan kamu tetap bahagia. Sebelum aku benar-benar pulang, aku ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja," ujar Titan tersenyum.
"Aku baik-baik saja. Kamu nggak usah khawatir."
"Yasudah kalau begitu. Aku akan pulang." Titan membalikan badannya dan mulai melangkahkan kakinya keluar ruangan ini.
"Titan," panggil Tania, Titan menoleh.
"Jangan lupa makan." Tania berujar disertai senyuman yang begitu manis. Titan hanya tersenyum, dan kembali melanjutkan langkah kakinya untuk berlalu.
Aku akan benar-benar pergi.
Berselang beberapa menit. Tiba-tiba Ratu, Udin, Deo, dan Jonathan menerobos masuk ke dalam ruang rawat inap Tania dengan wajah yang terpasang sangat panik. Tania tentu terkejut dengan kedatangan Ratu, Udin dan kawan-kawan tersebut.
"Taniaaaaa!" Ratu berujar tanpa basa-basi. Namun napasnya terdengar tidak beraturan. "Tan, lo harus tau, Tan. Lo harus tau."
"Kalian kenapa, sih, dateng-dateng langsung panik kayak gitu. Gue kaget, tau!"
"Sori, sebelumnya, kedatangan kita emang agak mengejutkan. Tapi ada hal yang mau gue sampaikan ke elo, sebelum semuanya terlambat," timpal Udin.
"Kalian mau ngomong apa?" Tanya Tania. "Jangan bikin gue bingung."
"Titan ...."
"Si Titan ...."
"Itu si Titan ...."
"Titan kenapa?" Tanya Tania.
"Titan meninggal Tania!" Satu tarikan napas dari Udin, membuat Tania tercengang dengan kalmat yang baru saja terlontar dari mulut Udin.
"Apa?!" Tania lantas langsung terkejut. "Kalian jangan bercanda!"
"Kita nggak bercanda Tania."
Suasana berubah menjadi genting. Derai air mata mulai menghiasi suasana di ruang rawat Tania ini. Tania masih terdiam. Namun, Udin, Deo dan Jonathan terlihat memasang wajah penuh dengan penyesalan yang memilukan.
"Kita terlambat," lirih Udin memilukan. "Gue nggak tau kalau kejadiannya bakal kayak gini." Udin terlihat menitihan air mata.
"Gue nggak nyangka kalau Titan secepat ini bakal ninggalin kita," timpal Jonathan.
"Titan sudah meninggal dunia. Rencana kita gagal, dan kita terlambat untuk menyelamatkan Titan," ucap Deo.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Tania pelan, namun matanya berkaca-kaca. "Jawab gue! Apa yang sebenarnya terjadi?! Titan kenapa?!" Tanya Tania penuh dengan penekanan.
Ratu mendekati Tania hati-hati. Wajah Ratu juga tidak begitu baik, air mata penyesalan membanjiri pipi Ratu.
"Tan, gue harap lo harus bisa menerima kenyataan. Titan meninggal. Semalem dia ngelakuin operasi besar. Dia mendonorkan jantungnya untuk Rayn. Dan yang gue ceritain soal Titan dateng ke rumah Deo itu, ternyata itu bukan Titan yang sesungguhnya. Itu adalah ruh Titan," ucap Ratu berhati-hati.
"Apa?! Nggak mungkin," Tania berusaha menepis bayang-bayang kelam itu. "Titan nggak mungkin meninggal. Tadi dia sama gue! Dia nggak mungkin meninggal!" Air mata memilukan jatuh membasahi pipi Tania.
"Lo harus bisa menguatkan hati lo, Tan. Kalau emang lo mau ketemu Titan untuk yang terakhir kalinya, lo bisa ke ruang anggrek nomer 3 di rumah sakit ini," ucap Deo pelan.
Tanpa bicara lagi, Tania langsung berlari menuju ruang anggrek nomer 3. Tania menangis memilukan sambil berharap bahwa semuanya ini rekayasa. Tania belum siap juga Titan harus pergi meninggalkan Tania untuk selama-lamanya.
Malam itu, ketika tubuh Tania mengigil, mungkinkah itu sebuah firasat? Bahwa akan ada seseorang pergi dalam kehidupan Tania untuk selama-lamanya.
Setelah menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah yang tertatih. Tania pun akhirnya sampai di depan ruang anggrek nomer 3. Lututnya semakin bergetar, karena jarak semeter saja suara tangis kian menggema dalam ruangan tersebut.
Dan,
"Titaannnnn,"
Tania menyaksikan pemandangan yang tidak begitu baik. Terlihat Rayn yang menjerit nama Titan, Ajeng yang tidak bisa menerima kepergian Titan, dan semua orang-orang yang menyayangi Titan tampak begitu histeris.
"Titan bangun! Gua minta maaf! Bangun, Tan! Bangun. Gue minta maaf, karena gue udah jahat sama lo. Bangun, Tan, please gue mohon bangun." Rayn terisak memilukan.
"Bang Titan jangan tinggalin Ajeng. Ajeng gak mau Bang Titan pergi. Bang Titan bangun." Suara jerit tangis Ajeng begitu pilu.
"Nak, bangun, Nak. Maafin Ayah."
"Selamat jalan, Nak. Tante selalu mendoakan kamu yang terbaik." Tante Amira pun turut hadir dalam suasana duka ini.
Suster pun mulai menutupi seluruh tubuh Titan dengan selimut putih. Ada pengorbanan besar yang Titan lakukan untuk Rayn. Dari situlah, Rayn tersadar, bahwa Titan adalah sosok Kakak yang begitu penyayang. Namun, Titan pergi untuk selamanya dan tidak akan pernah mungkin kembali lagi.
Tania menghampiri Titan yang sudah membujur kaku tak bernyawa. Isak tangis tak tertahankan membuat Tania semakin tidak bisa menghentikan air mata yang keluar dari matanya. "Aku nggak mau kamu pergi." Tania semakin menangis.
"Kamu jangan pergi!" Histeris Tania. Namun Ratu, Udin dan kawan-kawan yang baru saja datang langsung menguatkan Tania. Seringkali Tania melarang suster untuk tidak menutupi wajah Titan, namun Ratu menahan Tania.
"Titan belum meninggal suster! Dia masih hidup. Titan bangun, aku nggak mau kamu pergi. Aku butuh kamu. Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu," histeris Tania, lagi.
"Tan, ikhlaskan. Lepaskan Titan. Biarkan dia pergi dengan tenang." Ratu berusaha menguatkan.
"Titaaaan."
Lalu, terngiang kenangan-kenangan manis tentang Titan dalam memory Tania. Semua perlakuan manis, semua perkataan manis itu seakan terekam jelas dalam ingatan Tania. Ini bahkan seperti dihadapkan dengan sebuah mimpi buruk. Tania harus bisa merelakan kepergian Titan---si anak nakal yang sering absen di hari senin itu. Titan adalah sosok dandelion yang tegar, yang sudah melewati banyak rintangan besar dalam hidupnya.
"Aku baik-baik saja, Tania. Karena yang terpenting bagiku adalah kebahagiaanmu. Aku ingin kamu tetap bahagia meskipun ada atau tidak adanya aku di sampingmu, karena aku akan tetap tinggal di hatimu. Selamat tinggal," ucap bayangan putih yang berjarak tak jauh dari ruangan ini. Lalu, bayangan itu memudar dan menghilang tertiup angin.
K A N G E N
"Taniaa! Bangun, oy!"
Seseorang dengan beraninya membangunkan Tania yang sedang tertidur siang di dalam kelas.
"Titan!!" Sontak Tania terbangun sambil menyebut nama Titan.
"Titan? Lo mimpiin dia?"
"Ah, anu, itu, em, anu."
"Lo ditungguin si Titan di lapangan. Hari ini lo sama Titan lagi ada pertandingan badminton, kan?" Katanya.
"Rat. Gue mau ngomong sesuatu sama lo. Hari ini gue lagi nggak mau ketemu dulu sama Titan. Gue baper. Gue takut," ucap Tania pelan, Ratu pun mengernyit aneh.
"Tumben, lo. Karena biasanya juga lo kan sama Titan bagaikan musuh. Yang gue lihat juga biasanya lo itu amat sangat berani kalau berhadepan sama si curut Titan. Kenapa tiba-tiba nyali lo ciut gini, sih?" Tanya Ratu.
"Gue mimpiin dia."
"Apa?!"
"Ya pokoknya pada intinya gue baper sama mimpi tadi. Gue lagi nggak mau ketemu sama Titan dulu, please." Tania memohon pada Ratu.
"Baper sama mimpi. Emanganya lo mimpiin apaan? Lo mimpi basah sama Titan?" Ledek Ratu.
"Apaan, sih, lo. Ngaco, deh."
"Ya intinya, Titan nunggu lo di lapangan. Sekarang. Kalau enggak ya jabatan lo sebagai ketua badminton diganti sama Titan," ucap Ratu enteng.
"Ada Udin nggak?" Tanya Tania.
"Siapa Udin?"
"Temen kita. Yang kayak Andika kangen band."
"Lo sehat? Kita nggak punya temen namanya Udin, loh."
"Eh, iya, Nama aslinya Udin itu Rega. Dia ada kan?"
"Aduh Tania, kayaknya otak lo mulai ngaco deh. Lo sih tidur di siang bolong, mana tidurnya nyenyak lagi. Lo mimpiin apa, sih?" Tanya Ratu.
Tania terdiam, tak menjawab pertanyaan Ratu.
"Ternyata semua itu adalah mimpi. Mimpi di siang bolong yang mengubah semua perasaan yang ada di hati gue. Pada kenyataanya, gue dan Titan adalah sepasang musuh yang gila jabatan menjadi ketua badminton di sekolah Kejora ini. Ini aneh bagi gue, dan hal yang membuat gue seperti gila sendiri. Semua tokoh yang ada dalam mimpi gue pun ikut lenyap dan hilang. Udin yang gue kenal, ternyata nggak pernah ada dalam kenyataannya," batin Tania.
"Deo, Jonathan, dan Rayn?! Mereka ada di sini, kan?" Tanya Tania, lagi.
"Deo sepupu gue? Dia kan ada di Bali. Lagipula, lo nggak pernah ketemu, kan sama dia? Jonathan dan Rayn? Mereka kan temennya si Titan."
"Gue mimpi kalau Titan sama Rayn saudaraan. Saudara beda Ibu, tapi se-Bapak. Kakak-beradik tiri gitu."
"Lo aneh banget, sih, Tan. Rayn sama Titan itu mereka berdua sahabatan. Nggak mungkin mereka saudaraan. Lagipula, Titan itu kan anak tunggal seorang pengacara terkenal di kota Bandung ini. Sementara Rayn, Rayn kan anak pengusaha resto. Nggak mungkin bangetlah mereka saudara Kakak-beradik tiri seperti yang lo bilang tadi.."
"Jevin?"
"Yaelah. Si Jevin? Jevin mah abang gue. Abang kandung lebih tepatnya."
"Duh,"
"Lo kenapa, sih, Tan? Lo jadi aneh gini setelah tidur siang tadi. Lo kayak berubah jadi amnesia dadakan."
"Gue mimpi pacaran sama Titan, dan lo tau, gue kehilangan Titan. Dan itu bikin nyes banget ke hati. Sampai ... Lo lihat deh gue nangis, kan?" Tania berujar serius. Namun Ratu tertawa remeh.
"Ya ampun, dalem banget ya mimpinya, Bu? Sampai segitunya. Berarti selama ini lo ngarep jadi pacarnya Titan?" Ledek Ratu.
"Udahlah. Gue cabut. Mau ke lapangan."
Tania pun bergegas menuju lapangan dengan hati yang masih dihantui rasa baper oleh mimpi di siang bolong yang berhasil membuat seluruh perasaannya menjadi aneh tak karuan. Tania bahkan sangat takut untuk bertemu dengan Titan.
Dan semua kisah yang terjadi adalah hanya sebuah mimpi di siang bolong.
Pada kenyataannya, Titan adalah musuh terbesar Tania di sekolah. Terlebih pada saat Tania dinobatkan menjadi ketua badminton, Titan seakan tidak rela jika jabatan itu jatuh di tangan Tania.
Hari ini adalah pertandingan penentuan antara Tania dan Titan. Jika Tania kalah, maka Tania harus mengikhlaskan jabatannya pada Titan. Begitu pun sebaliknya. Namun, ada hal yang membuat Tania mengganjal. Mimpi itu masih menghantui pikirannya.
Kini, Tania tengah bersiap bersaing melawan Titan. Tania memegang raket yang menjadi andalannya pada saat bermain. Begitu pun dengan Titan, ia tampak gagah di sana. Sosok Titan yang jauh berbeda dari dalam mimpi. Nyatanya, Titan adalah seorang yang senang dengan hal-hal yang berbau seni dan kritikan. Titan juga adalah cowok yang sangat cuek jika berurusan dengan cinta. Tipikal cowok setia meskipun tampangnya melebihi seorang badboy. Namun Titan adalah seorang pengkritik yang tajam. Sesekali ia juga sering ikut menjadi pendemo bersama mahasiswa. Ia satu-satunya anak SMA yang senang dengan hal-hal yang berbau membela kebenaran.
Pertandingan pun dimulai. Jantung Tania berdegub kencang saat menatap mata lawannya yang mengingatkan ia pada sosok Titan dalam mimpinya.
"Mimpi itu seperti bola yang kulemparkan oleh raketku. Semakin aku berusaha untuk menghempasnya, semakin ia berani untuk kembali. Dan aku kembali menghempasnya, namun dia kembali lagi. Sampai pada akhirnya, aku menemukan titik bahwa aku harus menerima kekalahan, dan membiarkan bola tersebut jatuh dalam lingkaran kelemahanku. Aku pun harus mengakui kalau saat ini, aku terjatuh. Aku terjatuh untuk mencinta. Jatuh cinta pada dia yang berhasil memenangkan dan mengambil hatiku sesukanya. Aku mengakui, ini kekalahan terbesarku," batin Tania.
Tania kalah dalam pertandingan. Tentu, Titan memenangkan pertandingan ini. Konsentrasinya buyar oleh tatapan Titan yang membuatnya tidak bisa fokus. Titan dalam mimpi tentu berbeda dengan Titan yang nyata. Titan dalam nyata, adalah seorang musuh terbesar Tania. Meskipun di sekolah, Titan adalah cowok populer karena tampangnya yang sangat tampan, namun bagi Tania, nyatanya Titan hanya sebatas musuh. Yang jika bertemu, pasti bertengkar. Maka tiada hari tanpa bertengkar di antara keduanya.
Tania terdiam menyaksikan kekalahannya. Di sana Titan merayakan kemenangannya bersama teman-temannya.
"Titan," panggil Tania.
"Tania, lo harus bisa menerima kekalahan lo. Dan gue berhasil mengalahkan master seperti lo dalam pertandingan ini," ucap Titan tersenyum miring.
Tania justru malah menatap lekat dan begitu detail wajah Titan. Ada rasa 'kangen' dalam hati Tania pada sosok yang saat ini menghantui pikirannya.
"Kamu baik-baik aja, kan?" Tanya Tania begitu bodohnya. Titan pun mengernyit karena Tania tidak biasanya Tania menggunakan kata 'kamu' dalam kalimatnya pada saat berbicara dengan Titan. Namun Titan meremehkan hal itu.
"Seharusnya pertanyaan itu berlaku buat lo. Apa lo baik-baik aja setelah mendapatkan kekalahan untuk pertama kalinya dalam hidup lo?" Ucap Titan enteng.
Tania menjatuhkan air mata. Tapi tidak terisak. Air matanya jatuh begitu saja. Ternyata, pada kenyataannya Titan tidak mungkin bisa mencintainya.
"Ternyata kamu hanya sebuah mimpi," ucap Tania sangat pelan. Titan hanya mengernyit aneh.
"Tania, lo kenapa? Kenapa bisa lo kalah dari Titan?" Tiba-tiba Ratu menghampiri Tania yang terdiam namun matanya menangis seraya menatap Titan.
"Detik ini, gue memutuskan untuk keluar dari eskul badminton. Dan gue nggak akan mau main badminton lagi." Tania berujar pelan namun penuh dengan penekanan. Lalu Tania berlari kecil meninggalkan lapangan seraya menghapus air matanya.
"gue gak tau, ini perasaan kangen, kecewa, atau hal sangat sulit untuk gue artikan." batin Tania, saat berlari menjauh dari haddapan Titan.
Titan melihat aneh ke arah Tania yang semakin berlalu.
TAMAT.
__ADS_1