
Sepasang bola mata menatap haru ke atas langit yang hitam terhiasi bintang. Senyum tipis yang memesona, melunturkan semua rasa dingin yang ada. Seakan tidak lagi memperdulikan semilir angin yang terus berusaha menerbangkan anak rambutnya. Posisi terbaring diatas rumput halaman rumahnya, dan ia menjadikan sebelah tangannya seperti bantal---dengan posisi tertindih di bawah kepalanya.
Titan tersenyum sendiri. Senyum tak biasa, senyum manis, yang sudah bertahun-tahun ia sembunyikan, dan kali ini ia menebarkan kembali senyum itu.
Rasa bahagia, saat setelah ia mengantarkan Tania pulang, serta menyempatkan mengutarakan seluruh perasaannya pada Tania. Meski Tania tak sempat memberikan jawaban yang pasti, hanya menangis haru dan membalas pelukan Titan, namun itu semua sudah lebih dari sekedar cukup di mata Titan. Mungkin, Tania hanya butuh beberapa waktu untuk benar-benar menerima Titan sebagai lelaki yang mengisi relung hatinya yang kosong.
Ada yang membuat Titan bahagia kali ini, Tania seperti merespon dengan baik seluruh perasaannya, itu yang membuat Titan merasa kalau bahagianya benar-benar ada, walau bahagianya itu tercipta sangat sederhana, yaitu bisa mencintai dan dicintai dengan tulus.
"Wahai para bintang, gua gak pernah nyangka, kalau ternyata gua bakalan sebahagia ini. Padahal, gua udah mendiagnosa kalau diri gua itu enggak berhak untuk bahagia. Tapi, malam ini mata gua terbuka lebar, menatap dunia gua yang sempat hilang, dan gak pernah ada harapan untuk bangkit. Gua semakin ngerti, bahwa cinta memang di atas segala-galanya," ucap Titan sangat pelan, sorot matanya benar-benar penuh makna. Detik kemudian, Titan tersenyum lagi, sambil merasa dirinya benar-benar sudah gila karena perasaan cintanya ini.
"Tapi gua janji, gua gak akan pernah menuntut apa pun dari orang yang gua cintai. Karena gua selalu percaya dengan kalau Tuhan, sebentar lagi akan memberikan kehidupan yang bener-bener indah untuk gue. Ya, gue selalu percaya," ucap Titan pelan. Ia tersenyum lagi, menatap bintang yang berkerlip indah.
Titan mengangkat sebelah tangan kirinya---sementara tangan kanannya ia tindih di belakang kepala, karena posisinya sedang terlentang di halaman rumahnya. Maksud Titan mengangkat tangannya adalah; ia menunjuk satu bintang, atau bahkan menghitung banyaknya bintang di langit sana, perasaannya bahagia, karena ia tidak mampu menghitung banyaknya bintang di langit gelap itu. Kemudian, ia mengerti, tentang sebuah perasaan, yang mungkin ia mengibaratkan bahwa; perasaanya sama seperti banyaknya ribuan bintang penghias malam, jumlahnya banyak, tidak bisa dihitung, mungkin perasaan ke Tania juga seperti itu.
Detik kemudian, Titan pun mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menghela napas pelan, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, ada rasa kantuk menyerang matanya. Lalu Titan pun bangkit berdiri dan masuk ke dalam rumahnya. Namun perlu diingat sekali lagi, perasaan Titan kali ini jauh sangat lebih baik dari hari-hari kemarin. Titan bahagia.
Kangen
Sabtu pagi, suasana sekolah SMA Kejora ini nampak seperti biasanya. Ramai, penuh dengan aktifitas para murid. Biasanya, hari sabtu adalah hari yang khusus untuk para murid mengikuti kegiatan pembelajaraan di luar kelas seperti olahraga dan berorganisasi, karena sesungguh kegiatan belajar dan mengajar di dalam kelas itu hanya aktif di hari senin sampai jumat, dan hari sabtunya digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang edukatif dan lebih produktif guna untuk meningkatkan kreatifitas setiap murid. Agar juga menghindari rasa bosan dengan metode pembelajaran di dalam kelas.
Terlihat Titan yang nampak santai menggunakan kaos olahraga. Titan berdiri di dekat tihang bendera, sambil menyaksikan beberapa murid lainnya yang tengah berkumpul di lapangan basket.
Karena merasa malas, dan tidak tahu harus berbuat apa, Titan pun menghela napas pelan, dan membalikan badannya untuk meninggalkan tempat ini. Kali ini alam bawah sadarnya menyuruhnya untuk menemui Tania, atau setidaknya ia bisa bersantai-santai di kantin.
Namun ...
dug!
Tiba-tiba lemparan bola basket mengenai punggung Titan, membuat Titan memejamkan matanya sedetik lalu menghela napas pelan, menahan emosinya. Titan tahu, siapa yang melakukan hal tersebut padanya. Titan pun menoleh ke belakang, dengan tatapan nampak malas, setelah tahu siapa orang yang sudah melemparkan bola basket itu, dengan malas Titan membalikan badannya lagi.
"Lo? Nyari gara-gara sama gua?" Tanya Titan dengan enteng, sambil menatap malas ke arah orang yang melemparkan bola basket yang cukup keras ke punggung Titan.
Orang itu justru malah seperti menantang Titan, "Lo gak tau gua siapa? Gua Rayn Mahardika. Seharusnya lo lebih bisa menghargai gua di sini," jelasnya. Ya, orang itu adalah Rayn, Rayn terlihat seperti marah terhadap Titan, namun entah penyebabnya apa. Titan membalasnya hanya dengan tersenyum remeh.
"Lo bilang menghargai? Terus yang lo lakuin barusan itu apa?" Titan menggelengkan kepala pelan dan tersenyum remeh, "Bilangnya menghargai, tapi lo sendiri gak bisa untuk menghargai orang lain," sindir Titan santai, senyum remehnya kembali mengembang.
"Lo bilang apa?" Rayn menyolot, karena merasa tersindir.
"Udah. Lo main aja yang bener. Gak usah peduliin hidup gue. Lagipula, lo sama gua gak ada masalah kan? Yaudah berarti lo gak usah cari-cari masalah sama gua," ucap Titan.
"Justru lo yang nyari masalah sama gua!" Rayn berseru. Titan menaikan alisnya sebelah, entah apa yang membuat Rayn seakan ingin membakar emosi Titan yang sedari tadi berusaha untuk tenang.
"Ck! Gua gak pernah ada masalah, ya, sama lo!" Titan gak kalah berseru, emosinya mulai terpancing.
Semua murid yang melihat pun nampak diam, entah apa yang membuat Rayn semarah itu pada Titan. Titan sendiri pun tidak tahu apa penyebabnya. Kini, perdebatan antara Rayn dan Titan pun mulai menjadi tontonan para murid lain.
"Heh, lo raja PHP! Beraninya lo nge-PHP-in Tania. Asal lo tahu, lo gak punya hak untuk itu! Bahkan lo gak ada hak buat deket sama Tania!" Rayn berseru, menampakkan kalau dirinya benar-benar tidak bijak. Membuat Titan mengerti, apa yang membuat Rayn semarah ini.
"Oh jadi lo mau belajar soal hak asasi manusia? Iya? Lo kan jenius, jadi bintang kelas, kenapa harus minta belajar hak sama gua? Kita semua tau kok, soal hak-hak di setiap orang. Semua orang bebas menentukan hak dalam kehidupannya. Jadi, lo gak bisa ngatur berhak atau enggaknya gua deket sama Tania atau sama siapa pun. Kalau emang gua gak berhak buat deket sama Tania, terus apa hak lo buat ngelarang gua? Kita tuh laki, man. Lo harusnya bisa ngerti! Bukan bertingkah cemen kayak gini!" Titan berujar remeh, sementara Rayn di sana semakin terbakar emosi.
Sementara dari kejauhan, Deo menyaksikan nampak panik. "Aduh, gawat nih, bisa perang dunia ini." Dengan sigap Deo pun langsung menghampiri Titan dan Rayn, untuk menjadi penengah, sebelum ada murid lain yang melaporkan ini ke guru.
"Wet, wet, wet, selow man, santai kayak di pantai, selow kayak di pulau. Hehe. Lo berdua lagi latihan drama? Perasaan gak ada adegan mau berantem kayak gini, deh? Titan kan jadi ustadz, dan Rayn jadi peran utama? Masa ustadz sama peran utama mau berantem, sih? Kan gak ada di dalam scene dramanya." Deo mengalihkan pembicaraan membuyarkan emosi yang bergemuruh dalam diri Titan. Sementara Rayn berdecak saat mendengar ocehan Deo yang aneh dan tidak nyambung.
"Tolong lo bilang sama temen lo ini, gua mau nantangin dia maen basket!" Seru Rayn pelan penuh penekanan. Matanya tertuju pada Deo, namun tangan kanannya menunjuk Titan, jelas Titan hanya berdecak pelan.
Titan menatap Rayn tidak suka.
Deo seolah menanggapi perkataan Rayn dengan baik dan ceria, "Oh, jadi lo mau ngajak maen basket? Ayo sama gua aja. Kalau masalah maen basket gua jagonya." Deo berujar dengan semangat.
"Ck! Lo bisa apa?" Tanya Rayn remeh.
"Banyak. Kalau soal bola mah semuanya gue bisa," tegas Deo.
"Apa yang lo bisa? Basket?" Tantang Rayn.
"Basket? Ah, itu mah lewat."
"Futsal?"
"Lewat."
"Volly?
__ADS_1
"Apa lagi itu, lewat itu mah," remeh Deo. Berlaga menguasai seluruh permainan seputar bola.
"Oke. Gua nantang elo sama Titan untuk beradu keahlian dalam bermain basket sama gua. Sekarang!" ucap Rayn tegas.
"Yaelah maen basket. Udah biasa itu mah. Eh, ya, asal lo tau Rayn, gua emang anak baru di sekolah ini, lo juga mungkin enggak tau semua bakat gua, gua itu multi talenta, semuanya gua bisa. Kalau basket mah kecil bagi gua, udah biasa. Nih, ya, gue saranin sama lo, kalau mau nantangin yang lebih sulit kek, kalau nantangin basket, sorry gua sama Titan gak bakal maen." Deo berujar dengan sombong. Rayn berdecak kesal.
"Oke. Kalau gitu kita maen futsal!" Seru Rayn.
"Yah, apalagi itu, terlalu biasa cuy." Deo semakin membuat Rayn terbakar emosi.
"Yaelah. Lo berdua buang-buang waktu tau gak. Sorry, daripada gua di sini dengerin kalian berdua ngoceh kayak gini, gua cabut ajalah." Titan berujar malas. Deo pun mengangkat jempolnya---karena ini yang Deo inginkan, supaya tidak ada perdebatan antara Titan dan Rayn yang akan menimbulan perkelahian. Taktik seorang Deo, ia memang cerdas, paling bisa untuk beralasan.
"Eh, Titan! Lo mau ke mana?! Gua belum selesai ngomong!" Teriak Rayn, namun Titan berlalu tanpa memperdulikan.
Dengan pelan, Deo pun berusaha untuk kabur dari hadapan Rayn, saat pandangan Rayn tertuju kesal pada Titan---yang semakin berlalu.
"Eit! Lo masih punya urusan sama gua!" Rayn menarik bahu Deo, saat menyadari bahwa Deo sedang mengendap berusaha kabur dari Rayn.
Deo cengengesan. "Urusan apa, ya?" Deo berlagak polos dengan wajah yang terpasang tak berdosa.
"Gua nantang lo buat maen bola!"
"Ta-tapi, sorry kayaknya gua ada urusan mendadak."
"Udah. Lo gak usah ngeles. Kalau emang lo jago dalam urusan bola, lo bakal ambil tantangan gua, kalau lo berusaha menghindar dari gua, berarti lo pengecut!" Jelas Rayn.
Wajah Deo terlihat panas, seperti banteng yang mengamuk saat melihat musuh.
"Oke, gua bakal ambil tantangan lo. Tapi gua saranin, kalau masalah maen basket itu udah biasa, ah, lewat itu mah. Kalau futsal? Apalagi, gua udah terbiasa jadi juara futsal se-RT di kampung gua. Volly? Asemeleh, biasa banget, gua sering tuh maen Volly waktu gua masih tinggal di Bali. Pokoknya semuanya biasa buat gua." Deo berujar dengan amat sangat sombong.
"Terus?"
"Gini deh gini, gimana kalau gua yang nantangin elo, ini juga seputar bola," ucap Deo.
"Oke. Siapa takut?!"
"Basket udah biasa. Volly biasa juga. Futsal juga udah bisa. Em...." Deo mengetuk-ngetukan dagunya sejenak, "Ah, gimana kalau gua tantang lo buat maen bola bekel?" Sambung Deo, Rayn pun terlihat melotot, lantas Deo langsung berteriak "Kabur!"
"Receh! Lu pikir gua bocah?!" Maki Rayn. Namun Deo malah berlari terbirit-birit, tanpa memperdulikan makian Rayn.
Kangen
Saat ini Titan sedang duduk santai di pojokan kantin, sesekali ia menahan sakit di punggungnya karena hantaman bola basket yang dilempar Rayn begitu sangat keras. Namun kini, Titan berusaha untuk tidak menampakan kalau dirinya menahan rasa sakit.
Kantin ini tidak begitu ramai, tidak pula terlalu sepi. Titan pun sama sekali tidak terganggu oleh beberapa siswi yang sesekali melintas di hadapannya dan berusaha mencuri perhatian Titan. Titan hanya cuek. Duduk saja, tanpa memperdulikan siapa saja yang berusaha mendapatkan perhatiannya.
Tiba-tiba Deo menghampiri Titan dengan sumringah diiringi dengan cekikikan.
"Duh-duh, sakit perut gue." Deo duduk tanpa permisi di sebelah Titan, sambil cengengesan tak karuan.
"Waras lo?" Tanya Titan pelan.
"Anu itu... Haha... Anu loh itu, si Rayn haha." Deo berujar tak kuasa menahan gelak tawa---karena merasa puas telah membuat Rayn amat sangat kesal.
"Una-anu-una-anu. Lo ngomong apa?" Titan berujar malas.
"Ya pokoknya anu lah, gua gak bisa jelasin, intinya gua cukup terhibur udah bikin si Rayn kesel. Hehe." Deo mulai meredamkan gelak tawanya, dan mulai duduk tenang di samping Titan.
"Eh iya, Tan, pulang sekolah lo mau latihan drama lagi, kan?" Tanya Deo.
"Iya. Tapi kayaknya gua bakal izin," ucap Titan pelan. Deo mengernyit.
"Izin kenapa?"
"Kepo, lu!"
"Yaelah. Ya, enggak biasanya aja lu kayak gini. Lagi sakit lo, ya?"
"Ck! Gua cabut dulu, ya."
"Lah, mau ke mana? Gue baru duduk, nih, pesen makanan dulu kek, apa kek. Maen cabut-cabut aja," ucap Deo, namun Titan malah berlalu tanpa memperdulikan Deo.
Ada yang berbeda dari Titan. Entahlah. Mungkin karena Titan merasa sakit pada punggungnya, atau malah memang Titan lagi tidak enak badan. Deo merasakan kalau ada yang aneh dari cara Titan bersikap. Karena memang mustahil, jika Titan selemah itu, bola basket yang terlempar keras ke punggungnya itu akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Titan bukan cowok lemah, ia adalah cowok tangguh. Kalau hanya lemparan basket yang keras itu tidak menjadi hal yang paling sakit. Karena Titan tahu semua hal-hal yang paling menyakitkan di dunia ini, kalau hanya sakit terkena lemparan keras bola basket, itu bukan apa-apa bagi Titan.
__ADS_1
Langkah Titan berjalan ke arah ruang UKS. Mungkin ia hanya ingin merilekskan badannya di sana, atau hanya sekedar membaringkan badannya, yang terasa sedikit sakit.
Sementara Deo di kantin ini malah asyik memesan banyak makanan. Ia sangat gembul dan rakut, walaupun ia memiliki porsi makan banyak, namun tubuhnya tetap tidak bisa gemuk. Tetap kurus.
Tiba-tiba Tania melintas di hadapan Deo, dengan segera Deo langsung memanggil Tania.
"Tan!" Panggil Deo.
Tania menoleh, "Iya?"
"Mau ke mana?"
"Ke UKS."
"Oh. Gua tadi lihat si Titan berjalan menuju UKS. Kayaknya dia lagi sakit, deh."
"Titan sakit?"
"Iya. Soalnya dia beda."
"Beda kenapa?"
"Kayak yang nyembunyiin sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Gak tau, sih. Tapi sebelumnya, dia sempet adu omongan sama si bangor Rayn. Tapi untungnya ada gue yang misahin."
"Adu omongan? Debat maksudnya?"
"Iya debat."
"Apa yang mereka debatin?" Tanya Tania.
"Gue gak tau pasti. Tapi sebelum memulai perdebatan, gue ngelihat si Rayn ngelemparin bola basket ke punggung si Titan, cukup keras, sih. Kayaknya mereka lagi perang deh. Lagi ngerebutin sesuatu, sih, gue rasa. Tapi nama lo juga disebut-sebut, Tan. Gue rasa mereka berdua lagi memperebutkan elo, Tan," ucap Deo panjang lebar. Tania terdiam, tanpa menjawab obrolan Deo, Tania pun berlari kecil menuju ke ruang UKS. Perasaannya dipenuhi rasa khawatir pada Titan.
Mungkinkah itu perasaan cinta? Tania kini jauh lebih khawatir terhadap Titan. Padahal dulu, Tania sangat tidak terlalu mempedulikan Titan, atau bahkan merasa khawatir pun sama sekali tidak pernah. Ada perasaaan takut dalam hatinya, takut jika terjadi sesuatu terhadap Titan. Apa bisa dikatakan itu adalah sebagian dari rasa cinta? Entahlah.
"Titan," panggil Tania saat memasuki ruang UKS. Tania mencari ke sana-ke mari, sambil sesekali memanggil nama Titan.
"Aku di sini," sahut Titan---yang berada di atas brankar yang terdapat di pojok kiri, dengan posisi terbaring. Terbaring dengan mata tertutup, namun ia tidak tidur, hanya merileksasikan tubuhnya saja.
Tania menghampiri Titan, "Kamu kenapa? Kamu gak apa-apa, kan?" Ucap Tania memperlihatkan dengan jelas rasa khawatirnya---tanpa ia sadari.
Titan yang tadinya memejamkan matanya, langsung membuka mata dan menoleh ke arah Tania, disertai dengan senyum yang mengembang manis pada Tania.
"Aku seneng kamu khawatir kayak gini. Kamu tenang aja, aku gak apa-apa. Cuma gak enak badan aja. Sebentar lagi juga sembuh." Titan berujar santai, seolah semuanya baik-baik saja. Ya, memang semuanya baik-baik saja.
Ada raut kekhawatiran di wajah Tania, Titan pun merasakan hal itu. Tania berusaha memberikan perhatian yang lebih pada Titan dengan cara memeriksa kesehatan Titan, dengan kemampuan yang Tania miliki---sebagai ketua PMR.
Tania menyentuh kening Titan, "Kamu beneran gak kenapa-napa? kening kamu lumayan anget," ucap Tania. Titan tersenyum tipis, sambil melepaskan tangan Tania, dan meletakkan tangan Tania di atas dada sebelah kanan.
"Aku gak kenapa-napa. Hanya saja jantungku yang sedikit berontak," ucap Titan tersenyum jahil.
"Jantung kamu kenapa?" Tanya Tania serius.
Titan semakin tersenyum senang melihat ekpresi khawatir dari wajah Tania.
"Jantungku yang berdetak jauh lebih cepat saat kamu ada di dekatku," Titan berujar dengan senyum tipis yang lagi-lagi mengembang dengan sangat penuh pesona.
Lalu, Titan mengubah posisinya menjadi duduk. Tania pun sedikit mundur beberapa langkah, Namun tangannya masih digenggam oleh Titan, membuat Tania pun sedikit gugup dan tak tahu harus apa, padahal jelas sangat terlihat, kalau Tania sedang khawatir dengan keadaan Titan.
"Dengan adanya kamu di samping aku, semua rasa sakit yang aku rasain itu seketika hilang gitu aja. Kepada Cinta, aku berani singgah dan aku pun berani untuk sungguh." Titan berujar dengan sorot mata yang begitu dalam, Tania pun mencoba untuk memberanikan diri menatap kembali sorot mata yang sangat indah itu.
Tania diam mematung, ia tak tahu harus berbuat apa, yang ia lakukan saat ini adalah hanya bisa menetap kembali sorot sayu sepasang mata Titan yang sangat memesona.
Titan menghela napas, disertai senyum. "Aku gak maksa, kalau kamu emang ragu sama aku." Titan berujar sambil melepaskan pegangan tangannya pada tangan Tania.
"Titan," panggil Tania. Kali ini Tania membuka suaranya, Titan pun kembali menatap mata Tania---tanda kalau dirinya menyahut ketika Tania memanggil namanya.
"Kalau memang bintang pun memerlukan tempat gelap untuk selalu bersinar terang, seperti ikan yang selalu membutuhkan air untuk selalu hidup. Maka apa bedanya denganku? aku membutuhkan seseorang yang tulus untuk menghabiskan waktu bersama-sama mencari arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku membutuhkan seseorang yang bukan hanya menerima segala kesempurnaan yang aku punya, tapi aku membutuhkan seseorang yang benar-benar siap menerima segala kekuranganku."
Titan semakin menatap Tania dalam, dan kembali meraih tangan Tania---menggenggamnya dengan lembut dan penuh rasa.
__ADS_1
"Jadi?" tanya Titan.
"Aku melihat semuanya dari kamu," ucap Tania serius. Tania menyempatkan untuk menghela napas sejenak, "Kita pacaran," jelas Tania.