
...HappyReading🌻...
Sudah dua minggu Mikayla dirawat di Rumah Sakit setelah ia sadar, dan hari ini tepat dihari kamis ia sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Kamu bisa jalan sendiri?" tanya Pratama.
Mikayla tersenyum menatap Pratama. "Iya om." jawabnya berusaha selembut mungkin.
Pratama tersenyum memaklumi putrinya.
"Saya ini papa kamu, masa dipanggil om sih."
Mikayla tersenyum kikuk, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hening beberapa saat dengan suasana yang cukup canggung, hingga suara Septian menyadarkan mereka dari lamunannya.
"Septian bantu ya Om," ucap Septian mengambil tas yang berisi pakaian kotor Mikayla. Ya Septian sengaja izin dari sekolah hanya untuk mengantarkan Mikayla pulang, padahal Mikayla sudah melarangnya tapi Septian tetaplah Septian yang keras kepala.
Pratama tak menjawab ia hanya tersenyum membiarkan calon menantunya ini membawa tas milik Mikayla. Ah... Bahkan ia sudah berani memanggil Septian dengan sebutan calon menantu.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya lift pun terbuka, ada beberapa orang yang menunggu di luar lift atau mungkin tidak beberapa tapi mampu membuat mereka bertiga berdesak-desakan untuk keluar dari lift tersebut.
Septian sedikit mendekap Mikayla erat, tak ingin gadis itu merasa kesakitan karena sesak. Setelah berhasil keluar dari dalam lift Mikayla menatap Septian, pandangan mereka seakan-akan terkunci hingga suara seseorang mengintrupsi mereka.
"Kalau mau berduaan di rumah aja nanti, Papa ada meeting hari ini." jelas Pratama membuat dua manusia itu tersenyum kikuk.
__ADS_1
Septian memegang telinganya, sedangkan Mikayla menunduk tak berani menatap Septian atau pun Pratam-papanya mengapa rasanya suasana menjadi akward seperti ini buat Mikayla malu saja.
Pratama sedikit meringis kecil, melihat dua orang di depannya ini cuman berdiam diri.
"Kita jadi pulang tidak?" tanyanya setelah menatap jam yang berada di lengan kirinya.
"Ja-jadi." jawab Mikayla lalu segera berlalu membuat dua pria di belakangnya mengikuti langkahnya.
Hingga mereka berada di parkiran Rumah Sakit, dengan cepat Mikayla membuka pintu mobil lalu memejamkan matanya, kepalanya sedikit berdenyut. Sedangkan Septian ia sedang memasukkan tas yang berisi pakaian kotor Mikayla ke dalam bagasi mobil. Setelah selesai dengan cepat ia masuk ke dalam mobil tak ingin membuat Mikayla menunggu lama.
"Kepalamu sakit?" tanya Septian melirik Mikayla sekilas.
Mikayla hanya menganggukkan kepalanya singkat, terlalu malas untuk berbicara atau sekedar membuka mata.
Septian mengangkat tangannya mengusap kepala Mikayla lembut, lalu mengacak rambut Mikayla gemas membuat sang empu mendesis.
Mikayla membuka matanya lalu mencoba menyingkirkan tangan Septian dari kepalanya, tapi Septian malah membuat rambutnya semakin berantakan.
"Septian ih, rambutku rusak!" protesnya menyingkirkan tangan Septian dari kepalanya.
Mungkin sekarang Septian dalam mode modus syalalala, ia mulai memegang salah satu tangan Mikayla. Menggenggamnya erat seolah-olah jika ia lepaskan maka Mikayla akan pergi.
Mikayla bedecak, mencoba melepaskan genggaman tangan Septian. "Bentar dulu deh." ucapnya berusaha melepaskan genggaman tangan Septian tapi bukannya terlepas Septian malah menggenggamnya semakin erat.
__ADS_1
"Septian ih!"
Septian tak menjawab mencoba menghiraukan Mikayla, ia terus fokus pada jalanan yang ada di depan. Mikayla yang tak mendapati respon hanya pasrah dengan apa yang Septian lakukan, kepalanya terlalu sakit untuk melawan mahluk seperti pria yang ada di sampingnya ini.
Mikayla memejamkan matanya mencoba untuk terlelap kepala sedikit berdenyut, mungkin karena ia belum meminum obatnya.
Setelah menempuh perjalanan dalam waktu 20 menit akhirnya mereka telah sampai di kediaman keluarga Abrisham. Septian menoleh menatap Mikayla yang masih setia menutup matanya, Septian mengangkat tangannya lalu mengusap kepala Mikayla lembut.
Septian membuka pintu mobil berlajan ke arah pintu mobil penumpang lalu menggendong Mikayla menuju kamarnya.
Dengan hati-hati Septian menggendong Mikayla menaiki tangga.
"Loh den, non Mikayla kunaon eta mah?" tanya asisten rumah tangga yang tiba-tiba datang membuat Septian sedikit terlonjak tetapi dengan cepat ia menjaga keseimbangannya agar Mikayla tidak terjatuh.
"Ngak apa-apa bi, bi saya bisa minta tolong tidak?"
"Iya den."
********
Gimana? Dapat feelnya ngak?
Jangan lupa tinggalin jejak dong biar makin semangat ngetiknya wkwk.
__ADS_1