Tomboy Girl

Tomboy Girl
BAB 67


__ADS_3

...HappyReading🌻...


Hari sudah berganti menjadi minggu dan minggu sudah berganti menjadi bulan. Sudah hampir satu tahun Septian tidak mengetahui kabar tentang gadisnya, Mikayla.


Sudah hampir satu tahun, Septian tidak pernah bertemu dengan Mikayla. Bahkan Putra sahabatnya sendiri kini menjaga jarak dengannya.


Putra sudah kembali ke Indonesia beberapa bulan yang lalu, tapi sifat pria itu sukses memberikan tanda tanya besar terhadap Septian, Alvian, dan Jeon.


Putra menjadi pribadi yang tertutup saat ini, tidak akan bicara jika hal yang di katakan tidaklah penting. Benar-benar aneh.


Seorang pria memasuki sebuah cafe dengan sedikit tergesa-gesa, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang akan ia temui hari ini, hingga perhatiannya teralihkan sesaat ia melihat seseorang melambaikan tangan padanya. Orang itu tak sendiri, ia bersama seseorang yang sedang duduk di sampingnya, sibuk memainkan ponsel.


"Lama bangat lo." ujar Jeon saat Septian sudah duduk di sampingnya membuat Alvian mendongak sedikit menatapnya, lalu pria itu meletakkan ponselnya di atas meja.


"Gimana, lo dapat kabar?" tanya Septian, ia menatap Jeon dengan penuh harap.


Jeon dan Alvian menggelengkan kepalanya secara bersamaan, yang membuat Septian menghembuskan napasnya pelan, merasa kecewa.


"Sorry, Putra nggak mau buka mulut." ujar Jeon.


"Iya, kita tanya dia cuman diam aja. Bahkan dia nganggepnya kita ngak ada." imbuh Alvian membenarkan ucapan Jeon, ada nada kesal di setiap ucapannya.

__ADS_1


"Putra kenapa sih?" tanya Septian mulai frustasi.


"Kalau gue liat-liat dia kayak kepukul gitu?" Jeon mulai menyimpulkan.


"Maksud lo Putra abis berantem? Tapi mukanya oke-oke aja kok tadi." tanya Alvian polos yang di balas Jeon dengan toyoran di kepala pria itu. "Bukan itu, elah, maksud gue tuh batinnya kayak kepukul gitu."


"Eh, maksud lo Putra di santet gitu?" Alvian berucap dengan ekspresi terkejutnya membuat Jeon tak segan segan memberikan pukulan kepada pria itu.


"Lo serius dikit bisa nggak sih?" Jeon mulai kesal sendiri.


"Gue kan nanya, gimana sih lo." balas Alvian tak mau kalah."


Septian mengernyit, tak mengerti maksud dari ucapan Jeon yang sebelumnya.


"Apa?" tanya Jeon dan Alvian secara bersamaan.


"Yang tentang Putra, batinnya kepukul itu maksudnya apa?" tanya Septian memperjelas


"Ya... Mungkin, Mikayla..."


"Jaga ucapan lo!" belum sempat Jeon menyelesaikan ucapannya, Septian sudah menyela, pria itu sudah berdiri menarik kerah seragam sekolah yang masih di kenakan Jeon membuat pria itu mau tak mau juga ikut berdiri akibat tarikan dari Septian.

__ADS_1


Alvian ikut berdiri, memisahkan Jeon dari Septian yang kini tersulut emosi.


"Lo kenapa sih, kendaliin emosi lo." Alvian kembali mendudukkan Septian, sadar akan mereka saat ini menjadi pusat perhatian pengunjung cafe.


Jeon membenarkan seragamnya, lalu kembali duduk di tempatnya semula. Bersikap seolah-olah tak terjadi sesuatu.


"Sorry." Septian berujar sembari memijat pangkal hidungnya sesaat, kepalanya terlalu sakit memikirkan semuanya.


"Jadi sekarang gimana?" tanya Alvian mencoba mencairkan suasana.


"Nggak ada yang bisa dilakuin selain menunggu." jawab Jeon, membuat Septian meliriknya sekilas.


Septian berdiri, mengambil kunci motor dan ponselnya di atas meja.


"Mau kemana lo?" tanya Alvian.


"Balik." jawab Septian lalu beranjak dari sana tanpa menunggu balas dari kedua sahabatnya.


Alvian hendak menahan kepergian Septian tapi ia di cegah oleh Jeon, pria itu menggelengkan kepalanya sekilas saat melihat Alvian ingin berujar.


"Dia butuh waktu."

__ADS_1


*******


Sudah mau menuju ending nih") kira-kira endingnya bakal gimana? Wkwk tunggu part selanjutnya yaa. Jangan lupa jejaknya.


__ADS_2