Tomboy Girl

Tomboy Girl
BAB 72


__ADS_3

...HappyReading🌻...


Lampu sudah menyoroti mereka berdua di saat alunan yang mereka nyanyikan bersama, membuat suara sorakan terdengar begitu keras.


Septian mematung, menatap jelas gadis yang ada di panggung yang juga ikut menatapnya dari kejauhan, gadis itu tersenyum ke arah Septian sebelum meneteskan air matanya. Ia yakin, Septian tak salah liat. Gadis itu benar gadisnya, gadis yang ia tunggu kehadirannya selama satu tahun lamanya, gadis yang memporak-porandakan hati dan perasaannya, gadis yang ia rindukan bahkan sangat ia rindukan kehadirannya.


Gadisnya kembali. Ya, Mikayla kembali.


Suara tepuk tangan yang meriah terdengar saat mereka sudah menyelesaikan lagunya. Dengan cepat gadis itu turun dari panggung, pertahanan yang ia bangun roboh saat ia melihat pria yang ia rindukan selama ini.


"Mikayla, lo mau kemana?" panggil Jeon, menahan lengan gadis itu.


Mikayla menunduk, tak ingin Jeon melihat wajahnya malam ini.


"Gue ke toilet bentar." jawab gadis itu, melepas genggaman tangan Jeon tanpa menatap pria itu.


Mikayla segera berlari, meninggalkan Jeon yang  menatapnya heran. "Perasaan toilet di sebelah barat deh, kenapa dia larinya ke utara?" tanya Jeon yang entah di tuju kepada siapa. Tak berselang lama, Septian datang dengan napas yang tidak beraturan.


"Mikayla mana?" tanya Septian to the poin, ia berusaha menetralkan napasnya.


"Tadi lari ke sana." jawab Jeon jujur.

__ADS_1


Tanpa mengucapkan kata terima kasih, Septian segera menuju ke arah yang di ucapkan pria itu.


"Astagfirullah, nasib gue emang selalu di tinggal." ujar Jeon mengelus dadanya bersabar.


...🌻...


Mikayla duduk di salah satu bangku taman yang tersedia di sana, ia menggigit bibinya dalam agar tak keluar suara isakan.


Dasar cengeng.


Gadis itu mengusap kedua pipinya pelan, untung saja make up yang ia gunakan tidak terlalu tebal malam ini.


Mikayla mendongak agar air matanya tidak keluar, ia mengedipkan matanya berkali-kali agar tangisnya berhenti.


Suara itu membuat Mikayla tersentak, ia mencari sumber suara itu dan menemukan Septian di belakangnya sedang berdiri menatapnya.


Septian mengangkat kakinya, mendekat ke arah Mikayla hingga ia tepat berada di samping gadis itu.


"Boleh duduk?" Septian bertanya tanpa menggunakan subjek.


Mikayla tak menatapnya, tapi Septian dapat melihat dengan jelas walau cahaya sedikit remang gadis itu menganggukkan kepalanya pertanda ia setuju.

__ADS_1


Septian duduk tepat di samping gadisnya itu, dan saat itu juga pertahan Mikayla kembali roboh hanya karena pria yang ada di sampingnya.


Sekeras apa pun Mikayla menahan isakannya, tapi tetap saja Septian dapat mendengar tangisan gadis itu.


Septian menyodorkan sapu tangannya ke arah Mikayla.  Namun, siapa sangka bahwa sedari tadi pria itu mencoba menetralkan detak jantungnya dengan cara bersikap tenang seperti ini.


Muna banget sih gue.


Mikayla menangis sejadi-jadinya, ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Saat ini yang ia inginkan hanya menangis, mencoba menenangkan hati dan pikirannya.


Septian terdiam, tak tau harus berbuat apa, pikiran dan hatinya saat ini berbeda pendapat. Pikirannya menyuruh ia diam, tapi hatinya sangat ingin memeluk gadis itu menyalurkan kerinduan yang mendalam.


"Septian ingat ya kata mama, apa pun yang terjadi nanti ikuti kata hati Septian yah." ujar wanita paruh baya itu sembari mengusap kening Septian. "Karena sejatinya hati tidak akan pernah bohong."


Tiba-tiba ingatan Septian akan ucapan mamanya itu terlintas begitu saja. Dan tanpa aba-aba, pria itu menarik Mikayla ke dalam dekapannya, mengusap pelan rambut pirang yang dimiliki gadis itu. Septian meletakkan dagunya tepat di atas pucuk kepala Mikayla, menghirup aroma shampo yang di gunakan Mikayla, masih sama dan Septian benar-benar merindukannya.


Berselang beberapa menit, tak ada balasan dari Mikayla, gadis itu juga tak menolak. Ia tidak memberontak ingin melepaskan pelukannya, hingga beberapa saat tangan Mikayla terangkat membalas memeluk Septian bahkan ia mengeratkan pelukannya. Seakan-akan jika ia melepaskannya, Septian akan hilang seketika. Gsdis itu meletakkan wajahnya tepat di dada bidang milik Septian hingga ia dapat mendengar detak jantung pria itu yang melebihi batas normalnya.


"Maaf ya, maaf bangat." ujar Septian tiba-tiba, mencium pucuk kepala Mikayla.


*******

__ADS_1


Gimana? Dapat feelnya ngak?


Jangan lupa tinggalin jejak dong biar makin semangat ngetiknya wkwk.


__ADS_2