
...HappyReading🌻...
Ngak salah nih alamatnya?
Mikayla menatap rumah besar dengan pagar bewarna hitam yang menjulang tinggi dihadapannya, Sekali lagi Mikayla mengecek ponselnya mencoba memastikan bahwa ia tidak salah alamat.
Bener kok.
Saat Mikayla mendekati gerbang besi itu, dengan tiba-tiba gerbang itu bergeser dengan sendirinya membuat Mikayla sedikit terkejut.
"Sepi amat." ujar Mikayla mengamati, tatapannya terhenti pada mobil BMW bewarna silver yang terparkir rapi di halaman rumah itu.
Lah, ngapa tuh bocah ada di sini?
Mikayla mempercepat langkahnya, saat ia ingin membuka pintu rumah megah itu, tangannya tertahan saat mendengar suara keributan dari dalam rumah.
"Gue ngak nyangka lo selicik ini." suara Putra terdengar sarkas di telinga Mikayla.
"Ngak habis pikir gue sama lo." kini suara Jeon terdengar sangat tajam.
Dengan cepat Mikayla membuka pintu itu, rasa penasarannya mendominan saat ini. Gadis itu memasuki ruangan itu hingga langkahnya memelan tepat saat ia sampai pada ruang keluarga rumah itu.
Di sana ada bang Marchel,Putra,Jeon,Alvian,Intan, Om Bumi, dan... Siska?
Gadis itu meringkuk ketakutan, kedua tangannya di ikat menggunakan tali tambang yang dan di kelilingi oleh sahabatnya itu membuat ia terintimidasi.
__ADS_1
"Mikayla." suara Vian terdengar memecah keheningan, pertama kali menyadari kehadiran gadis itu, membuat semua orang-orang yang ada di sana mengalihkan perhatiannya.
"Apa-apaan ini?" suara Mikayla terdengar ketus, yang semakin membuat Siska ketakutan.
"Kenapa kalian ngikat dia?" Mikayla bertanya dengan nada dinginnya melirik ke arah Siska sebentar.
"Dan, kenapa Om Bumi ada di sini?" Mikayla bertanya lagi sembari menatap Marchel meminta penjelasan lebih kepada pria itu.
Marchel mendekat ke arah adik-nya itu, berusaha bersikap setenang mungkin.
"Gue yang nyuruh dia." Marchel membuka suara saat ia tepat berada di hadapan gadis itu. "Gue nyuruh dia buat nyelidikin kasus kecelakaan lo yang menurut gue sangat menjanggal." ujar Marchel mencoba memberikan penjelasan yang membuat Mikayla mengerutkan dahinya.
"Dan ternyata dugaan gue selama ini bener, kecelakaan lo sudah direncanain." Marchel sengaja menggantung ucapannya lalu melirik Siska yang menunduk ketakuan. Sebelum melanjutkan ucapannya, pria itu mengangkat salah satu sudut bibirnya, menyeringai.
"Dan ini partnernya." suara Septian terdengar tepat di belakang gadis itu. Mikayla berbalik di ikuti Siska yang tiba-tiba mengangkat kepalanya.
Di sana ia melihat Septian yang sedang memegang tangan seorang gadis dari belakang, rasanya Jeon tidak asing dengan postur tubuh gadis itu. Ah, Jeon ingat postur tubuh gadis itu mirip dengan postur tubuh suster yang ada di rumah sakit beberapa bulan yang lalu.
"Coba suruh dia bicara, Sep." suruh Jeon di tempatnya mencoba memastikan bahwa ia tidak salah sasaran.
"Ngomong lo.!" Septian berujar dengan nada memaksa tapi gadis itu mengatup bibirnya rapat-rapat.
"Cepet ngomong!" Septian menatapnya kesal, berusaha agar tidak main tangan dengan gadis ini, bagaimana pun juga ia tidak boleh kasar dengan perempuan.
Marchel menoleh mendekat ke arah Siska, gadis itu kembali menundukkan kepalanya saat mendapatkan tatap datar dari Marchel.
__ADS_1
"Suruh dia buka suara!" perintah Marchel mengangkat dagu gadis itu agar menatapnya.
Dengan gemetar, Siska menyuruh gadis yang ia panggil dengan sebutan Della itu. Della mendongak, menatap Siska yang merendahkan dirinya.
"Apa lo, hah?!" ucap Della dengan nada sewot, membuat Jeon sedikit tak percaya.
Jeon mendekat ke arah gadis itu, "Coba lo bilang permisi." suruh Jeon menatap gadis itu yang tampak tak bergeming, ia rasa Jeon mencurigai dirinya.
"Gue bisa pastiin lo bakal nyesel kalau..."
"Permisi." ucapan Jeon terpotong saat gadis itu tiba-tiba melaksanakan perintahnya yang membuat pria itu tersenyum sinis. Dugaannya benar, ternyata benar gadis ini adalah si suster misterius.
"Kenapa, Yon?" tanya Putra masih tidak mengerti.
"Gadis ini adalah suster abal-abal itu." jawab Jeon membuat Marchel mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Marchel menatap Om Bumi orang kepercayaannya yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka.
"Om, saya mohon gadis ini di hukum seberat-beratnya." Marchel berucap dengan nada sedikit kesal mencoba agar tetap sopan ke pada orang yang lebih tua.
"Baik, Tuan." balas Om Bumi
*******
Tinggal beberapa bab lagi akan selesai cerita ini:)
__ADS_1