Tomboy Girl

Tomboy Girl
BAB 65


__ADS_3

...HappyReading🌻...


"Jadi bagaimana dengan anak saya, Dok?" tanya Pak Pratama dengan nada khawatir membuat Dokter yang bernama Ambran itu menghela napasnya.


"Untuk kedua kalinya saya melihat kamu segusar ini, Pratama." ujar Ambran mencoba mencairkan susana.


"Semenjak kepergian Tania, almarhuma adikmu dulu. Tapi yang sekarang ini kau lebih mengenaskan." lanjutnya lagi membuat Pratama menghembuskan napasnya gusar.


"Berhenti mengenang masa lalu Ambran! Saya hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak saya." balas Ambran menunjukkan ketidak sukaannya saat Seldan membahas mendiang istirnya. Menurutnya berbalik ke masa lalu sudah tidak ada gunanya lagi.


Ambran tertawa pelan, ia mengusap bahu Pratama mencoba menenangkan pria itu. Berteman selama 20 tahun membuat Ambran paham betul dengan kepribadian yang Pratama miliki. Pria itu selalu memberikan yang terbaik untuk keluarganya tanpa memikirkan dirinya sendiri.


"Kita perlu pendonor jantung." ujar Ambran kembali serius, membuat Pratama menoleh ke arahnya.


"Apa maksudmu?" tanya Pratama tak sabaran.


"Racun yang sudah di suntikkan ke dalam tubuh Mikayla menyebar dengan begitu cepat hingga ke arah jantung, untung kamu dengan cepat membawanya ke sini. Jadi saya bisa mengatasinya dengan sebaik mungkin." jelasnya gamblang sedikit menyombongkan diri membuat Pratama melongos tak percaya.

__ADS_1


"Kemungkinan besar, jika kita tidak segera mencari pendonor, racun itu bisa kembali menjalar kapan saja." lanjutnya lagi semakin membuat Pratama bertambah gusar.


"Tenang, saya akan bantu kamu mencari pendonor. Kebetulan saya punya beberapa teman di rumah sakit ternama di sini." ujar Ambran mencoba menenangkan Pratama sahabat lamanya itu.


Pratama mengangguk lemah, lalu berdiri dari kursi yang ia duduki, bersiap beranjak dari sana. " Saya harus kembali ke ruangan anak saya, terima kasih sudah mau membantu." ujar Pratama, membuat Ambran ikut berdiri dari tempat duduknya.


"Anything for you, old friend."


...🌻...


"Mikayla butuh pendonor jantung sekarang juga." ujar Pratama tak ingi terlihat lemah di hadapan anak sulungnya, membuat Marchsl tak bisa menahan ekspresi terkejutnya, seolah ada palu besar yang menghantam seluruh tubuhnya saat itu juga. Semua terjadi dengan tiba-tiba, membuat Marchel belum bisa menerima semuanya.


Marchel terduduk di sofa yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit, tidak kuat menahan beban yang ia terima. Belum cukup sehari ia berada di negeri ini, ia sudah mendapatkan beban yang sangat berat.


Marchel menoleh kembali menatap papanya yang juga terlihat gusar sama seperti dirinya, baju yang dikenakannya sudah terlihat sangat kusut dengan kedua lengan baju yang ia lipat hingga ke siku.


"Om Ambran, bilang apa aja, Om?" tanya Putra yang dari tadi diam.

__ADS_1


Pratama menoleh, berjalan mendekati anak sulungnya dan anak sahabatnya itu, lalu duduk tepat di tengah Marchel dan Putra


"Katanya, kalau kita tidak segera mencari pendonor, racun yang ada di tubuh adik kamu bisa menjalar kapan saja." jelasnya kembali mengulangi ucapan Ambran beberapa menit yang lalu.


Lagi-lagi Marchel, Istrinya dan Putra di buat terbungkam dengan jawaban papanya, tak tau harus berbuat apa sekarang.


Sedangkan di ruangannya, Dokter Ambran di buat termangu oleh salah satu pasiennya sekaligus keponakannya ini.


"Kamu yakin, apa kamu sudah tidak ingin hidup lagi?" tanya dokter Ambran tak percaya dengan keputusan yang dibuat keponakannya ini.


"Buat apa, hidup dengan penyakit sialan ini?" balasnya kembali membuat Dokter Ambran terdiam tak tau harus menjawab apa.


"Bagaimana dengan orang tua kamu?" tanya dokter Ambran, membuat lawan bicaranya berdecak tak suka.


*******


Sudah mau menuju ending nih") kira-kira endingnya bakal gimana? Wkwk tunggu part selanjutnya yaa. Jangan lupa jejaknya.

__ADS_1


__ADS_2