
...HappyReading🌻...
Sudah dua hari semenjak kejadian di bandara dan tak ada tanda-tanda Mikayla akan membuka matanya.
Septian membuka matanya, ia mengatur napasnya yang memburu keringat di dahinya mulai bercucuran. Septian melihat jam yang masih menunjukkan pukul 3 dini hari, pria itu menghembuskan napasnya kasar mimpi itu lagi.
Sudah dua hari semenjak insiden itu Septian sering bermimpi bahwa gadisnya itu akan meninggalkannya.
Septian menatap Mikayla yang masih setia memejamkan matanya, ia menggenggam tangan Mikayla lalu mengecupnya sekilas.
"Kapan bangun sih?" ujar Septian mulai bermonolog sendiri.
"Ini udah dua hari, masa tidur terus."
"Seindah apa mimpi kamu sampai-sampai ngak mau liat aku yang ganteng ini." Septian berucap yang di akhiri dengan kekehan kecil.
Septian tersenyum kecut menatap dalam wajah gadisnya, tangannya terangkat mengusap pelan rambut pirang milik Mikayla.
"Cepet bangun, aku kangen."
Septian bersiap melanjutkan tidurnya yang tertunda tetapi pergerakan tangan Mikayla yang sedari tadi ia genggam menghentikan aksinya membuat ia kembali menegakkan badannya.
"Kayla." ujar Septian yang di ikuti pergerakan kedua mata sang gadis.
"Kay." panggil Septian lembut dan saat itu juga mata Mikayla terbuka sempurna yang membuat Septian mengembangkan senyumnya.
"Sayang." panggilan itu membuat fokus Mikayla teralihkan, ia menatap pria yang ada di samping dan baru Mikayla sadari ternyata tangannya sedari tadi di genggam pria itu.
"Sep." panggil Mikayla lirih, tenggorokannya serasa tercekat, ia menatap Septian tepat di mata sang pria ada rasa khawatir dan kerinduan yang mendalam di kedua matanya membuat Mikayla ingin menangis saat ini.
Dan tanpa Septian duga, setetes cairan bening lolos tanpa suara di mata gadisnya.
"Kamu ngak apa-apa kan?" tanya Septiam lirih tapi masih bisa di dengar Mikayla.
Mkayla tak menjawab ia masih terus menatap Septian, mencoba lebih keras agar tidak terisak tapi usahanya gagal. Mikayla menangis sejadi-jadinya, ia menggigit bibirnya agar tak ada isakan yang lolos.
__ADS_1
Dan tanpa aba-aba Septian membawa Mikayla ke dalam dekapannya, mengelus lembut rambut sang gadis mencoba menenangkannya.
"Kamu tau, aku kangen bangat." ujar Septian masih mengelus rambut Mikayla.
Mikayla masih tak menjawab ia menyembunyikan wajahnya, menikmati dekapan hangat milik Septian rasanya masih sama. Nyaman.
"Maafin aku, aku minta maaf tapi beneran aku ngak tau salah aku apa. Ka-kamu tiba-tiba nge..."
"Husst, kamu ngomong apa sih, ngak usah minta maaf kamu ngak salah."
Belum sempat Mikayla menyelesaikan ucapannya, Septian lebih dulu memotongnya.
Tangisan Mikayla mulai mereda tapi ia masih terisak.
"A-aku beneran..."
"Mikayla."
Lagi-lagi ucapan Mikayla terpotong akibat panggilan seseorang, ia mengalihkan tatapannya mendapati pria lain yang tiba-tiba memeluknya erat.
Septian hanya diam tak berniat menganggu kegiatan si kembar yang tak identik itu.
"Lo itu kenapa sih, suka banget tidur lama bikin orang khawatir aja." omel Marchel dengan nada jenakanya membuat Mikayla sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Gue yakin lo ngak lupa dengan perjanjian kita." Marchel beralih menatap Septian wajahnya berubah menjadi datar dan tak ada nada jenaka pada katanya, hanya ada nada ketus yang di dengar oleh kedua telinga Septian.
"Gue ingat, lo tenang aja." jawab Septian tersenyum kecut.
*Marchel melayangkan satu bogem ke wajah Septian, membuat pria itu tersungkur akibat serangan tiba-tiba dari Marchel.
"Kak Tian." teriakan seseorang tak mampu membuat fokus Marchel teralihkan ia masih menatap Septian tajam seolah-olah ingin memakan orang itu hidup-hidup.
"Lo apain lagi adek gue hah?" Marchel menarik paksa kerah baju yang di gunakan Septian membuat pria itu mau tak mau berdiri mengikuti Marchel.
"Gue udah peringatin sama lo, jaga adek gue baik-baik tapi apa mana janji busuk lo itu!" teriak Marchel tepat di depan wajah Septian.
__ADS_1
Tangannya terangkat ingin kembali melayangkan satu tinjunya di wajah Septian tapi pergerakannya terhenti saat seseorang menarik paksa lengannya.
"Lo apa-apaan sih!" ujar Marchel marah menatap Putra dengan tatapan tak suka.
"Lo yang apaan bang, dengan cara lo ngabisin Septian ngak bakal bisa buat Mikayla sadar." ujar Putra sarkas membuat Marchel mendelik tak suka.
"Mikir ngak sih lo bang, mending lo doain Mikayla biar dia baik-baik aja." lanjutnya membuat Marchel terdiam sesaat mencoba meredakan emosinya.
"Lo jangan coba dekat-dekat dengan adek gue lagi." Marchel menunjuk tepat di depan wajah Septian.
"Gue ngak bakal jauhin Mikayla!"
Marchel menghentikan langkahnya, berbalik menatap Septian yang juga menatapnya.
"Kasih gue kesempatan buat jagain Mikayla kali ini, kalau dia udah siuman gue bakal jauhin dia." pinta Septian memohon.
Marchel tak langsung menjawab ia kembali memikirkan permintaan Septian, sampai akhirnya. "Gue pegang kata-kata lo." putusnya lalu kembali melanjutkan jalannya*.
"Perjanjian apa?" tanya Mikayla membuat Septian tersadar kembali kedunia nyata.
"Bukan apa-apa." jawab Septian sembari mengusap rambut Mikayla lembut.
"Lo tidur sana, ini masih gelap." perintah Marchel yang di balas anggukan singkat oleh Mikayla.
Marchel beranjak, ia melirik ke arah Septian sekilas lalu menidurkan dirinya kembali di sofa mencoba memejamkan matanya.
Septian tersenyum ia menyelimuti Mikayla lalu mengecup singkat kening gadisnya itu.
"Cepat sembuh."
*******
Gimana? Dapat feelnya ngak?
Jangan lupa tinggalin jejak dong biar makin semangat ngetiknya wkwk.
__ADS_1