
...HappyReading🌻...
"Bagaimana dengan orang tua kamu?" tanya dokter Ambran, membuat lawan bicaranya berdecak tak suka.
"Memangnya mereka pernah memikirkan saya, saya bisa berada di sini pun berkat Om juga kan. Jadi apa lagi yang harus saya pikirkan."
Mendengar itu dokter Ambran menghembuskan napas secara kasar. Mungkin memang ini yang terbaik untuk semuanya.
"Kamu kenal dengan mereka, mengapa kamu sangat ingin mendonorkan jantungmu itu?" tanya Dokter Ambran, yang kini membuat keponakannya menghembuskan napas lelah.
"Kenal, bahkan saya sangat kenal." jawabnya membuat Dokter Ambran mengerutkan dahinya bingung.
"Waktu itu saya masih tinggal di Indonesia. Tepatnya sih, saya tinggal dengan saudara Om." ucapnya santai sembari bersandar pada sandaran kursi yang ia duduki.
"Jaga ucapan kamu! Dia itu papa kamu." tegur Dokter Ambran yang hanya di balas decakan sinis dari keponakannya.
"Saya pernah berbuat salah, hingga membuat mereka membenci saya. Mungkin dengan cara ini, saya bisa menebus kesalahan saya. Ya hitung-hitung buat amal sebelum ajal datang lah." ujarnya masih dengan nada santainya, yang membuat Dokter Ambran di buat takjub dengan sikap keponakannya ini.
"Kamu sudah pikirkan ini dengan matang?" tanya Dokter Ambran mencoba meyakinkan keponakannya.
"Saya mikirnya sampai gosong malah." balasnya masih dengan wajah santainya.
__ADS_1
"Kamu serius dengan kepu..."
"Ck, Om banyak tanya deh! Tinggal jawab iya aja susah amat perasaan."
Om Ambran kembali menghembuskan napasnya, pasrah sudah ia menghadapi keponakannya yang keras kepala ini.
"Baik kalau kamu memang memaksa dan sudah memikirkan keputusanmu ini dengan sangat matang hingga gosong." balas Dokter Ambran geram membuat pria di hadapannya ini tersenyum penuh arti.
"Oke, senang berbisnis dengan anda, Dokter Ambran." ujarnya menjabat tangan dokter Ambran dengan semangat lalu beranjak dari ruangan tersebut.
"Oh iya Om, kalau mereka nanya siapa yang donorin, bilang aja hamba Allah, oke." ujar pria itu kembali berbalik sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
"Mungkin memang ini yang terbaik."
Saat mendengar suara pintu di buka, Pratama segera menoleh mendapati Dokter Ambran yang sedang menatapnya.
"Apa ada masalah?" tanya Pratama membuka suara, dokter Ambran berjalan mendekat.
"Saya sudah menemukan pendonor jantung." ujarnya dengan raut wajah yang sulit di artikan.
Pratama menoleh, menatap dokter Ambran dengan raut wajah tak percaya. "Kamu serius?" tanyanya dengan senyum yang tertahan.
__ADS_1
Dokter Ambran mencoba memaksakan senyumnya saat melihat raut bahagia di wajah Pratama. Sedangkan Pratama yang menyadari keanehan pun menoleh ke arah dokter Ambran
"Kau baik-baik saja?" tanya Pratama mencoba bersikap tenang.
"Ada yang salah?" dokter Ambran balik bertanya.
"Ingat Ambran! saya mengenalmu lebih dari 20 tahun dan kamu mencoba membohongi saya? Hanya menambah dosa saja" Pratama berujar dengan menantang, membuat dokter Ambran mendesis tak suka.
"Kau sudah bermain rahasia ya, kamu tidak ingat ucapanmu dulu, Ambran." Pratama kembali menantang membuat dokter Ambran mengernyit bingung.
"Apa?"
"There are no secrets between us." ujarnya sengaja di buat sedramatis mungkin, yang hanya di balas dokter Ambran dengan decakan sinis.
"Itu sudah 15 tahun yang lalu." ucap dokter Ambran dengan nada tak suka yang di balas tawa keras oleh Pratama puas melihat raut tak suka khas milik dokter Ambran, sahabat lamanya ini.
"Saya akan ceritakan semuanya, setelah operasi Mikayla berjalan dengan lancar." dokter Ambran berujar lalu beranjak dari sana tanpa menunggu balasan dari Pratama.
*******
Gimana? Dapat feelnya?
__ADS_1
Ada yang bisa tebak Hamba Allah itu siapa? wkwkw, silahkan menebak sendiri. Jangan lupa jejak juga loh, dan semoga sukses buat kalian semua. Miss you