
...HappyReading🌻...
Jam sudah menujukkan pukul 23.54 tapi Putra masih setia berkutat dengan buku-buku yang ada di depannya.
Ia meletakkan bolpoinnya saat satu soal terakhir berhasil ia selesaikan, Putra menghembuskan napasnya pelan. Tak pernah berpikir bahwa semua ini akan terjadi, Putra kembali menghela napasnya pelan menutup buku tebal di depannya berniat menyudahinya, ia menatap ponselnya sekilas ada beberapa panggilan tak terjawab dari Septian.
Ia meletakkan kembali ponselnya, tak berniat menghubungi pria itu. Rasanya tak penting ia mengatakan semuanya ke pada pria itu. Toh, tidak akan ada yang berubah jika ia menceritakan semuanya ke pada Septian.
Putra berdiri, membuka pintu kamar milik Marchel yang membuat ia berhadapan langsung dengan kamar milik sahabatnya, Mikayla.
"Semuanya masih sama, tapi kenapa rasanya sudah berbeda." ujar Putra entah di tuju kepada siapa.
Ia meneliti setiap inci kamar milik Mikayla, hingga perhatiannya teralihkan pada bingkai foto yang ada di meja belajar milik sahabatnya itu.
Semenjak pulang dari rumah sakit tempat Mikayla di rawat Putra minta izin untuk tinggal di rumah Mikayla selama tuan rumahnya tidak tinggal di situ.
Putra mengambil bingkai itu, ia tersenyum sekilas. Di foto tersebut ada dua orang anak yang masih berumur 7 tahun, si anak laki-laki sedang menertawakan anak perempuan itu yang membuat anak perempuan itu mendelik kesal, memanyunkan bibirnya beberapa centi. Membuat Putra kembali mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Putra sini ayo main sama aku." ajak Mikayla tapi tak di gubris oleh Putra.
"Ih Putra ayo!" Mikayla kembali mengajak Putra tapi pria itu sibuk dengan mainannya sendiri, tak memedulikan Mikayla yang terus memanggilnya.
"Main sendiri aja sana." usir Putra kembali fokus dengan mainannya sendiri.
"Ih ngak mau, Mika maunya main sama Putra!" paksa Mikayla menarik lengan Putra.
Putra sedikit mendesis, lalu berdiri dengan mainan yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Nggak mau! Kamu jelek, Putra ngak mau main sama orang jelek." ujar Putra yang membuat Mikayla menatapnya kesal sembari memanyunkan bibirnya beberapa centi, sontak hal itu membuat tawa Putra meledak seketika.
"Jangan kayak gitu mukanya, kamu jadi jelek beneran. Ayo main." ujar Putra menarik tangan Mikayla membuat gadis kecil itu merekahkan senyumnya.
Dan momen itu berhasil diabadikan oleh kamera milik Pratama,papanya Mikayla.
...🌻...
Putra kini sudah siap dengan seragam sekolah miliknya, jam masih menujukkan pukul 06.15 dan Putra sudah siap berangkat. Pria itu menuruni tangga agar sampai ke lantai dasar, ia melihat asisten rumah tangga Mikayla sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Pagi, Bi." Putra memberikan salam dengan senyum terbaik miliknya.
"Pagi, den." balas wanita paruh baya tersebut tanpa menghentikan aktivitasnya.
"besok-besok Bibi ngak usah masak sebanyak ini." ujar Putra melihat meja makan yang di penuhi lauk pauk yang menggiurkan. "mubazir, Bi, cuman Putra sendiri yang ada di rumah." lanjut pria itu sembari memasukkan satu sendok nasi goreng buatan Bi Inah.
"Bibi ngak perlu kasihan, Putra ngak apa-apa, kan ada Bibi." ujar Putra tersenyum simpul mengerti arti dari tatapan asisten rumah tangga sahabatnya itu. Pria itu berdiri mengambil kunci motornya setelah ia menghabiskan susu putih miliknya.
"Putra berangkat ya, Bi." pamit Putra.
"Hati-hati, ya, den." balas Surti menatap kepergian Putra hingga hilang di balik pintu.
Putra mengendarai motornya dengan santai, menembus jalan yang tak seberapa padat saat ini.
Ia membelokkan motornya ke kiri berlawanan dengan arah sekolahnya, pria itu tak langsung menuju ke sekolah. Ia mengendarai motornya beberapa menit, hingga ia sampai ke tempat tujuannya, hanya terdapat pohon dan semak-semak yang sedikit menjulang tempat ini sangat sepi tapi tak membuat nyali Putra menciut.
Putra terus berjalan memasuki area yang di tuju melewati berbagai gundukan tanah, hingga ia sampai pada suatu nama.
__ADS_1
Putra berjongkok menatap gundukan tanah di hadapannya, ia meletakkan Bunga Mawar yang sempat ia beli di pinggir jalan tadi, ia meletakkannya di depan nisan yang tertulis nama seseorang di sana.
"Hei, gimana sama rumah baru lo, nyaman ngak?" tanya Putra mulai membuka suara.
Tak ada jawaban hanya kesunyian yang ia dapatkan, suaranya hilang begitu saja terbawa angin, hingga berlalu.
"Semoga lo nyaman." Putra kembali membuka suara, dan lagi-lagi hanya kesunyian yang ia dapatkan.
Putra memang tak berharap banyak, apa lagi berharap bahwa seseorang yang ada di dalam gundukan tanah ini kembali membuka matanya rasanya begitu mustahil. Jika itu terjadi Putra akan sangat bersyukur dan akan meminta maaf serta berterima kasih sebesar-besarnya. Walau kata-kata itu tak akan cukup untuk membalas semuanya.
Putra tersenyum, memegang nisan yang ada di hadapannya.
"Makasih banyak, bahkan gue belum sempat ngucapin selamat tinggal sama lo." Putra sedikit mengusap nisan itu, sesaat sebelum ia kembali mengucapkan kalimatnya.
"Semoga lo tenang, baik-baik ya disana." Putra terkekeh di akhir kalimatnya, lalu kembali berdiri.
"Sampai ketemu lagi, gue bakal sering-sering ke sini, takut-takut lo bakal kangen sama suara gue." Putra kembali terkekeh lalu beranjak dari sana, keluar dari pekarangan itu.
Putra menghela napasnya sesaat, kenapa rasanya sesakit ini saat ia baru menyadari semuanya. Putra menarik oksigen sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya secara perlahan, ia tersenyum simpul.
"Ingat Putra, ini bukan akhir dari segalanya."
*******
Gimana? Dapat feelnya ngak?
Jangan lupa tinggalin jejak dong biar makin semangat ngetiknya wkwk.
__ADS_1