Tomboy Girl

Tomboy Girl
BAB 75


__ADS_3

...HappyReading🌻...


Septian menatap batu nisan yang ada di hadapannya, masih sedikit terkejut dengan kenyataan yang ia terima. Mikayla semakin mengeratkan genggaman tanganya, menatap Septian yang masih terfokus pada nama di nisan itu.


"Sep, udah 30 menit loh kita di sini dan kamu cuman mandangin nisan itu dari tadi." Mikayla membuka suara, membuat Septian menoleh, sedikit menunduk agar bisa menatap bola mata cokelat milik gadisnya itu.


Septian menghela napas, kembali mentap nisan di bawahnya.


"Aku ngak tau harus ngomong apa." ujar Septian jujur. Rasanya untuk mengatakan satu kata pun sangat sulit ia lakukan, ini tak seperti dirinya.


Mikayla kembali menatap Septian. "Kita pulang aja, ya." ajak Mikayla pelan, namun masih bisa di dengar oleh pria itu.


"Kasih aku waktu 10 menit lagi." tawar Septian yang mendapati anggukan singkat dari gadisnya itu.


Septian berjongkok di ikuti gadis yang setia menemaninya. Pria itu meletakkan bunga Matahari yang sedari tadi ia pegang, tepat di depan batu nisan itu. Lalu, beralih mengusap nisan itu pelan.


Makasih, makasih banyak. Gue ngak tau harus ngomong apa lagi, intinya gue sangat berterima kasih bangat sama lo.


Septian berdiri di ikuti Mikayla yang sedang merapikan pakaiannya. Pria itu menatap Mikayla dalam, ada binar bahagia yang terpancar dimatanya. Rasanya sangat bahagia gadis itu masih berada di sampingnya, tapi bukan berarti Septian merasa senang dengan kepergian orang yang ada di balik gundukan tanah di bawahnya.


Septian tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika Mikayla yang berada di balik gundukan tanah ini. Septian tak ingin membayangkannya, ia belum siap untuk kehilangan gadis ini atau mungkin Septian tak akan pernah siap.


"Ayo pulang." ajak Septian yang di balas gadis itu dengan anggukan singkat pertanda bahwa ia setuju.


...Sebelum melangkahkan kakinya, Mikayla menoleh menatap nisan itu sembari memegang dadanya, mencoba merasakan detak jantungnya....


...AHMAD MALIK PRAYOGA...


...BIN...


...AHMAD PRAYOGA...


...LAHIR : 17 Agustus 2000...


...WAFAT : 27 Desember 2018...


...🌻...

__ADS_1


Putra merapikan sprei kasurnya, akibat kedatang kedua sahabatnya itu kamar Putra berubah menjadi kapal pecah. Kulit kuaci bertebaran di lantai, tissue bekas berserakan dan sprei kasur yang sudah tidak berbentuk. Dan yang lebih membuatnya kesal lagi, sang pelaku malah asik-asikan bermain play stasion tanpa mengajaknya. Sungguh keterlaluan.


Ngerepotin aja kelakuannya.


"Balik deh lo berdua ke asal lo masing-masing, ngerepotin gue aja kerjanya." usir Putra yang tak di hiraukan oleh Jeon dan Alvian, mereka terlalu fokus pada televisi yang menampilkan permainan game yang mereka mainkan, keasikan berduel hingga sang pemilik rumah menatapnya kesal.


"Sialan." umpat Putra mendelik kesal.


"Yesss, gue yang menang!" teriak Alvian heboh. Membuat Jeon melempar stik PS yang ia gunakan.


"Woy, rusak itu ntar." tegur Putra tak terima yang di balas cengiran tak berdosa dari Jeon.


Saat Putra hendak protes tiba-tiba ponselnya berbunyi pertanya ada panggilan masuk.


"Ponsel lo nyanyi nih, Put." ujar Alvian asal, mengambil ponsel milik Putra yang kebetulan berada tepat di sampingnya itu.


"Siapa yang nyanyi?" tanya Jeon meladeni kegilaan Alvian.


"Om Bumi." jawab Alvian polos, Putra yang mendengar itu dengan cepat merebut paksa ponselnya lalu berjalan ke arah balkon kamarnya, mengambil jarak dari kedua sahabatnya itu.


"..."


"Beneran Om?" tanya Putra memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.


"..."


"Satu sekolah dengan saya?" pekik Putra semakin terkejut.


"..."


"Saya mau mereka berdua di hukum seberat-beratnya, Om." ujar Putra menekankan kata-katanya pertanda ia tidak ingin di bantah.


"..."


"Yasudah, besok saya akan ke sana."


"..."

__ADS_1


"Sebelumnya, makasih banyak ya, Om"


Kalimat itu menjadi akhir dari percakapan mereka, Putra tersenyum lalu berbalik hendak kembali ke dalam kamarnya.


"Astagah, Putra ganteng." pekik Alvian latah akibat terkejut.


"Lo berdua ngapain di sini?" tanya pria itu menunjuk Jeon dan Alvian secara bergantian.


"Nguping." jawab mereka bersamaan. Membuat Putra menatapnya datar.


"Lo berdua emang kurang kerjaan bangat, ya." Putra berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan Jeon dan Alvian di balkon kamar.


"Kelamaan jomblo ya jadi gini." lanjutnya lagi, membuat Jeon dan Alvian berdecak sinis.


"Tapi untung ya kalian berdua ini ngak sawan." ujar Putra lagi berusaha memojokkan sahabatnya itu.


"Sawan, sawan, gigi lo mancung. Gue masih waras, ya." protes Jeon tak terima, sedangkan Alvian hanya mengangguk membenarkan ucapan Jeon.


"Yaudah, mainnya sudah selesaikan?" tanya Putra dengan nada yang di lembut-lembutkan. Membuat Jeon dan Alvian menganggukkan kepalanya secara bersamaan.


"Kalau gitu beresin kamar gue sekarang." perintah Putra dengan wajah datarnya.


Jeon melirik jam tangannya sekilas, lalu kembali menatap Putra.


"Ya, ampun Putra, gue lupa harus jemput nyokap sekarang." ujar Jeon dramatis. "Gue balik duluan, ya." lanjut pria itu, lalu berlari keluar dari kamar meninggalkan Putra dan Alvian yang menatapnya heran.


"Astaga, Putra, gue juga lupa harus kasih makan adik gue sekarang." Alvian berucap dengan ekspresi yang di buat-buat membuat Putra mengkerutkan dahinya.


"Sejak kapan lo punya adik?" tanya Putra curiga.


"Sejak, bunda gue mengangkat Meta menjadi anaknya." jawab Alvian polos, lalu bergegas keluar dari kamar Putra, menyisahkan pria itu dengan wajah terkejut khasnya.


"Meta, bukannya anjing kesayangan bundanya Alvian?" beo Putra.


*********


Tinggal beberapa bab lagi akan selesai cerita ini:)

__ADS_1


__ADS_2