Tomboy Girl

Tomboy Girl
BAB 56


__ADS_3

...HappyReading🌻...


Septian terdiam, masih memfokuskan pandangannya kepada amplop besar bewarna cokelat di atas meja.


Ia tak habis pikir, bisa-bisanya mereka melakukan ini. Awalnya Septian nampak ragu, tapi semua barang bukti mengerah kepada mereka membuat keraguan Septian perlahan menghilang.


"Jadi gimana tuan?" tanya seorang pria, salah satu kepercayaan dan tangan kanan Septian.


"Biarkan mereka berkeliaran dulu, saya butuh satu bukti lagi untuk membuat mereka membusuk dipenjara." jawab Septian tanpa menoleh sedikit pun nada bicaranya tampak datar.


"Baik tuan."


"Kamu boleh pergi sekarang dan tetap awasi mereka, beri tahu saya kalau kamu dapat informasi sekecil apa pun itu." ujar Septian memerintahkan membuat pria yang lebih tua 5 tahun dengannya itu mengangguk patuh, hingga berlalu untuk menjalankan tugasnya.


Septian mengambil amplop itu lalu menyimpanya di dalam laci yang ia kunci, setelah itu ia mengambil ponselnya menghubungi seseorang yang sedari tadi menghantui pikirannya.


Setelah menekan nomor yang ia tuju, Septian mendekatkan ponselnya ke telinga menunggu beberapa saat. Namun, yang ia dapat hanya suara operator. Hingga akhirnya panggilan ketiga, telponnya terangkat.


"Kenapa jawabnya lama?" tanya Septian tanpa basa-basi.


"Maaf, aku abis mandi." terdengar suara Mikayla dari sebrang sana.


"Ada acara?"


"Hari ini, ngak ada."


"Nanti malam aku jemput jam 7, dandan yang cantik."


"Iya."


Beberapa saat hening menyelimuti mereka, tak ada yang membuka suara dan tak ada yang berniat mematikan sambungan. Hingga suara Mikayla kembali terdengar.


"Sep."


Septian tak langsung menjawab, biasanya Mikayla memanggilnya dengan sebutan 'Septian' bukan 'Sep'.


"Ada masalah?" tanya Mikayla setelah mendengar hembusan nafas pelan dari sana.


"Ngak ada, aku cuman kangen."


Kangen kamu yang dulu.


...🌻...


"Mikayla cepetan, Septian sudah datang!" teriakan Marchel menggema keseluruh penjuru ruangan, lelaki itu terlalu malas jika harus naik turun tangga hanya sekedar memanggil gadis itu.

__ADS_1


Ya, seperti yang di katakan Septian di telpon ia akan menjemput Mikayla jam 7 malam.


Tak lama Mikayla turun dari tangga dengan sedikit tergesa-gesa membuat dua pria yang menatapnya sedikit membulatkan mata.


"Woy, pelan-pelan anjir, turunnya!" teriak Marchel menegur.


"Kamu mau jatuh?" Septian kini membuka suara.


Mikayla yang sudah berada di anak tangga terakhir hanya menggaruk tengkukny, lalu dengan sangat perlahan ia turun ke bawah membuat kedua pria yang menatapnya berdecak.


"Ngak usah kelamaan juga." Marchel kembali menegur gadis itu.


"salah mulu deh."


"Kelamaan, ayo." Septian menarik pergelangaan tangan Mikayla pelan lalu berjalan ke arah pintu.


"Woy, jaga adek gue baek-baek!" teriak Marchel.


Septian tak menjawab ia hanya mengacukkan jempolnya tanpa berbalik.


Setelah sampai di depan motor Septian, Mikayla tak langsung naik saat Septian selesai memasangkan helm di kepalanya.


"Kita mau kemana?"


"Udah ikut aja."


Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Mikayla turun dengan sedikit bantuan dari Septian.


Mikayla tersenyum saat Septian membawanya ke pasar malam, ia selalu suka dengan tempat ini.


"Ayo masuk." ajak Septian menggenggam tangan Mikayla lalu berjalan memasuki area pasar malam.


Tak henti-hentinya Mikayla tersenyum, matanya bergerak menatap sekelilingnya yang menurutnya menarik hingga satu stand penjual menarik perhatiannya.


Ia melepaskan genggaman tangan Septian, lalu berjalan ke arah stand tersebut.


"Eh mau kemana?"


Septian terkejut mencoba mengejar Mikayla hingga ia berhasil meraih lengan gadisnya.


Mikayla mengerucutkan bibirnya lalu menunjuk salah satu stand yang ia inginkan.


Melihat itu Septian sedikit terkekeh, mengacak-acak rambut Mikayla sekilas lalu membawanya ke arah stand tersebut membuat Mikayla kembali tersenyum.


"Mang, gulalinya satu ya."

__ADS_1


"Ini mas."


Penjual itu memberikan satu bungkus gulali lalu menerima selembar uang dua puluh dari Septian.


"Kembaliannya ambil aja mang." ujar Septian, lalu memberikan gulali itu pada Mikayala gadis itu melebarkan senyumnya.


"Makasih mas, semoga langgen dengan pacarnya, ya." ujar penjual gulali tersebut yang di balas Septian dengan senyum simpul.


Mereka duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana, Mikayla masih sibuk dengan gulalinya sedangkan Septian sibuk menatap gadisnya itu.


"Mau?" tawar Mikayla memberikan sepotong gulali ke arah Septian.


Septian menggeleng, ia tak terlalu suka dengan manisan seperti ini.


"Enak tau, cobain dulu." keukeh Mikayla masih menyodorkan gulali tersebut.


Septian memakannya membuat Mikayla tersenyun senang.


"Mikayla, minggu depan temani aku ke bandara, ya." pinta Septian sembari mengusap rambut Mikayla dengan lembut.


"Ngapain ke sana?" tanya Mikayla menoleh sekilas lalu kembali memakan gulalinya.


"Aku mau jemput seseorang, sekalian kenalin ke kamu." jawab Septian masih dengan mengelus rambut Mikayla lembut.


Mikayla mengangguk setuju, gulalinya sudah habis. Ia menatap jam, sudah jam setengah sembilan lewat.


"Ayo pulang." ajaknya membuat Septian menatap jam di tangannya lalu mengangguk.


Setelah sampai di parkiran, Septian memasang helmnya lalu memasangkan Mikayla helm, setelah itu ia mulai menyalakan mesin motor, saat di pastikan Mikayla sudah benar-benar naik ia mulai melajukan motornya.


Hingga 20 menit perjalanan mereka telah sampai di depan rumah Mikayla.


Mikayla turun dengan sedikit bantuan dari Septian, ia melepas helmnya lalu memberikannya kepada pria itu.


"Aku pulang, ya." pamit Septian mulai menyalakan mesin motornya.


"Iya, hati-hati."


Sebelum pulang Septian mengacak-acak rambut Mikayla. "Good night, Queen." ujar Septian lalu melajukan motornya.


"Good night to, Septian."


********


Gimana? Dapat feelnya ngak?

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak dong biar makin semangat ngetiknya wkwk.


__ADS_2