
...HappyReading🌻...
Mikayla masih terdiam, setelah kejadian tadi gadis itu lebih banyak diam. Ya, walau gadis itu memang pendiam tapi diamnya kali ini sangat keterlaluan menurut Septian.
"Kamu ngak apa-apa?" tanya Septian menoleh saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, pria itu mengenakan mobil malam ini.
Mikayal menoleh sebentar, lalu kembali fokus ke arah depan. "Ngak apa-apa." jawab gadis itu seadanya.
Septian menghela napas, lalu menggenggam tangan gadisnya, mencoba menyakinkan bahwa semunya baik-baik saja.
Mikayla menoleh, menatap Septian yang mulai menjalankan mobilnya saat lampu sudah berubah warna menjadi hijau.
"Kamu jangan gaya-gayaan deh nyetir pake satu tangan." tegur gadis itu masih menatap Septian yang sesekali meliriknya pertanda bahwa ia mendengarkan gadis itu.
"Ngak apa-apa, sekali-kali." jawab pria itu sedikit tersenyum.
"Bahaya tau." balas Mikayla masih tidak mau kalah.
Septian tersenyum, melepaskan genggamannya lalu beralih mengacak rambut gadisnya sekilas. Kembali memegang setir denga benar yang membuat Mikayla tersenyum tipis.
Septian selalu bisa membuatnya tenang, pria itu selalu bisa membuat hatinya kembali menghangat. Sungguh gadis itu sangat beruntung memilik pria seperti Septian.
Ingin rasanya Mikayla memberi tahukan kepada seluruh dunia bahwa ia sangat mencintai prianya itu, tapi Mikayla tidak pandai dalam mengekspresikan wajahnya, yang gadis itu tau kalau dia bahagia dia akan mengeluarkan senyum tipisnya yang menurut gadis itu adalah senyum terbaiknya.
__ADS_1
Mobil Septian berhenti tepat di depan rumah gadis itu. Septian turun yang di ikuti Mikayla di sampingnya.
"Langsung tidur, ya, kamu pasti capek bangat." ujar Septian tersenyum ke arah gadis itu.
"Nanti kalau sudah sampai, kabarin." gadis itu membalas senyum Septian dengan senyum tipisnya.
"Iya." jawab Septian lembut.
"Hati-hati." balas gadis itu sedikit melambaikan tangannya, membuat Septian semakin melebarkan senyum. Pria itu mengangkat tangannya, mengusap lembut rambut Mikayla lalu beralih mengacaknya pelan.
Mikayla terdiam, mencoba mengontrol detak jantungnya yang bekerja dua kali lebih cepat. Tapi gadis itu sangat pandai menyembunyikan ekspresinya di balik wajah tenang milik gadis itu.
Sebelum pulang, Septian mengecup singkat kening gadisnya menandakan bahwa Mikayla ada miliknya.
...🌻...
Mikayla menidurkan dirinya di atas kasur setelah gadis itu selesai mengganti bajunya dengan pakaian tidurnya.
Ingatan beberapa jam yang lalu kembali terngiang di kepala gadis itu, merasa tidak percaya dengan semua ini. Apa memang benar bahwa takdir sedang mempermainkannya?
"*Tapi kenapa? Hubungan gue sama dia baik-baik aja kok, pertemuan awalnya juga baik." Mikayla akhirnya membuka suara, mengeluarkan pendapatnya. Mengingat kembali pertemuan awal mereka di perpustakaan sekolah.
Siska mengangkat kepalanya, menatap Mikayla dengan tatapan kebencian yang mendalam.
__ADS_1
"Gue benci sama lo Mikayla, asal lo tau itu!" Siska berbicara sedikit berteriak di hadapan Mikayla.
"Kenapa?" Mikayla bertanya dengan wajah tenang khasnya, yang membuat Siska semakin menatapnya penuh kebencian.
"Karena lo sudah merebut semua kebahagiaan gue!" jawab Siska dengan nada tak santai membuat Intan yang ada di sebelahnya mendorong gadis itu kembali duduk di tempatnya*.
"Santai aja lo kalau ngomong, udah salah masih aja salahin orang lain." suara Intan terdengar sewot, yang membuat Vian menarik gadis itu agar sedikit menjauh.
"Gue udah lama suka sama Septian, dan lo cuman orang baru yang seenaknya rebut dia dari gue." kini suara Siska bergetar, pipi gadis itu sudah basah akibat air matanya yang membuat Mikayla terdiam tak tau harus menjawab apa, bukan cuman Mikayla tapi semua orang yang berada di ruangan itu terdiam membisu.
"*Kenapa lo semua diam? Ngak bisa jawab kan lo, harusnya waktu itu lo mati aja!" ujar Siska lagi yang refleks mendapat tamparan yang sangat keras dari Mikayla. Pipi gadis itu memerah, ada bekas telapak tangan Mikayla di sana tidak terlalu kentara memang.
Gadis itu sudah tidak tahan lagi, napasnya memburu dengan dadanya naik turun menandakan bahwa ia sedang menahan emosinya. Siska sudah sangat keterlaluan.
"Gara-gara lo, Malik meninggal." ujar gadis itu pelan, namun sangat tajam di pendengaran semua orang.
"Kalau aja gue ngak punya hati, Sis." Mikayla sengaja menggantung ucapannya, membuat Siska menatpnya takut-takut nyali gadis itu seketika menciut saat melihat perubahaan gadis itu. "Gue bisa bunuh lo bahkan keluarga lo sekarang juga." lanjut Mikayla sangat lirih namun masih bisa di dengar semua orang karena ruangan yang hening, nadanya terdengar sangat mengerikan seperti seorang psikopat yang mendapatkan mangsanya.
Mikayla tersenyum sinis, menatap Siska dengan wajah super datarnya. Lalu meninggalkan rumah itu tanpa mengatakan sepatah kata pun*.
*********
Ngak sabar ya menuju ending? Kira-kira endingnya bakal gimana? Tunggu 2 atau 1 part lagi yaaa.
__ADS_1