
"Baik Tuan," kata Jhoni dan pergi kekebun belakang.
"Nona Vola, Anda di panggil Tuan," ujar Jhoni.
"Baiklah," jawab Vola mengangguk dan membersihkan kaki dan tangannya.
Vola datang kemeja makan menemui Bilow.
"Ayo sarapan, sebentar lagi kamu ingin kuliahkan?" Tanyanya lembut.
"Pria ini sungguh tak bisa kutebak," batin Vola sambil duduk di kursi.
Pelayan menyediakan sarapan untuk Vola, sedangkan Bilow asyik dengan ponselnya.
"Saya sudah selesai sarapan Tuan, bolehkah saya bersiap-siap berangkat kuliah?" Tanya Vola berdiri.
Bilow mengangguk yang masih melihat ponselnya.
Vola pergi menuju kamarnya dan mengantikan bajunya, mengambil tas dan keluar lagi dari kamar.
"Nona Vola, Anda sudah di tunggu Tuan di mobil," kata Jhoni.
"Ha? Menungguku? untuk apa dia menungguku?" Batin Vola.
Vola berjalan mendekati mobil Bilow.
"Masuk," ujar Bilow.
Vola masuk dengan wajah manyun.
Ravi menjalankan mobilnya menjauh meninggalkan rumah Bilow.
Sesampai di kampus Ravi memberhentikan mobil tersebut.
"Wah siapa orang kaya yang pakai mobil mewah itu?" Tanya salah satu mahasiswi.
"Aku juga pengen punya mobil mewah itu," jerit temannya. Dan tak lama Vola keluar dari mobil mewah itu.
"Waaah... apa dia berubah jadi anak orang kaya?"
"Mana mungkin, aku kenal orang tuanya, ayahnya hanya pengusaha kecil, bagusan mobilku ketimbang mobil ayahnya dan itu di pakai adik tirinya kekampus, dia itu anak yang tak di sayang sama orang tuanya," jelas Nina tetangga ayah Vola.
"Ah masa? Tapi kenapa dia bisa keluar dari mobil mewah itu, apa jangan-jangan dia simpanan om-om," kata temannya melebarkan matanya.
"Bener itu, siapa lagi kalo bukan orang susah tiba-tiba kaya kalo bukan main sama om-om, iwww sungguh ngenes hidupnya," ujar mereka merasa jijik.
Zivana langsung berlari kearah Vola dan memeluknya.
__ADS_1
"Ya ampun Vola, kamu selama ini kemana? Kamu udah lama ngak masuk kuliah, apa lagi kamu pake ponsel orang lain, aku bingung mau menghubungimu, dan kenapa kamu datang mengunakan mobil mewah, kamu bukan simpanan pria jenggotkan?" Tanya Zivana khawatir.
"Aku baik-baik saja dan aku bukan simpanan om jengot, aku jadi pembantu sekarang setelah di usir dari kontrakan," jelas Vola.
"Pembantu apa yang bisa naik mobil mewah dan bisa berkuliah?" Tanya Zivana penasaran.
"Pembantu orang kaya donk," kata Vola bangga.
"Siapa orang kayanya?" Tanya Zivana lagi.
"Tuan Bilow," jawab Vola seketika membuat Zivana membatu.
"Vola, aku nanya serius, siapa?" Tanya Zivana masih penasaran.
"Tuan Bilow," ulang Vola.
"Oke... oke... terserah kamu, yang penting kamu bukan simpanan dan asal kamu tau tugas numpuknya kayak daun kering berjatuhan dari pohonnya," kata Zivana memberi tahu.
"Hm... coba aku tanya dia ya, boleh ngak ya aku pinjam laptopnya buat ngerjai tugas?" Pikir Vola.
"Tanya siapa?"
"Majikan akulah."
"Apa dia baik denganmu?"
"Ngerjain di rumahku ajalah,"
"Ngak bisa, aku harus kerja."
Sepanjang jalan menuju ruangannya anak-anak kampus melihat kearah Vola.
"Kenapa mereka melihat kearahku?" Tanya Vola kepada Zivana.
"Mungkin karena kamu turun dari mobil mewah itu," jawab Zivana menebak.
"Dia yang bernama Vola, perempuan yang turun dari mobil mewah itu?" Tanya Lina sambil memandang Vola sambil berbisik.
"Iya, katanya sih simpanan om-om," jawab Ani berbisik juga.
"Wajar saja, dia mencari uang untuk bayar kuliah karena orang tuanya tidak membiayainya," jawab Diana.
"Wah, dia sangat bangga turun dari mobil itu tadi," ujar Lina.
"Padahal kerjanya cuma simpanan," balas Diana.
"Jika aku jadi dia, aku ngak berani kekampus lagi," sela Lina.
__ADS_1
"Pekerjaan memalukan," sambung Ani.
"Ehem... Vola kita kesana yuk ada yang ingin kubicarakan," kata Zivana mengalihkan Vola untuk menjauhi mereka bergosip tentang dirinya.
"Ada apaan?" Tanya Vola mengikuti Zivana yang sedang menarik tangannya.
"Hehehe... aku ingin nunjuki tugas," ujar Zivana cengengesan.
"Ye... kirain ada hal penting apa? Mana biar kutengok tugas apa yang di kasih pak Herman kepala sulah itu," ujar Vola sambil mengejek dosennya.
"Nih," Zivana menunjukannya.
"Ya ampuuuunn... pantesan kepala pak Hermannya sulah, tugasnya aja rumitnya kayak gini, bakal sulah berjemaah ini," kata Vola menyunggingkan bibirnya.
"Iya kita harus menwawancari salah satu tokoh besar dan tanya apa mereka punya kariyawan pembimbing desainer dan kita harus mewawancari keduanya, dan kita minta salah satu desain mereka dan tanda tangan mereka sebagai bukti," jelas Zivana.
"Ini sangat rumit sih, Tuan yang menyebalkan itu kira-kira bisa ngak ya di ajak kerja sama?" Pikir Vola.
"Oh iya ya, kamukan kerja si tempat orang kaya, aku nebeng ya Vola yang manis dan imut-imut, aku tau deh, Vola yang terbaik di dunia ini," kata Zivana mengantung di tangan Vola dengan segala puja dan pujinya.
"Iya deh, kamu selama ini juga udah baik sama aku, tapi aku kurang yakin dia mau apa ngak, kalo dia mau, aku pasti akan mengirimmu hasilnya lewat WA Bibi Asih, tapi kamu juga doain aku ya, aku akan berusaha biar dia mau, akan aku lakukan semua perintahnya agar dia mau membantu menyelesaikan tugas kita, fighting," kata Vola mengacungkan tinjunya keatas.
"Kalo seandainya majikanmu mesum, dia minta gituan, apa kamu akan melakukannya juga?" Tanya Zivana takut-takut.
"Udah kamu tenang aja, Tuan menyebalkan itu dia ngak mungkinlah, aku pernah memegang tangannya dia ngak ada reaksi, dia hanya tau marah terus mengataiku aja," jelas Vola.
"Apa? Kamu memegang tangannya, kamu jadi plakor?" Tanya Zivana membulatkan bola matanya.
"Plakor? Dia itu belum nikah tau, udah kubilang dia adalah Bilow menyebalkan itu, kamu masih ngak percaya," kata Vola memanyunkan mulutnya.
"Iya mana mungkin aku percaya, rumornya semua pembantu di rumahnya adalah orang-orang terpelajar, katanya kepala pelayan di rumahnya adalah lulusan koki terbaik dan mempunyai sopan santun yang tinggi, sedangkan pelayan yang lain setidaknya mereka tamatan S1 dan mengikuti pelatihan khusus untuk bisa bekerja di sana, jadi kamu kerjanya apa?" Jelas Zivana panjang lebar dan kemudian penasaran dengan kerjaan Vola.
"Berkebun menanam bunga," jawab Vola.
"Oh ya, katanya sih mereka juga punya pengurus kebun yang handal dalam penanaman bunga dan membudidayakan lingkungan," jelas Zivana lagi.
"Masa iya, aku kerja di sana kenapa sendirian? Tidak ada yang membantuku, apa Dia mengerjaiku ya?" Pikir Vola.
"Tu kan mungkin kamu salah mengenali orang, kamu pikir majikanmu itu Bilow, bisa saja orang lain, mana mungkin dia membiarkanmu mengerjakan yang bukan keahlianmu," kata Zivana.
"Aku ngk mungkin berhalu selama inikan? Tapi dia benar-benar Bilow menyuruhku mengerjakan kebunnya itu," balas Vola.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH
__ADS_1