TUAN CEO You Love Me

TUAN CEO You Love Me
BAB 8


__ADS_3

"Ha, saya buka di situ Tuan, saya di sini," kata Vola memegang tangan Bilow kearahnya.


"Ya itu lah, kamu pergi sekarang," ujar Bilow yang tak berani menampakan wajahnya.


"Siap Tuan, saya akan melakukannya," ujar Vola pergi bergegas menuju arah kedapur.


"Hey kamu mau kemana? Jalan menunju kekebun bukan di sana," teriaknya.


"Ha? Emang ada jalan lain lagi apa?" Tanya Vola bingung.


"Tunjukkan dia jalannya Jhoni," perintah Bilow.


Jhoni menunjukan jalan dari pintu samping.


"Silakan lewat sini Nona," ujar Jhoni.


"Baiklah terima kasih," ucap Vola mengangguk.


Vola menuju kebun, ini malah terlihat seperti taman bunga.


"Waaaah... cantiknya, ternyata Pria itu juga tau keindahan, kupikir di hanya tau kerja, kerja dan kerja," ejek Vola.


Vola mengelilingi taman bunga tersebut, memutarkan badan, bersenandung dan ia mengejar kupu-kupu yang terbang. Ia malah terlihat seperti melakukan syuting film ketimbang berkebun.


"Apa yang di lakukan gadis itu?" Tanya Bilow sakit kepala melihat tingkah Vola dari jendela ruang kerjanya.


"Jhoni, suruh dia bekerja bukan main lari sana lari sini," perintah Bilow.


"Baik Tuan," ujar Jhoni langsung menuju kebun.


"Ehem... Nona Vola, Tuan menyuruh Anda bekerja bukan main lari sana lari sini," kata Jhoni mengulang ucapan Bilow.


"Apa yang harus aku lakukan? Tuan Anda juga tidak memberi tahu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Vola melipat tangannya.


"Anda bisa menanam bunga atau membersihkan sampah daun yang mati," saran Jhoni.


"Pengawalnya bahkan lebih tau pekerjaannya, Tuanmu itu hanya tau perintah ini dan itu," omel Vola.


"Itulah yang harus kami lakukan Nona, selamat bekerja Nona, saya undur diri dulu," ucap Jhoni menundukan kepala tanda hormat lalu pergi. Vola membalas menundukan kepala juga.


"Menanam bunga? Mereka menyuruhku bekerja tapi tidak memberiku peralatannya bagaimana aku bisa kerjaaaaaaaa...," teriak Vola. Mau tak mau ia mencabut anak bunga dan mengali tanah mengunakan ranting kayu seadanya, untunglah tanahnya tidak terlalu keras sehingga ia bisa menggali tanah dan menanamkan bunga di sana.


Membersihkan daun yang sudah gugur, ia hanya menggunakan tangannya dan menumpuknya jadi satu, eh... malah tertiup angin.


Vola mengengam tangannya dan menjerit. "Bahkan angin mengerjaiku, aku salah apaaaaaa...."


Dari jendela, Bilow tersenyum melihat Vola mengejar daun-daun yang terbang kesana kemari karena tertiup angin. Bilow bagaikan nontor sirkus, lumayan buat hiburan.


Akhirnya selesai, Vola masuk kedalam rumah dengan wajah cemong terkena tanah, tangan dan kakinya berlepotan.


Jhoni menghampiri Vola. "Ayo Nona saya antarkan kekamar Anda,"ajak Jhoni.

__ADS_1


"Kamarku bukan ruang kosong itu lagikan?" Tanya Vola ngeri.


"Bukan Nona, ini lebih bagus lagi," jawab Jhoni.


"Ini kamarnya Nona silakan, jika ada kebutuhan lain Anda bisa panggil saya," kata Jhoni mengundur diri.


Vola membuka kamar tersebut dan...


Wah...



"Ini bukan seperti kamar pembantu, tapi seperti akulah majikannya," gumam Vola berdecak kagum.


Namun ia tak bisa langsung menikmati tempat tidur mewah ini, karena ia harus mandi bersih-bersih dulu. ternyata tangannya ada yang luka tanpa ia sadari ketika menanam bunga tadi.


"Hehehe... saatnya tiduuuuurr," teriak Vola meloncat dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, saking empuknya Vola memantul dan jatuh kelantai.


"Aduh!" Jerit Vola memegang hidungnya karena ia jatuh dalam keadaan posisi terlungkup.


"Ada apa Nona?" Tanya Bibi pelayan yang sedang berada di depan pintu Vola karena memanggilnya untuk makan.


"Aku... tidak apa-apa Bi," jawab Vola mengosok-gosok hidungnya. Ia mendekati pintu dan membukakannya.


"Ada apa dengan Hidungmu Nona?" Tanya Bibi heran melihat hidung Vola memerah.


"Ini... kasur itu tidak menerimaku Bi," jawan Vola ngantung.


"Maksud Nona?" Tanya Bibi tak mengerti sambil melihat kearah kasur.


"Ha?" Tentu saja Bibi bingung bagaimana benda mati bisa menjatuhkan orang hidup.


"Ya sudah, apa ada yang cidera Nona biar saya obati," ujar Bibi menawar.


"Tidak ada Bi, ngomong-ngomong Bibi ada apa kesini?" Tanya Vola.


"Oh iya, Tuan suruh Anda makan setelah itu dia memanggil Anda di ruang kerjanya," jawab Bibi.


"Oh baiklah Bi, ayo," ajak Vola. Mereka berdua beranjak dan pergi ke meja makan. Vola duduk di meja makan dan menyantap makanan di atas meja. Pelayan yang lain menatap tajam ke arah Vola yang sedang makan.


"Lihatlah anak baru itu, baru masuk sehari sudah di rawat oleh Tuan langsung," kata mereka iri.


"Iya, apa hebatnya dia sih," sambung yang lain.


"Bahkan kita yang sudah bertahun-tahun di sini jika sakit di rawat oleh Dokternya saja," lanjut pelayan yang lain lagi.


"Kalian ngapain di sini?" Tanya Bibi pelayan.


"Tidak ada Bibi," jawab mereka merasa bersalah.


"Jika tidak ada, kembali kedapur," usir Bibi pelayan.

__ADS_1


"Baik Bi," jawab mereka langsung kedapur.


"Lihatlah bahkan Bibi saja membelanya," ujar Mereka lanjut bergosip di dapur.


"Dasar wanita j*l*ng, bukannya kemarin dia memaki Tuan, sekarang dia bisa masuk dengan seenaknya," hujat mereka.


Selesai makan Vola membereskan piring di atas meja.


"Nona Vola tidak perlu membersihkannya, karena tugas Nona Vola adalah berkebun, dan Tuan juga memangil Anda ke ruangannya," ujar Bibi menjelaskan.


"Baiklah Bi, terima kasih atas makanannya," ucap Vola tersenyum dan melangkahkan kakinya.


Tapi...


Di mana ruangannya?


Vola membuka satu persatu pintu ruangannya. Namun satupun tak ia temui.


"Kenapa ruangan ini banyak ruangannya?Aku harus ke ruangan yang mana?" Tanya Vola mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dari kejauahan Bibi tersenyum melihat Vola kebingungan yang celingak celinguk setiap ruangan.


"Nona mari saya antar," tawar Bibi pelayan.


"Eh, baiklah," jawab Vola setuju, karena ia sudah lelah mencari.


Bibi berjalan di depan memandu jalan. Vola berdecak kagum ketika melewati beberapa hiasan dan pajangan di dinding.


"Nona, kita sudah sampai," ujar Bibi memberi tahu.


"Terima kasih Bi," jawab Vola.


"Silakan di buka," ujar Bibi lagi.


"Tapi... dia tidak makan orangkan Bi?" Tanya Vola yang mulai mengatai Bilow lagi.


Bibi tersenyum mendengar ucapan Vola. "Dia akan memakan orang jika orang itu mengatainya," ujar Bibi bercanda.


"Jadi...?"


"Sudah masuk saja, mungkin ada beberapa hal yang Tuan ingin sampaikan kepada Nona," jelas Bibi. Vola menatap Bibi meminta doanya agar dia baik-baik saja di dalam sana. Ia pun masuk.


Cklek.


Bilow memutar kursi kerjanya.


"Kenapa lama sekali, apa kakimu patah?" ujarnya yang mulai memaki Vola.


Vola hanya menatapnya kosong, ia mencoba bersabar, mungkin jika tidak di layani dia akan berhenti sendiri.


"Ada apa? Kenapa tidak menjawabnya, apa kamu berubah menjadi Bisu," sambung Bilow. Tahan... Vola... tahan...


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH


__ADS_2