
"Maaf Tuan yang terhormat, ada apa memanggil saya?" Tanya Vola berusaha tidak mengubris omongan Bilow.
"Oh saya memanggil kamu, karena saya ingin memberi tahu kamu suatu hal," jawab Bilow.
"Tentu saja jika memanggil seseorang karena ada yang mau di kasih tau, dasar o'on," kesal Vola dalam hati.
"Ada apa Tuan?" Tanya Vola.
"Berhubungan kamu sudah berhutang dengan saya kemudian kamu juga sudah mengetaui tentang rahasia saya, jadi kamu kerja di sini tidak di gaji, sampai hutang itu lunas, dan masalah kamu mengetaui masalah dalam Flash disk, jangan coba-coba kamu memberi tahun siapapun karena bisa saja nyawamu dalam bahaya," ujarnya mengancam.
Mendengar ucapan Bilow Vola lagaung berdelik ngeri. "Astaga Tuan ini mengerikan sekali jika dia sedang serius," kata Vola dalam hati.
"Ya Tuan, ta... tapi masalah uang kuliah saya bagaimana?" Tanya Vola takut-takut.
"Apa kamu lupa jika saya Ceo-nya di sana?" ujar Bilow membanggakan diri.
"Iya ya, dia bisa aku andalkan di kampus," kata Vola dalam hati, ia tersenyum licik.
"Siap Tuan, saya akan melakukan tugas saya dengan benar," kata Vola membusungkan dada dan mengangkat tangannya.
Melihat Vola membusungkan dada Bilow langsung menundukan kepala dengan wajah memerah.
"Cepat keluar kamu sekarang," bentak Bilow mengusir Vola.
"Ha?" Vola menjadi bingung, bukannya tadi baik-baik saja kenapa tiba-tiba marah. Dan dengan kebingungan Vola keluar dari ruangan Bilow.
"Kenapa Bilow itu? Tiba-tiba membentakku? Dia bahkan lebih berbahaya dari bom waktu, meledaknya kapan ia mau, setidaknya bom waktu bisa di atur waktunya, sedangkan dia tanpa alarm," sungut Vola.
Vola kembali masuk kamarnya. dan lagi-lagi menghempaskan tubuhnya keatas kasur yang empuk itu, tak ada kapok-kaponya Vola itu.
"Membosankan ponsel sudah terjual, bagaimana aku mengabari teman-temanku," keluh Vola. "Mana mungkin aku minta sama Bilow, di kasih tempat tinggal saja sudah bersyukur di kasih makan lagi, setidaknya nasibku lebih beruntung dari orang-orang tinggal di kolong jembatan," katanya sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Ya sudahlah, aku tidur saja, besok harus berkuliah, tapi aku sudah lama tak kuliah, pasti tugas sudah menumpuk berat, dan aku mengerjakan tugas pakai apa? Jangankan laptop? Ponsel saja aku tak punya, hidupku mengenaskan sekaliiiiiii...," teriak Vola sambil mengacak-acakan rambutnya.
Vola menung sesaat mencari akal, bagaimana ia bisa mengerjakan tugasnya dan timbullah ide konyolnya.
"Hehehe, saat Bilow tertidur nyenyak, aku diam-diam masuk keruang kerjanya dan meminjam laptopnya," katanya sambil mengangguk-angguk. "Aku emang jenius, akan aku lakukan malam besok." ujarnya percaya diri.
Ia tertidur nyenyak dengan ruangan ber-AC, maklumlah kostnya yang dulu tak hanya kecil, kasur tipis, kipas angin saja ia tak punya.
Clek.
Pintu terbuka sedikit.
Bilow melihat dari kejauhan, menatap Vola yang tertidur nyenyak.
"Gadis itu seperti kelinci jinak jika tertidur," katanya dalam hati sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tuan," panggil Jhoni.
DTUM.
Bilow menutup pintu dengan kencang ia kaget karena ketahuan mengintip Vola yang sedang tidur.
Buuuk.
Seketika Vola jatuh dari tempat tidur.
"Aduuuh!... Astaga, apa aku sedang bermimpi," katanya sambil memegang pinggangnya yang sakit.
"Ehem... ada apa?" Tanya Bilow mengaluhkan pembicaraan.
"Ada sekretaris Anda datang," jawab Jhoni.
"Kenapa tiba-tiba datang, biasanya juga menelpon jika ia mau datang," ujarnya langsung nyelonong pergi keruang tamu.
"Ini bukannya kamar Nona Vola, ada apa Tuan kesini?" Tanya Jhoni bingung. Ia pun malas ambil tau dan pergi mengikuti Tuannya.
"Ada apa kamu datang kesini?" Tanya Bilow kepada sekretarisnya bernama Dinda.
"Maaf Tuan saya mengantarkan berkas untuk di tanda tangani," jawab Dinda.
"Apa tidak ada hari esok, kamu bisa mengantarnya di ruang kerja kantor saya," keluh Bilow.
"Saya tidak ada pekejaan lain lagi Tuan, jadi saya menyempatkan diri kesini, juga untuk melihat Tuan apa Tuan baik-baik saja," ujar Dinda perhatian.
"Bilow, beberapa hari ini kamu tidak datang kekantor, aku sangat merindukanmu," ujar Dinda membuat Bilow berhenti dan membalikan badannya.
"Jangan panggil nama saya secara langsung, saya adalah atasanmu," Sanggahnya.
"Ba... baik Tuan saya permisi," ujar Dinda mengundurkan diri. Ia terasa sakit ketika mendengar ucapan Bilow.
Bilow langsung menyelonong masuk kekamarnya.
Ia menjatuhkan tubuhnya di kasur, benar saja tubuhnya memantul.
"Pantesan saja gadis itu suka loncat-loncat seperti kelinci, jika di pikir-pikir ketika dia tidur malah seperti marmut" ujarnya tersenyum.
"Astaga, kenapa saya memikirkan dia, tapi saya juga harus memikirkan dia, karena dia adalah pembantu saya, Ahhhh... sudahlah, saya harus tidur besok kekantor, gara-gara gadis nakal itu saya tidak sempat kekantor," sunngutnya dan menarik selimutnya dan tidur.
Tapi...
tidak ngantuk.
ngapain ya?
__ADS_1
"Ya sudah saya nonton tivi saja," gumamnya.
Bilow menonton sejenak, yang ada sinetron, beritanya pun tentang kematian, damkar menolong ponsel jatuh kelubang, cabe terpedas di dunia, anak bayi tertawa teraneh dll.
"Bosan," ia mematikan tivi dan tidur.
***
Pagi ini hujan sangat deras. Namun Bilow tetap harus kekantor.
"Tuan sarapannya sudah siap," kata Bibi pelayan.
"Baiklah," jawabnya. "Di mana gadis itu?" Tanyanya.
"Sedang di kebun," jawab Bibi pelayan.
"Apa? Hujan sederas ini kenapa kalian biarkan dia bekerja," marahnya.
"Kami sudah melarangnya Tuan, tapi ia bilang dia harus bekerja untuk membayar hutang dan untuk makan di rumah ini, ia tak mau makan gratis begitu saja," jawab Bibi pelayan menundukan kepala.
"Dasar gadis bodoh itu!" Geramnya. Bilow langsung lari kekebun tempat Vola bekerja.
"Hey! apa yang kamu lakukan di saat hujan begini? Jika kamu sakit bagaimana?" Murkanya.
"Tapi saya harus bekerja, berhubungan hari ini hujan saya bolos kuliah, jadi saya harus mengerjakannya pekerjaan saya, lagian jika menanam di saat hujan bunganya akan tumbuh subur," jawab Vola dengan polosnya.
"Masuk kerumah," teriak Bilow.
"Nanti Anda tidak akan memotong hutang saya," celetuk Vola.
Karena Vola tidak juga masuk, Bilow menarik tangan Vola meskipun ia ikut kebasahan.
"Kamu pikir saya orang yang berhati sempit seperti itu," hardiknya.
"Maaf Tuan," jawab Vola menundukan kepala merasa bersalah.
"Kamu...," Bilow tak bisa berkata-kata lagi dengan tingkah polos Vola.
"Ya sudah, jangan ulangi lagi, jika hujan kamu jangan bekerja, jika sakit kamu pasti akan menyusahkan saya," ujar Bilow menusuk jantung Vola.
"Ya... ya... aku tau itu," batin Vola.
"Tuan, baju Anda basah ganti dulu," kata Bibi menengah.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA.
__ADS_1
TERIMA KASIH