
"Dengan siapa kamu berteman?" tanya Surya menatap lekat ke arah Amanda.
"Itu… itu… dengan teman kampusku," jawab Amanda.
"Benarkah, coba aku lihat siapa yang ada di dalam," ucap Alira menuju ke arah mobil tersebut.
Tok!
Tok!
Tok!
"Bisakah kamu membukakan kaca jendela mobilmu?" tanya Alira.
Seorang pria yang memakai jas hitam lengkap keluar dari mobil.
"Silakan masuk Nona," ucap pria itu.
"Dia pasti pengawalnya Guntur, untuk apa dia menjemputku?" tanya Amanda dalam hati dengan memutarkan bola matanya.
"Oh, kau temannya kakakku hahahaha... aku tidak percaya kau berteman dengan orang yang jauh lebih tua darinha," ucap Alira tertawa.
"Maaf Nona kecil, saya bukan temannya, saya hanya di perintahkan oleh Tuan saya untuk menjemput Nona Amanda," ucap Pengawal tersebut.
"Oh benarkah? Tidak menyangka teman kakakku orang kaya, siapa nama Tuan Anda?" tanya Alira meletakan tangannya di mobil mewah itu sambio jalan berputar.
"Dia…"
"Ayo kita pergi sekarang," ucao Amanda memotong ucapan pengawal tersebut.
"Baik Nona," angguk pengawal tersebut, mereka masuk mobil dan pengawal itu melaju pergi meninggalkan halaman rumah Orang tua Amanda.
"Sungguh Anak yang tidak ada sopan santun, pergi saja tidak pamit dulu," ucap Surya kesal.
"Mungkin dia sedang buru-buru Ayah. Tapi… aku sangat merasa sedih, kakak tidak pernah naik mobil bersamaku, tapi dia malah mau menaiki mobil mewah itu, apa karena mobil itu jelek sehingga ia menolaknya," ucap Alira menundukkan kepalanya sedih.
"Anak kurang ajar itu tidak bersukur, tidak apa-apa Alira, nanti Ayah belikan mobil yang bagus untukmu, kamu tenang saja," ucap Surya.
"Terima kasih Ayah," ucap Alira memeluk Surya dengan suka cita.
"Hihihihi, hanya sedikit membuat kesedihan saja, Ayah malah menuruti keinginanku," batin Alira tersenyum ke arah ibunya.
Ibunya juga menyengir ke arah anaknya.
"Baiklah Ayah, aku berangkat kuliah dulu," ucap Alira bersalaman dengan kedua orang tuanya, layaknya seorang anak yang berbakti.
"Iya, hati-hati di jalan ya," ucap Surya melambaikan tangannya.
Alira masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.
"Untuk apa dia menyuruhmu untuk menjemputku?" tanya Amanda melihat ke arah Jendela.
"Karena Anda adalah istri Tuan," jawab supir itu.
"Heh! Hanya istri di atas kertas saja, untuk apa dia menghabiskan bahan bakar mobilnya untuk menjemputku," ucap Amanda getir.
"Meskipun di atas kertas, Anda tetap istrinya," ucap pengawal itu.
"Lain kali jangan menjemputku lagi, aku tidak nyaman jika seperti ini," ucap Amanda.
"Nanti akan saya sampaikan kepada Tuan," ucap pengawal tersebut.
"Baguslah jika begitu, kalau begitu, turunkan aku di sini," ucap Amanda.
"Maaf Nona, saya di suruh untuk mengantar Anda sampai di depan kampus," ucap pengawal itu.
"Tidak bisa, aku harus turun sekarang! atau aku akan terjun sekarang!" ucap Amanda.
"Maaf Nona, jika saya tidak mengantar Anda sampai ke kampus, saya akan di pecat oleh Tuan, bagaimana nasib keluarga saya," ucap pengawal itu dengan wajah sedih.
"Haish… baiklah-baiklah," ucap Amanda. Ia mengambil ponselnya di dalam tasnya dan menelpon seseorang.
Tuuuut
Tuuut
__ADS_1
Tuuuut
Nomor yang Anda tuju tidak menerima panggilan Anda, cobalah beberapa saat lagi.
"Sial! Dia bahkan menolak panggilanku!" gerutu Amanda.
Amanda terus menelponnya hingga berkali-kali dan akhirnya Guntur mengangkatnya.
"Halo," jawab Guntur.
"Hey! Kau! Mulai besok jangan menjemputku lagi dengan mobil mewahmu ini, aku tidak membutuhkannya, jika kau melakukannya aku akan membuat mobil mewahmu ini menjadi tidak berharga sekali pun kau jual di rongsokan," ucap Amanda.
"Hey gadis kecil, aku hanya menyalurkan jasaku layaknya seorang suami, itu saja. Karena kau adalah istriku saat ini, jadi menurutlah sedikit," ucap Guntur.
"Menurut denganmu? Memangnya kau siapa? Aku ingatkan sekali lagi, jangan pernah menjemputku," ucap Amanda yang langsung memutuskan panggilannya.
Tut
Tut
Tut
"Dasar gadis ini," ucap Guntur menyengir.
Sesampainya di kampus. Amanda langsung turun dari mobil dan menutup pintu dengan kencang.
Amanda masuk ke dalam kampus dengan langkah lebar.
"Eh, apa kamu lihat? Amanda menaiki mobil mewah, mobil itu adalah mobil edisi terbatas yang hanya di produksi 40 buah di seluruh dunia," ucap salah satu mahasiswi bergosip.
"Benar, padahal ayah Amanda hanya pengusaha kecil dan ia adalah anak yang tak di sayang. Apa mungkin Amanda punya sugar daddy?" tanya temannya.
"Benar, dia memang punya sugar daddy, tapi ingat, kalian jangan bilang dengan siapa-siapa ya," ucap Alira yang tiba-tiba nongol di belakang mereka.
"Tenang saja, kami tidak akan memberi tahu pada siapa pun," angguk mereka.
Alira pun pergi dengan senyum mengembang.
"Heh! Aku yakin kalian pasti akan menyebarnya, aku yakin jika gosip penting seperti ini pasti kalian tidak akan tahan untuk menyimpannya," ucap Alira tersenyum penuh dengan kemenangan.
Karisa menghampiri Amanda.
"Hm?"
"Kamu terlihat santai saja," ucap Karisa.
"Lalu? Aku harus apa?" tanya Amanda menekuk alisnya.
"Eh kamu tidak dengar gosip?" tanya Karisa heran.
"Gosip? Gosip apa'an?" tanya Amanda tidak mengerti.
"Ya sudahlah kalau begitu, tapi kalai ada yang menceritakan kamu, nggak usah peduli ya, mereka bisa jadi iri aja sama kamu," ucap Karisa.
"Hm… dari pada gosip anak kampus, aku sekarang lebih memikirkan hidupku saat ini," ucap Amanda.
"Syukurlah kalau begitu, hidup kita lebih penting dari gosip yang nggak jelas," ucap Karisa mengangguk.
"Hm mau ke kantin nggak?" tanya Karisa.
"Hehehehe… minjam duitmu donk, aku belum gajian nih," ucap Amanda bergelantungan tangan Karisa.
"Tidak masalah, tapi aku akan mencatat semua hutangmu," ucap Karisa.
"Iya, iya, iya," angguk Amanda.
Mereka berdua menuju kantin. Saat sampai di kantin, Semua orang melihat ke arah Amanda.
"Kenapa mereka?" tanya Amanda.
"Udah, usah pedulikan mereka, ayo kita beli makanan terus kita pergi dari sini," ucap Karisa.
"Iya," angguk Amanda.
Saat mengantri makanan, Karisa melihat wajah Amanda, Karisa sangat khawatir jika Amanda mendengar gosip itu akan mempengaruhi pikirannya.
__ADS_1
"Semoga saja Amanda tidak mendengar gosip ini, jika dia mendengar pun, semoga dia nggak peduli," ucap Karisa dalam hati.
"Itu lho yang namanya Amanda. Dengar-dengar dia jadi sugar daddy, kamu lihatkan kalau dia datang dengan mobil mewah'kan?" ucap mereka para pengosip.
Karisa langsung menutup telinga Amanda.
"Ada apa sih?" tanya Amanda.
"Enggak apa-apa, ayo cepat ambil makanannya," ucap Karisa mengambil bagiannya dan Amanda dan membawanya pergi menjauh dari kantin. Karisa mencari tempat yang cocok untuk mereka makan.
"Bagaimana? Makan di sini lebih enakkan?" tanya Karisa.
"Hm... kamu benar, lain kali kita makan di sini lagi ya," ucap Amanda.
"Iya," angguk Karisa.
"Semoga gosip itu hanya angin lalu untukmu Amanda," ucap Karisa dalam hati.
Jam pelajaran pun berlangsung, namun saat pembagian materi semua mata tetap tertuju ke arah Amanda.
"Ada apa dengan mereka? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Amanda heran.
"Ah biasalah, mereka itu kalau ada sesuatu hal yang nggak... nggak... pokoknya intinya mereka itu iri dengan kamu. Udah usah pikirkan mereka," ucap Karisa mengalih pembicaraan.
Mendengar ucapan Karisa, Amanda pun tidak peduli dengan orang-orang sekitarnya.
Hingga sampai jam pelajaran selesai.
"Kamu mau anterin pulang nggak?" tanya Karisa.
Bersambung
"Hm... ada apa denganmu?" tanya Amanda tersenyum heran.
"Tidak apa-apa? Mau di anterin pulang nggak?" ulang Karisa.
"Nggak usah deh, aku biasa juga pulang sendiri," ucap Amanda.
"Ya udah, aku pulang dulu ya, kamu hati-hati di jalan," pesan Karisa.
"Iya, kamu juga hati-hati di jalan," ucap Amanda.
Mereka pun berpisah sambil melambaikan tangan.
Baru beberap meter Amanda melangkah. Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depannya.
Langkah kaki Amanda pun terhenti.
Perlahan-lahan kaca jendala mobil tersebut terbuka.
"Masuk!" perintah seseorang suara yang sangat di kenali Amanda. Seorang pria yang memakai kaca mata hitam, pria yang menyebalkan baginya.
Amanda memalingkan wajahnya lalu melangkahkan kakinya kembali berjalan.
Mobil itu mengikuti Amanda.
"Masuk!" perintab Guntur lagi yang sedang memandang ke depan.
"Sudah aku katakan jika aku tidak mau menaiki mobilmu, apa kamu tidak dengar di pembicaraan kita lewat telpon tadi!" ucap Amanda geram.
"Yang kamu katakan besok, kamu tidak mengatakan jika mulai hari ini," ucap Guntur.
"Astaga! Kamu memang pria yang sangat menyebalkan sekali ya," ucap Amanda menatap Guntur.
"Bawa dia masuk," perintah Guntur kepada supirnya.
"Baik Tuan," angguk supir tersebut kelur dari mobil dan kemudian menangkap Amanda.
"Hey! Apa-apa'an ini!" teriak Amanda.
"Tuan meminta Anda untuk masuk ke dalam Mobil," ucap sang supir.
"Tidak mau! Lepaskan!" teriak Amanda berusaha melepaskan pegangan dari tangannya.
"Lempar dia ke dalam," perintah Guntur.
__ADS_1
"Baik Tuan. Maaf ya Nona," ucap supir itu memasukkan Amanda ke dalam mobil secara paksa.
"Ketika bertemu denganmu aku memang tak pernah hidup aman," gerutu Amanda.