TUAN CEO You Love Me

TUAN CEO You Love Me
BAB 27


__ADS_3

"Yang saya tau kamu adalah manusia rakus saat pertama kali bertemu," ejek Bilow.


"Apa aku serakus itu di matanya?" Batin Vola sambil manyun.


"Terima kasih Anda sudah memuji saya," ujar Vola dengan wajah datarnya.


"Sama-sama, eheem... saya bukan sedang memujimu, saya hanya mau mengatakan kenapa makanmu sangat sedikit tidak seperti waktu itu," ujar Bilow menopang dagu dengan tangannya.


"Saya... sedang tak selera makan Tuan," jawab Vola ngasal.


"Oh, jadi kalo kamu ngak selera makan kamu hanya bisa menghabiskan 1 piring, jika sedang selera, kamu bisa menghabiskan 2 piring, gitu?" Tanya Bilow membuat Vola kesal.


"Sebenarnya dia ini mau apa sih? Apa dia mengataiku secara halus?" Tanya Vola dalam hati, untungnya Vola memakai masker jadi tidak kelihatan manyunnya.


"Maksud Tuan apa?" Tanya Vola mencoba bersabar.


"Apa kamu tidak ingin menghabiskan makanan yang ada di meja ini, sayang jika di buang, mumpung ada yang tukang habisin," ujarnya.


"Apa ia sedang mengataiku tukang makan?" Batin Vola.


"Tidak Tuan terima kasih, saya sudah kenyang," ujar Vola yang langsung menuju kamarnya.


"Huh! Dia sangat menyebalkan dan sangat menjengkelkan, dia mengataiku rakus dan tukang makan. Coba saja ucapannya tadi tidak kasar mungkin aku benar-benar menghabiskan makanan enak itu," ujar Vola kesal sambil duduk di ranjangnya.


Ia mengambil ponselnya dan melihat berita di internet.


"Ah, tidak ada berita yang bermutu, masa ponsel jatuh ke got aja mesti manggil damkar buat ngambil ponselnya, ini lagi Siswa SMP mancing ikan kakap dan laku di jual seharga 23.000, kalo 23 juta baru berita heboh, ini juga anak kecil berumur 15 tahun berenang di kali, apa anak berumur 15 tahun masih di bilang kecil? Ini pembuat berita cari masalah aja, apa dia punya masalah keluarga kali ya?" pikir Vola sebal.


"Coba lihat web kampus, apa ada berita, ata siapa tau tangan dosennya keseleo meletakan hasil tugas di web, cari ah," ujar Vola dan... ia melihat sebuah web yang bertulisan Tuan Bilow mengandeng tangan seorang perempuan keluar dari kampus, siapakah perempuan misterius itu?


"Oh My God, aduh... bagaimana ini? bagaimana jika aku ketahuan oleh anak-anak kampus, aduh bagaimana ini?" Vola panik melempar ponsel di kasurnya sambil memegang kepalanya.


Tok...


Tok..


Tok...


"Permisi, apa Nona Vola sudah tidur?" Panggil pelayan yang bernama Rani.


"Belum, ada apa?" Tanya Vola membuka pintu kamar.


"Ini susu di minum dulu sebelum tidur," kata Rani menyodorkan napan berisi segelas susu.


"Terima kasih," ucap Vola menerimanya.


"Kalo begitu saya permisi dulu," ujar Rani dan segera pergi.


"Sebaiknya aku minum susu dulu sebelum aku melihat berita itu lagi," ujar Vola meneguk habis susu tersebut.


Vola meletakkan gelas di mejanya dan pelan-pelan memegang ponsel pemberian dari Bilow waktu itu.


Vola mengecek web tersebut dan di status teman-teman kampusnya juga ada. Dan itu sudah merambat.

__ADS_1


"Astaga, kenapa jadi seperti ini, semoga saja wajahku blur," doa Vola.


Dan Vola melihat status mereka.


"Aku patah hati ketika melihat foto Tuan Bilow bersama seorang perempuan lain, dan itu dengan perempuan yang ada di kampusku."


"*Aku penasaran siapa wanita itu dan kenapa wajahnya tidak terlihat?"


"Tuan Bilow, i hate you, but i love you*."


"*Tuan Bilow, aku belum rela melepaskanmu dengan wanita lain."


"Sepertinya wanita itu mau jadi sainganku."


"Jika aku tau siapa wanita itu, aku akan menjambak rambutnya*,"


"Astaga, para pengemar Bilow ini, mereka seram sekali, bahkan lebih seram dari Bilownya," ujar Vola menggidik.


"Bagaimana ya? Apa besok aku kuliah ngak ya? Jika ketauan matilah aku di keroyok pengemarnya Bilow," ujar Vola ketakutan.


"Hoaaam... ya sudahlah, aku tidur aja dulu, besok ya pikirkan besok," kata Vola yang sudah mengantuk.


Sepanjang malam, Vola merasa gatal dan mengaruknya, namun karena ngantuk ia tidak peduli dengan gatalnya. Jika ada gatal-gatal yang ia rasakan ia menggaruk, jika tidak, ia tidur lagi.


xxx


Ke esokan paginya.


"Kenapa wajahku kayak ketarik ya, apa ada yang salah?' Tanya Vola kemudian ia berdiri di depan cermin.


"Aaaaaaaa...," jerit Vola kencang ketika melihat wajah dan tubuhnya.


"Suara apa itu?" Tanya bibi Asih yang terdengar hingga kedapur.


Bibi berlari menuju kamar Vola.


"Nona, apa sesuatu terjadi?" Tanya bibi khawatir.


"Bibi, bagaimana ini?" Tanya Vola yang hampir saja menangis.


"Bibi masuk ya," kata bibi memegang gagang pintu dan membukanya. Untungnya pintu tidak di kunci.


"Nona apa yang terjadi?" Tanya bibi mendekati Vola yang sedang menutup wajahnya.


"Ya ampun Nona, kenapa dengan tangan Nona?" Tanya bibi memegang tangan Vola. Dan terlepaslah tangannya dari wajah Vola.


"Ya ampun Nona, kenapa Nona jadi seperti ini, kalau begitu saya panggil Tuan ya," ujar bibi yang langsung keluar kamar menuju kamar Bilow.


"Jangan Bi," larang Vola namun bibi sudah pergi


"Heh! Sepertinya rencana kita berhasil," ujar Rani berbisik dengan Ena.


"Iya," jawab Ena tersenyum.

__ADS_1


"Tuan... Tuan...," panggil bibi mengetok-ngetok pintu Bilow.


Bilow bangun dengan mata yang di paksa di buka.


"Iya," jawab Bilow menekan remot membuka pintu secara otomatis. Bibi langsung masuk.


"Tuan, terjadi sesuatu dengan Nona Vola," kata Bibi yang masih panik.


"Ada apa dengan gadis itu?" Tanya Bilow berdiri dari ranjangnya.


"Wajahnya... wajahnya kena... itu," kata bibi binggung mau menjelaskannya.


Bilow langsung berlari menuju kamar Vola. Sesampainya di sana ia melihat Vola berselubung dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.


"Hey... ada apa denganmu?" Tanya Bilow menarik selimutnya, namun di tahan oleh Vola.


"Jangan di bukaaaa...," teriak Vola.


"Jika tidak di buka bagaimana saya tau keadaan kamu," ujar Bilow.


"Ngak mau, saya malu," kata Vola di dalam selimut.


"Nona buka saja, Mungkin Tuan punya solusi untuk membantu Nona," saran bibi.


Pelan-pelan Vola membuka selimutnya sembari menundukan kepala.


"Kamu siapa?" Tanya Bilow kaget.


"Ini orang kok nyebelin baget sih," batin Vola sebal.


"Ini Nona Vola Tuan," jawab bibi.


"Tapi... kenapa kamu seperti ini?" Tanya Bilow memegang tangan Vola dan memegang dagu Vola dengan wajahnya yang bengkak dan penuh dengan bintik-bintik merah.


Vola menggeleng dengan pelan.


"Telpon Delon sekarang," perintah Bilow.


"Baik Tuan," jawab Jhoni.


"Kenapa separah itu wajahnya?" Tanya Rani.


"Tidak tahu, apa dosisnya terlalu banyak?" Tanya Ena.


"Ya ngak tau, kamu yang masukin," ujar Rani menyalahkan Ena.


"Kan kamu yang suruh masukin segitu, kenapa kami menyalahkan aku?" bisik Ena geram.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2