
Vola hari ini tidak kuliah, ia membawa berkasnya surat lamaran pekerjaanya kesana kemari, namun kebanyakan mereka menerima pekerjaan S1, sedangkan Vola masih belum lulus S1 dan ia membawa ijazah SMA-nya.
Ia menung di di jalanan, ia melihat orang meminta-minta, ada yang jadi badut, ada juga yang menjadi manusia silver, padahal mereka semua masih sanggup bekerja.
"Aku kerja apa ya?" Tanya Vola bingung.
***
Dan pada akhirnya ia sudah seminggu lebih ia mencari pekerjaan namun tak juga ia dapatkan, sedangkan uang sisa kemaren sudah sangat menipis, meskipun ia dapat kerja, belum tentu bisa langsung di bayar, harus nunggu 1 bulannya, menjelang itu ia mau makan apa?
"Vola maaf ya, kontrakan ini ngak ibu kontrakan lagi," ujar ibu kontrakan.
"Kenapa?" Tanya Vola yang hatinya mulai dag dig dug.
"Ini mau di tempati saudara ibuk," jawabnya lagi membuat Vola ingin menagis.
"Maaf ya Vola, mungkin besok sudah datang saudara ibuk, jadi mulailah beres-beres," kata Ibuk kontrakan itu lagi.
"Ya buk," ujar Vola menundukan kepala yang matanya sudah berkaca-kaca.
Vola membereskan barangnya dengan air mata yang jatuh di lantai, kenapa hidupnya tiba-tiba berubah dratis. Apa salahnya?
"Vola yang cepat ya, soalnya mau ibuk bersihkan," kata Ibuk itu lagi.
"Ya buk," jawab Vola yang suaranya sudah mulai parau.
Ia langsung cepat-cepat membereskannya dan keluar pintu rumah membawa kopernya. Ia menyusuri jalan dengan tangis yang bisa ia bendung lagi, kemana ia akan pergi?
Vola duduk di pinggir jalan menundukan kepalanya, tak sadarnya ada yang melempar uang 5000-an dan uang 2000-an.
"Syukurlah setidaknya bisa untuk makan hari ini," ujarnya dengan tangis bahagia.
*****
Sudah 2 hari ia di jalanan mau tak mau ia menjual ponselnya untuk makan, masalah tinggal ia bisa tidur di mana tempat, kadang ia berfikir mau minta-minta saja karena udah putus asa, tapi jika di pikir-pikir lagi itu hanya orang pemalas saja yang mau melakukannya.
Karena hujan tadi ia tak sempat berteduh, akhirnya ia basah kuyup. kepalanya tiba-tiba pusing dan tanpa di sadari, ia jatuh pingsan. Dan lama ada seseorang yang membantunya.
Vola perlahan-lahan membuka matanya.
"Di mana ini? Kenapa asing sekali? Apa aku di dunia mimpi? tapi kenapa aku di infus?" Vola bertanya-tanya.
"Oh ternyata kamu sudah sadar, saya pikir kamu mati di jalanan, jika saya tau, saya tidak akan menolongmu tadi," ujarnya menusuk hati Vola, jika ia lemah jantung, dia bisa saja beneran langsung mati karena syok.
__ADS_1
Vola melirik suara itu, ternyata siapa lagi jika bukan Bilow manusia yang menyebalkan itu.
Vola menatap Bilow dengan mata sayu, Bilow langsung berdelik ngeri dengan tatapan Vola, Kenapa ini sangat mengerikan pasti ada pertanda buruk.
Vola langsung duduk menatap tajam Bilow dan tiba-tiba...
"Tuan Andalah pahlawanku, Andalah manusia yang terbaik di dunia ini, Andalah manusia yang berbudi luhur, Andalah cahaya dalam kegelapan, Andalah lelaki sejati yang sebenarnya, jika tak ada Anda, dunia ini dalam kekacauan," Vola membacakan puisi dengan memeluk kaki Bilow.
"Hey... apa-apaan kamu?" Tanya Bilow menarik kakinya.
"Tuan Anda memang is the best, jadi tolong berikan saya pekerjaan, apa saja yang penting bisa menghasilkan uang untuk makan dan uang kuliah saya, saya tau Anda adalah orang terbijak di dunia ini," rengek Vola.
"Merampok sana, kamu bisa menghasilkan uang berapapun yang kamu mau," ujar Bilow tanpa memberi saran tanpa bersalah.
"Saran macam apa itu? Habis itu aku langsung masuk penjara," omel Vola melepaskan pelukannya dari kaki Bilow.
"Kamu mau kerja?" Tanya Bilow serius.
"Mau Tuan apa aja yang penting kerja," jawab Vola berharap sambil mengosokan tangannya.
"Nungguin macan bertelor hahahaha," tawa Bilow lepas, sedangkan Vola melongo melihat Bilow tertawa. bingung melihat Bilow adalah orang tegas ternyata bisa bercanda juga. dan para pengawal juga merasa keheranan.
"Ada apa dengan Tuan kita?" Tanya salah satu pengawalnya berbisik.
"Ehmm... kamu ingin pekerjaan?" Tanya Bilow kali benar-benar serius. Vola masih melongo menatapnya.
"Ya," jawab Vola singkat.
"Jadi pembantu, selain ke kampus kamu tidak boleh kemanapun," ujar Bilow.
"Terima kasih Tuan, kamu yang terbaik huhuhuhu," tangis Vola memeluk erat kaki Bilow, eh... apa yang lembut ini? Wajah Bilow memerah ia menarik kakinya dan langsung pergi.
"Kenapa dia itu? Apa aku melakukan kesalahan? Wajahnya sampai merah begitu, apa ia sangat marah? Jika begitu apa aku jadi kerjanya?" Vola bertanya-tanya.
"Jadi? Apa aku jadi kerjanya?" Tanya Vola kepada pengawal Bilow.
"Kami akan menanyakan nanti Nona, jadi Anda istirahat yang cukup," jawab pengawal itu dan pergi keluar.
"Terima kasih, thank you, thank you verry much," kata Vola senang.
"Ehem Tuan, Nona Vola mau menanyakan apa jadi ia bekerja?" Tanya salah satu pengawal tersebut.
"Jadi, tapi jauh-jauhkan dia dariku, kasih saja dia pekerjan berkebun saja," ujar Bilow dengan wajah masih memerah.
__ADS_1
"Tuan, apa Anda sakit? Wajah Anda sangat merah?" Tanya Jhoni khwatir.
"Oh tidak AC-nya terlalu panas, mungkin harus ganti AC yang baru," ujar Bilow mencari alasan.
"Tapi ini sudah terlalu dingin bahkan saya sebentar saja sudah membeku," ujar Jhoni tak mengerti.
"Saya bilang ganti, ya ganti," benta Bilow.
"Ba... baiklah Tuan," ujar Jhoni yang langsung menelpon toko Elektronik yang terbagus.
Tak berapa lama datanglah AC baru dan mereka langsung memasangnya membuat suhu paling dingin hingga seperti kutub utara.
"Sudah siap Tuan," kata Jhoni.
Bilow masuk kedalam ruangannya namun wajahnya masih saja memerah. Melihat Wajah Bilow memerah Jhoni lagi-lagi menelpon toko AC yang terdingin. Begitulah seterusnya hingga 10x.
"Sudah cukup, saya tidak kenapa-napa," ujar Bilow yang pusing karena seharian ini ganti AC terus.
Karena sudah baikkan Vola melepas infusnya sendiri dan berganti pakaian keluar dari ruang itu dan mencari Bilow.
"Di mana Tuan kalian?" Tanya Vola.
"Di ruangan, tunggu sebentar saya akan melaporkan dulu," ujar Jhoni.
"Tuan, Nona Vola ingin bertemu dengan Anda,"
"Biarkan dia masuk,"
"Silakan Nona, Anda di suruh masuk,"
"Terima kasih," ucap Vola tersenyum.
"I... itu Tuan apa saya jadi bekerja?" Tanya Vola tanpa basa basi. Mendengar suara itu Bilow melihat wajah Vola kemudian turun di dadanya, wajah Bilow lagi-lagi memerah ia langsung menunduk malu.
"Kamu kerja di kebun saja dan kamu pergi kerjakan sekarang," ujar Bilow sambil marah menunjuk Vola tapi yang ia tunjuk adalah lemari bukunya.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH
__ADS_1