
Guntur hanya diam, tidak mengubris omelan Amanda.
Amanda menatap keluar jendela dengan tatapan kesal.
"Apa begitu memalukan di jemput oleh suami sendiri?" tanya Guntur membuka mulut setelah sekian lama berdiam.
Amanda tidak menyahutinya.
"Sekali lagi aku tanya, apa aku sungguh memalukan menjadi suamimu?" tanya Guntur lagi.
"I-itu Tuan, Nona Amandanya tertidur," ucap pak supir melihat dari kaca di depannya.
"Astaga gadis ini," ucap Guntur tersenyum kecut. "Pulang sekarang," perintah Guntur.
"Baik Tuan," angguk sang supir.
Mobil yang tadinya mengarah ke sebuah restoran, namun berbelok kembali ke kediaman Guntur yang super duper mewah itu.
Tediam sejenak, Guntur membalikkan kepala Amanda ke arahnya.
Di dalam otaknya ia bertanya, kenapa ia harus menikahi wanita aneh ini, sedangkan ia bisa mendapatkan gadis yang lebih dari gadis yang duduk di sampingnya.
"Benar juga, aku menikahinya agar dia tidak membocorkan data rahasia milikku," ucap Guntur berdalih.
Guntur menarik nafas lalu mengangkatnya pelan-pelan masuk ke dalam rumahnya mengunakan lift menuju kamar lantai atas.
"Ada apa dengan Nona Amanda Tuan?" tanya Bibi Henda.
"Sssstttt!!! Biarkan dia tidur," ucap Guntur keluar dari kamarnya.
Bibi Henda keluar dari kamar tersebut bersama Guntur.
"Buatkan makanan untuknya agar dia lebih sedikit gemuk, tubuhnya sangat ringan bahkan tulangnya lebih berat dari dagingnya," ucap Guntur.
"Baik Tuan," angguk Bibi Henda yang langsung menuju dapur.
Perlahan-lahan Amanda membuka matanya.
"Eh, aku di mana ini?" tanya Amanda melihat seluruh isi kamar itu sangat mewah, ia tak pernah melihat sebelumnya tempat yang semewah ini.
"Apa aku bermimpi? Apa aku sedang di surga? Jika begitu, Tuhan jangan bangunkan aku, biarkan aku tinggal di sini lebih lama lagi," ucap Amanda berharap.
Saking senangnya, Amanda melihat super mewah dan besar itu.
"Wah... ukiran ranjangnya sangat cantik, waw lukisan itu juga sangat indah, aku bagaikan masuk ke dalamnya. Waw... banyak sekali benda berharga di sini, jika di jual berapa uang yang aku dapatkan," ucap Amanda melihat pas bunga, gucci dan pajangan lainnya.
Amanda sangat menikmati tempat itu sambil menari berputar-putar dengan tarian balet.
Cklek!
Sebuah pintu terbuka, seketika Amanda langsung berhenti dari tariannya.
Prok!
Prok!
Prok!
"Tarianmu sangat bagus," ucap Guntur bertepuk tangan.
"Apa!! Jadi ini bukan mimpi?" tanya Amanda dalam hati dengan mata terbelalak.
"Hanya saja, gerakkan tubuhmu tidak selentur penari lainnya. Bagaiman jika kita menari di atas ranjang," bisik Guntur membuat telinga Amanda memerah.
"Sialan kamu," ucap Amanda berlari keluar dari kamar tersebut.
Seketika Amanda berhenti.
"Ke mana aku harus pergi? Aku memang pernah ke sini, Tapi tidak pernah pergi ke dalam kamarnya. Ah itu ada tangga," ucap Amanda menuruni anak tangga tersebut.
"Gadis itu larinya cepat sekali," ucap Guntur menyengir dan Guntur pun masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai bawah.
Amanda ngos-ngosan turun dari tangga.
"Astaga! Apa dia tiap hari turun naik tangg ini untuk menuju kamarnya, turun saja sangat melelahkan, apa lagi tiap hari," ucap Amanda.
"Sangat melelahkan bukan?" ucap Guntur yang tiba-tiba yang sudah menyender di dinding dekat Amanda berhenti.
Amanda sangat terkejut.
"Dari mana dia turun, perasaan hanya aku sendiri saja yang turun tangganya," ucap Amanda melihat ke atas tangga tempat ia turun tadi.
"Nona, mari makan dulu, Nona pasti sangat lapar," ucap bibi Henda.
"Bibi, Bibi Apa kabar?" tanya Amanda memeluk Bibi Henda.
"Saya baik-baik saja Nona, Sepertinya Nona tidak baik-baik saja ya, Nona terlihat kurus sekali sejak terakhir kali Nona ke sini, Tuan menyuruh saya untuk masak banyak agar Nona bisa makan dengan lebih baik," ucap Bibi.
"Bibi, sejak kapan Bibi banyak bicara sekarang?" tanya Guntur tak suka.
"Maaf Tuan, maafkan saya," ucap bibi Henda menundukkan kepalanya ketakutan.
"Hey! Kau jangan kasar dengan orang yang lebih tua donk meskipun dia hanya pelayan di rumah ini," ucap Amanda membelanya.
"Kau siapa yang meneriakiku?" tanya Guntur menatap tajam Amanda.
"Aku… aku… aku memang bukan siapa-siapa! Tapi… tapi kasiah sama bibi bila kamu berkata begitu padanya," ucap Amanda menatap sedih ke arah Bibi Henda.
"Saya tidak apa-apa Nona," ucap Bibi tersenyum ke arah Amanda.
"Pertunjukan macam apa ini? Sungguh membuatku kesal," ucap Guntur menunjukkan wajah kekesalannya.
"Kenapa memangnya! Setiap manusia itu harus punya rasa kasihan dan iba, emangnya kamu, keras kepala hati batu, aku meragukanmu apa kau manusia apa bukan," ucap Amanda lantang.
"Apa kamu bilang?" tanya Guntur mendekati Amanda, membuat Amanda harus mengeserkan tubuhnya kebelakang.
"Pergi kamu sekarang!" usir Guntur geram.
"Cih! Siapa juga yang ingin berlama-lama di sini, pantat ku bisa kena bisul jika ke sini," ucap Amanda menuju pintu utama dan menutupnya dengan keras.
"Ini bukan pertamanya dia mengusirku, semoga saja aku tidak ke sini lagi, ini rumah mewah baginya, tapi rumah hantu bagiku," omel Amanda meninggalkan istana Guntur.
"Kurang ajar! Dia bilang apa? Pantatnya kena bisul jika datang ke rumahku? Dia benar-benar membuatku kesal, kenapa aku bisa menikahi gadis yang menyebalkan itu, dia bahkan memakiku, dan meragukan aku manusia atau bukan, aku tak pernah bertemu dengan gadis semenyebalkan itu!" ucap Guntur geram sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa yang sangat empuk.
Bibi Henda hanya bisa terdiam mematung dan tidak berpindah sesentipun dari tempat ia berdiri.
"Bibi, aku tidak mau melihat bibi dan dia akrab atau aku akan memecat bibi," ancam Guntur.
"Baik Tuan, aku akan mengingatnya," ucap Bibi mengangguk mengerti.
"Haish…" keluh Guntur.
"I-iti Tuan, makannya akan dingin jika tidak di makan sekarang," ucap Bibi Henda mengingatkan.
"Buang saja makanannya, aku tidak ingin memakannya lagi," ucap Guntur kesal.
"Baik Tuan," angguk Bibi Henda.
Guntur pun masuk ke dalam kamarnya dan menghempas tubuhnya di kasur tersebut.
Guntur pun langsung menelpon telpon bibi Henda.
"Halo Tuan, ada apa?" tanya Bibi Henda.
"Ganti tempat tidurku sekarang, buang kasurku dan spaynya juga, aku tidak mau ada bau wanita itu di kamarku!" teriak Guntur.
"Baik Tuan, akan aku ganti segera," ucap Bibi Henda.
"Bukankah dia yang membawa Nona Amanda ke kamarnya? Sekarang malah minta ganti lagi," ucap Bibi Henda.
__ADS_1
"Kamu pergi ganti kasur Tuan sekarang, dengan kasur cadangan yang ada di gudang, kamu ganti spaynya," perintah bibi kepada pelayan di rumah tersebut karena Bibj Henda adalah kepala pengurus rumah Guntur.
"Baik Bi," angguk mereka.
Sedangkan Bibi menuju ke dapur. "Haish… sangat di sayangkan jika makanan ini di buang, lebih baik aku mengumpulkannya lalu memberi kucing makan," ucap Bibi Henda.
Bersambung.
Bibi membawanya keluar ingin meletakkannya di depan jalan.
"Bibi, mau di kemanakan makananya?" tanya salah satu pejalan kaki yang lewat.
"Ini untuk di beri makan kucing," ucap Bibi.
"Bagaimana untuk kucingku saja bi," ucap wanita yang berumur 40 tahun itu.
"Oh iya, ambillah, aku juga binggung mau memberi kucing yang mana yang akan datang kesini," ucap Bibi menyerahkan kepada wanita itu.
"Terima kasih ya Bi," ucap wanita itu menerimanya.
"Iya sama-sama," angguk Bibi dan kemudian masuk ke dalam rumah.
Guntur duduk di sofa, sedangkan para pembantu yang lain sedang membereskan tempat tidurnya.
"Tempat tidurnya sudah selesai Tuan," ucap pelayan tersebut.
"Baiklah, kalian boleh pergi," ucap Guntur.
"Baik Tuan," angguk mereka menurut, dan mereka pun turun dari kamar Guntur.
Guntur menghempaskan tubuhnya ke kasur.
"Begini lebih baik," ucap Guntur.
"Aaaaaaa… pria itu sungguh menyebalkan sekali, mana rumah dan rumahku jauh lagi, mau naik kedaraan umum nggak punya uang, perut sudah keroncongan. Aduh, perutku udah pedih banget, aku lapar," ucap Amanda memegang perutnya.
Amanda melihat ke kiri dan kanan. "Eh ada makanan," ucap Amanda melihat piring yang berisi makanan di atas meja di sebuah rumah, namun pemiliknya entah kemana.
Amanda mengambil piring tersebut lalu membawanya kabur.
"Maaf ya, aku ambil makanannya, aku benar-benar lapar sekarang, aku janji deh jika aku punya uang, makanannya aku ganti deh," ucap Amanda.
"Eh, kemana ya piringku tadi, aku ingat meninggalkan makananku di sini tadi," ucap pria itu mencari-cari piringnya di bawa meja dan bahkan ia kembali ke dapur tempat ia minum tadi.
Amanda mencari tempat yang aman, lalu menyantap makanannya dengan lahap.
"Ayahku seorang pengusaha, aku bahkan seperti seorang gembel yang mencuri makanan orang," ucap Amanda menitikkan air mata dengan sangat sedih. Sesekali ia menyeka air matanya karena ia menagis, hidupnya tidak seperti adik tirinya. Namun ia tetap memakan nasi tersebut karena ia tak punya pilihan lain.
Selesai makan Amanda mengatup kedua tangannya.
"Terima kasih atas makananya, aku paati akan membayarnya, karena 1 minggu lagi aku gajian," ucap Amanda menyimpan baik-baik piring itu di bawah tanah.
Amanda pun melanjutkan pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Amanda di hadang oleh Surya yang sudah memegang ikat pinggang.
Melihat ikat pinggang di tangan Surya, Amanda langsung gemetar.
"Cepat ke sini kamu!" teriak Surya.
Amanda berjalan perlahan-lahan sambil menundukkan kepalanya.
"Katakan apa benar kau menjadi wanita pelacur di luar sana!" bentak Surya.
Amanda terkejut dan mendonggakan kepalanya melihat wajah Ayahnya. Ucapan Surya sungguh membuat menyakitinya.
"Apa maksud Ayah?" tanya Amanda tak mengerti dengan mata berkaca-kaca.
"Semua kampus sudah tahu jika kamu menjadi wanita simpanan orang kaya, apa aku sudah tidak sanggup lagi untuk memberimu makan! apa rumah ini sudah tak nyaman lagi untukmu tinggal! Apa kau sangat ingin mencoreng nama baikku! Ha!" bentak Surya sambil melepaskan ikat pinggangnya di tubuh Amanda.
"Tidak Ayah, aku tidak melakukannya, Bagaimana mungkin aku menjadi wanita simpanan sedangkan Ayah tau jika aku hanya keluar saat pergi bekerja," ucap Amanda menangis.
Amanda terdiam dan berhenti menangis meskipun itu sangat sakit di tubuhnya sambil mengengam tangannya dengan erat.
"Dasar wanita murahan! Kau dan ibumu sama saja! Kenapa kau tidak menjadi seperti Alira, dia baik bahkan bisa menjaga martabatku menjadi seorang Ayah, sedangkan kau hanya buat malu, kau sudah merusak nama baikku, aku sangat malu dan sangat membencimu! Jika kau sangat ingin menjadi wanita simpanan lebih baik kau pergi dari rumah ini! Mulai saat ini juga kau bukan anakku lagi! Rumah dan aset perusahaanku akan aku wariskan untuk Alira, kau tidak akan mendapatkan apa pun!" teriak Surya dengan mata yang berapi-api.
"Baiklah jika begitu, Apa kau sungguh tak sadar diri! Kau juga menikahi wanita simpanan, ibuku meninggal itu gara-gara kau pria brengsek! Jika aku bisa memilih aku tidak ingin punya Ayah sepertimu, sudah bertahun-tahun aku hidup dalam kesengsaraan, ibuku meninggal karena tahu jika kau berselingkuh dengan wanita simpanan itu, setelah ibuku meninggal beberapa hari kau malah menikahi wanita ini, kau yang sudah membuat aku dan ibuku berpisah dengan cara yang menggenaskan ini! Dari awal Kaulah yang sudah menghancurkan keluarga kita, kau pria yang tidak tau berterima kasih! Karena ibukulah kau jadibseperti ini! jika aku menjadi wanita simpanan lalu kenapa! Itu kau yang mengajarinya! Lalu kenapa kau memarahiku! Kau lah pria yang tak tahu malu itu!" teriak Amanda.
"Dasar kurang ajar! Lebih baik dari dulu aku membunuhmu! Tidak ada gunanya aku membesarkanmu tapi kau malah tak tau di untung! Aku menyesal sudah menikahi ibumu, karena anaknya juga seperti ini, mati saja kau!" teriak Surya menginjak-injak tubuh Amanda.
SedangkanAlira dan Ibunya malah tersenyum penuh kemenangan.
"Yah, sudahlah, jangan pukul dia lagi, mau bagaimanapun Amanda adalah anakmu juga," ucap Heni menarik tangan Surya.
"Tidak! Mulai sekarang dia bukan anakku! Aku besok akan ke kantor catatan sipil untuk membuang namanya dari kartu keluarga kita," ucap Surya mengendus lalu membalikkan tubuhnya.
"Kemasi barang-barangnya dan lempar keluar," perintah Surya.
"Baik Ayah," angguk Alira menyengir.
Alira dan ibunya masuk ke dalam kamar Amanda sedangakan Surya masuk ke kamarnya untuk mencari berkas-berkas kartu keluarganya untuk membawanya kekantor sipil.
Amanda berusaha berdiri, meskipun tubuhnya sangat sakit, beberapa kali ia mencoba berdiri namun terjatuh lagi.
"Amanda, kamu harus kuat," ucap Amanda menguatkan tubuhnya untuk berdiri.
"Ini semua barang-barangmu, selamat menjadi gelang," ucap Alira melambaikan tangannya.
"Tidak menyangka Ibu, rumah ini akan menjadi milikku. Haish... sungguh anak yang malang," ucap Alira mencibir sambil tersenyum dengan wajah yang ia buat iba.
Amanda memungut barang-barangnya yang mereka masukkan ke dalam kantong plastik dengan asal.
Perlahan-lahan Amanda meninggalkan rumah tersebut, setelah beberapa meter berjalan, Amanda menatap rumah yang penuh kenangan indah bersama ibunya sekali gus rumah petaka baginya
Bersambung
"Ibu, maafkan aku yang tidak bisa menjaga rumah yang ibu tinggalkan, maafkan aku yang tidak bisa menjaga amanahmu, sekarang tidak ada lagi tempat tinggalku, aku tak punha siapa-siapa lagi selain ibu, apa aku ikut ibu saja ke alam sana," ucap Amanda sedih, perlahan-lahan Amanda pun pergi.
"Aku harus pergi kemana ya? Saat ini aku tak punya uang, aku tidur di tempat kerja saja," ucap Amanda.
Ia pun berjalan menuju toko baju tempat ia bekerja.
"Ya ampun Amanda, kamu kenapa lagi?" tanya Sera berlari ke arah Amanda yang di ikuti Lia.
"Aku... aku," tiba-tiba saja Amanda pingsan di bahu Sera.
"Ayo kita bawa ke dalam dulu," ucap Sera panik.
Lia dan Sera mengangkat tubuh Amanda masuk ke dalam dan membaringkannya ke dalam sebuah ruang.
"Kamu tunggu sebentar, aku ambil barang-barangnya dulu," ucap Sera kembali mengambil barang milik Amanda.
"Ya ampun Amanda, ini udah parah banget," ucap Lia merasa kasihan, ia mengambil kardus lalu mengipasi Amanda.
Sera meletakkan barang-barangnya di sudut ruangan.
"Sera, bagaimana ini?" tanya Lia.
"Aku akan mengobati lukanya, nanti kalau ada pelanggan tolong layani dulu ya sebelum Amanda bangun," ucap Sera.
"Iya, karena sekarang masih sepi, aku akan membantu untuk mengobatinya juga," ucap Lia.
"Ambilkan kotak P3K-nya," pinta Sera.
"Sebentar," ucap Lia yang langsung berlari mencari kotak obat-obatan.
"Entah apa yang di alami olehmu sampai kamu seperti ini Amanda," ucap Sera sedih.
Sera melihat luka memar dan lebam di sekujur tubuh Amanda, dari pipi hingga kakinya.
__ADS_1
"Ini kotak obatnya," ucap Lia menyerahkan kotak obat itu kepada Sera.
Sera mengambilnya lalu membukanya. Ia mengambil kapas lalu menyiramnya dengan air.
Sera menyeka dengan luka-luka Amanda dengan kapas tersebut lalu memberinya obat luka dan membalutnya dengan kain kasa.
"Ya udah, kita biarkan dia istirahat saja dulu," ucap Sera.
"Iya," angguk Lia.
Tak lama kemudian pemilik toko datang.
"Amanda sudah datang?" tanya pemilik toko.
"Sudah pak, tapi..." Sera terdiam sejenak. "Tapi dia pingsan pak," lanjutnya.
"Di mana dia?" tanya pemilik toko.
"Ada di dalam pak," jawab Lia.
Bapak itu pun masuk ke dalam ruangan, tubuhnya di balut kain kasa seperti mummi, untung hanya tubuhnya saja, wajahnya hanya di plester saja.
"Kenapa dia seperti ini?" tanya pemilik toko.
"Entahlah pak, saat dia datang, tiba-tiba dia pingsan dan sudah terluka parah, jadi kami berdua mengobatinya," ucap Sera.
Bapak itu mengangguk dan kemudian pergi.
"Bapak itu kok biasa saja, entah itu bawa dia ke rumah sakit kek," gerutu Lia.
"Mau bagaimana lagi, ya udahlah usah pikirkan bapak itu, kita lanjut saja kerjaan kita," ucap Sera.
"Ayo," angguk Lia.
Sesekali Sera melihat Amanda, mana tau Amanda sudah bangun.
Meskipun khawatir tapi mereka harus bagaimana lagi untuk menolongnya.
"Aduh," ujar Amanda memegang kepalanya yang pusing.
Ia melihat di sekujue tubuhnya yang terbalut dengan kain kasa.
Amanda berusaha berdiri dengan bantuan meja di sampingnya lalu perlahan-lahan melangkahkan kakinya.
"Lho Amanda, Kamu sudah siuman," ucap Sera melangkah cepat ke arah Amanda.
"Pelan-pelan, kamu kenapa keluar?" tanya Lia membopong Amanda.
"Aku harus kerja, jadi biarkan aku kerja," ucap Amanda.
"Dengan keadaan kamu yang seperti ini? Jangan donk, kamu masih terluka, kam istirahat saja ya," bujuk Sera.
"Enggak, aku harus kerja, aku sudah sering bolos kerja, bagaimana jika kau di pecat," ucap Amanda.
Sera dan Lia saling berpandangan.
"Ya udah, kalau begitu, tapi kalau kamu nggak kuat bilang ya sama kami," ucap Lia.
"Iya," angguk Amanda setuju.
Sera dan Lia membantu Amanda untuk menuju tempat kerjaannya, ya itu menghitung jumlah barang masuk dan mengeluarkan baju dari plastik dan mengantungnya di angeran.
Saat bekerja, Amanda memegang kepalanya.
"Kalau pusing, istirahat saja ya," ucap Lia khawatir.
"Aku tidak apa-apa kok, tapi boleh aku minta tolong?" tanya Amanda.
"Apa? tanya Lia.
"Tolong ambilkan air minum, aku haus," ucap amanda.
"Ya ampun, kenapa nggak bilang dari tadi," ucap Lia lari luntang lantung hingga sendalnya copot.
Amanda tersenyum. "Untungnya di dunia ini masih ada yang peduli denganku," ucap Amanda dalam hati.
"Ini," Lia memberikan segelas air putih kepada Amanda.
"Terima kasih," ucap Amanda menerima gelas tersebut.
"Kamu sudah makan?" tanya Sera.
"Hm... sudah," angguk Amanda.
"Kalau belum kami belikan untukmu," ucap Sera.
"Aku sudah makan kok, kalian jangan khawatir," ucap Amanda.
"Itu barang-barangmu, apa kamu kabur dari rumah?" tanya Sera hati-hati.
Amanda mengelengkan kepalanya. "Aku di usir dari rumah, dan rumah itu sudah di warisi oleh Alira, jadi sekarang, aku tak punya tempat tinggal lagi," ucap Amanda pelan. Ia menarik nafas panjang.
"Kamu yang sabar ya, kalau begitu kamu tinggal di rumah kami saja," saran Sera.
"Hm... terima kasih, aku numpang di rumah kalian ya sebelum aku mendapat kost-kost'an ya," ucap Amanda.
"Tinggalkan selama yang kamu mau," ucap Lia.
"Terima kasih, tapi aku tidak bisa tinggal lebih lama di rumah kalian, itu sangat merepotkan kalian," ucap Amanda.
"Itu tidak merepokan kok, kami iklas membantumu," ucap Sera.
"Tidak, aku yang tidak mau tinggal di rumah kalian dengan waktu lama, meskipun kalian tidak keberatan, jadi setelah gajian aku akan mencari kost'an," ucap Amanda mencoba tersenyum.
"Udah, kalau kamu nggak mau tersenyum jangan di paksain, jelek tau," ucap Sera bercanda.
Mereka pun tertawa bersama.
xxx
"Ini udah waktunya pulang, ayo kamu tidur di rumahku, besok baru tidur di rumah Lia, atau kamu tidur di rumahku aja terus," ucap Sera.
"Jangan gitu donk, gantian Amanda tidur di rumahku," ucap Lia mengandeng tangan Amanda.
"Iya, tapi besok ya," ucap Amanda.
"Hm... kalai gitu malam ini aku tidur di rumah kamu deh Sera," ucap Lia.
"Wah pasti sangat seru tuh," ucap Sera.
Mereka pun pulang bersama, Amanda sejenak melupakan kejadian tadi.
Sesampainya di rumah Sera.
"Lho? Amanda ya," ujar ibu Sera.
"Iya Tante, apa kabar?" sapa Amanda menyalami tangan ibu Sera.
"Kabar baik, tapi kenapa dengan dengan tububmu?" tanya ibu Sera mendekati Amanda.
"Ini... aku di pukul oleh pria yang tak bertanggung jawab," ucap Amanda.
"Ha! Siapa pria itu?" tanya ibu Sera panik.
"Ayahku, tapi dia bukan lagi ayahku, karena dia sudah tidak mengangapku anaknya," ucap Amanda.
"Ya ampun Amanda, tega sekali ayahmu, apa sekarang dia ada di rumah, biar Tante yang memarahinya," ucap ibu Sera geram.
"Ibu, Aku minta
__ADS_1