
"Kampus," ujar Bilow singkat.
"Baik Tuan," jawab Ravi mengangguk.
Mereka berangkat menuju kampus.
"Ada apa menelpon saya," ujar Bilow ketika sudah sampai di kampus.
"Tuan Bilow, Anda datang?" Tanya rektor memberi hormat.
Bilow melihat Vola berlutut di lantai ia langsung menghampiri Vola.
"Apa yang kamu lakukan duduk di lantai itu?" Tanya Bilow mengulurkan tangannya. Vola mengapainya dan berdiri.
"Tuan apa benar dia kekasih Anda?" Tanya rektor takut-takut.
"Hm?" Bilow melirik kearah Vola. Vola menundukan kepalanya.
"Aduuuhh... bagaimana ini? Mampuslah aku," batin Vola ketakutan.
"Maksud kamu apa?" Bilow balik bertanya kepada rektod itu.
"Dia bilang Anda kekasihnya," jawab rektor itu.
"Hm...," Bilow kembali melirik kearah Vola yang masih menundukkan kepalanya.
"Jelaskan ke saya sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Bilow kembali melihat kearah rektor itu.
"Anu... Tuan... kami... kami berfikir jika dia adalah simpanan orang dan itu sudah menyebar membuat nama kampus ini menjadi jelek, jadi kami... kami ingin mengeluarkannya agar jadi pelajaran untuk mahasiswa lain," jelas rektor itu gugup.
"Apa dia minta perlindungan dari saya?" pikir Bilow kembali melihat kearah Vola.
"Ya dia kekasih," jawab Bilow membuat mata rektor dekan dan Vola terbelalak.
"Astaga dia benar-benar mengakuinya," batin Vola kebingungan.
"Kami benar-benar minta maaf Tuan, kami salah mengira orang, ampuni kami Tuan, hukuman apa pun kami terima," kata rektor dan dekan itu memohon.
"Oh ya, sebenarnya saya tidak mau menghukum kalian jika kalian bicarakan dulu dengan saya, sayangnya kalian mengambil keputusan sendiri. Jika mengingat kebaikan kalian selama ini, saya akan potong gaji kalian selama 6 bulan, apa ada yang tidak setuju?" Tanya Bilow memberi peringatan.
"Baiklah Tuan kami terima keputusan Anda dan jika ada masalah lagi, akan kami bicarakan dengan Anda," kata rektor sambil berlutut.
"Jika tidak ada masalah silakan pergi," usir Bilow.
"Dan kamu... ikut saya pulang," kata Bilow menarik tangan Vola. Vola pasrah di tarik oleh Bilow masuk ke mobilnya.
__ADS_1
Di perjalanan Vola hanya terdiam tak berani bersuara, karena sangat canggung baginya ketika mengingat ucapan Bilow. Vola memegang wajahnya karena memerah.
"Kamu demam?" Tanya Bilow ketika melihat wajah Vola memerah.
"Saya baik-baik saja Tuan kompres dengan air dingin juga sembuh," jawab Vola.
"Apa tidak apa-apa?" Tanya Bilow mendekati Vola sambil memegang keningnya. Namun dengan refleks memegang tangan Bilow.
Mereka saling berpandangan. Tiba-tiba saja Ravi batu dan membuat mereka sadar. Dasar Ravi menganggu momen mereka saja.
Bilow kembali ke tempat duduknya dan. berdehem.
"Jika ada apa-apa kasih tau saja," ujar Bilow memandang keluar jendela.
"Iya," jawab Vola singkat.
Sesampainya di rumah Vola lari kekamarnya dan Bilow masuk ruang kerjanya dan melihat berkas yang sudah ada di mejanya.
"Oh begitu ya, gadis itu di usir orang tuanya gara-gara ia di rumorkan menjadi simpanan," ujar Bilow mengangguk-angguk.
"Baiklah saya akan memberi mereka pelajaran secara pelan-pelan, agar mereka tau apa itu rasa sakit," kata Bilow geram.
"Jhoni panggil gadis itu keruang kerja saya," perintah Bilow.
"Baik Tuan," angguk Jhoni dan Jhoni langsung menuju kamar Vola.
"Ya, baiklah," sahut Vola.
"Aduh gimana nih, apa jangan-jangan di mau mengintrogasiku gara-gara aku berpura-pura menjadi pacarnya, matilah aku," keluh . Ia pergi melangkahkan kaki dengan hati-hati.
"Duduk," perintah Bilow.
Vola menurutinya.
"Kamu ada masalah kenapa tidak memberi tahu saya," kata Bilow.
"Saya... karena ini masalah saya sendiri," ujar Vola menundukan kepala.
"Kamu di usir dari rumah ya?" Tanya Bilow pelan.
Vola terdiam.
"Jika tidak ada lagi tempat tinggal, rumah saya adalah tempat tinggalmu yang baru," ujar Bilow membuat Vola terbelalak.
"Apa yang Tuan ucapkan itu serius?" Tanya Vola tak percaya.
__ADS_1
"Apa saya tak dapat di percaya?" Tanya Bilow balik.
"Terima kasih Tuan, Anda adalah penyelamatku, terima kasih," ucap Vola membungkukkan badannya terus menerus.
"Cukup! apa pinggangmu tidak encok?" Tanya Bilow khawatir.
"Tenang saja Tuan, pinggang saya sangat kuat," ujar Vola kembali ceria.
"Baiklah jika begitu, oh iya ini kartumu, simpan uangmu di sini, dari pada kamu membawanya uang tunai kemana-mana, bahkan kamu membawanya ke kebun," ujar Bilow membuat Vola malu.
"Eh iya Tuan, terima kasih," kata Vola menerima kartu tersebut.
"Jika begitu saya permisi dulu Tuan," kata Vola menundukkan kepala.
"Aaaaa... sungguh memalukan... kenapa dia harus melihat ketika aku membawa uang di kebun, ini memalukan, memalukan, aku harus sembunyi di mana agar menghilangkan maluku ini," ujar Vola memukul-mukulkan kepalanya.
"Nona, Tuan menyuruh Anda turun untuk makan," panggil bibi.
"Iya Bi, segera," jawab Vola.
"Mana ya? Aku harus memakai sesuatu, agar tidak terlihat malu," kata Vola mencari sesuatu.
"Kamu... apa kamu sakit?" Tanya Bilow ketika melihat Vola menggunakan masker.
"Eh... saya tidak sakit, hanya ingin menggunakannya saja," jawab Vola mencari alasan.
"Ini untuk menutupi karena ucapanmu tadi sangat memalukan bagiku," batin Vola.
"Silakan Tuan, Nona di makan," kata bibi Asih.
"Terima kasih," ucap Vola.
"Lihatlah, dia berlagak seperti nyonya di rumah ini, bisa makan bersama Tuan," ujar pelayan yang bernama Rani melihat Vola dengan sinis.
"Iya, apa kita harus mengerjainya lagi?" Tanya pelayan yang lain bernama Ena.
"Tentu saja kita beri dia pelajaran agar dia tidak betah tinggal di sini lagi," ujar Rani tersenyum sinis.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Ena.
Rani membisikan di telinga ***. *** mengangguk tersenyum.
"Saya sudah selesai Tuan," kata Vola.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH