TUAN CEO You Love Me

TUAN CEO You Love Me
BAB 22


__ADS_3

"Cantik banget, makasih ya," ucap Zivana menerima bunga dari Vola. "Tapi ngomong-ngomong itu bunga untuk siapa lagi? Bukan untuk pak Herman 'kan?" Tanya Zivana curiga.


"Idih, siapa juga mau ngasih makhluk Elien itu...," belum sempat Vola menjelaskan tiba-tiba...


"Sssttt... kamu ngak takut kedengeran lagi?" Kata Zivana menutup mulut Vola sambil melihat sekeliling. Setelah rasanya aman, Zivana melepaskan tangannya.


"Ini itu punya Rini dan Fitri," sambung Vola lagi.


"Teman kerja kamu dulu?" Tanya Zivana.


"Iya, oh ya ayo, sekarang aku yang akan traktir kamu makan," ajak Vola.


"Emang kamu udah gajian?" Tanya Zivana bersemangat.


"Aku ngak pernah gajian, dan uang yang aku dapat ini, hasil kerja kerasku, tau ngak kamu? Kemaren itu aku di bawa kekantor cabangnya dan menyuruhku mendesain ruang kerja pegawainya dan desain punyaku terpilih, aku di beri hadiah dan juga sejumlah uang," cerita Vola kesenangan.


"Seberapa banyak uang yang di kasih?" Tanya Zivana penasaran.


"Yang pasti cukup buat traktir kamu 3 hari, tapi jangan makanan yang mahal-mahal ya, kalo untuk hari ini boleh deh kamu pilih makanan yang kamu sukai," kata Vola.


"Beneran? Aaaaaaaa.... i know, you best friend forever-ver-ver-ver," kata Zivana memeluk Vola.


Kini Vola yang manyun, takut Zivana balas dendam.


Di sepanjang koridor, semua anak-anak memandang kearah Vola dan sambil berbisik-bisik.


"Udah jangan kamu lihat mereka lagi, fokus kedepan dan traktir aku," kata Zivana meluruskan kepala Vola karena Vola melihat kearah mereka yang bergosip sambil bisik-bisik.


Vola menuruti Zivana yang mengandeng tangannya kearah kantin.


Zivana bersendawa kekenyangan.


"Wah... kenyang banget, uang kamu pasti banyak banget nih Vola," kata Zivana kesenangan.


"Meskipun banyak 'kan aku harud berhemat juga," ujar Vola sambil menyeruput minumannya.


"Ya udah ayo masuk, bentar lagi dosennya datang," ajak Zivana.


xxxx


"Tuan, ini hasil laporannya," kata Ravi menyerahkan hasil penyelidikan dari pengawal lainnya.


Bilow menerima map tersebut dan membukannya.

__ADS_1


"Gadis itu tidak punya pacar? Lalu bunga itu untuk siapa?" Tanya Bilow memikirkan dengan menekuk alisnya.


"Dia memberikan kepada temannya dan di sana ada fotonya Tuan," kata Ravi.


"Dia memberikan kepada teman perempuannya, tidak mungkinkan dia lesbian?" Tanya Bilow lagi melihat foto ketika Vola menyerahkan seikat bunga kepada Zivana.


"Dia juga akan memberikan bunga yang lain kepada temannya yang bekerja di toko kue waktu itu, anda bisa mendengarkan rekamannya Tuan," jawab Ravi menyerahkan sebuah rekaman beserta Video. Kerja anak buah Bilow sangat teliti.


Bilow melihat Video dengan seksama.


"Dia sangat ingin memberikan bunga kepada orang lain, kenapa dia tidak memberikan pada saya saja," kata Bilow sebal.


"Ya sudah singkirkan semua ini, saya tak membutuhkan lagi," kata Bilow kembali menatap laptopnya.


"Baik Tuan," jawab Ravi dan membereskan berkas di meja kerja Bilow.


xxx


Waktunya pulang kuliah.


"Vola," panggil seseorang membuat Vola berhenti. Ia seperti mengenal suaranya. Setelah berbalik ternyata adalah asik tirinya bernama Dira.


"Dela," kata Vola kaget.


Vola menutup mulutnya karena senang. Vola mengikuti Dela kearah mobilnya dan membuka pintu mobil penumpang ingin masuk.


"Ngapain kamu," sergah Dela.


"Mau pulang," jawab Vola polos.


"Kamu pulang sendiri sana, mobilku ngak cukup buat numpangin kamu," katanya dan langsung melajukan mobilnya.


"Ya sudahlah, akukan punya uang, aku naik taksi aja deh," kata Vola menghibur diri. Tapi tak bisa ia pungkiri. Ia sangat senang karena ayahnya menyuruhnya pulang.


Di dalam taksi Vola tersenyum terus. Apa ayahnya rindu kepadanya karena lama sekali tidak pulang?


Sesampainya di rumah ayahnya Vola berlari menuju pintu rumah ayahnya.


"Ayah," panggil Vola dari kejauhan dan berlari ingin memeluk ayahnya.


"Cukup, berhenti di sana," bentak ayahnya.


Seketika Vola berhenti mematung.

__ADS_1


"Ayah," lirih Vola tak percaya, ia pulang buka di sambut hangat oleh ayahnya melainkan di bentak.


"Apa kamu tau apa kesalahanmu?" Tanya ayahnya dengan marah.


Vola terdiam, ia tak mengerti apa di maksud ayahnya.


"Kesalahan? Kesalahan yang mana?" Tanya Vola kebingungan dalam hati.


Vola mengeleng pelan.


"Namamu sudah tersebar luas, jika kamu adalah simpanan orang kaya," bentak ayah.


"Jadi, Ayah menyuruhku pulang hanya karena ini?" Tanya Vola tak berdaya.


"Iya! Lalu apa? Kamu itu bikin malu keluarga, untuk apa selama ini aku membesarkanmu dan sekarang kamu malah menjadi simpanan orang, dan lagi kamu sudah mencoreng mukaku, dasar anak tak tahu malu," kata ayahnya murka.


Dela tersenyum melihat Vola di marah oleh ayahnya.


"Ayah, aku bukan simpanan orang kaya, aku bekerja jadi pembantu," jelas Vola menyakinkan.


"Pembantu? Pembantu apa yang kuliahnya di antar dengan mobil mewah? Pembantu apa yang bisa berkuliah?" Tanya ayah dwngan nada tinggi.


"Ayah, percayalah padaku, meskipun aku hidup sendiri, tapi aku tidak pernah melakukan hal buruk yang membuat Ayah malu, aku benar-benar tidak melakukannya Ayah," kata Vola memelas berharap ayahnya akan percaya.


"Kau ingin aku percaya denganmu, atas dasar apa? Namun aku sudah terlanjur malu atas semua perbuatanmu, apa gunanya kau menjadi anakku, bikin malu saja! Mulai sekarang kau bukan anakku lagi, dan jangan pernah menginjak kaki di rumah ini," usir ayahnya sangat murka.


Vola tak bisa membendung air matanya dan bulir bening itu jatuh ketanah seiringan hancur hatinya karena ia tak di anggap sebagai anaknya lagi.


"Jika Ayan mau yang seperti ini... baiklah, tapi apa Ayah pernah berfikir, selama aku hidup sendiri, apa pernah Ayah mengirimiku uang sekolah? Bahkan uang makanku pun tak pernah Ayah berikan, selama ini juga juga hidup sendiri tanpa bantuan dari Ayah, aku sudah terbiasa tanpa kalian, jika Ayah tidak mengangapku lagi sebagai anakmu, akan aku lakukan juga untuk tidak menganggap Ayah sebagai Ayahku juga," kata Vola sambil menagis.


"Pergi sana dan jangan datang lagi, aku akan menghapus namamu dari kartu keluarga," kata ayahnya.


Vola berlari dan terus berlari matanya kabur tertutup air mata hingga ia terjatuh.


Ia tak peduli orang yang lewat memandanginya, karena tidak ada yang dia permalukan lagi selain dirinya, kini ia hidup sendiri tanpa keluarga.


"Ayaaaaaahhhh... apa aku sungguh tak berarti bagimu, kenapa janji Ibu tidak kau tepati, kau berjanji di depan jenazah Ibu, kau amat mencintai Ibu dan kau akan menjagaku dengan baik, kenapa Ayah? Kenapa kau berbohong? Kau juga sudah berjanji di makam Ibu, kau akan selalu setia dengan Ibu, kau laki-laki pembohong," teriak Vola dengan isak tangisnya.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2