TUAN CEO You Love Me

TUAN CEO You Love Me
BAB 18


__ADS_3

"Ya udah, minta aku kertasnya, apa saja yang harus aku lakukan dan pertanyaan apa saja untuk mewawancari mereka," kata Vola mengambil selembar kertas yang sudah berisi tulisan.


"Ya ampun, ini pertanyaannya ngak banget deh, masa ada pertanyaan tentang rumah tangga, inikan privasi orang, ngapain di jadikan bahan tugas, bener-bener ya, kepala pak Herman yang sulah itu ingin rasanya aku membotakkannnya, biar dia kerjanya jangan jadi dosen lagi, suruh kerja jadi tuyul aja," omel Vola.


"Siapa yang kamu bilang jadi tuyul aja," kata pak Herman tiba-tiba muncul dari belakang.


"Eh bukan apa-apa pak, maksudnya kami mau jadi tuyul aja," ngeles Vola.


"Kamu jangan bohong, saya sudah dengar semuanya, kamu berani ingin membotakin kepala saya dan menyuruh saya kerja jadi tuyul, kamu baru masuk hari ini berani mengejek saya, apa kamu mau saya kirimkan SP kepada walimu... bla...bla...bla...bla...," omel pak Herman menjinjing kerah baju Vola dan membawa keruangannya.


Dengan terpaksa Vola mengikuti pak Herman keruangannya. Dan di sanapun ia masih di omel pak Herman.


"Mana nomor wali kamu?" Tanya pak Herman marah.


"Saya ngak punya nomor telpon wali saya pak," jawab Vola.


"Jadi, bagaimana cara kamu berkomunikasi? Bertelepati?" Tanya pak Herman dengan ucapan yang cepat.


"Saya ngak tinggal di rumah orang tua saya lagi," jawab Vola sedih.


"Jadi kamu tinggal di mana sekarang?" Tanya pak Herman yang belum mereda juga.


"Saya... saya... saya tinggal di bawah jembatan, dan saya sekarang jadi gembel hanya memunguti barang bekas untuk kehidupan sehari-hari," kata Vola mengiba sambil berlutut di kaki pak Herman.


"Apa kamu berbohong? Jika benar, tunjukan di mana kamu tinggal," kata Pak Herman tak percaya.


"Tapi pak, saya tinggalnya pindah-pindah tempat, jadi ngak netap, hari ini saja saya bingung mau tinggal di mana," kata Vola mengeluarkan air mata buayanya. "Huhuhuhu... saya... saya... benar-benar kasihan sekali pak, bolehkah bapak melepaskan saya, saya janji tidak akan mengulangi lagi," tangis Vola mulai kencang.

__ADS_1


"Kamu jangan menangis lagi, pelankan suaramu itu, apa kamu ingin membuat seperti saya menindasmu, apa kamu sengaja agar saya keluar dari kampus ini," kata pak Herman melirik kiri dan kanan.


"Hehehe... jurusku ternyata berguna juga," gumam Vola menyunggingkan senyum liciknya.


Vola kembali berdiri pura-pura menghapus air matanya agar tak ketahuan kalo ia menangis bohongan.


"Tapi kamu ingat ya, jika sekali lagi kamu mengatai saya, saya benar-benar akan meng-D.O-kan kamu, ngerti," sergah pak Herman pelan.


"Siap pak, akan saya lakukan," kata Vola mengangkat tangannya memberi hormat.


"Sudah sana, keluar kamu," usir pak Herman.


Vola keluar dari ruangan pak Herman sambil tersenyum.


"Hey Vola... kamu tidak apa-apakan?" Tanya Zivana yang ternyata ada di depan pintu ruangan pak Herman.


"Lama-lama aku juga bakalan ikut nakal juga gara-gara kamu," kata Zivana.


"Nakal untuk meyelamatkan diri sendiri itu ngak apa, tapi jangan nakal merugikan orang lain," kata Vola mengurui.


"Jelas-jelas kamu mengatai pak Herman tadi, apa itu tidak merugikan dia?" Tanya Zivana mencibir.


"Hehehe... itu mah spontan aja, siapa suruh ngasih tugas yang ngak masuk akal, coba pikirkan, apa orang besar itu ngak banyak urusan? Barang kali pak Herman menyuruh kita buat wawancara orang besar, biar dia tau tekhnik mereka yang bisa jadi kaya raya, pak Herman itu benar-benar licik, jika benar begitu, kenapa bukan dia saja yang menanyakan langsung," omel Vola.


"Kamu kok jadi orang pikirannya jelek banget sih, siapa tau dia memberi kita tugas ini agar kita juga bisa jadi seperti mereka," jelas Zivana membetulkan ucapan Vola.


"Hmmm... apa aku tinggal di tempat orang kaya, apa aku kecipratan kaya juga ngak ya?" Pikir Vola.

__ADS_1


"Bukan kecipratan kayanya, tapi kecipratan gayanya," sanggah Zivana.


"Aku sudah lama tidak menelpon Ayahku, kira-kira mereka apa kabar ya?" Tanya Vola bersedih.


"Apa Ayahmu ada menelponmu duluan?" Tanya Zivana juga ikut perhatian.


"Ngak pernah, waktu aku punya ponsel dulu, sesekali aku ngasih kabar, tapi jawaban mereka selalu sibuk, setiap aku ingin berbicara panjang, selalu Ayah bilang 'nanti dulu ya, Ayah sedang di tempat kerja' jika malam harinya ia jarang mengangkat telponnya kadang ibu tiriku itu yang mengangkatnya, meskipun aku rindu, namun gimana lagi, sepertinya mereka memang tak peduli denganku," kata Vola dengan mata berkaca.


"Vola, jangan nangis donk, aku juga ikut sedih," kata Zivana memeluk Vola.


"Aku ngak nangis kok, aku udah terbiasa seperti ini, tanpa orang tuaku, aku yang hanya seorang anak yang tak berguna, memang ngak ada manfaatnya buat mereka, untuk apa mereka mengharapkanku, tidak menyusahkan mereka itu saja sudah sangat bersyukur," kata Vola mengelap air matanya yang jatuh ke tanah.


"Vola, jika aku jadi kamu, belum tentu aku bisa sepertimu, kuat sepertimu, kamu emang benar-benar wanita strong," puji Zivana meskipun Zivana tau, jika Vola sangat merindukan ayahnya, namun ia tahan selama ini hingga ia terbiasa tanpa ayahnya. Vola sangat menyedihkan sekali, sejak ia di tinggal ibunya meninggal karena kecelakaan, ayahnya nikah lagi dan ibu tirinya membawa seorang anak yang bernama Dira, ia sangat pintar mencari perhatian. Karena ayahnya mencintai ibu tiri, ayah juga harus memperhatikan kehidupan adek tirinya itu, dan terbiasa kini memanjakannya, bahkan adeknya di belikan mobil baru meskipun bekas untuk pegi kuliah, untungnya mereka beda kampus.


Karena Vola tak di perhatikan lagi, makanya Vola memilih pindah karena di rumah, dia juga sering di bentak, apa bila minta sesuatu seperti adik tirinya itu, sedangkan ia tak di belikan.


"Vola, tatap mataku, jika mereka tidak peduli denganmu, jadi kamu juga jangan pedulikan mereka, karena kau bukan apa-apa sekarang, jika kau sudah sukses nanti, mereka sendiri yang akan mencarimu dan kau jangan luluhkan hatimu, selama ini kau tak di berlakukan secara tidak adil, maka lakukan mereka seperti itu, kau sudah bekerja keras selama ini Vola, jangan sia-siakan lelahmu ini, dan jadilah orang yang sukses, oke," kata Zivana memberi semangat.


"Makasih ya Zivana udah bikin aku semangat lagi, tapi ngomong-ngomong itu es krim kelihatan enak banget ya, kamu 'kan tau jika makanan manis bikin mood orang jadi baik," kata Vola menegelus-elus lengan Zivana.


"Huhuhu... nyesel banget aku baikin kamu... uang jajanku... selamat tinggal," kini giliran Zivana yang bersedih di buat bangkrut oleh Vola.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2