
"Kamu ini sebenarnya kenapa? Dia tidak semenakutkan seperti yang kamu bayangi," ujar Buk Rika lagi.
"Nah itu dia buk, dia itu lebih seram dari Elien," kata Vola yang menarik-narik rok Buk Rika.
"Udah, jangan tarik rok saya, emang kamu udah pernah lihat Elien?" Tanya Buk Rika.
"Dia itu adalah kakek buyutnya Elien," jawab Vola serius.
"Saya pikir kenapa kamu lama sekali, ternyata kamu di sini memaki saya dulu, ikut saya," kata Bilow menatap tajam Vola, Vola langsung bedelik merinding.
"Buk Rika tolong," ucap Vola memohon dengan wajah memelas.
"Minta tolong sama siapa kamu," ujar Bilow menarik kerah baju kemeja Vola.
"Anu... Tuan... saya mau buang air besar dulu ya, permisi sebentar," kata Vola berpura-pura.
"Kamu pikir saya bisa kamu bohongi, lihatlah wajahmu baik-baik saja," ujar Bilow mengangkat alisnya. Vola hanya terdiam menundukan kepalanya.
"Apa kamu tau apa yang telah kamu lakukan di rumah saya?" Tanya Bilow mengintrogasi.
"Apa yang sudah saya lakukan?" Vola balik bertanya.
"Setelah kamu membuat kekacauan di rumah saya, lalu melupakan begitu saja?" Tanya Bilow menekuk alisnya.
"Baiklah saya mengakuinya, saya minta maaf," ujar Vola memutarkan bola matanya.
"Jika maaf bisa menyelesaikan masalah untuk apa ada kantor polisi," ujar Bilow menyipitkan matanya.
"Jadi saya harus apa?" Tanya Vola kesal.
"Bayar," ujar Bilow singkat.
"Apa? Anda orang yang kaya raya, kenapa Anda pelit sekali," kata Vola manyun.
"Itu sih terserah saya, bukan terserah kamu, jika saya laporkan atas pencemaran nama baik, selama kamu mengatai saya, menurutmu bagaimana?" Tanya Bilow mengangkat alisnya sebelah.
Vola hanya terdiam, sungguh pria yang banyak tak-tik, pantesan saja perusahaannya berkembang pesat, ternyata dia sangat licik.
"Jadi bagaimana, sanggup bayar?" Tanyanya menyenderkan tubuhnya ke sofa dan mengangkat kakinya sebelah.
"Saya akan bayar... tapi nyicil," ujar Vola pelan.
__ADS_1
"Nyicil? Kamu pikir saya tukang kredit?" Tanya Bilow mengangat alisnya.
"Tapi gimana caranya saya bayar jika bukan nyicil, saya tak punya uang sebanyak itu untuk membayar mobil Anda yang pecah itu," kata Vola memelas.
"Terserah, saya tak tau dan ngak mau tau, bayar lunas jika kamu punya uang dan saya tak terima cicilan," tukas Bilow meninggalkan Vola sendiri di suatu ruangan.
"Dia benar-benar licik, emang nyari duit sama kayak nyari daun? Emangnya aku kaya raya seperti dia bisa punya uang dalam sekejap mata, dasar pria kaya yang pelit, seharusnya orang kaya itu baik hati dan tidak sombong, kenapa dia pelit sekali, suatu hari nanti jika aku punya kekuasaan, akan aku depak dia ke kutub utara jadi makanan beruang salju, aaaaaaaa... aku harus gimanaaaa...?" Teriak Vola mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan.
Vola keluar dari ruangan dengan loyo, ia masuk keruangan dan menjatuhkan diri di kursi tempat duduknya.
"Gimana Vola? Apa kamu di hukum? Kamu di kasih hukuman apa?" Tanya Zivana bertubi-tubi.
"Sepertinya kamu senang bangat jika aku di hukum," ujar Vola lemas.
"Kamu ngak di hukum?" Tanyanya lagi.
"Ini lebih parah dari hukuman, aku ingin rasanya bersembunyi dari kenyataan hidupku yang pahit ini," ujar Vola dengan mata terpejam.
"Kamu... dengan kata-katamu barusan... jangan-jangan... kamu ingin bunuh diri," teriak Zivana berasumsi.
"Aku mau tidur bodoh!" Sergah Vola.
"Huh! Ngak seru," ujar Zivana manyun.
"Ngak juga, maksudku buat seru-seruan aja biar heboh satu kampus, kamu pura-pura bunuh diri," kata Zivana menyarankan.
"Ya, habis itu aku beneran langsung di keluarkan dari kampus," ujar Vola manyun.
"Hehehehe...,"
***
Saatnya jam pulang. Vola langsung berlari menuju rumahnya dan bersiap-siap berangkat kerjanya dulu yang di tinggal 1 minggu lalu.
"Lho udah nambah satu karyawan lagi?" Tanya Vola setelah sampai di toko kue tempat ia bekerja, ketika melihat orang baru.
Fitri dan Rini terdiam, mereka binggung mau menjelaskannya, takut Vola tersinggung.
Vola lalu mengambil bater cream untuk menghiasi kuenya.
"Jangan Vola, sini aku aja," kata Fitri mengambil bater creamnya dari tangan Vola.
__ADS_1
"Ya udah deh, aku kedapur aja," kata Vola menuju dapur.
"Jangan Vola, di sana sudah ada yang membuat kue," ujar Rini melarang.
"Terus aku ngapain? Oh iya, aku nyusun kenya aja ya," kata Vola yang ingin merapikan kuenya.
"Tidak perlu, ada anak baru yang akan merapikannya," ujar Rini lagi.
Vola terdiam sesaat, tak biasanya mereka seperti ini, bahkan biasanya mereka meminta bantuannya walau mereka punya waktu senggang.
"Jadi... sebenarnya ada apa ini?" Tanya Vola lirih.
Fitri dan Rini terdiam saling berpandangan, mereka tak berani mengatakannya, ini juga berat bagi mereka, karena Vola juga teman lama mereka bekerja di sini, suka duka juga mereka rasakan bersama.
"Apa kalian tidak ingin mengatakannya?" Tanya Vola dengan dengan mata sayu.
"Sebenarnya...," ucapan Fitri terpotong karena ia berat hati untuk mengatakannya.
"Sebenarnya kamu sudah di keluarkan sejak insiden waktu itu," sambung Fitri menundukan kepala.
Vola mengigit bibirnya, rasanya sedih banget, ia bukan hanya kehilangan pekerjaannya, ia juga pasti akan jarang bertemu dengan teman-temannya ini jika ia tak bekerja lagi.
"Kami benar-benar minta maaf Vola, kami sudah berusaha berkata pada bos agar kamu jangan di keluarkan, tapi jika kami memohon terus, kami juga akan di keluarkan," jelas Rini merasa bersalah.
"Ya sudahlah tak apa, kalian sudah melakukan yang terbaik, aku tak apa, kalian jaga diri baik-baik ya, aku akan selalu mengunjungi kalian nanti," kata Vola pergi dengan langkah gontai.
"Vola tunggu," teriak Fitri. Vola berhenti dan berbalik arah.
"Ini upah kerjamu kemaren yang setengah bulan kerja dulu, semoga cukup ya, menjelang kamu dapat pekerjaa baru, dan kami juga akan berusaha mencari pekerjaan untukmu, kamu jangan sedih ya, jika sudah dapat kami pasti akan memberi tahu mu," ujar Fitri.
Vola langsung memeluk kedua temannya dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih ya, kalian ngomong seperti ini saja aku udah seneng banget, ya sudah ya aku pergi dulu, biar tidak menganggu pekerjaan kalian, Bye," kata Vola melambaikan tangannya. Fitri dan Rini juga membalas lambaian tangan Vola.
Di perjalanan pulang Vola menangis, kalau bukan dirinya yang berusaha sendiri siapa lagi yang akan membiayai kontrakan dan uang kuliahnya, sedangkan orang tuanya tak peduli sama sekali. Sedangkan seminggu lagi uang sewa rumah harus di bayar, sementara ia baru saja di keluarkan dari tempat kerjanya.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH
__ADS_1