
Sedang revisi nama
"Aku tidak sibuk kok," jawab Amanda mendekati fotografer tersebut dengan wajah bahagia.
"Benarkah?" Tanya fotografer itu dengan mata berbinar.
"Tidak! Dia sibuk mengurusi keperluanku," sela Guntur menghalangi Amanda.
"Benar juga, bagaimana Anda punya waktu, Anda saja sibuk, apa lagi jika sudah punya anak, pasti akan repot," jawab fotografer itu kecewa.
"Anak dari mana? Dari hongkong!" Keluah Amanda dalam hati.
Ingin rasanya Amanda menokok kepala Guntur dengan gucci, tak seharusnya Guntur ikut campur masalah pribadinya, apa lagi menyangkut pekerjaan dengan gaji lumayan karena saat ini ia sangat membutuhkan uang.
Amanda hanya bisa tersenyum yang di paksakan.
"Selamat ya Tuan atas pernikahannya, Semoga pernikahan kalian langgeng hingga kakek nenek dan hingga akhir hayat," doa fotografer tersebut.
Namun Guntur dan Amanda hanya terdiam dan tidak mengaamiinkan doa fotografer tersebut. Fotografinya malah heran, dua pasangan sejoli yang sudah menikah tapi ketika di doakan mereka malah seperti tak terima.
"Langgeng sampai kakek nenek apanya," batin Amanda memutar bola matanya.
__ADS_1
Semuanya sudah selesai, surat nikah juga sudah dapat dan waktunya mereka pulang.
"Selamat bersenang-senang Tuan, Nyonya dan jangan lupa bulan madunya," pesan fotografer itu. Guntur dan Amanda langsung masuk mobil tanpa memperdulikan ucapan Fotografer tersebut.
"Bersenang-senang apanya? Bulan madu apanya? Bulan gerhana iya," omel Amanda, Guntur mendengar omelan Amanda tapi ia tidak memperdulikannya.
"Jalan," perintah Guntur kepada supirnya.
"Baik Tuan," jawab Sang supir.
"Lho? Inikan bukan jalan pulang ke rumahku?" Tanya Amanda heran sambil celingak-celinguk.
"Mulutmu itu kenapa cerewet sekali sih, duduk diam jangan bertanya apa pun!" Ujar Guntur marah.
"Di jual? Di kasih aja jadi pembantu mereka menolaknya," ejek Guntur mencibir dan ia kembali memainkan ponselnya.
Amanda memegang dadanya. "Sejak aku kenal dengannya, aku sudah mulai kena penyakit jantung, jika aku hidup dengannya aku harus sering-sering pergi periksa ke dokter, pria ini memang hebat bisa membunuh orang hanya dengan ucapannya," ujar Amanda dalam hati sambil menatap sayu wajah tampan Guntur.
Tak berapa lama kemudian sampailah tempat tujuan mereka, yaitu rumah Guntur.
"Rumah ini sama menyebalkan denganTuannya," omel Amanda berbisik. Guntur pun turun dari mobilnya dan masuk ke rumah tersebut tanpa menawari Amanda namun Amanda tetap mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Eh Nona," panggil Bibi Henda kepala pelayan rumah Guntur yang pernah membawakan makanan untuknya sewaktu ia di kurung di ruang kosong. Ia tampak senang ketika Amanda berkunjung.
"Bibi." Amanda mendekati bibi dan memeluknya. "Aku kangen banget sama Bibi," ujar Amanda manja. Meskipun baru kenal namun ia lebih nyaman ketimbang dengan ibu tirinya.
Nona apa kabar?" Tanya Bibi.
"Aku tidak baik-baik saja sejak bertemu dengan dia," bisik Amanda. Bibi tersenyum mendengar ucapan Amanda.
"Yang kuat ya Non," pesan bibi. Amanda mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"Kamu gampang sekali dekat dengan orang," sahut Guntur.
"Dia ini suka sekali ikut campur urusan orang lain," ujar Amanda geram.
"Ssssttt... mari Nona duduk dulu, Nona mau minum apa?" Tanya Bibi.
"Terserah Bibi aja, tapi Bi boleh aku pinjam kamar Bibi sebentar?" Tanya Amanda mengangkat alisnya.
"Tentu saja boleh, mari saya antarkan," ucap Bibi senang.
"Bibi," panggil Guntur dengan wajah tak senang.
__ADS_1
"Eh ya Tuan," jawab Bibi ketakutan sambil menundukan kepalanya.
"Bibi buatkan saja minumannya, biarkan dia pergi sendiri," ucap Guntur menatap ke arah Amanda.