TUAN GALAK,DO YOU LOVE ME?

TUAN GALAK,DO YOU LOVE ME?
11


__ADS_3

" kalian datang?.." ucap Bagas.


irin pun lekas bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut.


" irin" panggil Bagas.


mati gue batin irin.


" iiiyya..tuan" jawabnya gugup namun tak menoleh ke arah sang pemanggil.


" tuan??" bingung Bagas.


sial mulut ni ah batin irin.


" ma,maksud ssaya , ada apa bos" ucapnya terbata.


" oh..tolong buatin Kopi menu baru yang damar buat kemarin itu yah, oh ya yang satu dingin yang lain anget.." titah Bagas ke irin.


" iya bos bagas.." ucap irin yang masih kekeh membelakangi mereka dan akan bergegas.


" tunggu" cegat salah satu teman Bagas.


aduh apa lagi si.. batinnya menggerutu.


lagi lagi langkahnya terhenti.


" yang dingin dua yah" lanjutnya.


" iya baiklah dua yang hangat dua lagi yang dingin" ucap irin memastikan.


" kalau begitu saya permisi" lanjut irin.


ceklek


" huhhhhh..gila ..kenapa mesti ada tuan galak si, haduh.." ucap irin yang berhasil keluar dari ruangan tersebut.


" gila gue takut banget kalo tuan galak cerita tentang gue gimana ni aduh ..gawat gawat gawat.." ucapnya sambil berjalan yang menampilkan raut sedikit ketakutan.


" Rin kenapa tidak muka tekuk Bae..tadi aja kaya sumringah" ucap Juna mengejutkan irin.


" jun" panggil irin yang membuat si pemilik nama pun menoleh.


" Lo disuruh bos besar buat nganterin kopi" lanjutnya.


" gue?"


" he'em" angguk irin.


" tumben" lirih Juna.


" gue gak percaya, bo'ong lu ya.."


" ih nggak kok"


" ah nggak mau gue udah tau Lo bo'ong, dari muka lu aja gue udah tau nipu gue Lo , gak ah males ntar kena semprot lagi, kalo siapa yang di suruh siapa yang Dateng, mending yang diomelin yang di suruh, yang diomelin yang kan yang bawa ..gak gak" tolak Juna.


" aduh Jun, plis plis plis "


" gak gak enak aja"


" plis Jun gue.."


gue tau batin irin.


" aduhhh...aww"


" eh Rin Lo kenapa?, jangan ekting lu ah gak lucu" ucap Juna.


irin pun sempoyongan dan lemas.


"Rin Lo kenapa?" tanya seseorang yang baru datang yang dengan sigap memegang pundak irin ,yang sepertinya sempoyongan.


" migren gue kumat lagi.." ucap irin sambil menatap Salim.


Salim yang mengetahui arti tatapan irin pun hanya terkekeh kecil.


" hh"


" udah jun, nurut aja.." ucapnya yang mengerti dengan suasana yang sering terjadi itu.


" ah lu Lim, kebiasaan banget.."


setelah itupun Juna pergi meninggalkan mereka.


" Juna udah pergi kok" ucap Salim.


" oh"


" hehe" ringis irin sambil menunjukan jari yang ia bentuk huruf v itu.


Salim pun hanya tersenyum dan mengacak kecil rambut irin.


"CK" decak irin.


____________


" gila bro, makin ganteng aja lu, yakan" ucap radit memuji Bagas dan merangkulnya.


" apa sih lu gak usah sentuh sentuh si..bau ketek lu" ucap Bagas.


" alah paling juga ada udang dibalik telor lu muji2 orang" ucap Salim.


" hehe nggak nggak.."


" sebenernya gue cuma mau curhat sih..." ucap Radit.


.


.


.


.


sedang arka masih sibuk dalam pemikirannya.


jadi selama ini, gembel kerja disini.


tunggu tadi gembel bilang apa? " bos arka" dan arka tidak marah namanya dipanggil begitu saja oleh bawahannya..sedekat apa hubungan mereka?


pikir arka dengan raut yang tidak enak dipandang.


hh..terus dia menyukai bosnya..yaitu si Bagas.


apa cara kerjanya begini, dia kayak nunduk2 dan sopan gak kayak kalo sama saya, walaupun nurut tapi teriak2.


gimana si si gembel, Bagas kan udah ada pacar


tapi kenapa dia masih tetep suka nggak risih gitu.. pikir arka dalam lamunannya yang tak sengaja terkekeh.


" ka, Lo senyum?" tanya Bagas yang menyadarkan arka dari lamunannya.


" hah? senyum? gue ..cuma lucu aja liat kalian kayak gini" ngeles nya dengan santai.


" lo kok seneng sih, salah satu perusahan bokap gue down, Lo bilang lucu" ucap Radit yang sedikit kesal.


" alah ngeles aja lu ka, bilang aja lu lagi mikirin gembel Lo itu kan" sambar Samuel.


" apa deh kamu sam" ucap arka sambil sedikit merajuk.


" ow ow ow, siapa itu gembel?" ucap Bagas.


" iya si arka lagi terkena gejala kasmaran hahah" ledek radit yang dibarengi tawa nyaringnya.


" diem!! apa deh kalian ini" teriak arka.


" gak lucu tau"


tok tok tok


" permisi" ucap seseorang dari luar ruangan menghentikan tawa mereka.


Bagas dengan sigap pun langsung berdiri menghampiri pintu tersebut.


ceklek


" kamu membawa pesanan saya"


" tunggu, bukanya saya tadi tidak menyuruh kamu yah"


ucap Bagas pasti.


" maaf bos maaf, soalnya ada masalah kecil tadi.."


" hemm..baiklah bawa masuk".


" aduh sory ya bro gue duluan, ada pasien vvip gawat darurat dan gue yang nanganin, gue duluan yah.." pamit Salim dari ruangan tersebut setelah menerima telfon yang sepertinya penting.


" oh..iya udah..semoga berhasil bro.." jawab Bagas yang dijawab tepukan pundak dari Salim.


" yaudah cabut duluan bro.." pamit Salim.

__ADS_1


" Yoo.." jawab Radit.


.


.


.


.


.


.


" tunggu..kamu Juna kan yah" ucap Bagas memastikan.


" oh iya bos"


" bukanya tadi saya merintah irin yah, kenapa bukan dia yang membawanya?"


" anu bos.. penyakitnya kumat.." ucap Juna sedikit lirih.


" penyakit?" terkejut Bagas.


penyakit? batin arka.


penyakit parah atau tidak, pasti sakit? apa dia bisa menahannya? batinya bertanya, sedikit tersalip rasa khawatir di dadanya tapi ia tidak sadar akan hal itu.


"i.i.ya bos "


" penyakit apa?"


" katanya sih migren bos" ucap Juna apa adanya.


" migren? apakah parah? sudah dibawa kerumah sakit? sekarang dia dimana? " tanya Bagas yang menampilkan raut wajah yang khawatir.


" tidak bos, irin bilang dia hanya butuh istirahat" jawab Juna.


" nggak nggak, bawa dia ke rumah sakit yah takutnya kalo penyakitnya itu tambah parah" ucap Bagas.


" gas , are you oke..?" tanya Radit menyadarkan Bagas.


membuat Bagas yang semula terlihat khawatir pun langsung menetralkan raut wajahnya.


" kamu boleh pergi " suruh Bagas ke Juna, Juna pun menunduk dan pergi dari sana.


" Bagas, lu? why?" ucap Radit.


" IM okey.." ucap Bagas meyakinkan dengan senyum paksaan nan manisnya itu.


" gak gak gak, ada yang gak beres raut wajah Lo tadi kayak orang ketakutan gitu ..gue cuma liat raut itu dulu..waktu.." ucap Radit menggantung.


" apaan sih dit nggak lah.." ucap Bagas meyakinkan teman temannya itu.


" nggak nggak, Lo ingat waktu indah dioperasi, nah..kayak gini ni ekspresi lu..kayak..Lo khawatir sama pacar gitu" ucap Radit asal.


masa suka sama gembel pikir arka yang sedari tadi memperhatikan ocehan Radit.


" hah..nggak lah, gue cuma kawatir karena dia itu salah satu kariawan gue so..wajar wajar aja kali gue kawatir " ucap Bagas meyakinkan Radit.


"iya sih..tapi ekspresi lu kayak berlebihan aja gitu.."


" nggak sih..biasa aja ah.."


'tidak suka' itulah yang hati arka rasakan.


tidak ingin ada yang memberikan perhatian lebih kepada pelayan yang ia beri julukan gembel itu.


" gue pamit duluan yah" ucap arka yang habis membuka ponselnya seraya beranjak dari tempat duduknya.


" yaelah kok pamit semua sih..yaudah deh gue juga pamit lah gas.."ucap Radit.


"ngikut aja lu" ucap Bagas.


" yaudah kalian hati hati dijalan.." lanjutnya.


" yaudah duluan.." ucap Radit.


" Yo.." sahut Bagas.


______________


" eh Lim tau gak sih, tadi big bos kayak aneh gitu.." ucap Juna yang mengganggu aktivitas Salim.


" HM" sahut Salim yang membuat juna mendengus kesal.


"ck"


" jadi big bos itu aneh banget Loh Lim, tadi dia itu kayak khawatir banget gitu pas denger irin sakit tanya banyak gituu" ucap Juna yang menghentikan aktivitas Salim.


Salim pun menoleh ke arah juna tak lama setelah itu dia melanjutkan aktivitasnya lagi.


" gini..yah..gue heran aja gitu dulu kan pernah tuh ada yang sakit, tapi big bos gak pasang muka khawatir kayak gitu..kayak ekspresinya agak kelebihan gitu deh..


apa jangan jangan ..big bos mengspesialkan irin lagi, atau_"


" denger yah.. khawatir itu wajar karena dia itu bos kita, dan lagi dulu itu damar yang sakit damar itu cowok, jadi bos ya..nggak terlalu berlebihan lah..dan sekarang itu yang sakit karyawan wanitanya ya wajar dong kalo bos besar khawatir banget, nggak ada kata spesial spesial juga dikira irin martabak apah" potong Salim dengan santainya.


" nggak Lim, kayak ekspresi takut gitu nggak wajar lah berlebihan tau gue pikir, apa jangan jangan bos suka sama irin" ucap Juna.


" inget Jun, bos besar udah punya pacar mba indah dan lagi dia itu lebih suka sama pacarnya ketimbang masuk kafe ini kamu Taukan, bos gak cocok kalo sama irin" jelas Salim.


" iya gue tau...tapi Lo kok kaya gak terima banget gue cerita ini, apa jangan jangan..Lo lagi yang suka sama irin ...hh" ucap Juna dengan kekehanya.


" hh..gue juga gak tau.." ucap Salim sambil menggaruk tengkuknya.


_________________________


sore sudah datang kini saatnya para pekerja bergegas mengahiri pekerjaan mereka.


" rin, lo pulang bareng gue aja.." tanya Salim yang menyetarakan langkahnya dengan irin yang berada di depannya.


" eh..cie..udah dibebasin tu motor" ucap irin.


" Iyah..Jan kelamaan ntar njamur lagi.." guyon Salim sambil menggaruk tengkuknya.


" hem ..elah.." dengus irin.


" tapi sory .. gue gak bisa Lim, "


" kenapa?"


" iya..gue masih ada kerjaan jadi..Lo duluan ajah.." ucap irin.


" em..gimana kalo gue tunggu Lo?"


" eh jangan, Lo duluan aja takutnya gue lama Lo juga ada kelas pagi kan buat kuliah Lo besok?"


" iya si Rin, tapi Lo.."


" udah udah..tenang ada ada ojol kok.." ucap irin sambil mendorong dorong punggung Salim agar mau bergegas seraya meyakinkan Salim.


____________________


sementara dirumah besar arka yang sepertinya tidak tenang menunggu seseorang di kamarnya.


duh..kenapa gembel belum pulang pulang pikirnya.


sesekali ia membuka gorden yang menutup jendela besar di kamarnya memastikan apakah seseorang yang ia tunggu sudah pulang atau belum ( lebih tepatnya khawatir tapi tak sadar) .


sudah pulang belum sih..


katanya sakit, masa nggak izin buat pulang.


mau tanya pelayan ,nanti mereka salah kira lagi


"gembel" ucapnya lirih.


_________________


kenapa irin belum datang juga?


apa dia lupa?


apa karena sakit dia lupa izin dan langsung pulang?


oh saya kan punya nomornya apa saya telfon saja yah?


tanya batin Bagas.


tok tok tok


" permisi bos..."


irin, batin Bagas.


ceklek.


Bagas memutar handle tersebut.


" irin..masuklah.." ucap Bagas seraya memasang wajah khawatirnya.

__ADS_1


" ah iya bos.." ucap irin sambil mengekor dibelakang Bagas.


tanpa aba aba irin langsung menduduki kursi yang tersedia untuk sekertaris ( namun irin adalah sekertaris pengganti).


" tunggu"


" ada apa bos?"


" kamu sakit apa?" tanya Bagas.


sakit?, batin irin.


" saya nggak sakit apa apa bos" ucapnya.


" jangan bohong, bukanya kamu bilang ke teman kamu kalo kamu itu sedang sakit.."


anjir gue lupa, rutuk batinya.


" ahh..yah..tadi memang saya sedikit pusing ..tapi sekarang udah sembuh kok bos.."


" bener kan, kamu nggak boleh nyepelein penyakit Rin"


" sa,saya ng,nggak nye,pelein penyakit kok bos"


" kamu sudah konsultasi ke dokter?"


" be,Lum ..nanti saya periksa.." ucap irin dengan cengirannya.


" ikut saya.." ucap Bagas.


irin pun mengekor dibelakang Bagas keluar kafe, setelah keluar Bagas mengunci kafe tersebut.


" kamu tunggu disini"


" eh iya..bos"


setelah itu datanglah mobil bernuansa dark light berhenti didepan irin.


" bos kok.." bingung irin sambil menggaruk kepalanya.


" udah naik ajah.."


Bagas melajukan mobilnya meninggalkan kafenya itu.


aduh jangan jangan bos mau..akkh_ dameyo dame dame, ah gak gak.. mungkin ajah bos ngajak saya buat nemenin makan malemnya, atau jangan jangan bos udah putus sama mba indah, dan sekarang mau nembak gue akkhh.. _ halu batin irin dengan gerakan gerakan anehnya membuat Bagas sesekali menoleh ke arah irin.


dia kenapa? pikir Bagas.


" apa sakit nya kumat lagi?" tanya Bagas yang menyadarkan irin dari halusinasinya.


" eh..nggak bos saya hanya sedikit halu..hahaha" ucapnya dengan tawa garingnya, yang hanya diangguki oleh Bagas.


hening..


" em..bos, bos bagas, mau bawa saya kemana yah.."


" rumah sakit" singkat Bagas.


"oww_ eh!! rum,rumah sakit ngapain" tanyanya terkejut.


" mau meriksa kamu lah.."


HAH!!?


meriksa saya? batin irin.


" bos..saya mohon jangan bawa saya ke rumah sakit bos saya mohon.." ucap irin sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


" irin, tapi-"


" cukup antar saya ke apotik pak" ceplos irin.


" apotik?"


" i,iya bos.."


_________________


sudah setengah jam lebih arka terus membolak balik kan badannya dikasurnya itu berharap dia akan segera beranjak ke alam mimpi.


"aaarrrggghh"


" ayolah mata, saya tidak ingin kesiangan pagi nanti.."


gerutunya.


lalu ia beranjak dari kasurnya untuk membuka gorden yang ia rasa ingin terus membukanya untuk memastikan sesuatu.


pandanganya pun terhenti ketika melihat irin tangan yang satu membawa kantong plastik putih, dan tangan yang satu lagi mengusap usap jidatnya itu.


" dia bener bener sakit " ucap arka lirih.


setelah itu arka memilih keluar dari kamarnya turun ke bawah berniat menemui irin.


arka rasa dia tidak tenang jika belum mendapat jawaban langsung dari irin.


ia turun menggunakan lift yang tersedia di rumahnya itu.


" kamu beneran sakit" tanya arka setelah melihat irin yang mengambil air minum.


uhuk uhuk


" eh..tuan muda.."


" kamu tidak apa apa?" tanya arka yang sedikit khawatir dengan irin yang tersedak saat sedang meminum.


" s,saya t,tidak apa apa?"


" memangnya ada apa?"


arka mendekat dan melihat plastik yang irin baru saja letakan, karena penasaran ia membuka dan mengangkatnya.


" ini obat apa..?"


" itu, punya temen saya tuan" jawab irin asal.


"punya temen kamu? tapi ini atas nama kamu"


" saya yang beli obatnya, gitu tuan hehe.." ucap irin meyakinkan.


arka terdiam dan menatap tajam ke arah irin.


dia berbohong, pasti ini obat nya tapi dia mau menutupi nya karena takut akan dipecat, aku tau itu..saya sedikit iba..yasudah lah biar saja dia berakting saya ikuti saja sampai dia akan mengaku sendiri..pikir batin arka.


" tuan muda belum tidur?" ucap irin memecah keheningan.


" saya..uhuk uhuk .. tenggorokan saya sedikit kering jadi..saya ingin mengambil air minum.." akting arka.


" oh..bukanya, dikamar tuan muda juga ada yah.."


" hah..itu..sudah habis.." ucap arka gugup.


setelah itu arka mengambil botol mineral yang berada di kulkas dan melangkahkan kakinya menjauh dari dapur tersebut.


" tuan muda" panggil irin seraya mengejar langkah arka yang semakin jauh.


arka pun menoleh ke sumber suara dan menghentikan langkahnya.


" hm?"


" tuan kan udah janji sama saya, tuan nggak nglanggar janjinya kan.." tanya irin yang membuat arka mengangkat satu alisnya kebingungan.


" iya, tuan gak ngomong tentang saya kan ke bos bagas" ucap irin meyakinkan.


" menceritakan kamu?, memang tidak ada topik yang lebih menarik sehingga hanya bisa menyeritakan kamu gembel.." ucap arka dengan nada datarnya.


" ih ..bukan begitu tuan muda hanya saja ..tuan kan udah janji sama saya buat gak ngomong2 masalah saya, tuan gak akan nglanggar janji kan.."


" kayak gak ada kerjaan lain buat nyeritain kamu" ucap arka ketus.


senyum manis mengambang di bibir mungil irin.


" jadi, tuan gak nyeritain saya kan.."


arka membalikan badannya membelakangi irin, tanpa menghiraukan ucapan irin.


arka juga mengembangkan senyum kecil di bibirnya.


manis batin arka.


.


.


.


.


...BERSAMBUNG...


butuh dukungan nih anak...

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2