TUAN GALAK,DO YOU LOVE ME?

TUAN GALAK,DO YOU LOVE ME?
13


__ADS_3

Bagas melajukan kendaraannya itu dengan wajah datarnya, irin sesekali melirik ke arah Bagas berada.


kayaknya bos gak risih yah sama ungkapan gue, kenapa gue rasa nggak terima. gitu..


ish..rasanya kayak seolah..bos nggak ngehargain perasaan gue gitu.. sibuk batin irin berfikir.


apa salah kalo sekedar suka sama atasan? gue gak berharap banyak kok, gue cuma seneng aja liat dia..


huufff.. irin menggembung seraya membuang nafasnya sedikit kasar.


*sukur sih bos kayak biasa aja, tapi gimana sama gue


buat ngomong aja kelu banget ni mulut, senggaknya bisa ngangetin situasi gitu..


begini yah rasanya sakit ati..gue pikir susan sama Santi itu alay karna sering nangis gara2 disakitin pacarnya..pantes aja mereka sering nangis..


ternyata sakit..


sekarang gue ngerasain gimana sakitnya menyukai seseorang tapi seperti tak dihargai..atau cinta bertepuk sebelah tangan?


apa bos bener bener gak menghiraukan ungkapan gue?


pikir irin.


Crriittt


sibuk dengan fikiranya tak terasa saja ternyata mereka sudah sampai ke tempat tujuan mereka.


" sudah sampai, turunlah duluan tunggu saya pintu masuk..saya akan memarkirkan mobil saya dulu, setelah itu kita masuk bersama.." titah bagas.


"baik bos.." patuh irin dengan senyum yang ia paksakan.


apa bos bagas beneran menganggap ucapan saya hanya angin lalu? pikir irin sambil berjalan menuju pintu masuk.


Bagas telah memarkirkan mobilnya, dia sekarang menghampiri irin sedikit tergelintir rasa iba di hatinya melihat sekertaris pengganti nya itu terlihat murung dan menekuk wajahnya.


apa dia masih memikirkan kejadian tadi? pikir Bagas Dengan mengerutkan keningnya.


" ayo masuk.." ucapnya membangunkan irin yang sepertinya melamun.


" oh..iya bos.." ucap irin yang memaksakan senyum mengembang di bibirnya, setelah itu dia mengekor di belakang Bagas.


.


.


.


.


" selamat siang pak Kusuma.." sapa Bagas kepada kelayen yang baru ia datangi itu, membuat sang pemilik nama itu berdiri membalas uluran tangan Bagas.


" oh pak Bagas..silakan duduk silakan duduk.."


ucap Kusuma mempersilakan Bagas.


" maaf kan saya, sepertinya saya membuat anda menunggu lama..." ucap bagas.


" oh iya ..sebenarnya tidak terlalu lama, tapi tidak apa apa mari kita percepat saja waktunya.." ucap santai Kusuma.


" baiklah.."


" jadi begini..


waaa


waaa


waaa


merekapun membahas seputar rencana yang akan mereka buat untuk menambah cabang kafe milik Bagas di area milik Kusuma.


" terima kasih atas masukannya " Ahir kata dari Bagas.


" bicara bicara..boleh saya tau.." ucap Kusuma yang bertanya ke bagas seakan ' siapa perempuan yang ada disampingmu itu ' dengan menatap irin pekat.


" dia.. sekertaris pengganti saya, sekertaris saya yang dulu sudah habis kontrak.." jawab Bagas yang seakan paham dengan maksud kelayenya itu.


" oh..saya kira dia pasangan anda..dan anda akan memperkenalkan dia ke saya kalian terlihat cocok.." ucap Kusuma yang membuat batin irin sedikit senang tapi juga mengingat kejadian pagi tadi yang menyakitkan pikir irin.


Bagas pun begitu dia menampilkan senyum hangat nan tulusnya itu , ada rasa bahagia tersendiri mendengarnya.


" buk_"


" bukan pak" terobos irin memotong pembicaraan Bagas, yang membuat Bagas kembali ke muka datarnya ada rasa sedikit kecewa mendengar kenyataan yang irin lontarkan pikir arka.


" saya hanya salah satu karyawan biasa di perusahaan bos bagas.." lanjut irin.


" yah.." ucap Bagas yang sedikit kecewa namun memaksakan senyum manisnya.


seseorang mendekatkan wajahnya ke telinga Kusuma,


sekertaris dari Kusuma berbisik ke telinga Kusuma seperti membicarakan hal penting.


dan nampak Kusuma yang raut wajahnya seketika berubah setelah mendapat bisikan dari sekertarisnya itu.


" Hem..baiklah.." gumam lirih Kusuma.


" maaf pak Bagas, sepertinya saya tidak bisa berlama lama disini, ada hal penting yang mendadak..saya pamit dulan..kalian silakan nikmatilah waktu kalian disini tanpa saya ..haha" pamit Kusuma dengan sedikit guyon.


" hahaha" Bagas membalasnya dengan tawaan pula, sedangkan irin dia hanya menampilkan senyum kecut.


" nanti saya akan mengirimkan staf saya untuk mengantarkan berkasnya" ujar Kusuma sembari mengulurkan tangan.


" baik terima kasih, hati hati dijalan.." ucap Bagas yang dibarengi menjawab uluran tangan Kusuma.


" permisi.." pamit Kusuma yang setelah itu dia pergi meninggalkan mereka berdua.


.


.


.


kini hanya ada irin dan Bagas di meja tersebut irin merasa sangat canggung dengan situasinya itu dia seakan ingin pergi tapi tak bisa, ingin ingin hilang namun dia tak memiliki kekuatan.


" dari tadi saya perhatikan, sepertinya kamu masih memikirkan hal itu" ucap bagas yang masih setia menatap lurus kedepan memecah keheningan di situasi itu.


" ah..saya..ti,tidak hanya saja saya sedikit.. canggung" ucap terbata dan lirih irin dengan tingkah saltingnya.


sepertinya ini salah saya, apakah saya perlu menghiburnya agar dia tidak terlalu kecewa, saya ajak saja dia ketempat itu mungkin dia akan suka..pikir Bagas.


" ikut lah denganku" titah Bagas yang bangkit dari tempat yang ia duduki.


" oh, iya bos.." balas irin yang dibarengi dengan mengekor di belakang Bagas.


__________________


" taman ceria anak" ucap irin yang mengeja Mading di luar tempat yang Bagas tuju.


" bos ini..panti asuhan..?" tanya irin memastikan.


" iya, ayo masuk.." ucap Bagas, yang di buntuti irin dibelakangnya.


.


.


.


" eh..nak Bagas.. yaampun.." ucap seorang perempuan paruh baya yang sepertinya mengenal Bagas dan menyambut Bagas dengan pelukan hangat Bagas pun membalasnya.


sepertinya mereka dekat..batin irin.


" iya, anda sehat?" tanya Bagas ke seorang paruh baya itu.


" Alhamdulillah sehat, kamu sehat kan saya sudah bisa menebaknya.." ucap wanita paruh baya itu yang dibalas kekehan kecil dari Bagas.


" saya kira kamu sudah lupa, lama tak datang"


" mustahil, saya melupakan tempat saya menghilangkan penat" ujar Bagas.


penat? apa disini ada tempat indah yang dijadikan bos untuk menghilangkan penatnya?... batin irin.


" Hem..manisnya pria penyuka anak kecil ini" sambil mencubit pipi Bagas pelan.


oh bos suka anak kecil, pantes orang orang yang tadi kayak Deket sama bos, kayaknya bos sering ketempat ini deh..pikir irin.


" tunggu siapa wanita cantik ini" tanyanya mengarah ke irin.


" ah, saya irin sekertaris bos bagas.." ucap irin menyalimi orang tersebut, yang membuat Bagas berfikir ' kayak sedikit rasa berlebihan'.


" saya masuk duluan, nanti manuyusul yah.." titah Bagas yang dijawab senyum tanggung dan anggukan dari irin.


kini di tempat itu tersisa irin yang hendak membuka sepatunya dan wanita paruh baya itu diketahui di bernama wim,


" saya kira kamu penggantinya indah.." ucap Bu wim penuh arti.


" ahhaha ..tidak saya hanya bawahan bos bagas.." ucap irin dengan sedikit tawa kaku dan nada lirihnya.


" seperti tidak mungkin saja bos bisa menggantikan kekasihnya itu.." lanjut gumamnya yang membuat Bu wim sedikit paham.


" saya pikir bisa saja, soalnya sepertinya Bagas selalu kesini sendiri jika tidak, dia akan membawa indah ataupun orang terdekatnya..seperti teman temannya" jelas Bu wim ke irin.


nyuutt sakit hatinya ketika menduga Bagas selalu menggandeng pacarnya itu kemana2 dan mengenalkanya pikir pendek irin.


" tapi..saya lihat juga sepertinya kamu lebih cocok dengan Bagas karena saya pikir Bagas banyak tersenyum tadi, berbeda dengan saat dia mengajak indah dia justru sering menekuk ekspresinya " ucap Bu wim yang membuat senyum sedikit terbit di bibir irin.


tunggu, beneran..pikir irin.


gue kepo deh.. lanjutnya.


" am..Bu wim, apakah bos bagas sangat menyukai anak anak" tanya irin.


" yah..dia sangat menyukai anak anak, dia bilang.. semua rasa penat pusing dan resahnya akan hilang saat dia bisa berjumpa dan bercanda ria dengan anak anak karna itulah dia sering kesini, akibatnya dia disukai anak anak disini" jawab Bu wim apa adanya.


yaampun..kok terbalik Ama gue ya?

__ADS_1


jangan kan disukai, Deket sama anak kecil aja susah banget gue.. contohnya waktu gue nyoba ndeketin diri gua Ama anak tetangga dulu..anjir anak anak tetangga kayak jadiin gue rival abadi mereka hanya karena gue beli es krim ..tapi tak mau membaginya dengan mereka.


hh..kekeh irin sedikit bernostalgia dengan batinya.


" nak irin," panggil Bu wim yang membuyarkan lamunannya.


" anda tidak apa"


"ah tidak, saya hanya berfikir..pantas saja dia dikenal banyak orang disini.."ujar asalan irin.


" oh..tapi sebenarnya walaupun dia tak pernah kemari sekali pun juga, semua orang disini bakal mengenalnya kok.." ucap Bu wim.


" hm? "


" kenapa memangnya?" tanya irin sedikit penasaran.


" karena yayasan ini kan didirikan oleh kakeknya dulu..jadi sudah pasti kami mengetahui semua keluarga beliau.." ucapnya mampu membungkam irin yang notabenenya selalu ingin bertanya.


pendiri dia bilang..


wah bos ku yang paling aku sukai..


betapa mulia hati mu itu .. batin irin.


" em Bu wim terimakasih atas infonya, saya mau menyusul bos bagas dulu permisi.." pamit irin.


" oh iya silahkan" Bu wim mempersilakan.


.


.


.


irin mencari dimana keadaan Bagas, tak lama pandanganya terhenti ketika melihat Bagas yang basah oleh keringat, sepertinya dia sedang sangat bahagia pikir irin.


tampanya.. batin irin yang melihat Bagas dari kejauhan terpaku, terpesona dan beranjak menuju tempat Bagas berada sekarang.


buukk


" aduh"


tiba tiba ada anak kecil yang berlarian yang sepertinya tak sengaja menabrak irin sehingga membuat anak itu yang lebih kecil dari irinpun terjatuh.


" maapin Lala ya Tante.." ucap anak tersebut seraya ketakutan dan bangkit dari posisinya.


Tante dia bilang setua itukah gue..tapi..


imutnya.. batin irin ketika melihat wajah imut didepanya itu.


irin pun memasang wajah sok ngambeknya, dengan melipat kedua tangannya dan mendengus.


" Hem.."


" tante, lucu kalo malah..hihihi" ucap anak kecil itu.


" lucu kamu bilang..ini yang lucu ..rraaww rraaww" ucap irin dengan nada yang sedikit menakuti anak kecil didepanya itu sambil bertingkah seperti monster yang akan melahap mangsanya.


" ahh tolong Lala..ada mostel.." teriak gadis kecil itu yang seraya membuat irin berlarian mengejarnya.


" rrraaaww rrraaaww"


" aahhh ada mostel ada mostel.."


teriakan gadis tersebut sukses membuat semua anak yang berada di situ mengikuti tingkah lakunya yang seolah menjadikan irin harus mengejar mereka, mereka berlarian yang dikejar kejar oleh irin.


" rrraaaww rrrrraaarrww"


.


.


.


" liat itu teman teman.." ujar bocah laki laki yang menunjuk kearah tempat irin berada, membuat sang om yang sedari tadi bermain bersama mereka juga menoleh.


syukurlah.. sepertinya dia menyukainya.. fikir Bagas yang melihat irin tertawa bersama anak anak lainya.


" kita kesana yuk..iku main itu.." ujar bocah lainya memprovokasi.


" Ayuk"


"Ayuk "


" Ayuk"


" kalian mau tinggalin om Bagas.." teriak bagas.


" kalo om mau om susul aja" ucap bocah dengan muka datar dan nada ketusnya, membuat Bagas sedikit terkekeh.


.


.


.


.


.


"rrraaaarrww rrraarrrw"


" kejal aku"


" rrraaaarrww rrraarrrw"


" kejal aku"


" rrraaaww rrrrraaarrww"


" hahahha hahahaha" tawa mereka bersama.


sedangkan Bagas, dia hanya menatap pemandangan yang menurutnya indah itu.


tanpa ia sadari ia tersenyum kecil melihat irin yang seperti ingin mengigit anak anak yang bermain dengannya itu.


cantik.. kata itu terlepas dari batin Bagas, sadar dengan pikiran yang salah kiranya Bagas langsung menggelangkan kepalanya.


" ayolah Bagas..apa apan kau ini" ucapnya lirih pada diri sendiri.


.


.


.


.


.


" udahan dulu yah anak anak, Kaka cape.." ucap irin mengibaskan tangannya sambil menyudahi permainan yang menguras tenaganya itu.


" yah..Tante monstel, kekuatannya udah abis.." ucap seorang anak yang mengikuti irin dengan duduk disampingnya.


Tante lagi.. batin irin memaksakan senyumnya.


Bagas menghampiri mereka dengan membawa kotak besar yang sepertinya berisi.


" udah selesai mainya.." ucapnya.


" udah om.." ucap mereka bersamaan.


" cape yah, siapa yang mau es krim.." tawarnya.


" aku "


" aku "


" aku"


ucap para anak.


setelah itu Bagas pun membagikan es es itu ke semua anak anak.


jangankan bocah..


gue juga mau kalo es krim mah.. batin irin melihat banyaknya es krim dalam kotak yang Bagas buka.


" sudah semua.." ucap Bagas yang disahuti anak anak.


" sudah.."


" om Bagas, kok Tante peri nggak kesini.."tanya seorang anak.


Tante peri, ah..pasti si indah.. pikir irin.


si indah dipanggil peri..giliran gue dipanggil monster.. baper irin.


Bagas pun sepertinya nampak bingung akan menjawab apa.


" ah..Tante peri_"


" Tante peri kalian sedang berlibur jauh..hahaha" potong irin dengan menaik turunkan alis nya memberi kode ke Bagas.


" Tante monstel, Tante monstel nggak makan es klim nya.." ucap Lala anak yang menabrak irin tadi, yang membuat irin sedikit menggaruk tengkuknya.


" Tante udah kenyang, tadi udah makan..Lala makan aja ..Tante mau ke toilet dulu yah dadah.." pamit irin yang beranjak dari sana.


_____________


terlihat arka yang masih sibuk memandang ponselnya seraya berfikir.


saya kan juga atasannya tapi kenapa dia tidak meminta izin dari saya.. pikir arka.


entah mengapa semenjak pagi dia merasa ada yang kurang, ia terus menatap ponsel yang menyuguhkan sebuah kontak bertuliskan ' si gembel' ia mendapat nomor irin karena irin pernah menelfonya sekali namun dia tak menghapus riwayat panggilan di ponselnya.


tuuutttt ttuuuttt

__ADS_1


tanpa sengaja arka jari arka menyentuh tombol panggilan.


" sial.." umpatnya, namun tak merijake panggilan tanpa sengaja yang ia mulai.


satu panggilan arka biarkan setelah sekian lama, panggilan nya diabaikan pikir arka.


" kurang ajar sekali dia ..saya akan memanggilnya terus sampai dia terganggu.."


1x


2x


3x


bagus dia mengangkatnya batin arka.


" gembel! beraninya kamu mengabaikan panggilan dari saya" ucapnya geram melalui ponsel.


"maaf..tapi pemilik ponsel dari tadi tak bermain ponsel dia sed_" jawab seorang dari ponsel tersebut.


tutt


arka langsung mengakhiri panggilan itu.


" Bagas.." lirihnya.


" gembel, beraninya kamu bohong..kamu bilang kalau kamu akan menjenguk saudara kamu..tapi apa ini Bagas?" sambungnya dengan nada geram.


.


.


.


" om Bagas om Bagas, ini telponnya bunyi terus.." ucap seorang anak yang memberikan sebuah ponsel ke Bagas setelah itu berlalu pergi.


" ini ponsel milik irin.." ucapnya lirih.


" 4x panggilan tak terjawab? apa ini penting.."


Bagas melirik sekilas melihat panggilan yang ada dr ponsel tersebut.


tuan galak? bingung Bagas yang melihat nama kontak tersebut.


" tunggu sepertinya saya pernah melihat nomor ini.." tanpa berfikir panjang Bagas menggeser tombol hijau dari panggilan tersebut.


gembel.. bernainya kamu mengabaikan panggilan dari saya.. teriak seseorang dari panggilan tersebut.


" maaf..tapi pemilik ponsel dari tadi tak bermain ponsel dia sedang_"


tuuutttt panggilan berakhir sepihak.


aneh.. pikir Bagas.


" suaranya kaya agak familiar.." ujar Bagas sedikit berfikir.


.


.


.


.


kini senja telah tiba saatnya mereka akan pergi dari panti tersebut.


" Tante mostel nanti dateng lagi yah.." pinta seorang anak yang mendekati irin.


" iya Lala, kalo sempet yah.." ujar irin.


" dadah semuanya..saya pamit.." pamit irin yang dibarengi langkahnya menjauh dari tempat itu.


.


.


.


kini irin menaiki mobil Bagas yang akan mengantar irin ke alamat yang irin berikan.


katanya nganggep angin lalu, berarti ngelarang perasaan gue dong, tapi kenapa dia kayak ngasih harapan ke gue padahal kan dia udah tau kalo gue suka sama dia.. ah..gue kok ngerasa jadi sad girl yah.. pikir irin di lamunannya.


kenapa dia menekuk wajahnya lagi bukankah tadi dia seperti bahagia, ayolah jangan membuat saya merasa bersalah.. pikir Bagas yang sebentar menoleh ke arah irin.


" apa kau tidak lapar?" tanya Bagas memecah keheningan.


" tidak, bos"


" em..apa ingin pergi ke suatu tempat mungkin"


" tidak boss"


" saya ingin pulang cepat dan beristirahat" jawab irin dengan memaksakan senyumnya.


" tunggu..bisakah kamu lebih formal saja.." ujar Bagas tiba tiba.


" ma,ma,maksud boss.."


"yah..kita buat kedekatan dengan ikatan teman.." ucap Bagas penuh arti yang dipahami irin.


" haha bos, ada ada saja.." ujar irin dengan kekehan kakunya.


" jangan terlalu kaku berbicara dengan saya, saya tak terlalu menyukainya.."


" oh..baiklah.."


.


.


.


.


Bagas menghentikan laju mobilnya, karena dia sudah sampai di tempat yang dia tuju.


irin membuka sabuk pengamannya.


" Bos" panggilnya sebelum keluar dari mobil, membuat sang pemilik sebutan pun menoleh ke arah si pemanggil.


" apa anda tidak terganggu dengan perasaan saya" sambungnya sedikit takut.


" bos bagas kan,udah tau kalo saya suka sama bos bagas, meski tau tapi anda tetap memperlakukan saya seperti ini.


bukan kah berarti anda mengakui perasaan saya?" dengan jantung berdetak cepat irin melontarkan semua perasaan yang ia pendam.


gue gak berharap banyak.


tapi kalo yang aku rasakan tadi itu, sedikit saja mengandung ketulusan!.. pikir irin.


saya juga tidak tau Rin.. pikir Bagas.


" saya melakukan semua ini, karena..saya merasa bersalah..hanya itu, tidak kurang dan tidak lebih jadi jangan salah menafsirkan perbuatan ku ini..dan ingatlah jangan salah paham.." jelas Bagas.


seketika dada irin terasa sesak mendengarnya, matanya mulai memanas ia memilih menunduk tak menunjukan wajahnya menghadap Bagas, ia merasa bodoh dan malu karena pertanyaannya sendiri.


" terima kasih tumpangannya..saya duluan.." ucapnya keluar dari mobil tersebut, setelah itu menunduk dan pergi menjauh dari tempat itu.


" maaf.." lirih Bagas yang melihat mata irin yang berkaca.


.


.


.


.


irin berjalan pelan, ia menyembunyikan isakanya menggunakan satu telapak tangannya.


sakit banget.


setelah itu dia tiba di tempat ia bersemayam.


dikamarnya, air matanya masih mengalir tak berhenti.


" apa perasaan gue ini salah.." lirihnya.


setelah itu membuka ponselnya, ia mengusap kasar air matanya melihat notifikasi dari ponselnya yang menampilkan 4 panggilan tak terjawab.


segera irin membuka riwayat panggilan dari ponselnya


betapa terkejutnya dia ketika melihat riwayat panggilan yang tertera 4 panggilan tak terjawab, dan 2 menit 4 detik.


" tuan muda manggil gue?, tapi tunggu ini satu kok gue nggak ngerasa ngangkat tadi..siapa yang jawab? hah!!?..jangan jangan.."


" *pelayan..kerja kenapa kamu tidak membersihkan kamar saya"


" arka, ini gue Bagas..gue bukan pelayan.."


" oh..dimana pelayan itu.."


" siapa?"


" irin*.."


halu irin.


" nggak nggak nggak" ucap irin menyadarkan dirinya cari haluanya.


" bagaimana ini..aku harus mastiin..sendiri, nanti malem aku temuin tuan deh, takutnya dia ngomong ke nyonya besar yang tidak tidak.." pikir irin.


...BERSAMBUNG...


jika suka, like komen dan tambah ke favorit yah😉


❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2