
ceklek
gembel batin arka.
bak kelu mulut arka untuk mengeluarkan sepatah kata ketika melihat gadis yang ia ingin temui berada di depannya, arka dikuasai oleh gengsi sehingga dia hanya memasang wajah datar padahal dalam hatinya dia ingin bertanya banyak pada gadis itu.
" silakan masuk tuan" ujar irin menyambut arka dengan senyum manisnya.
arka pun langsung melewati irin, tanpa menghiraukan gadis yang menyambutnya itu.
irin membuyarkan senyumnya seakan ada hal buruk masuk ke pikiran nya tiba tiba.
apa semarah itu, wajar sih kan foto pacarnya..
batin irin yang menekuk wajahnya.
.
.
.
setelah selesai membersihkan dirinya arka memilih mehempaskan dirinya ke kasurnya,
dengan beralaskan kedua tangannya matanya terpejam namun tidak dengan fikiranya.
kenapa kamu selalu membuat saya goyah gembel?
sebenernya apa kelebihan yang kamu punya sampai kamu bisa masuk ke pikiran saya..
fikirnya dalam diam.
" apa saya bisa seperti ini terus?" lirihnya.
" ayo arka! apa pentingnya dia buat kamu, jalani saja seperti saat dia belum ada disini.." ujarnya meyakinkan dirinya.
.
.
.
.
irin masih memangga pipinya dengan tangan yang beralaskan bantal gulingnya.
" apa dia baru pulang dari rumah pacarnya? sampai pulang selarut ini?" lirihnya.
" pantes aja dia kayak marah banget pas gue .." ucapnya menggantung.
" akkhhh," raungnya mengacak rambutnya kasar.
" bodo amat lah, mau sama pacarnya kek sama istrinya kek emang apa urusan gue..ish..irin jangan gini" rutuknya.
ia merebahkan tubuhnya.
" tapi tetep aja gue gak terima" sambungnya.
" tuan tega banget sih, udah bawa gue ke langit eh pas baru nyampe dilepas tanpa parasut..kan sakit" recohnya yang setelah itu dia memejamkan matanya.
.
.
.
sayup arka membuka matanya karena bisingnya suara alarm yang berada pada meja kecil.
" aarrrgghh" raungnya sembari menutup kupingnya dengan bantal alas kepalanya
setelah beberapa menit arka kemudian bangkit dari tempat tidur nya dan memilih berlalu ke kamar mandi.
setelah selesai dia keluar dari kamar mandi itu, arka sedikit seperti merasa ada keanehan saat melihat kasurnya kosong tak ada pakaian yang terpapar untuk dia pakai disana.
" ge_" ucapnya yang mengangtung setelah mengingat apa yang terjadi di antara mereka.
" hh" kekehnya lirih.
dia mulai berhayal ketika saat saat dimana selalu ada pertengkaran setiap pagi diruang tersebut namun sudah lima hari ini ruangan itu terasa dingin dan sunyi.
__ADS_1
lalu arka beralih keruang tempat baju bajunya berada, setelah selesai berdandan dia beralih ke Sofanya dan membuka laptopnya tenggorokan nya terasa sedikit kering sampai sampai ia berdehem serak disana.
" ehhhm"
" gem_" ucapnya menggantung.
" lagi? hh" lirihnya seraya terkekeh.
" hhrrraaarrgghh" raungnya keras seraya membanting vas yang terpajang di meja tersebut.
setelah dirasanya sedikit tenang dia memilih untuk keluar untuk meninggalkan ruangan tersebut dan menuju tempat kerjanya.
.
.
.
.
mata arka terbelalak ketika baru keluar dari lift dia berpapasan dengan gadis yang membuat nya galau itu,
irin pun sama dia sedikit tercengang ketika melihat arka yang sudah sesiang ini dia masih berada di rumahnya.
serius, udah siang loh ini..tuan yang disiplin ini kenapa dia masih ada disini. batin irin,
dia mengurungkan niatnya untuk mengkritik langsung karena dia sadar akan situasi yang melandanya sekarang.
" em..selamat pagi tuan" sapanya membuka suara.
arka tak menghiraukan sapaan itu dia memilih melewati gadis itu tanpa ekspresi.
irin mendengus sebal.
" hmmmm, ada gitu yah orang modelan kaya gitu" ujar irin yang memandang pekat pria yang mengacuhkannya itu.
.
.
.
.
" Rin Lo gak papa?" tanya salim yang menghampiri irin mendekat.
irin hanya tersenyum kecut dan menggeleng kan kepalanya pelan.
setelah itu dia berlalu meninggalkan Salim di tempat dan kembali mengantar pesanan pelanggan kafe tersebut.
greep
saat hendak berbalik badan, tangan irin disergap oleh seseorang.
" maaf.." ucap irin yang menggantung setelah melihat sosok pria yang menarik tangan nya itu.
" ikut saya.." ucap pria tersebut seraya menarik pelan tangan irin.
irin pun hanya menurut di tarik oleh atasannya itu menuju ruangannya.
" bos ada apa ini" tanya irin setelah Bagas melepas tangannya.
tanpa aba aba Bagas memeluk tubuh mungil irin.
mata irin membelalak sempurna seperti ingin melepas pelukannya karena merasa risih.
" maaf bos in_"
" saya mohon biarkan saya seperti ini sebentar saja.."
" tapi bos saya_"
" mamah" ucap Bagas dengan arti yang diiringi isakanya.
irin yang seakan paham dengan yang dirasakan oleh Bagas pun berhenti memberontak dan justru menerima pelukan itu sesekali dia mengusap punggung nya dan menepuk nya pelan berusaha untuk menenangkan.
" inalillahi wa innailaihi rojiun"
" maaf bos, kalo boleh saya tanya tapi kapan?" ucap irin melirih.
__ADS_1
" 2 hari yang lalu"
irin tiba tiba saja terfikir kan saat dimana dia sangat down dan tidak ada yang bisa jadi sandaran saat itu dan melihat Bagas sekarang dia sedikit iba.
" tunggu dulu" ucap irin melepas pelukan itu perlahan dan menutup pintu ruangan tersebut, setelah itu dia mengambil air putih yang tersedia di ruangan tersebut dan menarik tubuh Bagas untuk duduk di sofa ruangannya itu, Bagas pun hanya patuh menurut dengan arahan irin, setelah itu irin memberikan gelas itu ke Bagas.
" ini minumlah.." ucapnya dan Bagas mengambil gelas itu dan menenggak minuman nya.
" terima kasih" ucap bagas.
" terus indah gimana? apa dia pulang?" ucap irin setelah nya.
" nggak dia bilang pekerjaan nya itu sangat lebih penting.."
" yaampun..sabar yah anda" ucapnya.
" terima kasih" ungkat Bagas tiba tiba.
irin pun mengangguk seraya tersenyum.
"tidak apa apa selama saya bisa saya akan membantu Anda" ucap irin.
Bagas tersenyum kecil.
*katok
katok*
dering pesan dari ponsel irin berbunyi.
_ rin pergi kemana lu, rame banget ini malah pergi lu : santul
oh yah gue lupa batin irin.
irin terengeh ketika melihat pesan masuk dari Santi.
" em..bos sebelumnya saya minta maaf tapi temen temen lagi butuh tenaga sekarang jadi_"
" iya nggak papa"potong Bagas seraya mengerti dengan apa yang irin maksudkan,
irin pun tersenyum seakan berterima kasih.
" pergi saja, dan terima kasih.." ucap Bagas dengan senyum manisnya.
" ah..iya bos..saya permisi"
" oh ya kalo anda perlu sesuatu panggil saja saya siapa tau saya bisa bantu"
arka mengangguk seakan menambah senyum manisnya.
brrak
senyum manis yang terukir di wajah arka nampak sirna dan kini digantikan smirk yang penuh arti dari wajahnya.
" ahh..susah juga akting menangis" ucapnya seraya mengusap matanya perlahan.
setelah itu dia menatap nanar pintu yang baru saja tertutup itu.
" kamu pikir kamu bisa melepas saya begitu saja, tidak akan saya biarkan..bahkah jika kamu sudah beralih kamu masih tetap milik saya" ucapnya dengan pandangan kosong.
.
.
.
.
...BERSAMBUNG...
ayo semangatin author, biar author rajin update.
dengan like, komen dan tambahkan ke daftar favorit kalian yah😊
jangan bosen baca..
happy reading ❤❤
...marhaban ya Ramadhan...
__ADS_1
...selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan 🙏 🙏...
...❤❤❤...