
Para pelayat dibingungkan dengan datangnya beberapa anggota kepolisian yang terus berjalan ke arah Muti selaku Ibu kandung korban.
"Maaf Ibu, jika ingin kasus ini diselesaikan, izinkan kami untuk membawa jasad anak Ibu untuk diotopsi terlebih dahulu sebelum dimakamkan," ucap Seorang polisi.
"Bawa saja, Pak. Saya ga terima anak saya dibunuh dengan cara mengenaskan seperti itu, cari tahu siapa pelaku sebenarnya. Saya ingin membuat pelajaran pada manusia tak punya hati itu," ucap Muti penuh emosi.
"Maaf, Pak. Apa otopsi memakan waktu yang lama? Soalnya saya ingin anak saya segera dimakamkan," tanya Bagas.
"Kami akan lakukan secepatnya sesuai dengan permintaan keluarga, Pak."
Akhirnya Bagas dan Muti membiarkan Alvin dibawa dengan kantong jenazah menuju rumah sakit.
Kini tinggallah dua orang polisi yang akan menyelidiki kasus lebih lanjut, orang-orang terkait ditanyai oleh polisi, mulai dari security, Muti, hingga sampai pada Tyas.
"Bagaimana Dik Tyas, apa sebelumnya kamu pernah mendengar atau melihat saudara Alvin melakukan hal-hal aneh yang secara sengaja ataupun tidak kau mengetahuinya?"
"Eeeng... Sebenarnya," Tyas tampak gugup, antara ingin bicara atau tidak.
"Sepertinya Dik Tyas mengetahui sesuatu, katakan saja agar kasus ini segera selesai."
"Sebenarnya kemarin saya sempat mendengar kak Alvin marah pada seseorang di dalam kamarnya, Pak. Saya ga sengaja dengar. Dia bilang akan menghabisi seseorang."
"Tyas, kenapa kamu ga cerita sama Mama?"
"Tenang, Bu. Biarkan Dik Tyas melanjutkan ceritanya."
"Eeeng, setelah itu saya ga tau apa-apa lagi, Pak," jawab Tyas jujur.
"Informasi ini menunjukkan jika korban memiliki musuh, adakah diantara pelayat ini teman-temannya korban?"
"Sepertinya dia, Pak," tunjuk Muti pada Riko.
Riko yang merasa dirinya ditunjuk mempersiapkan diri dan berusaha sebisa mungkin agar tidak keceplosan mengenai siapa dirinya juga beberapa teman yang ikut bersamanya.
"Jadi, apakah kamu mengetahui jika Alvin mempunyai musuh?" Tanya polisi setelah selesai menanyai identitas Riko.
"Saya tidak begitu tahu, Pak. Mendiang Alvin tidak banyak cerita mengenai orang yang membencinya atau dia yang sedang membenci seseorang."
"Beneran, Dik. Terbukalah agar kasus ini cepat terungkap. Saya ingin tahu siapa pembunuh anak saya."
"Aduh, gimana ya Bu. Saya memang ga tahu jadi harus jawab apalagi?" Jawab Riko ngeles, dia tidak ingin terus terlibat percakapan dengan polisi.
Warga yang menyimak mulai mengerti apa yang terjadi dengan Alvin, ia meninggal tiba-tiba karena telah dibunuh seseorang.
__ADS_1
"Baiklah, kami mungkin akan melacak nomor telepon saudara Alvin untuk mengetahui dimana kali terakhir saudara Alvin berada."
"Gimana baiknya saja, Pak. Saya tunggu kabarnya segera," ucap Muti.
Riko tertegun, sahabatnya yang selalu dekat dengannya yang baru kemarin sempat ngobrol bareng dan membubarkan Deadman kini sudah meninggal dibunuh seseorang.
"Pasti orang itu orang yang sama yang sudah membunuh Jo, juga. Itu artinya aku yang harus waspada sekarang. Bisa saja aku yang jadi korban berikutnya," batin Riko yang mulai dirundung ketakutan.
Sementara itu, Nina sedang berada di sebuah kafe, dia memesan minuman dan beristirahat sebentar di sana.
Dia membongkar isi galeri dari handphone Alvin, handphone Jo, juga handphone salah satu korban konvoi.
"Dengan foto dan video ini, akan mempermudah polisi mencari sisa anggota yang lain. Aku tidak ingin dicurigai siapapun termasuk masyarakat desa Bambusa," batin Nina.
Dia sudah berniat untuk menghentikan aksi balas dendamnya setelah puas membunuh banyak anggota geng juga membakar markas mereka. Dia masih memberi kesempatan bagi anggota yang lainnya untuk memilih jalan hidup yang lebih baik.
Dengan sekali klik dan tanpa caption apapun Nina memposting foto dan video semua anggota Deadman, saat mereka konvoi ataupun party di dalam markas, wajah mereka begitu jelas, dari yang sekarang masih hidup maupun yang sudah mati terbunuh dengan tangannya sendiri.
Nina memposting hal penting itu lewat semua sosial media Alvin dan menandai seluruh anggota Deadman.
Kemudian dia pergi meninggalkan kafe seraya membuang ketiga handphone milik anggota Deadman yang sudah dinonaktifkannya ke tong sampah depan kafe.
Di kediaman Bagas, pelayat masih belum bubar karena mereka masih menunggu jenazah Alvin pulang karena permintaan dari Muti.
Begitu juga Riko dan beberapa anggota Deadman, mereka masih menanti Alvin sampai dimakamkan.
Riko membelalakkan matanya, hatinya kini berdebar-debar. Postingan yang baru diunggah beberapa menit yang lalu sudah banyak di bagikan oleh para netizen.
"Gimana nih, Bang?"
"Ssssttt, kalau mau aman kita harus segera pergi dari sini sebelum disadari kedua polisi itu," ucap Riko setengah berbisik.
Yang lain mengangguk paham, hati mereka kini sama khawatirnya dengan Riko. Mereka tidak ingin di penjara.
"Bu, maaf. Sepertinya kami harus pamit sekarang. Maaf ga bisa menunggu Alvin," pamit Riko mewakili ke tiga teman-temannya.
"Oh, iya tidak apa-apa. Terima kasih sudah sempatkan waktu kemari. Maafkan Alvin kalau ada salah, doakan dia ya."
"Iya Bu, pasti."
Satu persatu diantara keempatnya salim dengan Muti.
"Tunggu," ucap polisi.
__ADS_1
Tangan dua orang teman-temannya sudah diborgol. Tinggal Riko dengan satu temannya lagi yang baru hendak pergi tapi sudah ditahan polisi.
Riko terpaku, dia ingin melarikan diri tapi rasanya percuma karena di rumah Alvin banyak warga. Dilihatnya juga masing-masing polisi membawa pistol.
"Bang," ucap salah satu anggotanya dengan bibir bergetar.
Riko terdiam pasrah, bagaimana mungkin dia menyelamatkan orang yang baru saja memanggilnya, sedangkan dirinya saja tidak dapat berbuat apapun sekarang.
"Loh, mereka kenapa, Pak?" Tanya Muti kebingungan. Begitu juga dengan para pelayat yang lain.
"Ada apa ini, Pak polisi mengapa mereka diborgol?" Ceplos salah seorang warga yang penasaran.
"Kami baru mendapat laporan dari kantor, bahwa mereka berempat termasuk komplotan geng motor yang sudah meresahkan masyarakat, dari mulai melukai korban hingga mengambil harta benda milik korbannya."
"Maksudnya komplotan begal gitu, Pak?"
"Benar, dan dengan berat hati kami juga harus mengatakan bahwa anak Ibu Alvin juga termasuk salah satu dari mereka."
Muti yang mendengar pernyataan dari polisi terkejut tak percaya, kini dia merasa malu bahwa anaknya yang baru meninggal termasuk komplotan penjahat yang sering meresahkan masyarakat.
"Wah, kalau begini pasti anak Bu Muti dibunuh karena ada yang dendam tuh. Sudah yakin saya," ceplos salah satu warga.
Keempat teman Alvin, termasuk Riko mulai didekati warga terutama yang pria.
"Oh, kalian rupanya yang sok hebat dijalan-jalan itu ya, hah?"
Plak...
Salah satu warga tak segan ada yang memukul salah satu kepala dari keempat orang itu.
"Aduh, ini dua orang. Dek, hei, masih kecil loh kau ini. Masih sekolah kau kan?"
"Mana rumahmu, hah?"
"Sudah bapak-bapak, tenang. Mereka akan menjadi urusan kami, tahan tangan kalian," pinta polisi agar warga tidak terpancing emosi.
Polisi menggiring Riko dan ketiga temannya ke kantor polisi dengan sebuah mobil yang mereka bawa sebelumnya.
"Walah, Bu Muti gimana sih jadi Ibu, masak bisa anaknya sampai jadi begal," cibir salah seorang ibu-ibu.
"Iya, nih. Kebanyakan arisan kayaknya."
"Eh, tapi ga tau juga ya kalau karma. Karena setahu saya dia kan istri barunya Bagas. Entah kalau Bu Muti ini sebenarnya pelakor kan?"
__ADS_1
Mendengar ejekan dan ledekan dari para tetangga membuat kuping Muti panas, dia ingin marah dan mengusir mereka, namun saat ini dirinya membutuhkan mereka untuk membantu proses pemakanan Alvin nantinya.
Tyas yang mendengar ibunya diledek cuma bisa pasrah, karena apa yang para tetangga katakan adalah sebuah kepahitan yang tidak bisa disanggah kebenarannya oleh dirinya sendiri walaupun mereka para warga masih menduga.