
Tyas terus mendekati Nina yang masih tertegun menatap kedatangan Tyas.
Kini Tyas sudah duduk di lantai tidak jauh dari tempat Nina yang sedang duduk di depan mesin jahitnya.
"Mama dan Papa bercerai, Bu," ucap Tyas lirih.
Mendengar Bagas dan Muti bercerai sungguh tak berpengaruh dengan Nina yang sudah mati rasa dengan Bagas. Dia hanya menunjukkan simpatinya pada Tyas, gadis polos yang menjadi korban keegoisan orang tuanya.
"Kok bisa?"
"Ternyata Papa di rumah sakit sekarang, dan itu karena ulah selingkuhan Mama yang mau Papa mati sehingga bisa miliki Mama seutuhnya. Aku semakin benci pada Mama, dia ga pernah kapok. Aku malu punya ibu kandung seperti mamaku, Bu. Aku ga mau pulang."
Nina membuang nafasnya perlahan kemudian tersenyum pada Tyas.
Dalam hatinya dia juga tidak menyangka kalau Muti selingkuh dengan salah satu anggota begal yang sudah berhasil dibunuh olehnya, apakah dia mengetahui itu jika selingkuhannya merupakan salah satu penjahat yang sangat meresahkan?
"Kamu harus kuat, Tyas. Perjalanan hidupmu masih panjang. Jadikan kisah kedua orang tuamu sebagai pelajaran. Kamu harus tumbuh menjadi seorang wanita yang lebih baik dari mamamu."
"Rasanya aku ga sanggup hidup dengan Mama atau pun Papa, aku mau tinggal sama Ibu aja, boleh ga Bu? Aku janji bakalan jadi anak yang rajin, ga nakal dan penurut," pinta Tyas dengan mengacungkan jari kelingkingnya.
"Boleh-boleh saja kamu tinggal di sini Tyas, Ibu dengan senang hati menerimamu. Tapi masalahnya tidak segampang itu. Mamamu pasti marah kalau kau ada di sini dan ga balik-balik. Dia pasti semakin benci sama Ibu. Dan pasti dia juga mengira kalau Ibu sudah pengaruhi kamu yang tidak-tidak."
Tyas memanyunkan bibirnya, dia tampak kecewa dengan jawaban Nina.
Tidak lama berdiam diri, Wati datang dengan membawa pesanan Nina.
"Loh, ini siapa, Kak Nina?"
"Hem, itu. Dia keponakanku, Wat."
"Oh, cantik anaknya. Kok ga sekolah, Dek? Masuk siang, ya?"
"Ehehehe, iya Bu."
"Oh ya Kak Nina. Aku baru ingat, kemarin malam-malam ada yang cari-cari kakak. Ga tau mau ngapain, pas aku jawab Kakak pergi belum pulang dia langsung pergi?"
"Memangnya siapa, Wat?"
"Ga kenal, Kak. Dia naik mobil, perempuan, kayaknya seumuran denganku tapi dandanannya menor, hehehe."
"Itu pasti mama. Kemarin dia tanya alamat Bu Nina," sela Tyas.
"Oh, mama kamu."
__ADS_1
Tyas, Wati, dan Nina akhirnya melakukan obrolan ringan, sehingga membuat Tyas dan Nina mengesampingkan pembicaraan mereka sebelumnya.
Sementara itu, di dekat tempat di mana Bagas hampir di bunuh seorang bapak-bapak paruh baya lewat hendak merumput untuk makan ternaknya.
Saat melewati rumah kecil yang sudah lama kosong dia melihat dua orang tergeletak di depan rumah dengan kondisi sudah berlumuran darah di tubuhnya.
Bapak itu mendekati dan menyentuh Ferdi juga temannya yang sudah pucat pasi karena sudah meninggal.
"Astaghfirullah, ma ma mayat, mayaaaaat, ada mayaaaat," orang itu terus berlari menuju pemukiman sambil berteriak-teriak.
Warga yang penasaran pun heboh dan mendatangi lokasi setelah mengetahui apa yang terjadi.
Warga langsung memadati rumah kosong yang ada di tengah kebon untuk melihat jasad Ferdi dan temannya. Mereka tidak berani menyentuh sebelum pihak kepolisian datang.
Salah satu di antara kerumunan warga ada anak buah Baron, ia terkejut melihat temannya mati terbunuh dan langsung menghubungi Baron.
"Hah, kok bisa? Memangnya di antara kalian ga ada yang tahu sebelum keduanya mati mereka kemana dan mau apa?"
"Ga ada Bos, aku juga bingung tiba-tiba mereka berdua ditemui warga sudah mati dan pucat. Apa jangan-jangan dia dibunuh oleh si peneror itu ya, Bos."
"Kepar*t! Kalau begini kita harus cari tahu siapa yang membunuh mereka. Kita habisi dia dengan cara yang kejam."
"Kalau begitu kita harus ikuti perkembangan kasusnya, Bos. Dan membunuh si Pembunuh itu sebelum keduluan polisi."
"Iya, kau benar. Kita pantau terus perkembangan kasus kematian mereka, tidak ada yang bisa meneror kita."
Polisi akhirnya sampai di tempat kejadian perkara, dan langsung melihat kedua mayat korban pembunuhan dan langsung memasang garis polisi, tidak lama mayat langsung di bawa ke rumah sakit untuk diotopsi.
Waktu terus berjalan hingga sore hari, Tyas masih belum pulang dari rumah Nina. Dia terlihat sangat betah di sana. Terkadang dia berinisiatif membantu Nina dengan hal yang bisa dikerjakannya.
"Ini sudah sore, Tyas. Kalau mamamu sampai nyusul kemari bisa-bisa dia akan buat kegaduhan di sini. Ibu bisa malu dilihatin tetangga."
Tyas terdiam, berat baginya untuk pulang ke rumah dan bertemu mamanya yang hanya mementingkan diri sendiri ketimbang memberikan perhatian padanya.
"Tyas, kamu boleh main ke sini setiap hari. Tapi kamu harus ingat pulang," ucap Nina seakan tahu jika Tyas berat meninggalkan rumahnya.
"Beneran Bu, boleh?" Jawab Tyas antusias.
"Iya, boleh. Sekarang kamu harus pulang, besok harus sekolah. Jangan bolos lagi, setelah itu kamu boleh main ke sini lagi."
"Makasih ya, Bu. Ya udah Tyas pulang dulu."
Tyas memakai tasnya lalu salim sebelum pulang, melihat kelakuan Tyas membuat Nina teringat dengan Satya.
__ADS_1
Ada rasa pilu yang tersembunyi dalam hatinya jika mengingat Satya, kedekatannya dengan Tyas akhir-akhir ini membuatnya menganggap Tyas sudah seperti anaknya sendiri.
Dia menyayangkan sikap Muti yang tidak mengurus anaknya dengan baik.
Dengan malas-malas Tyas hampir sampai ke rumah, di depan rumahnya dia melihat ada dua orang polisi sedang berbicara dengan security.
Karena penasaran, Tyas mempercepat langkahnya. Hingga sampailah dia di dalam rumahnya.
"Ada apa, Pak?"
"Ini, Dek. Bapak-bapak polisi ini nyari Bapak. Tapi Bapak kan belum pulang."
"Pak polisi, memangnya papa salah apa sampai dicari-cari?"
"Gak salah apa-apa, Dik. Kami hanya ingin meminta keterangan saja."
Baru saja berbincang sebentar, Muti akhirnya balik, dia tampak kebingungan ada polisi di rumahnya.
"Ada apa ya, Pak?" Tanya Muti cemas dan takut-takut.
"Anda istri Pak Bagas?"
"Iya saya sendiri?"
"Begini Bu, sehubungan dengan kejadian pembunuhan oleh saudara Ferdi dan Andi, kami menemukan pesan chat bahwa sebelum mereka meninggal mereka telah merencanakan pembunuhan atas saudara Bagas. Kami ke sini untuk meminta keterangan darinya."
"Hah? Ferdi meninggal?" Batin Muti terkejut sekaligus senang, tanpa bingung harus bagaimana melepaskan diri dari Ferdi lelaki itu sudah mati.
"Suami saya ada di rumah sakit, Pak. Bapak bisa temui dia di sana."
Muti memberikan penjelasan mengenai Bagas hingga sampai ke rumah sakit, dan akhirnya mereka semua pergi ke rumah sakit termasuk Tyas.
Sampai di rumah sakit, Bagas langsung diinterogasi, hingga dia menceritakan perselingkuhan istrinya.
"Jadi Bapak di selamatkan oleh seseorang yang tidak tahu siapa orangnya?"
"Iya, Pak. Suster juga tidak mencatat namanya, malah nama mantan istri saya yang ditulisnya atas permintaan orang yang telah menyelamatkan saya."
"Mas, aku ga mau cerai."
"Diam kamu, kamu bukan istriku lagi."
"Baik, terima kasih atas infonya, kami permisi dan maaf telah mengganggu waktu istirahat Bapak."
__ADS_1
Polisi itu akhirnya pergi, dan melanjutkan penyelidikannya kembali, kedua polisi itu meminta rekaman cctv rumah sakit di hari di mana Bagas masuk rumah sakit dan terlihatlah wajah Nina di sana.
Akan kah Nina ketahuan jika dia yang telah membunuh Ferdi dan satu temannya yang bernama Andi?